Tampilkan postingan dengan label COVID-19. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label COVID-19. Tampilkan semua postingan

Lebaran 2020 saat pandemi, banyak ibroh dibaliknya.

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم


Assalamualaikum sahabat bloggerku..

Lebaran 2020 yang tidak akan terlupakan ya..
Oiya sebelumnya, ijinkan saya mengucapkan



تَقَبَلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ،صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمْ وَكُلُّ عَامٍِ بِخَيْرٍ
وجعلنا الله مِنَ العَائِديْنِ وَالفَائِزِيْنَ


Semoga kita semua mendapat kemenangan dan amal ibadah kita mendapat keridhaan dari Allah Subhanahu wa ta'ala. 
Masih dalam suasana lebaran ya, sudah berapa piring ketupat opor yang dilahap? Lebaran tahun ini sungguh tak seperti biasa, bahkan tidak pernah terbayangkan sebelumnya. 
Pandemi COVID-19 yang belum berakhir juga sudah hampir 3bulan lamanya, membuat kita harus menahan rindu tidak dapat berkumpul merayakan hari nan fitri ini. Bukan karena alasan takut akan virus ini, tapi lebih untuk menjaga orang tua dan keluarga kita tersayang yang sudah masuk dalam kategori rentan terkena covid, semua itu sebagai bentuk ikhtiar kita dalam memohon perlindungan dari Allah Subhanahu wa ta'ala. Sebagaimana sebuah hadits 

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطَّاعُونُ آيَةُ الرِّجْزِ ابْتَلَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ نَاسًا مِنْ عِبَادِهِ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَفِرُّوا مِنْهُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia.
Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu.Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya.” 
(HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).

Maka dari itu, kita harus ikhlas dan sabar di lebaran 2020 ini kita tidak perlu mudik, tidak berkunjung ke rumah-rumah untuk bersalam-salaman, tidak perlu kumpul-kumpul atau bepergian ke luar di pusat pembelanjaan atau nongkrong di cafe.

@ivacwicha
@ivacwicha (dokpri)

Allah sungguh Maha Baik, pandemi terjadi saat tekhnologi sudah semakin canggih, sehingga silaturahmi pun masih bisa berjalan via daring dan kita masih bisa bertatap muka walau sebatas layar gawai kita. Selain itu, kita juga masih bisa berkirim-kirim hampers untuk orang yang kita rindukan.

Jadi, daripada kita berkeluh kesah dan bersedih hati karena tidak bisa mudik dan berkumpul dengan keluarga, lebih baik fokus akan hal-hal yang masih bisa kita lakukan dan tentunya wajib kita syukuri.
Nah, sedikit berbagi cerita tentang lebaran 2020 versi aku nih, ternyata banyak banget ibroh yang bisa kita nikmati dibalik pandemi yang belum kunjung berakhir ini.

1. Mengasah kemampuan memasak yang mungkin masih terpendam

Biasanya kalo lebaran gini selalu mudik dan otomatis jadi "nyonyah" (read:no masak2 dan uprek kerjaan rumah) jadi hanya intip-intip ke dapur sambil ngobrol ringan "gangguin" ibu memasak di dapur. 
Tapi tidak untuk lebaran kali ini, dimana harus bejibaku sendirian menyiapkan hidangan khas lebaran untuk keluarga kecilku tercinta. Jadi bersyukur atas pandemi ini, diberikan kesempatan untuk menyajikan yang terbaik saat lebaran seperti saat dulu ku masih anak-anak selalu diberikan yang terbaik. Buat kenang-kenangan, tak lupa hasilnya pun diabadikan 😁

Lontong opor, rendang daging kentang, tumis labu (Dokpri)


Masakan khas lebaran itu identik yang bersantan dan berlemak ya, makanya aku seimbangkan dengan sayur (walau sedikit ga matching ya) dan juga tidak lupa minum rimpang.
Ketidakmatchingan ini akibat semua belanja serba mendadak (karena awalnya ga mau masak berlebih). Jadi, belanja bahan pun h-1 lebaran dan tukang sayur sudah ramai sesak diserbu para ibu-ibu (pada lupa kalo harus physical distancing kali yaa..)
Kalau yang lain mungkin banyak yang udah nyiapin  masakan dari malam lebaran ya, ku malah baru mulai masak mendekati subuh, yang penting masih keburu dimakan sebelum shalat ied sebagaimana sunnahnya untuk makan terlebih dahulu sebelum shalat idul fitri.

