Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

9 Metode Pengajaran untuk Menumbuhkan Kemandirian Anak

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم 
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه



Apa kabar Moms yang hebat?

Senang rasanya bisa kembali menulis mengenai pengasuhan atau pendidikan anak. Pada tulisan sebelumnya, kita sudah membahas tentang seluk beluk homeschooling yaa...

Adakah yang sudah mempraktikan?

Atau ada yang terlewat belum membaca artikel sebelumya? Yuk, bisa langsung mampir dulu kesini ya.. 

👉Mengenal lebih dalam tentang Homeschooling secara Islami

👉 4 Hal yang Perlu Dipahami dalam Menjalani Homeschooling


Nah, tulisan kali ini kita akan membahas mengenai kemandirian anak.

"Duh..anak ku masih kecil sih, ntar ajalaah kalau anak sudah mulai sekolah…"

Jangan salah ya Moms, kemandirian itu bisa kita ajarkan ke anak sejak mereka masih kecil lho. Dengan pengenalan dan latihan sedini mungkin, maka akan lebih mudah menjadi suatu kebiasaan yang akan tertanam hingga anak sudah besar kelak. Apalagi dalam masa new normal seperti saat ini, dimana anak harus menjalankan Pengajaran Jarak jauh (PJJ) yang menuntut kemandirian anak dalam belajar. Jadi, yuk jangan tunda-tunda lagi, kita bisa mulai melatih kemandirian anak dalam belajar mulai sekarang.

Lalu bagaimana sih caranya?

Kita renungkan dulu ayat berikut yaa..


"Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar."

Ayat ini menjadi pengingat bagi kita betapa pentingnya kita mempersiapkan masa depan anak keturunan kita, baik secara materi maupun dalam kematangan jiwa sehingga anak mampu mandiri. 

Sejak jaman para Nabi pun anak-anak sudah dilatih kemandiriannya sejak dini. Berikut hal-hal yang bisa menjembatani agar anak bisa berkembang secara mandiri di jaman Rasulullah.

1. Teladan dalam mengajarkan iman dan akhlak

Keimanan merupakan keyakinan sepenuhnya yang diikat atau dikokohkan dengan kuat dalam hati, diikrarkan dalam lisan, dan diwujudkan dalam tindakan. Sebagai umat muslim, keimanan atau ketauhidan adalah hal yang paling utama untuk kita ajarkan ke anak yang telah terangkum dalam rukun iman.

Memberikan teladan adalah sebaik-baiknya cara mengajarkan ke anak, dan sebaik-baiknya teladan adalah Rasulullah Shallallahu'alayhi wa salam.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, “Hendaknya kamu bersikap lemah lembut, kasih sayang, dan hindarilah sikap keras dan keji.” (HR. Bukhari)

Rasulullah selalu berlemah lembut kepada siapa pun, terlebih kepada anak-anak. Jadi sudah seharusnya kita pun berusaha untuk selalu bersikap lembut kepada anak-anak kita. Dengan begitu kita pun sekaligus sedang memberikan teladan yang baik bagi anak, karena teladan yang baik akan mengenai hati sehingga anak akan mengikutinya.


2. Mendidik dengan nasihat yang singkat dan pokok

Memberikan nasihat yang sederhana secara konsisten baik dari lisan dan maknanya, sangatlah berpengaruh secara kuat terhadap moral anak. Terlebih dalam hal-hal yang pokok, gunakan kalimat perintah secara langsung agar anak lebih paham. Baiknya, setiap perintah yang kita berikan ke anak diiringi dengan penjelasan yang memberikan landasan keyakinan.

Kita juga bisa menyampaikan nasihat melalui cerita atau kisah singkat untuk anak yang lebih kecil, karena konsentrasinya masih singkat. Dalam keseharian, kita bisa sampaikan secara langsung saat anak rileks bermain atau saat jeda membacakan buku ke anak menjelang tidur. 

Saat anak tiba-tiba menanyakan sesuatu, itulah kesempatan emas kita untuk menanamkan nilai sesuatu yang akan kita ajarkan ke anak. Jadi, jangan sia-siakan waktu membersamai anak kita dengan tidak mempersiapkan nilai-nilai apa saja yang akan kita tanamkan ke anak kita.


3. Al-quran sebagai media dan bahan ajar yang utama

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa Al-quran adalah pedoman hidup manusia dan sumber pengetahuan. 

(Source:Canva)


يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

"Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman." (QS. Yunus : 57)

Mengajari anak dengan Al-quran adalah pondasi awal agar anak tumbuh sesuai dengan fitrahnya, yaitu beriman dan bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Selain itu, segala hal atau ilmu yang dipelajari bisa kita temukan dalam Al-quran. Sebagai contoh, proses penciptaan manusia yang mungkin mulai anak tanyakan atau mereka pelajari di sekolah, kita bisa mengajak anak untuk mencari pedomannya dalam Al-quran pada Surah Al-Ḥajj ayat 5 berikut

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ ۚ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ۖ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّىٰ وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَىٰ أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا ۚ وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ

"Wahai manusia! Jika kamu meragukan (hari) Kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna agar Kami jelaskan kepada kamu; dan Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak Kami sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai kepada usia dewasa, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dikembalikan sampai usia sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air (hujan) di atasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis pasangan tetumbuhan yang indah."

