Tampilkan postingan dengan label Experience. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Experience. Tampilkan semua postingan

Fimosis dan Sirkumsisi Bayi 10Months

Assalamualaikum,

Bagaimana kabar hari ini? Untuk para Mommies semangat terus ya mendampingi si kecil...

Sebagai seorang ibu pasti akan menderita sekali rasanya jika anak sedang sakit. Tapi jika diingat kembali, sakit merupakan qadarullah yang wajib kita jalani dengan sabar. Maka penderitaan itu akan berubah menjadi keikhlasan.


Sedikit berbagi pengalaman tentang anak saya yang harus sirkumsisi (khitan) saat usianya belum genap 10bulan karena terkena fimosis.
Menurut ajaran Rasulullah Shallallahu'alayhi wa Sallam, khitan dilakukan saat anak berusia 7hari. Tapi karena banyak pertimbangan, alhasil anak kami tidak kami khitan saat masih berumur hitungan hari.
Jadilah, saat anak berumur 9,5bulan tiba-tiba badannya panas tinggi, saya cek suhunya 38° lebih padahal tidak ada gejala apa2.
Langsung saat itu kami bawa anak kami ke RS dan alhamdulillah mendapat DSA (dokter spesialis anak) yang mumpuni, sehingga begitu dicek suhu anak kami sudah 39° dan tidak ada gejala flu atau apa2. Langsung diberikan obat penurun demam yang dimasukkan ke dubur agar tidak sampai kejang. Setelah berbagai pertanyaan, dokter mengecek penis anak kami dan benar saja penisnya merah seperti bengkak karena lengket jadi kulupnya tidak bisa ditarik keatas yang membuat pipisnya menjadi sulit keluar. Hasil diagnosa dokter anak kami kena fimosis dan saran dokter baiknya langsung sirkumsisi (khitan) agar bisa sembuh total.
Rasanya shock luar biasa, merasa ga percaya karena anak kami pake diapers hanya saat pergi saja untuk pencegahan hal2 semacam ini, tapi kata dokter penyebab lain juga faktor kulitnya yang sensitif. Dokter pun memberi resep obat salep dan antibiotik dan menyarankan saat membersihkan penis setelah buang air kecil sampai benar-benar kulupnya terbuka sampai ke atas. 
Kami pun pulang ke rumah dengan perasaan yang campur aduk, mengingat kesalahan yang saya lakukan, dimana selama ini saya membersihkan penis anak kami sampai kulupnya terbuka ke atas memang saat mandi saja, saat anak ngompol hanya dibilas air tanpa membuka kulupnya.
Begitu sampai rumah, setelah menenangkan hati dan pikiran, dan anak bisa tidur tenang langsung mencari informasi sebanyak mungkin mengenai penyakit fimosis ini dan bagaimana penanganan khitan pada bayi 10bulan.

Menurut penjelasan Mbah Google,
"Fimosis adalah kondisi ketika kulup ketat tidak dapat ditarik kembali pada kepala penis.
Kulup ketat dianggap normal pada anak yang tidak disunat. Ini akan hilang seiring waktu dengan retraksi yang lembut dan teratur
.
Fimosis pada bayi merupakan kondisi bawaan lahir. Sebagian kasus tidak memerlukan perawatan khusus. Namun, hindari menarik secara paksa pelajaran antara kulup dan kepala penis, karena beresiko menimbulkan luka pada kulup bayi. Umumnya pelekatan ini akan terpisah secara alami pada usia 5-7 tahun atau usia pubertas." 