2. Memberi kesempatan para imam rumah tangga untuk menjadi imam sesungguhnya

Suami sapa disini yang menyangka akan menjadi imam shalat ied? 
Walaupun hanya shalat ied di rumah dan makmumnya pun hanya keluarga sendiri, tapi kesempatan seperti ini mungkin hanya bisa di dapat saat pandemi seperti ini. Shalat ied yang biasa dilakukan berjamaah di masjid-masjid terutama masjid besar dan juga di lapangan, kini banyak dilakukan dirumah dan menjadi shalat ied dengan jumlah imam terbanyak mungkin sepanjang masa.
Jadi, lebih hemat waktu juga karena semua dilakukan di rumah. 

3. Bersilaturahmi secara daring dan mengakrabkan suasana di rumah

Nah ini dia yang bikin gregel dihati, tradisi sungkeman dan bersalam-salaman tidak bisa dilakukan saat lebaran tahun ini. Tapi itulah ibrohnya, karena sebenarnya makna idul fitri bukanlah hal itu. Meminta maaf harusnya langsung dilakukan saat kita ada salah kepada seseorang, tapi terkadang kita saja yang tidak sadar melakukan kesalahan ke orang lain. Dalam sebuah kajian, Ustadz Abdullah Gymnastiar pernah menyampaikan bahwa setiap malam menjelang tidur alangkah baiknya kita bermuhasabah diri untuk mensyukuri apa yang telah kita dapat dan adakah kesalahan yang kita perbuat, jika ada kesalahan hendaknya meminta maaf saat itu juga. Jadi tidak perlu menunggu lebaran untuk meminta maaf ke orang lain, terutama keluarga kita sendiri.
Itulah tradisi, sulit sekali untuk ditinggalkan, terlebih tidak ada hal negatif dari bermaaf-maafan di saat lebaran. Tapi untuk lebaran 2020 ini, kita hanya bisa bersilaturahmi secara virtual melalui media sosial ataupun video call. Bisa melalui chat atau video call di whatsapp, zoom meeting, atau google duo. Setidaknya itu masih bisa untuk pengobat rindu.

Beberapa tangkapan layar saat video call dengan keluarga tercinta.

4. Mengasah kemampuan desain saya secara pribadi

Nah kalo ini, sekedar menyalurkan hobi atas permintaan ayah mertua yang meminta dibuatkan template foto keluarga seakan-akan sedang berkumpul saat lebaran ini. Karena emang suka bikin desain template jadilah tukang desain dadakan bikin ucapan hari raya idul fitri untuk seluruh keluarga dan rekan divisi suami di kantor.
Alhamdulillah semua suka dan banyak yang mengira kumpul beneran. Kalau lebaran biasanya suka bingung mau ikut mudik kemana dulu, tapi lebaran kali ini bisa 2x foto keluarga dalam waktu setengah hari, ya walaupun hanya virtual..heheheh



5. Bisa fokus untuk mengoptimalkan ibadah Syawal

Ramadhan telah usai tapi kita masih diberi kesempatan untuk mengoptimalkan ibadah kita di bulan-bulan selanjutnya. Terutama di bulan Syawal ini, Allah memberi kita nikmat yang luar biasa, dengan berpuasa 6 hari tapi dianggap seperti berpuasa satu tahun penuh. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits.
Dari sahabat Abu Ayyub Al-Anshoriy, Rasulullah Shallallahu'alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

"Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh." (HR. Muslim)

Sayang banget kan kalau kita lewatkan?
Terlebih puasa 6 hari ini tidak harus dilakukan 6 hari berturut-turut, bisa dilakukan kapan saja mulai tanggal 2 sampai tanggal 30 bulan Syawal. Akan tetapi, bagi yang memiliki hutang puasa seperti kita kaum wanita yang kena uzur haid, hendaknya membayar hutang puasanya terlebih dahulu, setelah lunas baru deh berpuasa Syawal sebanyak 6 hari.
Mumpung masih pandemi dan tidak banyak acara bepergian dan tidak menjadi musafir, jadi bisa kita optimalkan untuk berpuasa langsung di bulan Syawal ini. Insya Allah, dengan menambah ibadah puasa ini, semakin terbiasa lah kita dalam menjaga nafsu dan memperbanyak ibadah sehingga harapannya bisa istiqomah hingga diberi nikmat berjumpa lagi dengan Ramadhan tahun berikutnya.
آمِيّنْ… آمِيّنْ… يَ رَ بَّلْ عَلَمِيّن


Kalau kita telusuri lebih dalam lagi, pasti masih banyak ibroh lainnya yang terkadang tidak kita sadari. Tentunya masih banyak juga nikmat lain yang wajib kita syukuri walau lebaran masih dalam kondisi pandemi seperti ini.
Nah, kalau lebaran 2020 kalian seperti apa nih?
Share ya di kolom komentar di bawah...
Sebagai penutup, salam dari keluarga kami untuk anda sekeluarga.



