Tampilkan postingan dengan label Education. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Education. Tampilkan semua postingan

Mengenal lebih dalam tentang Homeschooling secara Islami

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه



Belakangan ini makin marak pembahasan soal Homeschooling di negara kita Indonesia. Efek dari pandemi yang membuat anak kita harus Sekolah dari Rumah yang justru membuat sebagian orangtua khususnya Ibu kewalahan atau bahkan stress dalam mengajari anak. Padahal sebetulnya sudah menjadi tugas seorang ibu menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Jadi sudah menjadi kewajiban kita untuk menjadi pengajar dan membersamai kegiatan belajar anak.


Lalu apa sih sebenarnya homeschooling itu?
Setelah berselancar di google, secara garis besar pengertian homeschooling adalah suatu model pendidikan alternatif yang berbasis di rumah dan diselenggarakan oleh keluarga. Jadi homeschooling bukanlah suatu lembaga yang menyerupai sekolah melainkan suatu metode pendidikan yang berbasis di rumah dengan berbagai kegiatan yang sangat bervariasi. Ada yang dibuat terstruktur seperti di sekolah, ada yang menggunakan metode-metode tertentu, tergantung dari keputusan orangtua yang tentunya menyesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan anak. 

Alhamulillah, bulan ini menjadi rejeki saya untuk bisa mempelajari lebih jauh tentang seluk beluk pengajaran dan pendidikan anak, terutama mengenai homeschooling. Melalui kuliah online Bengkel Diri Kelas Siap Mendidik, ada 13 materi yang dibahas secara tuntas dengan fasilitator yang mumpuni dan sayang sekali jika saya simpan sendiri. Oleh karena itu, insya Allah saya akan mencoba menuliskan rangkuman dari materi-materi yang telah dibahas dalam tulisan blog saya ini. Jadi stay tuned terus dan doakan saya istiqomah ya..😊

Materi pertama membahas tentang Pengenalan Homeschooling yang dipaparkan oleh Teh Karin (Karina Hakman) yang mana seorang penulis dan juga pelaku homeschooler untuk ke3 anaknya. 

Homeschooling


Bentuk Homeschooling

Ada berbagai bentuk dan penerapan homeschooling, setiap orangtua memiliki landasan dan penerapan masing-masing. Tetapi sebagai umat muslim, dalam menentukan sistem pengajaran perlu diperhatikan 2 faktor utama, yaitu antara kebutuhan dan keinginan.
  • Kebutuhan pokok, yang tentunya tidak bertentangan dengan akhlak islamiyah yang berupa akhlak (adab), ibadah, aqidah, jasadiyah, dan tsaqafah.
  • Keinginan, yang terdiri dari berbagai faktor berikut:
    1. Harapan Orang tua sebagai Kepala Sekolah dalam pendidikan anak. Kita wajib merumuskannya, baik berupa visi dan misi atau mudahnya kita sebut sebagai harapan. Harapan atau doa-doa yang kita panjatkan untuk anak kita, dapat kita realisasikan dalam bentuk pengajaran yang kita berikan dirumah. Dimana banyak hal yang tidak terakomodasi dalam sitem pengajaran di sekolah.
    2. Harapan Anak, seiring dengan anak yang semakin bertumbuh besar maka anak akan mempunyai keinginan-keinginan dan harapannya sendiri, tentunya kita sebagai orang tua bisa mengarahkannya.
    3. Minat Bakat Anak, dimana anak bisa menyampaikan langsung minatnya dalam bidang apa. Jika anak kita masih kecil dan belum bisa menyampaian secara langsung, kita sebagai orang tua bisa mengenali apa-apa yang cocok dengan keunikan dan kebutuhan anak.
    4. Ekonomi Keluarga, dimana homeschooling bisa disesuaikan dengan kemampuan ekonomi keluarga masing-masing. Tidak benar bahwa homeschooling lebih mahal dari sekolah formal, karena penggunaan materi dan bahan pengajaran bisa kita sesuaikan tidak melulu menggunakan buku yang mahal.
    5. Komitmen Waktu, yang sangat fleksibel dan bisa kita sesuaikan dengan kemampuan anak dan kesanggupan pengajar. 
    6. Support System, termasuk suami yang bisa mengambil peran dalam materi tertentu atau memberikan full dana. Selain itu, saudara/kakak dari anak tersebut yang bisa memotivasi dan membantu mengajarkan atau menemani sesekali waktu. Orangtua atau mertua kita, bahkan ART yang membantu pekerjaan domestik dirumah merupakan sebuah support system yang membantu jalannya homeschooling.

