Tampilkan postingan dengan label Education. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Education. Tampilkan semua postingan

Mengenali dan Mengoptimalkan Bakat Anak


Ajang pencarian bakat makin marak menghiasi layar kaca, baik di Indonesia maupun mancanegara. Mulai dari bakat bernyanyi, memainkan alat musik, melukis, menari, dan bakat secara fisik lainnya. Seringnya, yang menjadi juara adalah mereka yang memiliki suara indah nan merdu alias bakat menyanyi. Entah karena menyanyi yang dianggap paling menghibur atau karena paling banyak peminatnya. Mungkin begitulah dunia hiburan…

Terlepas dari hal di atas, sebenarnya bakat tidak hanya sebatas apa yang sering muncul atau sering menjadi tontonan banyak orang saja. Ada banyak jenis bakat yang Allah Subhanahu wa ta’ala titipkan kepada kita. Tinggal bagaimana kita bisa menggali potensi dan melatihnya dengan semaksimal mungkin agar bisa berguna bagi diri sendiri dan orang lain.

Mengingat bahwa bakat itu bisa menjadi modal penting untuk masa depan anak, Maka penting bagi kita untuk mencari tau dan mengenali potensi anak sedini mungkin. Tujuannya agar bakat yang dimiliki anak bisa semakin terasah dengan stimulasi yang tepat.

Tidak sedikit orang tua yang sudah mempersiapkan masa depan anak, mengatur dan merencanakan kesuksesan mereka hanya dengan pertimbangan sepihak tanpa memberi porsi bagaimana minat dan potensi anak. Padahal setiap individu mempunyai kemampuan dan keahlian masing-masing yang tidak bisa kita bandingkan atau kita paksakan dengan keinginan dan harapan masa lalu orang tua yang belum terwujud.

Jangan sampai, kelak anak kita menjalani kehidupan atau profesi yang bertentangan dengan minat dan bakatnya. Na'udzubillah min dzalik

 

Apa itu Bakat?

Bakat adalah kemampuan bawaan dari seseorang yang mana sebagai potensi yang masih perlu dikembangkan lebih lanjut dan dilatih agar mencapai impian yang ingin diwujudkan.

- C. Utami Munandar -

 

Bakat tidaklah hanya kemampuan dalam bentuk fisik yang bisa kasat mata saja, tapi bakat juga bisa dalam bentuk kemampuan dalam berpikir, menganalisis, dan masih banyak hal lainnya. Bakat itu yang mudah dilihat, mudah dikenali, dan konsisten muncul berulang-ulang. 

Jadi sebenarnya bakat itu bisa berkembang dan dikembangkan, dengan berbagai latihan atau faktor-faktor lain yang nanti akan kita bahas lebih dalam.


Jenis Bakat

1. Bakat Umum, merupakan potensi dasar yang dimiliki setiap individu pada umumnya. 
Seperti, kemampuan berbicara, kemampuan berpikir, kemampuan membaca dan menulis, serta kemampuan bergerak.
2. Bakat khusus, merupakan kemampuan atau potensi khusus yang dimiliki oleh seseorang yang belum tentu dimiliki oleh individu lain.
Bakat ini dibagi dalam 8 jenis kategori yang lebih dikenal dengan Multiple Inteligence yang telah saya kemas dalam gambar di bawah ini


mengenali-bakat-anak


Jadi, bakat anak tidak hanya sekadar jago menyanyi atau bermain peran saja ya Moms..

Tugas kita sebagai orang tua untuk bisa menggali dan mencari tau apa bakat anak kita agar potensi yang ada bisa semakin terasah dan dikembangkan. Lalu, bagaimana caranya?

Cara Mengenali Bakat Anak

Untuk menemukan apa bakat anak kita dibutuhkan waktu yang tidak singkat, karena perlu dilakukan pengamatan atau observasi yang bertahap. Jadi tidak satu dua hari bakat anak bisa terlihat. Biasanya mulai usia 2 atau 3 tahun anak akan menunjukkan kemampuan yang paling menonjol. 

                  Pentingnya Membedakan Emosi dan Strategi dalam Perilaku Anak 


Mengenali-bakat-anak

 

1. Temukan 4E dalam aktivitas produktif anak, seperti saat bermain. Apa saja itu 4E?

  • EASY, hal yang dengan mudah dilakukan oleh anak
  • ENJOY, sesuatu yang dilakukan anak dengan senang dan nyaman
  • EXCELLENT, apa yang dikerjakan anak hasilnya bagus
  • EARN, anak mampu menghasilkan baik karya maupun manfaat

2. Jangan batasi rasa ingin tahunya, beri kesempatan anak untuk bereksplorasi dalam kesehariannya

3. Amati & observasi sifat dan karakteristik anak yang sering muncul

4. Catat deskripsi apa adanya, tanpa ada labelling atau persepsi orang tua yang bisa jadi mengganggu observasi bakat anak yang sesungguhnya


 

2 Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Bakat Anak

Setelah mengetahui potensi dan kemampuan anak yang lebih dengan cara di atas, kita pun bisa mengembangkan atau mengasah bakat anak dari beberapa faktor berikut.