Source by Google

Akhirnya setelah banyak pertimbangan kami pun siap untuk mengkhitan anak kami dengan segala resiko yang ada, karena kami tinggal merantau dan tidak ada sanak saudara di kota perantauan. Sambil mencari hari yang pas karena suami harus mengajukan cuti terlebih dahulu, pagi hari anak kami rewel menangis terus dan mulai demam lagi. Langsung teringat kalo dia belum pipis sejak semalam. Saya pun langsung membuka kulup penisnya dan benar air kencing langsung keluar dan anak saya pun kembali tenang.
Saya pun langsung menghubungi suami untuk cuti secepatnya karena kondisi penisnya yang semakin sulit terbuka walau sudah diberi obat dari dokter.
Kami pun akhirnya kembali ke RS untuk meminta rujukan ke dokter bedah dan mencari jadwal untuk operasi.
Sebenarnya memang lebih ribet dan butuh proses panjang untuk khitan anak di RS, tapi pertimbangan kami saat itu untuk perawatan pasca operasi lebih nyaman untuk opname di RS terlebih dahulu agar lebih bersih dan penanganannya lebih baik.
Kami pun mendapat jadwal hari jumat malam untuk operasi sirkumsisi, jumat pagi kami pun mendaftar ke UGD untuk tes darah dan anak langsung diinfus dan disuruh puasa mulai jam 2 siang.
Saat pengambilan darah dan pasang infus benar-benar membuat hati saya teriris. Tangannya yang begitu mungil harus ditusuk-tusuk jarum untuk mendapat nadi yang pas untuk dipasang infus.
Belum sampai situ, malamnya saat masuk ruang operasi anak saya dibawa dalam keadaan sadar dan menangis sekenceng2nya karena dibawa dokter masuk dan kami pun hanya bisa menunggu diluar. Lama kelamaan suara tangisnya pun berhenti tandanya bius sudah disuntikkan.
Hanya bisa berdoa dan dzikir sambil memandangi jarum jam yang terus berputar.
Sebenarnya sirkumsisi ini termasuk operasi kecil dan bukan hal yang menyeramkan. Tapi hati saya sungguh campur aduk karena berpisah dengan anak dalam keadaan berderai air mata 😭😭😭
Akhirnya setelah 1jam lebih terdengar suara tangisan anak kami dan dokter membawa anak kami yang masih setengah sadar efek dari obat bius yang mulai hilang.
Seketika gemetar badan saya melihat anak menggeliat2 kesakitan sambil menangis seadanya. Hanya bisa menggendong dengan sangat hati-hati agar tidak mengenai area penisnya. Ketika obat bius sudah benar-benar hilang langsung saya nenenin dan diapun menghisap sekuat tenaga efek lapar puasa dan kelelahan menangis. Masih terlihat sekali dia kesakitan tapi saya harus tegar agar anak kami pun tidak bertambah rewel.
Malam itu saya tidak tidur karena anak kami hanya mau dalam pangkuan saya dan mudah sekali terbangun. Dan drama pun bertambah saat dia harus pipis, karena area penis harus langsung dibersihkan dan itu benar-benar membuatnya merasa tidak nyaman sekali. Untung saja para suster di RS itu sabar dan ramah sekali mengurusnya karena anak kami memberontak saat hendak dibersihkan.
Pagi harinya anak kami sudah bisa tersenyum dan rebahan sendiri di kasur, sambil terus ditemani agar tidak mengotak atik area penisnya. Tapi kehebohan terjadi kembali saat dia harus pipis dan minum obat 😆😆😆
Siangnya kami menunggu kunjungan dokter bedah untuk mengecek jahitan dan sorenya kami bisa pulang ke rumah dengan bekal obat salep dan antibiotik yang harus diminum.
Di rumah anak kami terlihat lebih nyaman dan langsung aktif kembali ingin merangkak kesana kemari. Sepertinya dia agak trauma dengan para tim medis yang menanganinya sendirian saat operasi. Jadi kalo liat baju putih putih dokter atau suster langsung berontak nangis ketakutan.
Untuk beberapa hari area penis tidak boleh terkena air dan harus selalu kering.
Hari ke 3 setelah operasi anak kami sudah mulai aktifitas normal dan tepat seminggu kami kembali kontrol ke dokter bedah dan alhamdulillah hasilnya bagus dan tidak ada masalah. Hanya saja psikisnya yang masih ketakutan dengan dokter dan suster.


Dari sini saya banyak belajar agar lebih memperhatikan dan mengikuti sunnah Rasulullah. Memang lebih baik mengkhitan anak saat masih dalam usia hitungan hari agar terhindar dari berbagai penyakit dan lebih mudah penanganannya karena semakin besar anak akan lebih aktif sehingga butuh penjagaan yang lebih. Selain itu, penting banget untuk para mommies yang punya anak laki-laki untuk lebih memperhatikan kebersihan penis anak, kalo kata DSA waktu itu, tiap anak habis pipis harus dibersihkan dengan membuka kulupnya sampai ke atas lalu dibilas dengan air bersih. Kebayang kan bagaimana ribetnya apalagi untuk para mommies yang pakein anaknya diapers setiap waktu, kan ga tau kapan anaknya pipis 😬.
Kalau ada yang berniat untuk menjalankan toilet training untuk anaknya bisa moms mampir kesini, karena biar gimana pun pemakaian diapers kurang baik untuk si kecil. Emang lebih ribet sih, tapi pahalanya insya Allah lebih banyak karena turut mengurangi limbah diapers di lingkungan kita.

Semoga cerita kali ini bisa bermanfaat dan diambil hikmahnya agar tidak mengalami yang saya alami saat itu harus melihat anak kesakitan tak berdaya 😥

Akhir kata, wassalamualaikum