Kurikulum Homeschooling

Dalam membuat kurikulum homeschooling tidak ada ilmu yang paten, karena pada dasarnya homeschooling sangat fleksibel dimana kurikulum ini harus menyesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing anak. Jadi yang perlu kita perhatikan dan jadi bahan pertimbangan dalam membuat kurikulum anak adalah sebagai berikut:
1. Mempelajari tahapan perkembangan anak dari berbagai sumber
Banyak pendapat yang berbeda mengenai penerapan homeschooling, agar pikiran kita tidak terkotak-kotak, kita harus mencari referensi dari berbagai sumber. Melalui buku yang membahas tentang perkembangan anak dalam Islam, buku tahapan perkembangan secara psikologis anak, atau buku-buku lain yang berkaitan dengan sistem pendidikan anak bisa kita pelajari sebagai referensi.
2. Mengenali anak dalam tahapan
Karena tiap anak adalah unik yang mempunyai cara dan waktu konsentrasi yang berbeda dalam belajar. Kuncinya adalah kita harus mengenali anak kita dengan sangat detail, dengan cara selalu membersamai anak untuk membangun kedekatan emosional. Homeschooling menjadi sulit saat kita tidak mengenal bagaimana karakter anak kita sendiri.
3. Mempelajari gaya belajar anak
Melalui proses yang tidak singkat, kita bisa mengenali dan paham kebutuhan anak kita dengan memperhatikan kesehariannya. Dengan memahami karakter anak, kita jadi tau cara apa yang cocok untuk sistem pengajaran yang akan kita berikan.
4. Waktu belajar efektif anak
Yang bisa kita sesuaikan setelah kita paham betul bagaimana anak kita melalui tahapan-tahapan di atas. Sehingga kita bisa mendapatkan golden moment anak dimana sangat dibutuhkan kepekaan kita sebagai orangtua. Sebagai contoh: ada anak yang mempunyai konsentrasi tinggi pada saat pagi jadi langsung menyodorkan buku untuk belajar tahsin, tetapi saat siang akan aktif bergerak kesana-kemari, sehingga membutuhkan cara belajar yang seru dengan berbagai kegiatan yang membutuhkan gerak tubuh. Dengan waktu yang efektif diharapkan ilmu yang kita ajarkan dapat terserap secara sempurna daripada kita memaksakan anak untuk duduk berjam-jam tetapi anak tidak bisa memahami sama sekali.
5. Jadwal dan rutinitas
Hal ini harus kita sesuaikan dengan kebutuhan pokok kita sebagai umat islam yang sudah dibahas di awal tadi, dimana waktu belajar tidak mengganggu waktu ibadah shalat. Disini kita sekaligus mengajarkan ilmu tauhid kepada anak, bahwa kewajiban kita sebagai umat muslim untuk menyegerakan shalat ketika waktunya sudah tiba. 
6. Sumber dan Penyusunan Materi
Sumber pengajaran dan pengajar bisa kita sesuaikan dengan kemampuan dan kapasitas kita masing-masing. Jika dirasa ilmu kita belum mumpuni dalam mengajarkan suatu materi, kita bisa memanggil atau mendatangi pengajar yang ahli dalam bidang tersebut.