Sosial Distancing, apakah hanya slogan saja?


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


Assalamualaikum sahabat,

Marhaban ya Ramadhan,

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan ya semua..Semoga kita semua diberikan kesehatan dan kelancaran dalam menjalankan puasa danibadah lainnya di bulan ini. Aamiin

Ramadhan tahun ini sungguh tak pernah dibayangkan, tidak seperti Ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Menjalani ibadah puasa ditengah pandemi, tidak bisa shalat berjamaah di masjid, tidak ada acara buka bersama di luar, dan yang menyedihkan tidak bisa mudik untuk berkumpul dengan keluarga tercinta.

Yups, masih menyoal masalah COVID-19 yang belum juga sirna dari Indonesia. Sudah hampir 2 bulan sejak diberitakan 2 warga Depok positif virus tersebut, hingga kini (Jumat, 24 April 2020) sudah menembus angka 8.211 kasus positif yang tersebar di Indonesia. Belum lagi jumlah PDP dan ODP yang tidak kalah dengan jumlah korban positif. Untuk jumlah lengkap dan data perkembangan kasus ini bisa cek langsung ke sini yaa..

Kota Jakarta yang menjadi asal mula datangnya virus corona ini pun masih menjadi kota dengan jumlah terbanyak kasus positif, tepatnya 3.605 kasus. Padahal dari pemerintah daerah sudah mencanangkan berbagai program dan himbauan untuk masyarakat, tapi belum bisa juga menekan jumlah penyebaran virus corona ini. Sejak awal Maret sudah diberlakukan sosial distancing (jaga jarak), belajar dari rumah, dan work from home (bekerja dari rumah). Selain itu, pada awal April pemerintah Jakarta sudah memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang akhirnya diperpanjang hingga 7 Mei 2020.




Bagi sebagian orang (termasuk saya) sudah benar-benar aware dengan melakukan Sosial Distancing atau kini lebih ke Physical Distancing, dengan berbagai cara, mulai dari
  • Tetap #dirumahAja jika tidak ada keperluan penting dan mendesak (sekolah, bekerja, dan ibadah dari rumah)
  • Tidak menerima tamu baik keluarga ataupun kerabat dan teman
  • Tidak berinteraksi secara langsung dengan orang lain, seperti tetangga, warga sekitar, dan petugas paket pengiriman
  • Jika ada barang atau paket datang, petugas paket diminta untuk menaruh di depan pintu rumah saja. Setelah petugas pergi semprot paket dengan disinfektan dan diamkan dahulu beberapa jam
  • Pembelian barang dialihkan melalui e-commerce atau media daring lainnya 
  • Mengurangi intensitas belanja bahan masakan yang awalnya harian menjadi seminggu sekali (baca tips n trick nya:Food Preparation agar Bahan Masakan Lebih Tahan Lama)
  • Jika terpaksa keluar rumah karena tuntutan pekerjaan atau ada kepentingan seperti membeli bahan makanan, maka wajib menggunakan masker, membawa hand sanitizer atau tisue basah, jika menemukan tempat cuci tangan sebisa mungkin langsung cuci tangan
  • Menggunakan transportasi umum adalah solusi terakhir saat harus WFO (work from office)

Namun, pada kenyataannya Jakarta masih macet saja. Pasar dan pusat pembelanjaan pun tak sepi pengunjung. Hal ini membuat saya heran, apakah ada yang salah dengan peraturan pemerintah atau memang masyarakat yang belum bisa menerapkannya?

Minggu lalu, setelah 2bulan tidak berbelanja bulanan ke sepermarket,  akhirnya saya pun memberanikan diri keluar rumah untuk membeli berbagai kebutuhan menjelang Ramadhan. Saya pergi ke salah satu swalayan yang sudah biasa saya kunjungi setiap bulannya. Kaget rasanya begitu masuk area parkir banyak orang yang mengantri di luar pintu masuk swalayan. Perasaan saya pun langsung tidak enak menduga-duga ada prosedur apa untuk belanja disini saat PSBB. Akhirnya saya pun masuk dan mencari tau apa yang terjadi. Swalayan ini sungguh membuat saya kagum, Tip Top namanya. Demi menerapkan program pemerintah saat PSBB, swalayan ini membatasi jumlah pengunjung yang masuk untuk berbelanja. Informasi dari Customer Service, pengunjung yang masuk akan dibatasi per 5 orang dan dipanggil sesuai nomer antrian yang sudah diberikan saat datang. 

