Tampilkan postingan dengan label Emosi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Emosi. Tampilkan semua postingan

Lakukan 4T untuk Menghadapi Anak Tantrum

Ketika anak memasuki usia 2 tahun, sebagai moms kita harus mempersiapkan mental dan kesabaran ekstra. 
Kenapa? 
Karena pada masa ini kita akan sering menjumpai anak yang tiba-tiba tantrum.

Pada usia ini, anak memasuki masa perkembangan autonomi. Maksudnya adalah anak-anak sedang  belajar mengontrol segala sesuatunya sendiri dan tidak lagi bergantung pada orang lain seperti saat berada dalam fase sebelumnya ketika masih bayi. 
Sehingga ketika keinginannya tidak terpenuhi, anak akan bersikap berlebihan seperti menangis sambil guling-guling di lantai atau berteriak marah-marah yang diikuti perilaku fisik.  Sikap inilah yang dinamakan dengan tantrum. 

Tak heran fase perkembangan anak usia ini dinamakan “terrible two”
Dalam fase ini anak akan bersikap egosentris dan merasa semua hal berpusat pada dirinya. Anak mulai menunjukkan perilaku yang menguras kesabaran orang tuanya. Mereka menjadi lebih sering membantah atau menolak perkataan kita, kalau orang jawa bilang tuh “ngeyel”. Bahkan tidak sedikit pula anak yang menunjukannya secara fisik seperti suka melempar barang, corat-coret, menendang, atau bahkan menggigit.

Menghadapi anak tantrum memang membuat emosi kita bergejolak ya Moms. Apalagi jika anak tantrum di tempat umum atau saat berada di keramaian orang, seperti mall atau saat kumpul keluarga.  Wah pasti rasanya campur aduk ya kita Moms, antara malu dan bingung untuk menenangkan anak kita. 

Lalu, bagaimana cara yang tepat untuk menghadapi anak yang tantrum ini?

Pada artikel sebelumnya, mengenai

Pentingnya Membedakan Emosi dan Strategi dalam Perilaku Anak

kita telah mempelajari cara membedakan tangisan atau perilaku anak sekaligus cara yang tepat untuk menanggapinya. Mungkin masih ada beberapa yang salah dalam mengartikan artikel tersebut. Dimana tidak ada yang salah dengan emosi anak, yang salah adalah ketika kita sebagai orang tua justru mengartikan bahwa semua tangisan atau perilaku amarah anak adalah bentuk luapan emosi. Karena perilaku anak tersebut bisa jadi hanya strategi anak untuk mengobservasi dan mengenali cara untuk mendapatkan keinginannya. 

Misalnya, saat anak menangis atau mengamuk untuk mendapatkan sesuatu dan kita turuti, maka anak akan mengulangi cara tersebut di kemudian hari. Jika kita biarkan terus menerus, hal ini akan menjadi kebiasaan buruk bagi Si Kecil. 

Nah, di bawah ini saya akan coba share mengenai penanganan anak tantrum pada usia toddler.

Ketika anak tantrum, lakukan 4T:

Menghadapi-Anak-Tantrum

1. Tenang

Saat anak tantrum, kita harus tetap tenang dan tidak terbawa emosi. Jangan ikutan marah atau membentak ke anak. Sikap tenang kita akan membuat tantrum anak lebih mudah untuk diatasi. Jika sedang berada di tempat ramai, ajak anak untuk pindah tempat yang lebih sepi dan nyaman.

2. Terima

Terima semua perasaan yang anak rasakan. Jika itu adalah suatu luapan emosi maka kita bisa memvalidasi emosinya. Terima saja cara anak mengekspresikan emosinya agar tidak ada emosi yang tertahan yang bisa menyebabkan tumpukan emosi pada anak kita. Dampingi anak kita dan tunjukan rasa empati kita dengan berada didekatnya. Hadirkan mindset bahwa anak kita membutuhkan bantuan kita untuk meregulasi emosinya.

3. Tunda

Menunda untuk bertanya macam-macam atau bahkan buru-buru menasihati anak. Saat badai emosi terjadi, anak akan sulit diajak berpikir logis. Maka tunggu sampai emosinya stabil terlebih dahulu dan terus dampingi dia.