Metode Homeschooling

  1. Talaqqi, metode ini biasa digunakan saat anak belum bisa membaca, jadi kita sebagai pengajar membacakan kepada anak dan kemudian anak mengikuti. Cara ini cocok digunakan untuk hafalan, jika ingin bacaan Al Quran yang pas kita bisa memperdengarkan murotal saat anak-anak sedang bermain dengan suasana yang tenang.
  2. Ngobrol/Diskusi, cara ini bisa digunakan setiap saat saat kita membersamai anak. Anak dibawah 5 tahun sangat aktif bertanya akan banyak hal, disaat itulah kita bisa memberikan banyak penjelasan secara santai seperti halnya kita mengobrol sehari-hari.
  3. Bermain, ini cocok untuk anak-anak dibawah 5 tahun, dimana fitrah mereka adalah bermain dan mencari tau akan segala sesuatu. Melalui permainan anak akan tertarik dan lebih bisa memahami sesuatu yang kita ajarka dengan cara yang menyenangkan.
  4. Story Telling/Baca Buku, ini tidak melulu menggunakan buku yang mahal. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyampaikannya ke anak.
  5. Pemaparan/Penjelasan, saat anak menanyakan sesuatu kita bisa menjelaskannya secara langsung. Jika dirasa kita tidak yakin dengan jawaban yang akan kita berikan, kita bisa bilang secara jujur kepada anak bahwa kita belum tahu dan akan segera mecari tau kepastiannya, melalui internet atau buku yang kita miliki di rumah.
  6. Studi Kasus, untuk menjelaskan berdasarkan kejadian yang sedang atau sudah terjadi dan kita jelaskan prosesnya secara mendalam.
  7. Percobaan/uji coba mengenai sains, yang bisa kita pelajari terlebih dahulu untuk menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan.
  8. Rihlah/ Jalan-jalan, cara ini bisa sesekali kita lakukan, sekaligus untuk mentadaburi ciptaan Allah dengan berbagai kondisi dengan melihat dan berinteraksi secara langsung.  
  9. Praktek Keseharian, sebagaimana kebutuhan pokok dimana ibadah shalat dilakukan saat waktunya tiba, pembiasaan mengucapkan tolong maaf dan terimakasih, mengajarkan akhlak baik yang bisa dilakukan dalam kegiatan sehari-hari.
  10. Keteladanan, memberi contoh akan lebih mengena daripada kita hanya memerintah anak saja.

Dengan berbagai kapasitas BIAYA,  kita bisa menyesuaikan sesuai kemampuan kita masing-masing.

1. Pengajar, dengan pertimbangan: 
  • kesesuaian nilai
  • kesesuaian materi
  • pembekalan materi
2. Bahan, yang disesuaikan dengan kapasitas dan budget kita masing-masing.
  • Mandiri, dengan cara kita kumpulkan sendiri dengan berbagai kreatifitas yang kita miliki 
  • Eksternal yang sudah tersedia secara lengkap dalam bentuk buku atau modul dengan berbagai biaya. 
3. Jadwal, yang disesuaikan dengan kemampuan anak.
  • waktu shalat
  • kebutuhan orang tua
  • materi/metode/pengajar/anak

Sosialisasi Anak yang Homeschooling

Hal ini menjadi pertanyaan yang paling sering ditanyakan mengenai homeschooling. Dimana orangtua merasa takut anaknya kurang terpenuhi kebutuhan sosial karena paradigma anak homeschooling belajar sendirian dirumah. Padahal saat ini sudah banyak acara playdate sesama homeschooler dan berbagai komunitas homeschooler yang bisa kita ikuti untuk memenuhi kebutuhan interaksi anak dengan tema sebayanya. Yang perlu dan penting untuk diingat adalah:
  • Tujuan Sosialisasi: saling mengenal, saling belajar dan tolong menolong, sehingga ada hubungan interaksi dengan orang lain secara global. 
  • Objek Sosialisasi: mulai dari teman sebaya, tetangga, orang yang lebih tua, guru, saudara, sesama jenis dan lawan jenis, bahkan orang yang baru dikenal.
  • Adab Sosialisasi: dimana kita akan lebih banyak mengajarkan adab-adab yang semestinya sesuai syariat Islam yang mana saat bersekolah formal kita kurang bisa mengontrolnya.

Legalisasi/Ijazah

Ada beberapa opsi yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan ijazah untuk anak kita yang homeschooling, diantaranya:
  • Sekolah Induk
  • Ujian Persamaan
  • Portofolio
  • Ujian Internasional
  • Sertifikasi Homeschooling Formal

Nah, demikian berbagai informasi yang bisa kita jadikan bahan pertimbangan untuk memutuskan apakah anak kita akan homeschooling atau tidak.
Yang terpenting adalah kita harus menyesuaikan dengan tahapan perkembangan anak kita masing-masing, tanpa membandingan dengan anak orang lain. Karena pada dasarnya setiap anak adalah unik dan tidak ada sistem pengajaran yang terbaik melainkan satu sama lain saling melengkapi dengan mengutamakan nilai-nilai harapan yang ingin kita capai dan kapasitas serta kemampuan kita sebagai orangtua. 