Saya yang datang jam 11 siang mendapat nomer antrian 403 dan pengunjung yang masuk terakhir masih nomer 246. 😆

Lebih parah dari antrian bank ya..(dokpri)

Disana juga sudah disediakan kursi tunggu yang diletakkan berjauhan untuk menerapkan jaga jarak antar pengunjung. Tapi, karena terlalu banyaknya pengunjung yang rela antri, penerapan Physical Distancing pun tidak berlaku lagi disana. Dan seperti inilah yang terjadi

Situasi antrian pengunjung Tip Top (dokpri)
Akhirnya, setelah melihat kondisi dan memikirkan si toddler yang dirumah sama bapaknya aja, saya pun mengurungkan niat untuk berbelanja. Padahal saya begitu suka dan nyaman berbelanja di Tip Top, selain harganya yang lebih murah dan lengkap, Tip Top swalayan ini berkonsep islami, dimana semua karyawan perempuan menggunakan hijab dan disediakan masjid yang bersih dan nyaman. Jika di swalayan atau sepermarket lain diputarkan musik masa kini, di Tip Top diperdengarkan murotal tiada henti, jadi sambil berbelanja kita bisa mendapat pahala dari apa yang kita dengar disana.

Kembali ke masalah Physical Distancing, dari kasus di atas, jadi tersadar. Bukanlah peraturan pemerintah lah yang salah atau kurangnya himbauan secara luas, tapi masalahnya adalah pada kesadaran masyarakat akan bahayanya si virus corona ini. Rasa-rasanya masyarakat masih kurang serius dalam menjaga dirinya sendiri dan keluarga mereka masing-masing. Apakah karena virus corona ini tidak terlihat jadi mereka tidak merasa takut atau mawas diri?
Padahal sudah begitu banyak korban meninggal akan virus ini dan jumlah kasus positif pun terus semakin bertambah dengan jumlah yang sangat signifikan. 

Mari kita berdoa sejenak agar masyarakat Indonesia mau lebih aware menghadapi pandemi ini, dengan benar-benar melakukan Physical Distancing secara nyata semoga penyebaran virus ini bisa segera hilang, tentunya dengan seijin Allah Subhanahu wa ta'ala..
آمِيْن يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ





#COVID-19 #physicaldistancing #sosialdistancing #dirumahAja #BPNRamadan2020 #30dayblogchallenge #bloggerperempuan

Sosial Distancing, Tetap Produktif untuk Perkuat Iman dan Imun Bersama



بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


Assalamualaikum,
Apa kabar Sahabat, semoga dalam keadaan sehat dan tenang walau negeri kita sedang dirundung virus corona sejak awal bulan Maret ini.

Melanjutkan tulisan sebelumnya, mengenai Corona dan Penangkalnya dimana saat itu COVID-19 baru saja masuk di Indonesia dengan diberitakannya 2 warga Depok positif corona, tepatnya tanggal 2 Maret 2020. Warga Indonesia sempat panik, harga masker melonjak tinggi dan banyak warga yang berbelanja dalam jumlah tidak wajar. Namun kepanikan itu hanya sesaat dan keadaan kembali normal tanpa ada pencegahan yang optimal.

Hingga akhirnya, 12 Maret 2020 WHO menyatakan bahwa corona menjadi pandemi global. Selang 1 hari, pada 13 Maret 2020 Gubernur Jakarta, Bapak Anies Baswedan melakukan penutupan sementara objek wisata di Jakarta selama 2 minggu terhitung tanggal 14-29 Maret 2020. Kemudian diikuti tindakan meliburkan kegiatan sekolah dan digantikan sistem pembelajaran online dirumah. Hingga akhirnya diberlakukan work from home untuk sebagian para pekerja. Semua tindakan tersebut dilakukan sebagai bentuk sosial distancing agar virus corona tidak semakin menyebar. 