1. Faktor internal (inside out)

Dimana kita bisa mengembangkan yang sudah ada di dalam diri anak yang bisa kita amati dan sesuaikan berdasarkan:

  • Genetik, faktor yang diturunkan atau diwariskan dari orang tua atau keluarga.
  • Kepribadian, sifat atau karakter anak
  • Minat, rasa keinginan yang tinggi atau gairah akan suatu hal
  • Motivasi berprestasi
  • Keberanian mengambil resiko
  • Resiliensi, yaitu kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit. (Wikipedia)
Selama ini saya menganggap bahwa faktor genetik yang paling mempengaruhi bakat anak. Ternyata tidak berlaku pada anak saya, Azka. Sejak usia 2 tahun hingga saat ini berusia hampir 3 tahun, Azka sangat tidak antusias saat diajak bermain berhitung. Padahal kami orang tuanya memiliki basic akuntansi yang mana "bermain" angka menjadi nilai plus buat kami. 
Saya pun tidak memaksakan dan terus memberi peluang bakat yang lain, yang sesuai dengan kepribadian anak dan mencari tau apa minatnya. 
Ini pun hanya langkah awal dan bukanlah suatu penentuan. Dengan bertambah usia anak, lama kelamaan akan nampak potensi anak yang sesungguhnya dengan adanya faktor-faktor lain sebagai alat bantu untuk mengerucutkan berbagai pilihan bakat yang ada.

2. Faktor Eksternal (outside in)

Selain faktor internal, ada juga faktor dari luar yang sebenarnya belum ada di dalam diri anak, diantaranya:

  • Kesempatan dan pengalaman

Pastinya setiap bakat membutuhkan kesempatan dan pengalaman untuk mengasahnya, misalnya aktif dalam kegiatan atau lomba yang berhubungan dengan bakat anak.

  • Sarana dan pra sarana

Kita bisa memberikan sarana bagi bakat anak dengan mengikuti les atau klub dan menggunakan jasa tenaga profesional untuk melatihnya. Tentunya komunikasikan terlebih dahulu pada anak dan atur waktu yang tidak mengganggu waktu bermain dan istirahatnya.

  • Lingkungan

Lingkungan menjadi faktor pendukung bagi keterampilan dan bakat anak. Dimana lingkungan bisa menjadi motivator yang baik bagi seorang anak. Sebagai contoh, anak yang lahir dari keluarga seniman biasanya sang anak pun tidak jauh dari profesi orang tuanya karena terbiasa dengan lingkungan yang berkecimpung dalam bidang tersebut. Namun kembali lagi, ini hanya faktor pendukung untuk mengembangkan bakat anak.

  • Pola asuh orang tua

Yang paling penting tentunya pola pengasuhan orangtua yang memberikan kebebasan pada anak untuk menekuni bakatnya, tentunya dengan batasan yang mendukung perkembangan anak. Misalnya anak rutin latihan dan berkarya namun tetap memperhatikan kebutuhan anak untuk bermain, beristirahat, belajar dan melakukan aktivitas harian lainnya. 

Kata kata positif dari orang tua yang selalu menyemangati anak dan selalu ada saat anak bertanding atau menunjukkan bakatnya juga sangat dibutuhkan anak. Berikan juga kesempatan yang luas bagi anak untuk mengungkapkan perasaan dan pendapatnya tentang bakat yang dimilikinya.


Dengan demikian bakat anak akan semakin terbentuk dan anak pun akan sehat secara mental, karena tidak ada unsur paksaan dari kita. Sebagai bonus, anak akan merasa diterima, dipahami, disayangi, dan diakui sehingga rasa percaya dirinya akan semakin meningkat.

Demikianlah cara untuk mengenali atau menemukan bakat anak serta cara untuk mengoptimalkan bakat mereka. Yang paling penting untuk diingat sebagai orang tua, kita tidak berhak untuk memaksakan keinginan atau harapan kita kepada mereka. Tugas kita hanya memfasilitasi minat dan bakat anak agar kelak anak bisa mencapai sesuatu yang sesuai dengan passion mereka, tentunya dengan arahan dan bimbingan dari kita sebagai orang tua agar anak tetap berada di jalan yang diridhai dan diberkahi Allah Subhanahu wa ta'ala.

Aamiin ya Rabbal'alaamiin...


5 Ide Bermain DIY Simple bersama Anak di Rumah

Assalamualaikum,

Masa golden age atau 1000 hari pertama kehidupan merupakan masa krusial yang sayang jika kita lewatkan begitu saja tanpa adanya stimulasi dan bonding yang kuat antara orang tua dan anak. 

Bermain bersama anak merupakan salah satu cara mempererat ikatan dan juga bisa merangsang pertumbuhan dan perkembangan otak anak.  Jadi sudah seharusnya bermain dengan anak menjadi rutinitas wajib yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu oleh orang tua.

Sayangnya, masih ada sebagian orang tua yang hanya memberikan gawai atau mainan elektronik lain sebagai media bermain anak di rumah. Entah dengan dalih anak yang lebih tertarik dan “anteng” saat screentime atau memang orang tua yang tidak mau repot?

Padahal, banyak studi yang menyebutkan bahwa penggunaan gawai untuk anak usia dini akan berdampak negatif bagi kesehatannya. Selain gangguan fungsi penglihatan, penggunaan gawai yang terlalu sering juga dapat mengganggu pertumbuhan otak dan memperlambat perkembangan anak.

Oleh karena itu, kita sebagai orang tua haruslah bijak dalam memberikan screentime untuk anak-anak kita. Masih banyak aktivitas lain yang tidak kalah seru dan sekaligus bisa merangsang perkembangan fisik dan otak anak.

Kita bisa mengajak anak beraktivitas di luar rumah untuk melatih kekuatan fisik atau motorik kasar anak. Seperti bermain bola, berlari, memanjat, dan bersepeda. Selain itu, masih banyak juga aktivitas atau permainan lain yang memiliki banyak manfaat bagi tumbuh kembang si kecil lho..


DIY Permainan Anak di Rumah

Pasti sudah tidak asing lagi dengan kata DIY kan Moms?