Semoga kita semua diberikan kemampuan untuk memberikan pengajaran yang sesuai dengan fitrah anak dan selalu mendapatkan ridha Allah Subhanahu wa ta'ala.

Akhir kata, wassalamualaikum.















Let's Read Baby! 5 Langkah Menumbuhkan Minat Baca Anak Sedini Mungkin

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه


Let's Read baby!


Siapa disini yang suka membaca? 

Kalo kita tanyakan ke mommies nih, pasti jawabannya beda-beda ya.. Tapi begitu pertanyaaannya dirubah,

Siapa yang mau anaknya hobi membaca?

Pasti ibu-ibu serempak menjawab sambil tunjuk tangan.

Karena pada dasarnya setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, termasuk menumbuhkan minat baca anak. Karena seperti sudah kita ketahui bahwa dengan membaca, banyak ilmu dan pengetahuan yang bisa kita dapatkan.

Semakin aku banyak membaca, semakin aku banyak berpikir, semakin aku banyak belajar, semakin aku sadar bahwa aku tak mengetahui apapun. 

~ Voltaire ~

Jelas sekali bukan? bahwa dengan membaca banyak hal yang bisa kita dapatkan. Mulai bertambahnya pengetahuan dan wawasan, meningkatkan daya ingat, menjadi pribadi yang lebih berpikir, yang mana otak kita pun jadi makin berkembang dengan bertambahnya kosakata yang kita dapatkan dari membaca. 

Nah kebayang kan kalo ini kita berikan ke anak-anak kita saat golden age. Masa golden age adalah masa emas pada anak-anak di awal kehidupannya yaitu pada usia 0-5 tahun. Pada masa ini, otak anak-anak mampu menyerap secara cepat berbagai informasi yang diterima, sehingga sangat penting untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangannya. Oleh karena itu, pasa masa inilah waktu yang tepat untuk kita sebagai orang tua memberikan simulasi-simulasi untuk memaksimalkan kebutuhan otaknya. 

Yup, salah satunya dengan mengenalkan buku sedari bayi untuk menumbuhkan minat baca anak hingga dewasa kelak. Sayangnya, untuk saat ini mengajarkan anak cinta buku menjadi tantangan yang semakin sulit karena kemajuan teknologi yang hampir semua hal beralih ke digital. Terlebih lagi media elektronik menampilkan visual yang penuh warna dan juga interaktif sehingga anak-anak pun betah berlama-lama menggunakannya. Hal ini membuat buku menjadi kurang diminati dan terlihat membosankan bagi sebagian anak. Akan tetapi sebagai orang tua, pasti kita bisa mencari celah untuk tetap memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita.


Berdasarkan pengalaman pribadi dalam usaha mengajarkan anak gemar membaca, saya akan coba bagikan tips dan trik untuk menumbuhkan minat baca anak di era digital seperti saat ini. 


1. Kenalkan buku ke anak sedini mungkin

Bayi belum mengenal banyak hal dan apa yang kita kenalkan ke bayi sejak awal menjadi sesuatu yang menarik bagi si kecil. Saat bayi mulai belajar tengkurap adalah saat yang ideal untuk mengenalkan benda-benda dengan beragam warna yang cerah untuk membuat dia betah berlama-lama latihan tengkurap. Nah, berilah buku yang aman dengan ragam gambar dan warna yang cerah agar menarik perhatiannya. 

Softbook
Contoh soft book dan mainan untuk bayi. (Dokpri)

Tapi perlu diingat saat ini kita hanya ingin mengenalkan buku, bukan untuk menyuruhnya membaca (karena memang belum saatnya yaa). Berikan buku dengan bahan kain yang lembut yang berisi busa agar aman untuk si kecil saat mulai memegang dan membolak-balik lembaran bukunya.