Akan tetapi, hampir 1 minggu sudah...
Kondisi saat ini justru semakin genting, dimana sore tadi bapak Gubernur Jakarta menyatakan bahwa kondisi Jakarta sudah masuk ke tahap Tanggap Darurat karena jumlah kasus positif COVID-19 yang terus semakin meningkat dan korban meninggal semakin bertambah.
Per 20 Maret 2020, terdapat 369 kasus positif COVID-19 dengan 32 kematian dan 17 sembuh. Dimana dari jumlah tersebut, 224 kasus positif di DKI Jakarta dengan 20 kematian dan 13 orang dinyatakan sembuh.
Untuk lebih detailnya, berikut data kasus corona di Indonesia.

(https://corona.jakarta.go.id/id)



Sungguh perbandingan yang memprihatinkan dimana korban yang meninggal lebih banyak daripada yang sembuh.
Hal ini memaksa kita untuk semakin mawas diri, menjaga kebersihan dan kesehatan, dan benar benar mengikuti himbauan pemerintah untuk melakukan sosial distancing

Apa sih sosial distancing itu?
Pembatasan sosial atau jaga jarak dan interaksi dengan orang banyak di sekitar kita.

Pembatasan sosial adalah serangkaian tindakan pengendalian infeksi nonfarmasi yang dimaksudkan untuk menghentikan atau memperlambat penyebaran penyakit menular. Tujuan dari pembatasan sosial adalah untuk mengurangi kemungkinan kontak antara orang terinfeksi dan orang lain yang tidak terinfeksi, sehingga dapat meminimalkan penularan penyakit, morbiditas, dan terutama, kematian. (Wikipedia)

Biar lebih jelas berikut ilustrasinya.


Sosialisasi mengenai sosial distancing ini sudah banyak dilakukan oleh pemerintah melalui berbagai media, tapi entah mengapa masyarakat Indonesia ini kurang aware dengan kondisi saat ini. Baru saja tadi pagi saat berkendara ke tukang sayur, sepanjang jalan mengamati kondisi sekitar yang masih banyak anak kecil diluar rumah sambil disuapi makan oleh ibunya, dan penjual warung makan berjualan seperti biasanya tanpa menggunakan penutup yang lebih aman. Saya pun yang menggunakan masker ke tukang sayur justru dipandang "aneh" oleh beberapa orang. Yaa...saya pakai masker ke luar rumah walau saya tidak sakit bukan lah hal yang seharusnya, tapi itu bentuk upaya saya menjaga diri terutama untuk anak saya yang masih balita karena kami termasuk golongan rentan terkena virus ini.

Hmmm...sepertinya terlalu panjang membahas si corona ini dan mungkin akan menyita banyak halaman jika tidak segera disudahi. Biar sesuai dengan judul, mari kita to the point aja...

Gencarnya sosial distancing memaksa kita untuk stay at home, yups #dirumahAja sampai menjadi hashtag nomer satu.
Mungkin bagi para extrovert fenomena ini menjadi ujian tersendiri karena tidak sesuai dengan kepribadiannya yang selalu ingin berhubungan sosial diluar. Namun kebalikannya, sosial distancing ini menjadi hal yang mudah dan biasa dilakukan karena berada dirumah adalah hal ternyaman bagi kami...
Well, saya seorang introvert (tapi sebenernya saya pun punya hasrat yang tinggi untuk keluar rumah di kala weekend 😁✌) Tapi di tiap harinya ketika suami bekerja, saya sangat menikmati berada di dalam rumah berduaan dengan anak saya, keluar rumah hanya sebatas belanja sayur pagi-pagi.

Maka dari itu, saya ingin mengulas apa-apa saja sih yang bisa kita lakukan selama masa sosial distancing agar tetap jadi produktif sehingga iman dan imun kita semakin kuat, terutama untuk para ladies nih.
Ladies disini pun pasti banyak tipe ya, nah sesuaikan dulu kamu termasuk yang mana nih?

Singlelillah

Untuk gadis-gadis hebat nan cantik jelita, apapun rutinitas yang biasa dilakukan baik sekolah, kuliah, ataupun bekerja, dengan adanya sosial distancing ini pasti kamu-kamu punya waktu lebih dari biasanya. Karena ga ada lagi waktu tersita untuk bermacet-macetan dijalan, ga ada lagi waktu kumpul bareng temen, dan melalang buana kesana kemari. 
Disinilah kamu bisa manfaatkan waktu untuk hal yang lebih manfaat, mulailah untuk quality time bersama orang tua atau saudara mu dirumah.
Perbanyak waktu untuk menghibur dan ngobrol bareng keluarga, manfaatkan lah waktu sebaik-baiknya untuk selalu menyenangkan orang tua terutama Ibumu. Karena jika sudah berkeluarga kamu tidak akan bisa sebebas sekarang.
Perbanyak ilmu dan skill, bisa dari berbagai buku atau media lainnya seperti kulwhap yang saat ini banyak sekali dipromosikan. Siapkan diri untuk menjadi istri dan ibu yang luar biasa dengan mempelajari ilmu berkeluarga dan parenting. Atau yang paling simple, kamu bisa juga belajar memasak,  dengan begitu kita bisa quality time dengan ibu plus bonus jadi jago masak untuk suami kita kelak (Aamiin...)