DIY adalah singkatan dari "do it yourself" yang dalam Bahasa Indonesia berarti "lakukan sendiri". DIY permainan anak merupakan kegiatan membuat berbagai kreativitas tanpa bantuan ahli dengan menggunakan alat dan bahan yang sederhana. 

Selama lebih dari 1 tahun, membuat DIY permainan anak sudah menjadi kegiatan wajib bagi saya di rumah. Salah satu hal yang membuat saya bersemangat adalah ketika anak saya selalu menagih dan menanyakan DIY apa yang akan saya buat untuknya.

Hanya dengan barang-barang yang ada di rumah dan mencari ide dari berbagai sumber, kita juga bisa bermain dengan anak yang tidak kalah seru dengan permainanan di gawai kita lho Moms..

Nah, disini saya akan berbagi beberapa ide bermain bersama anak yang telah saya buat, yang insya Allah dapat mengasah kemampuan anak. Untuk kali ini kita akan membahas permainan DIY yang bertema transportasi.

Tema transportasi merupakan tema permainan yang paling diminati oleh anak-anak, khususnya anak laki-laki. Jadi tema transportasi ini adalah teknik yang tepat untuk para pemula yang sedang berusaha mengalihkan anaknya dari kecanduan gadget.

Ide Bermain Anak dengan Tema Transportasi


1. Melukis dengan cat air

Anak-anak akan tertarik bermain dengan pilihan warna yang menarik dan terdapat unsur air di dalamnya. 

Anak mana yang sih yang ga suka bermain di air?

Bahan yang dibutuhkan  : cat air dan kuas, styrofoam bekas, spidol untuk menggambar pada styrofoam Anda.

Penggunaan sterofoam akan memudahkan anak dalam mengaplikasikan cat air dalam gambar, karena tidak akan cepat meluber seperti menggunakan kertas biasa. 

Bermain art seperti ini memiliki banyak fungsi untuk anak lho.. Selain untuk kreativitas dan mengasah keterampilan motorik halus anak, art  juga dapat meningkatkan kemampuan psikososial anak, dimana anak dapat meluapkan emosi dan mengekspresikan diri.

Diharapkan dengan kegiatan ini anak-anak akan lebih mampu mengungkapkan dan mengekspresikan diri.



2. Membedakan jenis transportasi

Anak-anak biasanya sangat menyukai berbagai jenis dan bentuk transportasi. Disini kita bisa mengenalkan kepada anak berbagai bentuk kendaraan, baik kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Gunakan gambar yang colourfull agar anak lebih tertarik. Di sini saya menggunakan printable gambar dan siluetnya yang ditempel ke karton untuk jenis-jenis transportasi darat, air dan udara.

Lihat posting ini di Instagram

PEMBELAJARAN TRANSPORTASI Bahan: kertas gambar besar (saya: kalender bekas), gambar transportasi (saya: bisa dicetak di atas karton tempel supaya tebal), spidol untuk gambar. Sasaran: memperkenalkan jenis transportasi darat, laut dan udara. Gunakan siluet untuk lebih memahami di mana lokasinya. Azka hepi sekali kalau tema ini iya lho guys. Dimainkan, saya tidak ingin berhenti bahkan di malam hari, saya tidak ingin diajak tidur. Azka menindaklanjuti dari awal, ikut gunting dan paste lalu gambar-gambarnya juga begitu heboh saat saya selesai.Terima kasih nak karena telah mengajarimu banyak hal 💜 #azkabermain # Azka32months #idebermainanak #idebermain #friendbermainanak #SENSORYplay #invitationtoplay #montessoriathome #funlearning #funplay #edufun #eduplay

Sebuah pos dibagikan oleh Ivayana C Wichayanti (@ivacwicha) di


 3. Membedakan Arah 

Masih menggunakan bahan pada permainan sebelumnya, kita bisa membuat permainan lain yang tidak kalah manfaat.

Mengajarkan arah atas bawah, kanan kiri bisa kita ajarkan ke anak sejak 18bulan ketika anak sudah lancar bicara. Hal ini bertujuan untuk membiasakan anak untuk lebih aktif menggunakan tangan kanannya dan tangan kiri digunakan untuk membersihkan badan. Semakin besar anak, kita bisa mengajarkan arah dengan tanda panah seperti dibawah ini, agar saat belajat menulis huruf anak sudah paham konsep dasarnya.



 4. Menyusun Simple Puzzle

Nah kalau ini mainan super simple tapi anak sangat suka. Hanya bermodalkan kardus bekas dan pensil warna kita bisa membuat puzzle yang mudah disusun oleh anak karena hanya terdiri dari 4 bagian. 

Ps: abaikan gambar yang meletot sana sini ya, maklum dulu ga sekolah TK jadi ketrampilan kurang terasah.


Buat yang ga jago gambar seperti aku nih, bisa banget pakai gambar printable atau gambar yang dipunya di rumah, lalu tempel ke kardus bekas. 


Puzzle bernomer seperti ini bisa banget sekaligus untuk mengajarkan urutan angka ke anak.

 5. Tangram bentuk pesawat



Material: kertas HVS, kertas origami, lem, pulpen, doubletape, dan kardus untuk alas.
Permainan ini bisa untuk stimulasi kognitif anak dengan mengenalkan berbagai bentuk segitiga untuk disusun menjadi gambar pesawat utuh. Sekaligus stimulasi koordinasi tangan dan mata anak saat melepas double tape dan menempel pada segitiga yang sesuai.

Baca juga :

Tips dan Trik Bermain DIY dengan Anak

Bermain anak yang penuh interaksi seperti ini pasti ada tantangannya, terlebih untuk anak toddler yang sangat egosentris. 

Ide-bermain-anak


Sekalian aku bagikan beberapa tips (based on experience) untuk Mommies agar bisa meminimalisir stres saat memperkenalkan mainan baru kepada anak.