2. Bacakan buku dengan intonasi suara yang menarik

Saat bayi sudah mulai duduk, kita sudah bisa mulai membacakan buku bergambar dengan cerita singkat di dalamnya. Bacakan dengan penuh intonasi dan mimik wajah yang beragam sesuai isi cerita agar anak semakin tertarik dan antusias mendengarkan cerita dari buku yang kita bacakan. Ada juga jenis buku yang bisa mengeluarkan suara (sound book/noisy book) yang bisa kita dapatkan di toko buku besar atau di berbagai e-commerce favoritmu. 

Saat anak bermain soundbook 3lingual (dokpri)

Biasanya buku bercerita tentang binatang atau alat transportasi akan membuat si kecil tertarik, sambil kita sebutkan satu-satu nama binatang atau jenis apapun yang ada dalam gambar buku. Pilihlah buku dengan bahan karton yang tebal agar tidak mudah sobek saat anak mulai tertarik dan membolak-balik isi buku tersebut.

Usahakan membacakan buku untuk si kecil setiap hari untuk menjadikan habits hingga dewasa kelas. Membacakan buku juga bisa kita lakukan untuk pengantar tidur anak kita yang tersayang.


3. Membaca buku sambil bermain dan menceritakan kembali isi buku

Siapa yang sudah tau tentang bookish play?

Yang belum tau, bisa baca lengkapnya disini ya >>Bookish Play, Tumbuhkan Generasi Anak Cinta Buku 

Jadi kegiatan bookish play ini merupakan aktivitas bermain yang berhubungan dengan tema sebuah bukuCara ini diharapkan bisa membuat anak kita semakin paham dengan isi cerita buku dan makin dekat dengan buku karena bisa sambil asyik bermain. Awalnya kita akan membacakan cerita sebuah buku sampai selesai, lalu kita ajak anak kita membuat permainan sambil  meminta anak kita untuk menceritakan kembali isi buku tersebut.

Saat anak masuk tahun ke-2 nya, anak akan menjadi semakin aktif dan suka kegiatan yang mampu menyalurkan tenaga dan keingintahuannya. Saat inilah anak akan menjadi sulit diam dan terus mengeksplor apapun yang ada disekelilingnya. Dengan bermain bookish play ini, anak akan kita buat penasaran dengan berbagai kerajinan yang bisa kita buat dengan melibatkan si kecil. Dengan begitu anak akan semakin antusias ingin tau cerita buku yang lainnya.


4. Kenalkan huruf sedikit demi sedikit dengan berbagai mainan yang menyenangkan

Saat anak sudah mulai lancar berbicara, kita sudah bisa mengenalkan huruf abjad untuk si kecil. Kita bisa memulai dari huruf vocal a-i-u-e-o terlebih dahulu sampai anak paham, setelah itu kita bisa mengenalkam huruf konsonan lain sedikit demi sedikit. 

Sedikit berbagi pengalaman, dulu mengenalkan huruf ke anak saat memasuki 1,5 tahun dimana saat itu anak sudah lancar berbicara dengan jelas dan suka menanyakan apapun yang dilihatnya termasuk gambar huruf yang ada di mainan puzzle evamat miliknya. Lalu sebelum genap 2 tahun anak sudah hafal huruf abjad kapital A-Z dan suka menyebutkan huruf-huruf yang dilihatnya, baik di buku, mainan, dan gambar baju. Lalu setelah itu bisa ditambah mengenalkan huruf abjad kecil. 

Liat huruf-huruf anak pun jadi ingin membacanya. (Dokpri)

Ingat ya moms, kenalkan saja terlebih dahulu jangan memaksakan anak untuk bisa karena seharusnya memang belum waktunya.


5. Ciptakan suasana yang mendukung anak makin gemar membaca

Nah, anak kita yang tadinya sudah mengenal dan tertarik dengan buku, kini sudah semakin besar dan semakin paham mengenal beragam mainan lain dan “kehebatan” media eletronik seperti tv dan gawai yang ada dirumah. Kita pun sebagai orang tua harus mempertahankan ketertarikan anak akan buku, dengan cara sebagai berikut:

  • No screening time
Sudah jadi rahasia umum pengaruh buruk dari layar kaca. Beberapa DSA menyebutkan bahwa anak dibawah usia 2 tahun tidak perlu dikenalkan TV atau gawai. Bahkan setelah usia 2 tahun, screening time maksimal hanya 30 menit per hari. Dengan tidak mengenalkan sejak awal diharapkan tidak menjadi candu dikemudian hari. 