Working Moms

Sebelumnya mau menyapa dulu aah..
Hai mommy2 kece,
salut deh untuk kalian yang masih bekerja diluar sana yang bisa membagi waktu dengan ciamik antara tugas domestik mengurus anak dan suami tetapi masih bisa berkarya diluar sana. Baik untuk meringankan beban suami atau sebagai bentuk menebar manfaat ke sesama umat, kalian sungguh luar biasa....!
Nah, pasti adanya work from home ini menjadi moment yang langka ya, dimana bisa bekerja dirumah sambil memandangi anak dan bisa sambil ngemil dengan leluasa adalah kebahagiaan tersendiri ya...
Yang biasanya bangun pagi-pagi sudah berjibaku bersama suami untuk menghindari macetnya jalanan, kini bisa asyik dulu di dapur mencoba resep baru, menyiapkan makan untuk keluarga sambil quality time bersama suami. Mulai dari membahas pekerjaan masing-masing atau membahas rencana ke depan mengenai si corona ini.
Lalu disela-sela mengerjakan pekerjaan kantor atau orderan nih buat para pebisnis, kita bisa sambil membersamai aktivitas si kecil atau anak-anak kita saat sekolah dirumah.
Bersyukur kita masih diberi kesempatan untuk kembali ke kodrat kita sebagai madrasah utama bagi anak-anak kita. Menggantikan sementara peran guru di sekolah, menjadikan kita mengerti bahwa tidak mudah menjadi seorang pengajar, dimana kesabaran kita akan benar-benar diuji saat mengajari anak-anak kita. Tapi disitulah ladang pahala kita untuk bekal akhirat kelak.
Jika anak sudah mandiri, kita pun bisa mengupgrade diri menambah ilmu atau menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang selama ini tertunda, seperti merapikan barang-barang dirumah, menyortir barang yang bisa kita sumbangkan ke orang yang membutuhkan.

Full time Moms

Untuk para full mommies mungkin tidak banyak yang berubah ya, hanya saja tugas dirumah akan semakin banyak karena ditambah menjadi "guru" dijam-jam yang seharusnya anak sekolah.
Seperti halnya working moms diatas saat membersamai anak belajar dirumah ya Moms.
Tapi saat sosial distancing kita tidak perlu mengantar jemput anak sekolah, mengurus acara pertemuan atau pengajian, sehingga ada waktu untuk me time dengan tenang di rumah.
Dan tentunya merasa semakin bahagia karena saat mengerjakan pekerjaan domestik tidak sendirian lagi seperti biasanya. Akan lebih banyak waktu bersama dengan suami untuk sama-sama menerapkan kurikulum keluarga yang selama ini sudah dirancang bersama.

Nah, secuplik kegiatan saat sosial distancing tadi jika kita niatkan mengharap ridha Allah semoga bisa menjadi bekal amalan kita kelak di akhirat. Dan jika kita melakukannya dengan ikhlas pasti terasa ringan dan kita pun menjadi bahagia sehingga stress pun go away..
Dengan begitu imun kita semakin kuat dan insya Allah terhindar dari berbagai penyakit termasuk COVID-19 ini..

Gimana nih cara lain memperkuat imun kita?
Yuks Get The Sun alias rajin-rajin berjemur. Mari kita manfaatkan sinar matahari yang Allah berikan kepada kita secara gratisss..tiss.tisss....
Sebagaimana yang dijelaskan oleh dr. Vinci Edy Wibowo, SpP bahwa berjemur yang paling baik adalah saat matahari terik yaitu sekitar pukul 09.00-11.00 selama 15-30 menit. Usahakan mengenai kulit secara langsung dan saat berjemur pilih tempat yang terhindar dari polusi.
Selain itu, untuk meningkatkan imun atau daya tahan tubuh, tidur yang cukup selama 6-8 jam per hari. Waktu terbaik untuk tidur adalah malam hari. Jadi selama sosial distancing ini jangan malah begadang ngabisin waktu ga jelas buat streaming film atau hal yang kurang manfaat lainnya.