4. Tunjukan 

Saat anak mulai mereda dan terkendali, tunjukkan rasa cinta kita ke anak dengan memeluk dan mencium anak kita. Sambil kita sampaikan bahwa tadi kita membiarkannya menangis bukan karena kita tidak sayang atau tidak peduli, tetapi agar dia merasa lega terlebih dahulu. Lalu kita tanyakan bagaimana perasaannya. Setelah anak mengutarakan isi hatinya, baru kita menasihati anak dengan menjelaskan untuk ke depan jika ingin sesuatu cukup sampaikan dengan baik tidak perlu marah dan menangis.


Itu tadi sedikit cara yang insya Allah tidak memberikan dampak buruk ke anak-anak ketika mereka tiba-tiba tantrum. Adapun hal-hal yang perlu kita hindari ketika anak tantrum atau berperilaku yang tidak menyenangkan lainnya adalah dengan 

Hindari 4M

  • Membentak atau memarahi anak
  • Memaksa atau menjajah anak untuk menuruti keinginan kita
  • Memanipulasi anak dengan membohongi atau pura-pura ngambek ke anak
  • Menyakiti anak secara psikis, seperti mencubit atau memukul

4M diatas jika sering kita lakukan dalam menghadapi perilaku anak, akan berisiko terhadap kesehatan psikisnya dan mempunyai efek buruk jangka panjang lainnya. 

Mengutip dari seorang praktisi parenting sekaligus founder akun instagram @anakjugamanusia, Angga Setyawan, bahwa ada beberapa dampak risiko dari memukul anak, diantaranya: 

  • Anak akan merasa bahwa marah atau memukul adalah hal yang benar untuk dilakukan
  • Anak akan menduplikasikan sikap kita untuk merespons sesuatu
  • Anak akan tumbuh menjadi anak yang ragu-ragu dan tidak punya pendirian karena terbiasa menurut kemauan orang tuanya
  • Anak akan menjauh dari orang tuanya karena merasa takut dan tidak nyaman atas sikap kita
  • Anak akan merasa kebal, terbiasa dipukul dulu baru melakukan yang orang tua perintahkan
  • Anak tidak memiliki rasa empati terhadap perasaan orang lain

Orang tua mana yang mau anak merasakan dan tumbuh besar dengan perasaan seperti itu? Mungkin dalam penerapan tidak akan semulus dan semudah menulis dalam artikel ini atau semudah membacanya. Butuh tekad dan kesadaran penuh untuk bisa menjalaninya. Dan kunci untuk itu adalah kita harus selalu mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, Allah Subhanahu wa ta’ala, agar kita kita dimampukan untuk sabar dalam menghadapi dan mendampingi tumbung kembang anak kita. 

Baca juga: 9 Metode Pengajaran untuk Menumbuhkan Kemandirian Anak

Sebagai pengingat (specially for me) agar terus berusaha melapangkan dada dalam membersamai anak-anak kita, yuks kita pahami perintah Allah Subhanahu wa ta'ala dalam QS. At-Tahrim : 6

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.


Sebagai penutup, bahwa kitalah yang mengharapkan kehadiran anak-anak kita. Jangan merasa terbebani akan segala tahap perkembangan anak, termasuk ketika anak mulai sering tantrum. Syukuri setiap tingkah aktifnya, karena di luar sana masih banyak yang berharap ada di posisi kita....


Pentingnya Membedakan Emosi dan Strategi dalam Perilaku Anak

Semakin bertambah usia anak, semakin besar pula stock sabar yang harus dimiliki orang tua. Bagaimana tidak? Ketika anak sudah memasuki masa toddler, yaitu usia 1-3 tahun, anak akan semakin keras dalam menunjukkan kemauannya dan menjadi lebih egosentris. 

Sejak usia ini pula, anak akan cenderung lebih mudah cranky atau bahkan sering tantrum untuk mendapatkan apa yang dia mau. Sehingga tidak sedikit orang tua yang merasa kewalahan atau bahkan tidak mampu menahan emosinya. 