  • Jangan memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap anak

Berbagai jurnal menyebutkan bahwa tingkat konsentrasi balita sangat pendek. Jadi anak-anak bisa fokus hanya dalam beberapa menit. Anak akan mudah teralihkan oleh apa yang ada di sekitarnya. Tidak ada yang instan dalam dunia parenting (jangan menyebut merek mie instan), semua butuh proses dan pembelajaran setiap saat. Saya sendiri juga membutuhkan waktu dan konsistensi yang cukup lama agar anak-anak saya bisa duduk tenang sambil bermain bersama.

  • Siapkan area bermain yang bersih dari gangguan

Beragam permainan siap pakai akan semakin menarik bagi anak-anak kita karena telah didesain sedemikian rupa. Jadi persiapkan ruangan atau area khusus di mana anak tidak mudah teralihkan fokusnya.

  • Ciptakan suasana bermain yang menyenangkan

Biarkan anak mengeksplorasi sejenak mainan yang telah kita siapkan untuknya, beri kesempatan pada anak untuk mengetahui cara kerja permainan tersebut. Setelah itu kami bisa menjelaskan kepada anak-anak cara kerja permainan yang kami sediakan.  

  • Tidak ada unsur paksaan

Pada awalnya, anak mungkin masih belum terbiasa mengikuti arahan yang kita berikan. Atau bisa juga anak tidak menyukai cara kita memberi dan memilih menggunakan imajinasinya sendiri dalam bermain. Ikuti saja apa yang diinginkan anak-anak dulu, jangan memaksa anak untuk mengikuti aturan permainan kita. Jika kita paksakan dikhawatirkan anak akan trauma dan merasa bermain dengan kita tidak menyenangkan sehingga kedepannya anak akan lebih sulit mengikuti instruksi kita.

  • Jangan lupa berdoa sebelum bermain

Apapun kegiatan kita terutama saat bersama anak biasakan mengucapkan basmallah, 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Karena pemilik segala sesuatu di dunia ini adalah Allah Subhanahu wa ta'ala, termasuk hati anak-anak kita ada dalam  genggaman Allah. 

Jadi, kunci utamanya adalah banyak berdoa kepada Allah agar kita diberikan kemampuan dan kesabaran dalam membersamai anak. Semoga usaha kita dalam mendidik anak bisa menjadi amal  ibadah di sisiNya...(aamiin)


Jangan mudah menyerah saat anak mulai tidak tertarik dengan permainan yang telah kita persiapkan untuk mereka. Kenali dan pahami anak kita, dengan mencari tahu apa yang dia suka dan cara apa yang bisa membuat dia nyaman. 

Hadirlah 100% saat bermain bersamanya, tidak hanya hadir secara fisik tetepi batin pun juga. Dengan bonding yang kuat maka akan memudahkan kita untuk mencari dan memberikan apa yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak kita.

Sebagai penutup, bahwasanya setiap anak itu unik, mereka punya kelebihan di bidangnya masing-masing. Jangan pernah membandingkan dengan anak orang lain. Setiap anak memiliki karakteristik dan kemampuan yang berbeda. Bahkan anak kembar pun memiliki sifat dan karakter yang berbeda.

Mengenal lebih dalam tentang Homeschooling secara Islami

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه



Belakangan ini makin marak pembahasan soal Homeschooling di negara kita Indonesia. Efek dari pandemi yang membuat anak kita harus Sekolah dari Rumah yang justru membuat sebagian orangtua khususnya Ibu kewalahan atau bahkan stress dalam mengajari anak. Padahal sebetulnya sudah menjadi tugas seorang ibu menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Jadi sudah menjadi kewajiban kita untuk menjadi pengajar dan membersamai kegiatan belajar anak.


Lalu apa sih sebenarnya homeschooling itu?
Setelah berselancar di google, secara garis besar pengertian homeschooling adalah suatu model pendidikan alternatif yang berbasis di rumah dan diselenggarakan oleh keluarga. Jadi homeschooling bukanlah suatu lembaga yang menyerupai sekolah melainkan suatu metode pendidikan yang berbasis di rumah dengan berbagai kegiatan yang sangat bervariasi. Ada yang dibuat terstruktur seperti di sekolah, ada yang menggunakan metode-metode tertentu, tergantung dari keputusan orangtua yang tentunya menyesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan anak. 

Alhamulillah, bulan ini menjadi rejeki saya untuk bisa mempelajari lebih jauh tentang seluk beluk pengajaran dan pendidikan anak, terutama mengenai homeschooling. Melalui kuliah online Bengkel Diri Kelas Siap Mendidik, ada 13 materi yang dibahas secara tuntas dengan fasilitator yang mumpuni dan sayang sekali jika saya simpan sendiri. Oleh karena itu, insya Allah saya akan mencoba menuliskan rangkuman dari materi-materi yang telah dibahas dalam tulisan blog saya ini. Jadi stay tuned terus dan doakan saya istiqomah ya..😊

Materi pertama membahas tentang Pengenalan Homeschooling yang dipaparkan oleh Teh Karin (Karina Hakman) yang mana seorang penulis dan juga pelaku homeschooler untuk ke3 anaknya. 