Trus gimana biar iman kita juga kuat?
Banyak-banyak istighfar, memohon ampun kepada Allah. Ketika aktifitas keluar semakin minim, tubuh tidak terlalu lelah. Cocok banget kita gunakan sepertiga malam kita untuk muhasabah diri bertaubat kepada Allah begitu banyak waktu yang kita habiskan untuk mengurus masalah duniawi hingga mengesampingkan bekal akhirat kita.
Selain itu, kita bisa banyak bersedekah untuk membantu keadaan yang kurang mampu dimana mereka tetap harus bekerja diluar sana sebagai sumber penghasilan keluarga.



Intinya, sosial distancing ini bisa menjadi moment yang berharga jika kita bisa memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Terutama untuk semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta اَللهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.

Bagi yang masih harus berjuang keluar ditengah-tengah virus corona ini, mari luruskan niat agar menjadi ibadah dan bernilai pahala disisi اَللهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.
Tak lupa juga, mari kita dengan tulus ikhlas mendoakan para tenaga medis yang berada di garis terdepan menghadapi virus ini, semoga senantiasa diberi kesehatan dan perlindungan oleh اَللهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan menjadi amal jariyah karena telah berjuang menyelamatkan nyawa mereka yang terinfeksi virus corona ini.

Semoga kita semua bisa melewati wabah ini dengan sabar dan Allah segera angkat musibah ini sehingga kita bisa menyambut Ramadhan dengan penuh suka cita, meramaikan masjid-masjid untuk shalat berjamaah dan berkumpul bersama keluarga saat lebaran nanti...
Aamiin ya Rabbal'alaamiin....



Corona dan Penangkalnya


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


Assalamualaikum sahabat...

Semoga dalam keadaan sehat dan tenang walaupun virus corona mulai "tercium" di Indonesia...
Sebelum kita bahas lebih mendalam, yuks kita bahas sebentar siapa sih si corona virus ini?

Koronavirus atau coronavirus (istilah populernya: virus korona, virus corona, atau virus Corona) adalah sekumpulan virus dari subfamili Orthocoronavirinae dalam keluarga Coronaviridae dan ordo Nidovirales. 
Kelompok virus ini yang dapat menyebabkan penyakit pada burung dan mamalia (termasuk manusia). Pada manusia, koronavirus menyebabkan infeksi saluran pernapasan yang umumnya ringan, seperti pilek, meskipun beberapa bentuk penyakit seperti SARS, MERS, dan COVID-19 sifatnya lebih mematikan. Manifestasi klinis yang muncul cukup beragam pada spesies lain: pada ayam, koronavirus menyebabkan penyakit saluran pernapasan atas, sedangkanpada sapi dan babi menyebabkan diare. Belum ada vaksin atau obat antivirus untuk mencegah atau mengobati infeksi koronavirus pada manusia. Source:Wikipedia.

Sebenarnya masih simpang siur juga sih, siapa si corona virus ini? Awal mula menyerang masyarakat Wuhan China, diberitakan bahwa virus ini menyebar dari pasar seafood di Huanan China dimana kelelawar yang dijadikan korban atas penyebab virus ini menyebar. Bahkan santer berita pula bahwa corona ini adalah virus buatan china yang dibuat untuk senjata biologis untuk perang. 
Entah bagaimana kebenarannya wallahu a'lam bishawab.

Tapi jangan khawatir akan virus ini, karena sudah banyak pula informasi yang beredar tentang bagaimana penularan dan langkah-langkah antisipasinya, seperti dalam gambar dibawah ini.




Lalu, bagaimana dengan di Indonesia?
Awal bulan Februari masyarakat Indonesia masih tenang adem ayem tidak takut akan virus ini. Bahkan banyak meme yang mengatakan virus corona ini takut dengan orang Indonesia dikarenakan pola makan dan gaya hidup masyarakatnya yang tidak "sehigienis" negara maju. Tapi disini harga masker di pasaran sudah mulai membumbung tinggi. Karena saya termasuk orang yang selalu stock masker dirumah untuk berbagai keperluan jadi kaget ketika harga masker menjadi tidak wajar padahal virus itu belum "terdeteksi" di Indonesia. Harga 1 box surgical mask 3ply isi 50 pcs yang normalnya sekitar 18-20ribu tiba-tiba menjadi ratusan ribu di e-commerce dan di toko offline sudah banyak yang kosong. Entah manipulasi dari pihak mana, tapi begitulah yang terjadi di negara +62 ini, dimana banyak oknum yang tidak punya hati mencari keuntungan sebanyak mungkin bahkan dalam kondisi genting seperti ini.