Saya sendiri pun setiap hari masih terus berusaha untuk tidak terpancing emosi, tetapi tidak pula serta merta menuruti keinginan anak saat dia menangis. Bukan karena tidak sayang, tetapi untuk mengajarkan ke anak bahwa tidak semua hal bisa didapatkan. Selain itu, khawatir anak akan terbiasa menjadikan tangisan sebagai senjata untuk mendapatkan sesuatu. 

Pada dasarnya, tangisan anak adalah suatu bentuk ekspresi atau cara anak untuk mengungkapkan perasaannya. Tangisan juga merupakan salah satu bentuk penyaluran emosi sang anak. Tetapi seiring bertambahnya umur, menangis bisa juga menjadi salah satu strategi anak untuk “menjajah” orang tua untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Jadi, emosi dan strategi inilah yang menjadi pencetus perilaku seorang anak.

Emosi vs Strategi

Emosi bisa terjadi karena kebutuhan yang tidak terpenuhi atau harapan anak yang tidak sesuai dengan kenyataan, energinya bisa sedih, kecewa, berduka. Sedangkan strategi merupakan keinginan anak menjajah orang lain untuk mendapatkan keinginannya  atau hanya sekedar mencari perhatian. 

Emosi bisa berisiko berubah menjadi strategi jika kita berlebihan dalam menanggapi sikap anak. Akan tetapi, strategi tidak bisa berubah menjadi emosi. Jadi kita harus hati-hati dalam menanggapi perilaku anak. Karena jika kita salah menanggapinya, maka akan berpengaruh fatal kedepan. 

Lalu, bagaimana cara membedakan emosi dan strategi dalam perilaku anak? 

Yang perlu diingat bahwa yang dibedakan adalah dorongan energinya, bukan wujud perilakunya, karena wujudnya bisa saja sama persis. Misal saat anak menangis, jika dilihat mungkin tangisannya sama persis, tapi kalau dirasakan dorongan energinya berbeda. 

Jadi, gunakan feeling kita sebagai seorang Ibu melalui hati atau kepekaan kita, bukan dari analisa pikiran. Dan cara paling mudah untuk bisa merasakan hal tersebut adalah dengan membersamai anak secara lahir dan batin. Setelah kita bisa mengenali dan memahami perbedaan emosi dan strategi pada anak kita, maka kita pun bisa memberikan tanggapan yang sesuai agar apa kebutuhan anak terpenuhi dengan tepat. 

Ketika anak berperilaku yang menunjukan emosinya

Source:Canva 

Saat kita merasakan ada dorongan emosi anak, maka kita cukup fasilitasi secara pasif, yaitu dengan mendampingi anak kita. Kita berada di dekat anak sambil sediakan hati kita untuk ikut merasakan yang anak rasakan. 

Pastikan emosi anak tersalurkan secara tuntas, setelah itu baru kita ajak bicara anak. Misal “tadi kenapa, apa yang kamu rasakan, dll”. Kalau kita tidak fasilitasi secara pasif, misal malah kita marahin atau kita hibur anak kita, maka risikonya:

  1. Emosinya bisa berubah menjadi strategi
  2. Emosinya bisa tersumbat dan tersimpan menjadi sampah emosi yang akan menumpuk, yang suatu saat bisa meledak
  3. Anak jadi tidak belajar mengendalikan dirinya secara mandiri saat ia emosi, karena tidak kesempatan bersentuhan dan mengenal pusat rasa dalam dirinya.

Saat anak menunjukan strategi

Berbeda dengan perilaku anak karena emosi, saat anak berperilaku sebagai suatu strategi untuk mendapatkan keinginannya. Yang harus kita lakukan adalah cuekin lahir batin. Anggap perilakunya tidak terjadi, karena jika kita tegur/ nasehati/marahi/dihibur, maka anak tidak akan peduli semua itu. Justru anak merasa bahwa ia direspon dan respon adalah bentuk perhatian,. Sehingga anak akan mengulang-ulang karena terbukti itu efektif baginya untuk mendapat perhatian. 

Yang penting untuk diingat, kita pantang galau/ kepikiran/terganggu/baper saat menghadapi strategi anak. Sebab anak bisa merasakan celah untuk menang sehingga ia makin menguji kita dengan perilaku yang lebih ekstrim. 