Homeschooling


Bentuk Homeschooling

Ada berbagai bentuk dan penerapan homeschooling, setiap orangtua memiliki landasan dan penerapan masing-masing. Tetapi sebagai umat muslim, dalam menentukan sistem pengajaran perlu diperhatikan 2 faktor utama, yaitu antara kebutuhan dan keinginan.
  • Kebutuhan pokok, yang tentunya tidak bertentangan dengan akhlak islamiyah yang berupa akhlak (adab), ibadah, aqidah, jasadiyah, dan tsaqafah.
  • Keinginan, yang terdiri dari berbagai faktor berikut:
    1. Harapan Orang tua sebagai Kepala Sekolah dalam pendidikan anak. Kita wajib merumuskannya, baik berupa visi dan misi atau mudahnya kita sebut sebagai harapan. Harapan atau doa-doa yang kita panjatkan untuk anak kita, dapat kita realisasikan dalam bentuk pengajaran yang kita berikan dirumah. Dimana banyak hal yang tidak terakomodasi dalam sitem pengajaran di sekolah.
    2. Harapan Anak, seiring dengan anak yang semakin bertumbuh besar maka anak akan mempunyai keinginan-keinginan dan harapannya sendiri, tentunya kita sebagai orang tua bisa mengarahkannya.
    3. Minat Bakat Anak, dimana anak bisa menyampaikan langsung minatnya dalam bidang apa. Jika anak kita masih kecil dan belum bisa menyampaian secara langsung, kita sebagai orang tua bisa mengenali apa-apa yang cocok dengan keunikan dan kebutuhan anak.
    4. Ekonomi Keluarga, dimana homeschooling bisa disesuaikan dengan kemampuan ekonomi keluarga masing-masing. Tidak benar bahwa homeschooling lebih mahal dari sekolah formal, karena penggunaan materi dan bahan pengajaran bisa kita sesuaikan tidak melulu menggunakan buku yang mahal.
    5. Komitmen Waktu, yang sangat fleksibel dan bisa kita sesuaikan dengan kemampuan anak dan kesanggupan pengajar. 
    6. Support System, termasuk suami yang bisa mengambil peran dalam materi tertentu atau memberikan full dana. Selain itu, saudara/kakak dari anak tersebut yang bisa memotivasi dan membantu mengajarkan atau menemani sesekali waktu. Orangtua atau mertua kita, bahkan ART yang membantu pekerjaan domestik dirumah merupakan sebuah support system yang membantu jalannya homeschooling.

Kurikulum Homeschooling

Dalam membuat kurikulum homeschooling tidak ada ilmu yang paten, karena pada dasarnya homeschooling sangat fleksibel dimana kurikulum ini harus menyesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing anak. Jadi yang perlu kita perhatikan dan jadi bahan pertimbangan dalam membuat kurikulum anak adalah sebagai berikut:
1. Mempelajari tahapan perkembangan anak dari berbagai sumber
Banyak pendapat yang berbeda mengenai penerapan homeschooling, agar pikiran kita tidak terkotak-kotak, kita harus mencari referensi dari berbagai sumber. Melalui buku yang membahas tentang perkembangan anak dalam Islam, buku tahapan perkembangan secara psikologis anak, atau buku-buku lain yang berkaitan dengan sistem pendidikan anak bisa kita pelajari sebagai referensi.
2. Mengenali anak dalam tahapan
Karena tiap anak adalah unik yang mempunyai cara dan waktu konsentrasi yang berbeda dalam belajar. Kuncinya adalah kita harus mengenali anak kita dengan sangat detail, dengan cara selalu membersamai anak untuk membangun kedekatan emosional. Homeschooling menjadi sulit saat kita tidak mengenal bagaimana karakter anak kita sendiri.
3. Mempelajari gaya belajar anak
Melalui proses yang tidak singkat, kita bisa mengenali dan paham kebutuhan anak kita dengan memperhatikan kesehariannya. Dengan memahami karakter anak, kita jadi tau cara apa yang cocok untuk sistem pengajaran yang akan kita berikan.
4. Waktu belajar efektif anak
Yang bisa kita sesuaikan setelah kita paham betul bagaimana anak kita melalui tahapan-tahapan di atas. Sehingga kita bisa mendapatkan golden moment anak dimana sangat dibutuhkan kepekaan kita sebagai orangtua. Sebagai contoh: ada anak yang mempunyai konsentrasi tinggi pada saat pagi jadi langsung menyodorkan buku untuk belajar tahsin, tetapi saat siang akan aktif bergerak kesana-kemari, sehingga membutuhkan cara belajar yang seru dengan berbagai kegiatan yang membutuhkan gerak tubuh. Dengan waktu yang efektif diharapkan ilmu yang kita ajarkan dapat terserap secara sempurna daripada kita memaksakan anak untuk duduk berjam-jam tetapi anak tidak bisa memahami sama sekali.
5. Jadwal dan rutinitas
Hal ini harus kita sesuaikan dengan kebutuhan pokok kita sebagai umat islam yang sudah dibahas di awal tadi, dimana waktu belajar tidak mengganggu waktu ibadah shalat. Disini kita sekaligus mengajarkan ilmu tauhid kepada anak, bahwa kewajiban kita sebagai umat muslim untuk menyegerakan shalat ketika waktunya sudah tiba. 
6. Sumber dan Penyusunan Materi
Sumber pengajaran dan pengajar bisa kita sesuaikan dengan kemampuan dan kapasitas kita masing-masing. Jika dirasa ilmu kita belum mumpuni dalam mengajarkan suatu materi, kita bisa memanggil atau mendatangi pengajar yang ahli dalam bidang tersebut.