Dan benar saja, akhir bulan Februari tiba-tiba Bapak Presiden (yang banyak dielu-elukan sebagian orang ini) mengumumkan bahwa ada 2 warga Depok yang positif corona. Sontak berita ini membuat heboh dan panik masyarakat. Banyak orang yang mulai memborong belanjaan dan harga maskerpun semakin menggila. Saya pun mencoba tetap woles (padahal lokasi saya tidak begitu jauh dari 2 warga tersebut) sembari mencari informasi melalui gawai di tangan. Tapi justru beragam asumsi yang saya dapatkan, tinggal di negara yang berflower ini sungguh penuh intrik yang mana pemerintahannya memang cukuplah "antik".

Akhirnya saya mendapati beberapa statement di media sosial yang bisa membuat saya lebih tenang dan tidak latah dengan kondisi yang ada. Serasa tertampar, bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan selama kita yakin dan selalu ingat kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.

Yaa, memang benar segala sesuatu itu sudah Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى atur sedemikian rupa, tugas kita hanya sabar dan ikhlas dalam menjalaninya. Memang tidak semudah mengucapkannya menuliskannya, butuh iman yang benar-benar kuat. Dan saya menulis disini sebagai bentuk untuk merefleksi diri agar bisa terus berpositif thinking dalam menghadapi wabah ini.


Yaaa..
Sebaik-baiknya penangkal dari semua virus dan wabah adalah berserah diri memohon perlindungan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.
Yakin dan percaya sepenuhnya akan qadarullah, bahwa sakit datangnya dari Allah dan kesembuhan juga atas ijin Allah, dengan begitu insya Allah perasaan was-was dan khawatir berlebihan akan sirna dengan sendirinya. Dan yang tidak kalah penting senantiasa berdoa dan ikhtiar untuk selalu menjaga kesehatan sebagai bentuk tanggung jawab kita atas anugerah tubuh yang diberikan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى .

Lalu kita sebagai umat muslim, banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai bentuk ikhtiar dan tawakal kita kepada Allah.

1. Berdoa

Ada salah satu hadits yang menerangkan tentang doa memohon perlindungan dari segala penyakit mengerikan termasuk penyakit COVID-19 ini. Berikut doanya:

Source:@ShahihFiqih

2. Dzikir Pagi&Petang

Ada pepatah bilang "dzikir pagi petang bagaikan baju besi berperang" yang dapat melindungi kita dari berbagai mata bahaya, tentunya dengan seijin Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى .
Banyak penulis yang menuliskan buku dzikir pagi petang, saya sendiri membaca buku karya 
Yazid bin Abdul Qadir Jawas.
Bagi yang belum punya bisa download PDF ini ya..

3. Memelihara Wudhu 

Beruntunglah sebagai umat muslim kita wajib shalat 5 waktu, dimana sebelum shalat kita berwudhu terlebih dahulu. Bukankah saat berwudhu yang dibasuh pertama kali adalah kedua tangan? Sebagaimana yang dianjurkan oleh berbagai praktisi saat ini untuk rutin mencuci tangan sebelum memegang wajah.
Lalu, yang dimaksud memelihara disini adalah ketika Wudhu kita sudah batal, maka langsung berwudhu lagi tanpa menunggu waktu kita akan shalat. Tapi ini disesuaikan dengan kondisi dan aktivitas masing-masing individu ya...

4. Jaga Kesehatan dan Stamina Tubuh

Hal ini bisa dilakukan dengan banyak hal 
• Perbanyak makan sayur dan buah segar yang banyak mengandung vitamin C
• Jaga kebersihan makanan dan kebersihan diri
• Rutin berolahraga dan berjemur sekita jam 7-8 pagi untuk mendapat vitamin D alami
• Perbanyak konsumsi rempah yang banyak mengandung curcuma seperti kunyit, jahe, temulawak, dan sereh
• Konsumsi madu untuk meningkatkan imun tubuh 
• Be calm and dont panic agar tidak stres yang menyebabkan imun turun



Semoga dengan langkah-langkah di atas, biidznillah kita dapat terhindar dari berbagai macam penyakit, khususnya COVID-19 yang sedang menyerang negara kita tercinta. 

Akhir kata, wassalam.




#COVID-19 #viruscorona #rempah #qadarullah #doa #dzikir #dzikirpagipetang