Lalu, setelahnya kita biarkan dan anak terdiam, kita tidak perlu membahas kejadian  tersebut baik ke anak atau ke siapapun. Seperti “itu lho yah, tadi adik mukul” sementara anak kita melihat kita membahas kejadian tadi, sehingga ia merasa “ah, ternyata tadi hanya pura-pura cuek, sebetulnya masih perhatian karena masih dibahas lagi”. Sehingga suatu saat anak akan mengulang strateginya lagi. 

Baca juga: 7 Pedoman Seorang Ibu Minim Stres

Terkadang, ada beberapa anak yang berperilaku secara berlebihan dengan perilaku menyakiti dirinya sendiri atau bahkan orang lain. Maka, tanggapan kita pun harus berbeda dengan cara di atas.

Jika perilaku berbahaya tersebut merupakan luapan emosi, maka yang pertama dilakukan adalah amankan pelaku. Lakukan tindakan untuk menghentikan perilaku anak yang berbahaya (yang merusak atau menyakiti diri atau orang lain). Misal dengan kita dekap erat anak kita atau dengan kita arahkan anak untuk berada di pojokan atau sudut ruangan. Dampingi anak dan jangan ada upaya untuk menyumbat emosinya. 

Setelah mereda dan emosinya tuntas, baru kita ajak bicara, misal “tadi kamu bunda dekap erat/ taruh pojokan bukan karena marahmu, tapi caramu marah yang bunda tidak setuju, boleh marah tapi caranya cukup kepalkan tangan saja ya..(atau hal lainnya yang sekiranya aman)”.

Akan tetapi, jika perilaku anak tadi adalah suatu strategi, maka setelah kita amankan anak, kita tidak perlu tanggapi dengan berbagai perhatian. Cukup diamkan anak, cuekin lahir dan batin, anggap tidak ada kejadian apa-apa.

Masa anak nangis kita cuekin sih?

Jika tangisan atau amarahnya sebagai sebuah strategi, kita pun harus menanggapinya dengan strategi. Dampingi anak, biarkan anak tenang terlebih dahulu, setelah itu baru kita berikan alternatif pilihan untuknya.

Baca juga: Efektifkah Pemberian Reward & Punishment?

Yang terpenting dari semua itu adalah konsistensi kita sebagai orang tua dalam menanggapi perilaku anak dengan tepat. Kuncinya ada pada diri kita sendiri seberapa jauh kita memahami anak kita, karena kita sendiri yang bisa membedakan perilaku anak kita itu merupakan strategi ataukah emosi. Cara terbaik untuk mengetahui hal tersebut dengan sepenuhnya hadir secara lahir dan batin saat membersamai anak. 


Semangat membersamai anak kita ya Moms...


7 Pedoman Seorang Ibu minim Stress

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه



Orang bilang cinta ibu ke anak itu sepanjang masa ya?
Eh ternyata benar, sekarang baru ngerasain sendiri setelah punya anak...
Katanya juga nih, cinta ibu ke anak tak bersyarat?
nah, yang ini aku masih meragu..
Setelah berbagai struggling menjadi new mom, kok rasanya justru cinta seorang anaklah yang tak bersyarat..
kok bisa?


Coba kita renungkan sejenak, anak kita yang begitu polos dan lucu, selalu menyambut manis dengan binar matanya tak peduli kita sudah mandi atau belum. Anak kita yang terkadang diri ini masih saja secara tidak sadar tidak terkontrol marah atau bernada tinggi saat anak melakukan kesalahan eksplorasi yang mungkin belum dia pahami dan akhirnya menangis, tapi selalu akhirnya minta pelukan kita kembali.

Sedangkan kita sebagai orangtua, khususnya Ibu..
Masih saja banyak menuntut ini dan itu yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan anak, bahkan berakhir marah karena anak tidak menurut atau tidak sesuai dengan harapan kita.
Rasanya malu sendiri dengan predikat Ibu dengan cinta yang masih penuh tuntutan seperti itu.