Metode Homeschooling

  1. Talaqqi, metode ini biasa digunakan saat anak belum bisa membaca, jadi kita sebagai pengajar membacakan kepada anak dan kemudian anak mengikuti. Cara ini cocok digunakan untuk hafalan, jika ingin bacaan Al Quran yang pas kita bisa memperdengarkan murotal saat anak-anak sedang bermain dengan suasana yang tenang.
  2. Ngobrol/Diskusi, cara ini bisa digunakan setiap saat saat kita membersamai anak. Anak dibawah 5 tahun sangat aktif bertanya akan banyak hal, disaat itulah kita bisa memberikan banyak penjelasan secara santai seperti halnya kita mengobrol sehari-hari.
  3. Bermain, ini cocok untuk anak-anak dibawah 5 tahun, dimana fitrah mereka adalah bermain dan mencari tau akan segala sesuatu. Melalui permainan anak akan tertarik dan lebih bisa memahami sesuatu yang kita ajarka dengan cara yang menyenangkan.
  4. Story Telling/Baca Buku, ini tidak melulu menggunakan buku yang mahal. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyampaikannya ke anak.
  5. Pemaparan/Penjelasan, saat anak menanyakan sesuatu kita bisa menjelaskannya secara langsung. Jika dirasa kita tidak yakin dengan jawaban yang akan kita berikan, kita bisa bilang secara jujur kepada anak bahwa kita belum tahu dan akan segera mecari tau kepastiannya, melalui internet atau buku yang kita miliki di rumah.
  6. Studi Kasus, untuk menjelaskan berdasarkan kejadian yang sedang atau sudah terjadi dan kita jelaskan prosesnya secara mendalam.
  7. Percobaan/uji coba mengenai sains, yang bisa kita pelajari terlebih dahulu untuk menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan.
  8. Rihlah/ Jalan-jalan, cara ini bisa sesekali kita lakukan, sekaligus untuk mentadaburi ciptaan Allah dengan berbagai kondisi dengan melihat dan berinteraksi secara langsung.  
  9. Praktek Keseharian, sebagaimana kebutuhan pokok dimana ibadah shalat dilakukan saat waktunya tiba, pembiasaan mengucapkan tolong maaf dan terimakasih, mengajarkan akhlak baik yang bisa dilakukan dalam kegiatan sehari-hari.
  10. Keteladanan, memberi contoh akan lebih mengena daripada kita hanya memerintah anak saja.

Dengan berbagai kapasitas BIAYA,  kita bisa menyesuaikan sesuai kemampuan kita masing-masing.

1. Pengajar, dengan pertimbangan: 
  • kesesuaian nilai
  • kesesuaian materi
  • pembekalan materi
2. Bahan, yang disesuaikan dengan kapasitas dan budget kita masing-masing.
  • Mandiri, dengan cara kita kumpulkan sendiri dengan berbagai kreatifitas yang kita miliki 
  • Eksternal yang sudah tersedia secara lengkap dalam bentuk buku atau modul dengan berbagai biaya. 
3. Jadwal, yang disesuaikan dengan kemampuan anak.
  • waktu shalat
  • kebutuhan orang tua
  • materi/metode/pengajar/anak

Sosialisasi Anak yang Homeschooling

Hal ini menjadi pertanyaan yang paling sering ditanyakan mengenai homeschooling. Dimana orangtua merasa takut anaknya kurang terpenuhi kebutuhan sosial karena paradigma anak homeschooling belajar sendirian dirumah. Padahal saat ini sudah banyak acara playdate sesama homeschooler dan berbagai komunitas homeschooler yang bisa kita ikuti untuk memenuhi kebutuhan interaksi anak dengan tema sebayanya. Yang perlu dan penting untuk diingat adalah:
  • Tujuan Sosialisasi: saling mengenal, saling belajar dan tolong menolong, sehingga ada hubungan interaksi dengan orang lain secara global. 
  • Objek Sosialisasi: mulai dari teman sebaya, tetangga, orang yang lebih tua, guru, saudara, sesama jenis dan lawan jenis, bahkan orang yang baru dikenal.
  • Adab Sosialisasi: dimana kita akan lebih banyak mengajarkan adab-adab yang semestinya sesuai syariat Islam yang mana saat bersekolah formal kita kurang bisa mengontrolnya.

Legalisasi/Ijazah

Ada beberapa opsi yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan ijazah untuk anak kita yang homeschooling, diantaranya:
  • Sekolah Induk
  • Ujian Persamaan
  • Portofolio
  • Ujian Internasional
  • Sertifikasi Homeschooling Formal

Nah, demikian berbagai informasi yang bisa kita jadikan bahan pertimbangan untuk memutuskan apakah anak kita akan homeschooling atau tidak.
Yang terpenting adalah kita harus menyesuaikan dengan tahapan perkembangan anak kita masing-masing, tanpa membandingan dengan anak orang lain. Karena pada dasarnya setiap anak adalah unik dan tidak ada sistem pengajaran yang terbaik melainkan satu sama lain saling melengkapi dengan mengutamakan nilai-nilai harapan yang ingin kita capai dan kapasitas serta kemampuan kita sebagai orangtua. 

Semoga kita semua diberikan kemampuan untuk memberikan pengajaran yang sesuai dengan fitrah anak dan selalu mendapatkan ridha Allah Subhanahu wa ta'ala.

Akhir kata, wassalamualaikum.















Let's Read Baby! 5 Langkah Menumbuhkan Minat Baca Anak Sedini Mungkin

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه


Let's Read baby!


Siapa disini yang suka membaca? 

Kalo kita tanyakan ke mommies nih, pasti jawabannya beda-beda ya.. Tapi begitu pertanyaaannya dirubah,

Siapa yang mau anaknya hobi membaca?

Pasti ibu-ibu serempak menjawab sambil tunjuk tangan.

Karena pada dasarnya setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, termasuk menumbuhkan minat baca anak. Karena seperti sudah kita ketahui bahwa dengan membaca, banyak ilmu dan pengetahuan yang bisa kita dapatkan.

Semakin aku banyak membaca, semakin aku banyak berpikir, semakin aku banyak belajar, semakin aku sadar bahwa aku tak mengetahui apapun. 