Saat perjalanan jauh anak senang membaca bukunya dan tidak tertarik gawai ayahnya. (Dokpri)

Jujur ini berpengaruh sekali, saya tidak membiasakan screening time ke anak sampai usia 2 tahun, lihat pastinya pernah apalagi saat pulang kampung dan banyak saudara yang selalu memberikan HP atau TV agar anak merasa senang (padahal tidak dikasih pun anak juga senang jika mendapat perhatian kita). Dan sekarang anak hanya menonton TV acara yang dia suka, hanya 30 menit dan setelah acara kartunnya selesai, dia pun minta televisi dimatikan.

  • Berikan contoh ke anak
Karena anak adalah peniru ulung dan buah jatuh tak jauh dari pohonnya, maka kita pun sebagai orang tua yang ingin anaknya cinta dan gemar membaca harus memberi contoh dengan membaca buku juga.

Anak jadi ingin ikut membaca buku kitab yang sering dibaca orangtuanya. (Dokpri)

  • Ciptakan ruang atau rak khusus yang berisi buku-buku 
Sehingga anak bisa memilih sendiri buku yang ingin dia baca. Dengan begitu anak melihat buku-buku sebagai pemandangan di dalam rumahnya yang akan mendorong anak ingin membacanya juga.

  • Jadikan buku sebagai hadiah dan sering-sering ajak anak ke toko buku daripada ke toko mainan
  • Setelah membaca sebuah buku, ajak anak berdiskusi dan mengimplementasikan dalam kegiatan sehari-hari agar anak semakin paham manfaat buku dan mencari tau banyak hal melalui buku.


Demikian beberapa langkah yang bisa kita usahakan untuk menumbuhkan minat baca anak. Tentunya akan ada rintangan dan halangan sewaktu menjalaninya, kuncinya adalah konsistensi kita sebagai orang tua dan mencoba meminimalisir distraksi media lain yang lebih menarik daripada buku untuk anak kecil. 
Perkembangan teknologi pun tidak dapat kita pungkiri, karena di dalamnya banyak manfaat dan kemudahan yang bisa kita dapatkan. Salah satunya, dengan menjadikan gawai yang kita miliki sebagai media membaca anak. 
Hah, kok bisa?
Bisa donk, karena sekarang ada aplikasi Let's Read - Perpustakaan Digital Cerita Anak.
Let's Read merupakan aplikasi yang berisi ratusan cerita anak yang pastinya menghibur dan juga edukatif. Let's Read diprakarsai oleh Books for Asia dari The Asia Foundation yang bertujuan menumbuhkan para pembaca cilik di Asia. Let's Read menjadi pilihan yang tepat untuk kita tunjukan ke anak saat anak penasaran dengan gawai yang sedang kita pakai. Semua koleksi cerita dalam aplikasi ini penuh gambar dan berwarna sehingga akan membuat anak senang. Tersedia juga cerita mengenai COVID-19 yang dikemas dalam cerita yang lucu dan menarik sehingga sangat pas untuk mengajarkan si kecil tentang wabah pandemi ini yang semoga segera berakhir ya..

Let's Read



Kehebatan lainnya nih, cerita dalam Let's Read bisa diunduh secara gratis dan juga bisa dicetak lho.. Selain itu, terdapat pilihan multi bahasa sehingga kita bisa mengajarkan anak-anak berbagai bahasa termasuk ada bahasa daerah juga lho... seru banget kan?
Makanya yuks segera download gratis aplikasi Let's Read melalui Google PlayStore atau AppStore, biar gampang aku share linknya disini yaa..

Jadi ga perlu lagi mengutuki teknologi, tinggal bagaimana kita sebagai orang tua yang sudah melek ilmu dan digital harus pintar dalam memanfaatkan dan mengatur pemakaiannya. Jika kita sudah membekali kebutuhan membaca sedari dini, insya Allah anak akan terus senang membaca dan bisa memanfaatkan media elektronik untuk bahan bacaan mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang semakin luas jangkauannya.