Belajar, mencoba perbaiki diri...
Mencari tau bagaimana untuk bisa menjadi orang tua yang lebih baik dan memberikan cinta kasih sayang yang tulus tanpa amarah dan emosi yang tidak terkontrol. Mulai dari membaca buku parenting, mengikuti beberapa kelas online, mengikuti beberapa influencer parenting di berbagai media sosial, hingga mengikuti komunitas yang banyak membahas seluk beluk parenting. 
Hingga akhirnya membuat aku tersadar pentingnya menjadi ibu yang sempurna bijak (karena pada hakikatnya kesempurnaan hanya milik Allah) dan terus berusaha mengelola emosi agar tidak terlampiaskan ke anak. 



Tak perlu berlama-lama lagi, disini saya akan coba rangkum 7 pedoman seorang ibu agar jauh dari rasa stress saat mengasuh dan membersamai anak.

1. Selalu ingat bahwa anak adalah amanah

Nah, ini mungkin yang terkadang kita lupakan sejenak sebagai orangtua. Bahwasanya anak kita hanyalah titipan dari Allah Subhanahu wa ta'ala yang semestinya kita jaga. Coba saja saat kita dititipi teman atau saudara untuk menja anak mereka sejenak untuk 1 dan lain hal, pasti kita akan jaga dan perlakukan dengan baik, bahkan kita tidak akan berani marahin atau omelin kan..?
ya iyalah masa iya anak orang kita omelin..? 
Terus kenapa anak sendiri malah dimarah-marahin atau dibentakin? kan anak kita juga hanyalah titipan dari Yang Maha Kuasa.? yang kelak kita akan dimintai pertanggungjawabannya.
Nulis begini pun masih merem melek karena begitu banyak kesalahan yang telah dilakukan ke anak tanpa kita sadari. Semoga dengan bertambahnya ilmu tidak akan terulang kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan ke anak dan Allah mengampuni dosa-dosa kita serta memberi kesempatan untuk memperbaikinya...aamiin

2. Selalu ingat perintah Allah akan pentingnya menjaga keluarga

QS.At-Tahrim : 6

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Perintah Allah dalam Al Quran begitu jelas adanya, tidak hanya berlaku untuk para suami atau ayah saja, tapi kita sebagai ibu pun ikut bertanggung jawab dalam menjaga keluarga, khususnya anak. Menjaga anak disini termasuk menjaga ketauhidan anak, mengajarkan baik buruknya sesuatu, menanamkan kejujuran dan nilai-nilai kebaikan islam lainnya. Dengan mengingat perintah Allah diatas, maka kita akan selalu berupaya menjaga perilaku kita agar bisa menjadi suri tauladan yang baik bagi anak.

3. Selalu ingat bahwa anak adalah ladang pahala 

Masih ada sebagian orang tua yang berpikir bahwa anak adalah beban. Bahkan banyak negara yang masyarakatnya menghindari pernikahan karena tidak mau repot mengurus anak. (Semoga kita semua dihindarkan dari pikiran seperti itu yaa...)
Padahal sebenarnya anak adalah ladang pahala untuk bekal kita di akhirat nanti. Sebagaimana kita ketahui, hadits yang sudah sering kita dengar:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Pasti kita semua mengharapkan anak kita menjadi anak yang sholeh dan sholehan kan? Karena doanya kelak akan terus mengalir menjadi amalan baik kita walaupun kita sudah tiada.
Dengan mengingat hadits tersebut, insya Allah cara pandang kita dalam menghadapi anak akan berbeda dengan cara pandang yang menganggap anak adalah beban. Kita akan lebih bersemangat dalam mengurus anak mulai saat bayi yang suka menangis saat kita tinggal, kita akan semangat merapikan mainan yang dieksplore oleh anak, kita akan lebih semangat saat mengajari anak, dana banyak hal lainnya. Karena pada dasarnya kodrat seorang Ibu adalah sebagai madrasah ula bagi anaknya, yaitu pendidik yang pertama dan utama, dimana banyak pahala yang bisa kita dapatkan.