~ Voltaire ~

Jelas sekali bukan? bahwa dengan membaca banyak hal yang bisa kita dapatkan. Mulai bertambahnya pengetahuan dan wawasan, meningkatkan daya ingat, menjadi pribadi yang lebih berpikir, yang mana otak kita pun jadi makin berkembang dengan bertambahnya kosakata yang kita dapatkan dari membaca. 

Nah kebayang kan kalo ini kita berikan ke anak-anak kita saat golden age. Masa golden age adalah masa emas pada anak-anak di awal kehidupannya yaitu pada usia 0-5 tahun. Pada masa ini, otak anak-anak mampu menyerap secara cepat berbagai informasi yang diterima, sehingga sangat penting untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangannya. Oleh karena itu, pasa masa inilah waktu yang tepat untuk kita sebagai orang tua memberikan simulasi-simulasi untuk memaksimalkan kebutuhan otaknya. 

Yup, salah satunya dengan mengenalkan buku sedari bayi untuk menumbuhkan minat baca anak hingga dewasa kelak. Sayangnya, untuk saat ini mengajarkan anak cinta buku menjadi tantangan yang semakin sulit karena kemajuan teknologi yang hampir semua hal beralih ke digital. Terlebih lagi media elektronik menampilkan visual yang penuh warna dan juga interaktif sehingga anak-anak pun betah berlama-lama menggunakannya. Hal ini membuat buku menjadi kurang diminati dan terlihat membosankan bagi sebagian anak. Akan tetapi sebagai orang tua, pasti kita bisa mencari celah untuk tetap memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita.


Berdasarkan pengalaman pribadi dalam usaha mengajarkan anak gemar membaca, saya akan coba bagikan tips dan trik untuk menumbuhkan minat baca anak di era digital seperti saat ini. 


1. Kenalkan buku ke anak sedini mungkin

Bayi belum mengenal banyak hal dan apa yang kita kenalkan ke bayi sejak awal menjadi sesuatu yang menarik bagi si kecil. Saat bayi mulai belajar tengkurap adalah saat yang ideal untuk mengenalkan benda-benda dengan beragam warna yang cerah untuk membuat dia betah berlama-lama latihan tengkurap. Nah, berilah buku yang aman dengan ragam gambar dan warna yang cerah agar menarik perhatiannya. 

Softbook
Contoh soft book dan mainan untuk bayi. (Dokpri)

Tapi perlu diingat saat ini kita hanya ingin mengenalkan buku, bukan untuk menyuruhnya membaca (karena memang belum saatnya yaa). Berikan buku dengan bahan kain yang lembut yang berisi busa agar aman untuk si kecil saat mulai memegang dan membolak-balik lembaran bukunya.


2. Bacakan buku dengan intonasi suara yang menarik

Saat bayi sudah mulai duduk, kita sudah bisa mulai membacakan buku bergambar dengan cerita singkat di dalamnya. Bacakan dengan penuh intonasi dan mimik wajah yang beragam sesuai isi cerita agar anak semakin tertarik dan antusias mendengarkan cerita dari buku yang kita bacakan. Ada juga jenis buku yang bisa mengeluarkan suara (sound book/noisy book) yang bisa kita dapatkan di toko buku besar atau di berbagai e-commerce favoritmu. 

Saat anak bermain soundbook 3lingual (dokpri)

Biasanya buku bercerita tentang binatang atau alat transportasi akan membuat si kecil tertarik, sambil kita sebutkan satu-satu nama binatang atau jenis apapun yang ada dalam gambar buku. Pilihlah buku dengan bahan karton yang tebal agar tidak mudah sobek saat anak mulai tertarik dan membolak-balik isi buku tersebut.

Usahakan membacakan buku untuk si kecil setiap hari untuk menjadikan habits hingga dewasa kelas. Membacakan buku juga bisa kita lakukan untuk pengantar tidur anak kita yang tersayang.


3. Membaca buku sambil bermain dan menceritakan kembali isi buku

Siapa yang sudah tau tentang bookish play?

Yang belum tau, bisa baca lengkapnya disini ya >>Bookish Play, Tumbuhkan Generasi Anak Cinta Buku 

Jadi kegiatan bookish play ini merupakan aktivitas bermain yang berhubungan dengan tema sebuah bukuCara ini diharapkan bisa membuat anak kita semakin paham dengan isi cerita buku dan makin dekat dengan buku karena bisa sambil asyik bermain. Awalnya kita akan membacakan cerita sebuah buku sampai selesai, lalu kita ajak anak kita membuat permainan sambil  meminta anak kita untuk menceritakan kembali isi buku tersebut.

Saat anak masuk tahun ke-2 nya, anak akan menjadi semakin aktif dan suka kegiatan yang mampu menyalurkan tenaga dan keingintahuannya. Saat inilah anak akan menjadi sulit diam dan terus mengeksplor apapun yang ada disekelilingnya. Dengan bermain bookish play ini, anak akan kita buat penasaran dengan berbagai kerajinan yang bisa kita buat dengan melibatkan si kecil. Dengan begitu anak akan semakin antusias ingin tau cerita buku yang lainnya.


4. Kenalkan huruf sedikit demi sedikit dengan berbagai mainan yang menyenangkan

Saat anak sudah mulai lancar berbicara, kita sudah bisa mengenalkan huruf abjad untuk si kecil. Kita bisa memulai dari huruf vocal a-i-u-e-o terlebih dahulu sampai anak paham, setelah itu kita bisa mengenalkam huruf konsonan lain sedikit demi sedikit. 