Semoga sharing pengalaman ini bisa bermanfaat dan menjadi motivasi (khususnya saya pribadi) agar terus bersemangat mempertahankan minat baca anak-anak kita. Aamiin


Let's read baby!



4 Langkah Mendidik Bayi ala Rasulullah



Assalamualaikum sahabat,

Tulisan kali ini mungkin akan sedikit berbeda ya, karena biasanya hanya tulisan yang base of experience ajah. Nah kali ini aku mau share tentang buku yang lagi aku baca nih, judulnya “Prophetic Parenting, Cara Nabi Shallallahu’alayhi wa Sallam Mendidik Anak” dimana isinya penting banget karena dewasa ini orang-orang muslim lebih banyak mengadopsi gaya barat dan masih ada yang melakukan hal-hal yang berbau adat atau tradisi keluarga masing-masing. Padahal sebagai orang muslim sudah seharusnya kita meneladani ajaran Rasulullah, terutama dalam mendidik anak kita. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam QS. al-Ahzab:21

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah."


Ini dia penampakan bukunya.

Di dalam buku ini ada 19 bab yang membahas dengan sangat lengkap dan detail dari awal mula bagaimana seharusnya menemukan pasangan hidup hingga mengarahkan kecenderungan seksual anak.

Tapi disini akan dibedah satu Bahasan terlebih dahulu ya, yang mana saat ini masih banyak yang salah kaprah dalam menjalankannya. Bahasan apakah itu?

Mendidik Bayi pada Hari ke Tujuh Kelahiran


1. Memberikan Nama Bayi

Dalam memberikan nama untuk buah hati tercinta, pasti kita akan memikirkan matang-matang jauh sebelum bayi ini lahir, biasanya sih saat udah tau gender si jabang bayi ini apa. Itupun kita tetap akan mempersiapkan dua nama (untuk laki-laki dan perempuan) karena hasil USG pun belum 100% akurat. Begitu bayi lahir, jadi bisa langsung launching nama anak kita untuk kebutuhan data rumah sakit. Itupun kadang masih belum fix nama anak kita karena pergulatan antara bapak ibu nya atau bahkan ada nama request dari eyang2nya...😬😬

Yang pasti, kita akan mempersiapkan nama yang terbaik, dengan harapan nama yang diberikan bisa menjadi doa untuk anak kita. Akan tetapi, belum lama ini sempat viral adanya banyak nama-nama yang tidak lazim dan cukup menggelitik. Dimana atas ketidakpahaman dan ketidakbijakan orang tua, anak yang justru menanggung beban nama itu.
Selain itu, kebanyakan anak-anak milenial saat ini mempunyai nama yang kebarat-baratan dimana namanya begitu sulit diucapkan karena berbeda antara tulisan dan pelafalannya.

Oleh karena itu, disini saya akan share bagaimana memilih nama yang baik untuk anak kita.

Ada tiga pilihan yang diberikan menurut Imam Al- Mawardi:

• Diambil dari nama orang-orang yang berpegang teguh pada agama, seperti para nabi dan rasul serta orang-orang saleh. Dan nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud dan an-Nasa’i dari Abu Wahb al-Jusysyami:
Rasulullah Shallallahu’alayhi wa Sallam bersabda, “Pakailah nama-nama para Nabi. Nama yang palng dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman. Nama yang paling jujur adalah Harits (orang yang memiliki keinginan) dan Hammam (orang yang memiliki cita-cita). Nama yang paling buruk adalah Harb (perang) dan Murrah (pahit).”

• Nama yang diberikan memiliki jumlah huruf yang sedikit, ringan di lidah, mudah diucapkan dan gampang didengar.

• Nama yang diberikan memiliki makna yang baik dan sesuai dengan si pemilik nama serta sesui dengan status sosialnya dalam masyarakat.

2. Mencukur rambut

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq:
Rasulullah Shallallahu’alayhi wa Sallam bersabda kepada Fatimah setelah dia melahirkan Hasan, “Hai Fatimah, cukurlah habis rambutnya dan bersedekahlah perak seberat hasil timbangan rambut itu.”