4. Perbanyak ilmu parenting

Seperti sudah saya bahas di awal, kurangnya ilmu akan pengasuhan anak akan membuat kita tidak tau bagaimana seharusnya bersikap ke anak. Karena anak kita mengalami tahapan perkembangan yang sangat kompleks, sehingga sayang sekali jika kita salah dalam menanganinya. Mempelajari ilmu parenting baiknya idealnya sebelum kita menikah, jadi kita bisa mulai persiapan dengan memilih pasangan yang akan sama pemikiran dalam membangun keluarga dan membesarkan anak. Tapi jangan sedih bagi yang sudah terlewat dan anak sudah mulai besar, karena lebih baik terlambat daripada tidak tau ilmunya sama sekali. Apalagi di era digital seperti sekarang ini, dimana kita bisa sangat mudah menemukan ilmu dan informasi, tapi pastikan juga informasi yang kita dapat itu informasi yang benar dengan mencari sumber yang sudah terpercaya keabsahannya. 

5. Perbaiki hubungan dengan suami

Agendakan secara rutin untuk couple time bersama suami untuk saling bertukar pikiran, menyampaikan pendapat dan keluh kesah agar tidak ada konflik yang berkepanjangan. Karena kondisi keharmonisan suami istri akan sangat berpengaruh dengan psikis sang anak. Anak sangat peka dengan kondisi ibunya, apalagi saat anak masih bayi, jika ibu banyak pikiran atau ada permasalah dengan suami, bayi kita akan cenderung lebih rewel dari biasanya. Kalaupun anak sudah mulai besar dan orang tua sedang dalam masalah yang belum terselesaikan, dikhawatirkan kejengkelan sang ibu ke suami akan terlampiaskan ke anak saat anak melakukan kesalahan, masalah yang awalnya kecil akan dibesar-besarkan oleh sang ibu. Oleh karena itu, saat ada masalah dengan suami hendaknya diselesaikan secara langsung tanpa ditunda-tunda, dikomunikasikan dengan baik saat tidak ada anak kita.

6. Samakan visi dan misi keluarga

Saat couple time bersama suami, sempatkan pula untuk membuat family goals dan berusaha komit dengan suami atas apa yang sudah disepakati. Lebih baik lagi jika kita bisa membuat kurikulum keluarga bersama suami. Seperti halnya lembaga pendidikan yang ada kurikulumnya, dalam berkeluarga pun mestinya dibuat kurikulum yang berisi tujuan, topik dan strategi pembelajaran anak. Bicarakan dari hati ke hati dengan mempertimbangan dari berbagai aspek, sehingga saat menjalankannya tidak ada kendala yang cukup besar karena sudah diantisipasi sejak awal. Lakukan juga evaluasi atas apa yang sudah dikerjakan agar bisa dilakukan perbaikan di kemudia hari.

7. Kelola dan manajemen waktu dengan lebih baik lagi

Siapa disini yang menajdi fullmom dengan pekerjaan domestik yang seabrek tanpa bantuan ART? 
Berarti kita tak sendiri ya moms, karena saya pun berada di rantau jauh dari sanak saudara dan suami yang sering pulang malam karena kantor jauh dan tuntutan pekerjaan yang memaksa suami untuk sering lembur di kantor..(uups jadi curcol)
Rasanya sungguh melelahkan ya Moms, apalagi kalo anak belum mau disambi yaa, yang sering membuat pikiran kita jadi ruwet. Nah, kalau udah mulai ruwet gini kembali dulu ke point 3. Ingat bahwa ini lah kesempatan kita untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya. Sambil sedikit demi sedikit mengatur jadwal dan skala prioritas demi kewarasan hati dan pikiran. Kita harus pintar mengatur waktu dengan baik, dengan tidak menunda pekerjaan dan jika merasa overload mintalah bantuan ke suami. Manajemen waktu yang baik akan membuat kita lebih lega dan fokus dengan apa yang sedang kita kerjakan. Saat kita menemani anak kita bisa being present sehingga anak merasa betul kehadiran kita, sehingga jika sudah saatnya melakukan tugas domestik anak akan mau dengan sendirinya, sehingga pekerjaan bisa beres sesuai waktunya dan kita pun tidak menjadi snewen sendiri.


Nah itu dia tadi, hal-hal yang perlu kita ingat dan persiapkan dalam mengemban tugas utama kita sebagai seorang Ibu dengan tulus ikhlas dan jauh dari amarah hingga membuat kita stress sendiri.Dan yang tidak kalah penting juga adalah 
menjadi ibu itu harus happy dan penuh rasa syukur..


Semangat selalu ya mommies...