Sedikit berbagi pengalaman, dulu mengenalkan huruf ke anak saat memasuki 1,5 tahun dimana saat itu anak sudah lancar berbicara dengan jelas dan suka menanyakan apapun yang dilihatnya termasuk gambar huruf yang ada di mainan puzzle evamat miliknya. Lalu sebelum genap 2 tahun anak sudah hafal huruf abjad kapital A-Z dan suka menyebutkan huruf-huruf yang dilihatnya, baik di buku, mainan, dan gambar baju. Lalu setelah itu bisa ditambah mengenalkan huruf abjad kecil. 

Liat huruf-huruf anak pun jadi ingin membacanya. (Dokpri)

Ingat ya moms, kenalkan saja terlebih dahulu jangan memaksakan anak untuk bisa karena seharusnya memang belum waktunya.


5. Ciptakan suasana yang mendukung anak makin gemar membaca

Nah, anak kita yang tadinya sudah mengenal dan tertarik dengan buku, kini sudah semakin besar dan semakin paham mengenal beragam mainan lain dan “kehebatan” media eletronik seperti tv dan gawai yang ada dirumah. Kita pun sebagai orang tua harus mempertahankan ketertarikan anak akan buku, dengan cara sebagai berikut:

  • No screening time
Sudah jadi rahasia umum pengaruh buruk dari layar kaca. Beberapa DSA menyebutkan bahwa anak dibawah usia 2 tahun tidak perlu dikenalkan TV atau gawai. Bahkan setelah usia 2 tahun, screening time maksimal hanya 30 menit per hari. Dengan tidak mengenalkan sejak awal diharapkan tidak menjadi candu dikemudian hari. 

Saat perjalanan jauh anak senang membaca bukunya dan tidak tertarik gawai ayahnya. (Dokpri)

Jujur ini berpengaruh sekali, saya tidak membiasakan screening time ke anak sampai usia 2 tahun, lihat pastinya pernah apalagi saat pulang kampung dan banyak saudara yang selalu memberikan HP atau TV agar anak merasa senang (padahal tidak dikasih pun anak juga senang jika mendapat perhatian kita). Dan sekarang anak hanya menonton TV acara yang dia suka, hanya 30 menit dan setelah acara kartunnya selesai, dia pun minta televisi dimatikan.

  • Berikan contoh ke anak
Karena anak adalah peniru ulung dan buah jatuh tak jauh dari pohonnya, maka kita pun sebagai orang tua yang ingin anaknya cinta dan gemar membaca harus memberi contoh dengan membaca buku juga.

Anak jadi ingin ikut membaca buku kitab yang sering dibaca orangtuanya. (Dokpri)

  • Ciptakan ruang atau rak khusus yang berisi buku-buku 
Sehingga anak bisa memilih sendiri buku yang ingin dia baca. Dengan begitu anak melihat buku-buku sebagai pemandangan di dalam rumahnya yang akan mendorong anak ingin membacanya juga.

  • Jadikan buku sebagai hadiah dan sering-sering ajak anak ke toko buku daripada ke toko mainan
  • Setelah membaca sebuah buku, ajak anak berdiskusi dan mengimplementasikan dalam kegiatan sehari-hari agar anak semakin paham manfaat buku dan mencari tau banyak hal melalui buku.


Demikian beberapa langkah yang bisa kita usahakan untuk menumbuhkan minat baca anak. Tentunya akan ada rintangan dan halangan sewaktu menjalaninya, kuncinya adalah konsistensi kita sebagai orang tua dan mencoba meminimalisir distraksi media lain yang lebih menarik daripada buku untuk anak kecil. 
Perkembangan teknologi pun tidak dapat kita pungkiri, karena di dalamnya banyak manfaat dan kemudahan yang bisa kita dapatkan. Salah satunya, dengan menjadikan gawai yang kita miliki sebagai media membaca anak. 
Hah, kok bisa?
Bisa donk, karena sekarang ada aplikasi Let's Read - Perpustakaan Digital Cerita Anak.
Let's Read merupakan aplikasi yang berisi ratusan cerita anak yang pastinya menghibur dan juga edukatif. Let's Read diprakarsai oleh Books for Asia dari The Asia Foundation yang bertujuan menumbuhkan para pembaca cilik di Asia. Let's Read menjadi pilihan yang tepat untuk kita tunjukan ke anak saat anak penasaran dengan gawai yang sedang kita pakai. Semua koleksi cerita dalam aplikasi ini penuh gambar dan berwarna sehingga akan membuat anak senang. Tersedia juga cerita mengenai COVID-19 yang dikemas dalam cerita yang lucu dan menarik sehingga sangat pas untuk mengajarkan si kecil tentang wabah pandemi ini yang semoga segera berakhir ya..

Let's Read



Kehebatan lainnya nih, cerita dalam Let's Read bisa diunduh secara gratis dan juga bisa dicetak lho.. Selain itu, terdapat pilihan multi bahasa sehingga kita bisa mengajarkan anak-anak berbagai bahasa termasuk ada bahasa daerah juga lho... seru banget kan?
Makanya yuks segera download gratis aplikasi Let's Read melalui Google PlayStore atau AppStore, biar gampang aku share linknya disini yaa..

Jadi ga perlu lagi mengutuki teknologi, tinggal bagaimana kita sebagai orang tua yang sudah melek ilmu dan digital harus pintar dalam memanfaatkan dan mengatur pemakaiannya. Jika kita sudah membekali kebutuhan membaca sedari dini, insya Allah anak akan terus senang membaca dan bisa memanfaatkan media elektronik untuk bahan bacaan mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang semakin luas jangkauannya.

Semoga sharing pengalaman ini bisa bermanfaat dan menjadi motivasi (khususnya saya pribadi) agar terus bersemangat mempertahankan minat baca anak-anak kita. Aamiin


Let's read baby!