Hal ini dilakukan sebagai wujud syukur atas kenikmatan berpindahnya masa janin menjadi masa bayi. Dan bentuk syukur yang paling baik yaitu dengan bersedekah. Pertimbangan menggunakan perak dikarenakan harga emas yang terlalu tinggi sehingga tidak mungkin dilakukan selain oleh orang kaya. Sementara benda lainnya tidak akan bernilai tinggi apabila disedekahkan seberat rambut bayi.

Nah seringkali saya jumpai, bahwa orang tua saat ini tidak melakukan cukur rambut sang bayi dengan berbagai argumen. Yang saya alami sendiri waktu dulu mau mencukur rambut anak saya, sempat dilarang oleh mertua karena takut si bayi kedinginan karena ga punya rambut lagi, padahal ada topi atau penutup kepala lain yang bisa untuk menghangatkannya. Belum lagi argumen lain, yang merasa sayang dengan rambut si bayi yang udah lebat sejak lahir jadi merasa takut kalo rambutnya susah tumbuh ke depannya.
Padahal jika kita mengikuti sunnah Rasulullah pasti akan ada dampak positif baik dari segi kesehatan dan bisa menjadi tabungan amalan shalih di sisi Allah.

3. Aqiqah

Aqiqah dilakukan sebagai pemberitahuan tentang garis keturunan dengan cara yang baik agar tidak sampai timbul fitnah yang tidak dikehendaki. Ketentuannya, untuk anak lak-laki dua ekor kambing dan untuk anak perempuan satu ekor kambing. Aqiqah diakukan diawal kelahiran sebagai penyerahan si anak di jalan Allah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim'alayhissalam. Sebagai upaya untuk mendekatkan si bayi kepada Allah di waktu-waktu pertama bersentuhan dengan kehidupan dunia.
Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dan adh-Dhya’ dari Buraidah radhiyallahu’ahu yang diriwayatkan secara mafu’: “Kambing aqiqah disembelih pada hari ketujuh, atau ke empat belas, atau hari ke dua puluh satu.”

Pasti pembaca disini sudah paham betul makna aqiqah sehingga banyak masyarakat muslim yang melakukannya selang beberapa hari dari kelahiran. Biasanya acara aqiqah ini dilakukan bebarengan dengan cukur rambut si bayi. Yang perlu ditekankan disini adalah niat kita saat melakukan aqiqah adalah semata-mata untuk mendapat ridha Allah Subhanallahu wa ta’ala bukan perayaan acara aqiqahnya.

4. Khitan

Diriwayatkan oleh Ahmad dari Syaddad bin Aus radhiyallahu'anhu: Nabi Shallallahu’alayhi wa Sallam bersabda, “Khitan adalah sunnah bagi laki-laki dan penghormatan bagi wanita.”

Demikianlah kita dapati perhatian besar yang diberikan oleh Islam dalam masalah khitan bagi anak laki-laki dan perempuan. Hal ini bisa dilakukan mulai dari hari ketujuh kelahiran. Hal ini berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh al Baihaqi dari Jabir radhiyallahu’anhu, dia katakan: “Rasulullah Shalallahu’alayhi wa Sallam melakukan aqiqah Hasan dan Al Husain, dan mengkhitan merekan berdua pada hari ketujuh.”
Ibnu Juzzi mengatakan, "Makruh hukumnya mengkhitan pada hari pertama kelahiran, karena itu merupakan perilaku kaum Yahudi."

Nah ini dia yang masih jarang dilakukan masyarakat saat ini, dimana kebanyakan mereka mengkhitan anak lelaki mereka saat sudah menduduki bangku SD. Padahal jika dikhitan saat bayi, banyak manfaat yang bisa diperoleh dimana anak akan terhindar dari penyakit yang biasa menyerang bayi seperti phimosis (melekatnya kulup penis) atau ISK (infeksi saluran kemih). Selain itu, setelah dikhitan akan lebih mudah dibersihkan saat anak selesai buang air.
Pastikan sebelum melakukan khitan, bayi dalam keadaan sehat yang bisa dipastikan melalui konsultasi dengan dokter.
Yang ingin lebih paham apa itu Fimosis dan bagaimana penanganan khitan pada bayi bisa mampir disini  yaa...

Sekian dulu bahasan kali ini ya, insya Allah bisa membahas bahasan lain dari buku ini yang tidak kalah penting juga...

Wassalam.