Jadi, kita pun sebagai orang tua hendaknya terus upgrade ilmu kita, terutama dalam mempelajari Al-quran. Sehingga kita bisa terus memberikan rujukan-rujukan yang semestinya dari Al-quran, dalam menjawab atau menjelaskan segala sesuatu yang anak tanyakan dan seharusnya mereka ketahui.


4. Rihlah dan tadabur (perenungan terhadap alam dan penciptaan Allah)

(Source:Canva)

Rihlah merupakan suatu kegiatan perjalanan atau bepergian untuk mentadaburi alam dan ciptaan Allah. Rihlah menjadi salah satu cara menanamkan keimanan kepada anak dengan cara mengajak anak untuk merenungi dan memikirkan penciptaan Allah. Saat bepergian kita bisa mengajarkan banyak hal ke anak dengan cara mengajak anak berpikir mengenai apa saja yang mereka lihat. Cara ini juga bisa membangun kemampuan berpikir anak untuk dijadikan modal belajar ke depan.

Bimbingan ini bisa dimulai sejak masa tamzis, dimana anak sudah bisa membedakan hal yang baik dan buruk. Secara bertahap sedikit demi sedikit, sesuatu yang bisa diindra hingga hal-hal yang rasional, dari yang sederhana ke hal yang kompleks, hingga kita bisa menanamkan keimanan dengan argumentasi yang memuaskan. 

Tugas kita sebagai orangtua adalah mengajak anak untuk merenungi dan berpikir tentang proses-proses kejadian yang terjadi di muka bumi ini, bukanlah serta merta terjadi tetapi Allah lah yang menciptakan dan mengatur segala sesuatu. Sehingga anak akan benar-benar memahami konsep kehidupan ini. Rihlah menjadi salah satu kegiatan belajar yang paling digemari, bahkan bagi orangtua sekalipun. Tapi, rihlah tidak perlu bepergian jauh tetapi cukup keluar dari rumah dan melihat keadaan sekitar dimana banyak hal yang bisa kita ajarkan ke anak, seperti daun yang berguguran, melihat serangga dan banyak hal lainnya. 


5. Menelaah buku yang bermanfaat

(Source:Canva)

Alhamdulillah ya sekarang sudah banyak sekali jenis buku bacaan anak, baik dengan pertimbangan jenis bahan buku, rentang usia, dan juga isi dari buku itu sendiri. Penggunaan buku menjadi alat bantu yang sangat cocok untuk media belajar anak kita. Berikut ini hal-hal yang perlu kita perhatikan dalam menggunakan buku sebagai media belajar anak.

  • Memilihkan cerita yang disesuaikan dengan usia dan level kemampuan anak. Usia anak tidak bisa kita jadikan patokan khusus, karena mengingat perkembangan kemampuan tiap anak berbeda dengan rentang usia yang sama. 

• Sedikit demi sedikit kenalkan ke anak buku-buku yang berisi kisah para Nabi, Rasulullah dan para sahabah dan sahabiyah. Bersyukur ya, sekarang sudah banyak buku anak yang berisi kisah para Nabi dan akidah yang dikemas dalam cerita yang menarik.

• Jadikan buku sebagai media untuk memberikan wawasan ke anak. Hal ini sangat membatu para orangtua yang merasa ilmunya belum mumpuni, sehingga bisa memilih buku yang terstuktur dan komplit. Dengan demikan kita pun bisa mempelajarinya sekaligus saat membacakan ke anak kita.

• Melalui buku kita bisa menasehati anak tentang kebiasaan baik dalam sehari-hari. Bacakan buku secara berulang-ulang dan konsisten dalam waktu minimal 21 kali agar apa yang disampaikan dalam cerita tersebut bisa masuk ke memori anak kita sehingga anak pun bisa mengikuti atau melakukan kebiasaan baik yang ingin kita tanamkan.

Kuncinya, literasi bukanlah sekedar hanya membaca, tapi kemampuan memahami apa yang disampaikan dalam buku tersebut. Sehingga kelak anak pun bisa menganalisa, mengkaji dan mengajarkannya ke orang lain.


6. Pembiasaan yang diiringi dengan pemaknaan

Sebagaimana firman Allah dalam Surah Ar-Rum : 30


فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ


"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,"

Imam Ghazali menyebutkan bahwa "anak adalah amanah bagi orangtuanya, hatinya yang suci bagaikan substansi yang berharga, jika dibiasakan dengan kebaikan maka akan bahagia dunia akhirat".

Setelah deretan cara sebelumnya, kita lanjutkan dengan membiasakan yang diiringi dengan teori atau pemaknaan dari apa yang kita berikan. Agar pembiasaan yang telah kita lakukan sedari kecil bisa bertahan sampai anak dewasa. Sebagai contoh, mengajarkan anak shalat beserta dengan hukum atau ilmu fiqihnya. Tidak hanya dari sisi praktek mengajak anak shalat berjamaah tepat waktu, tetapi juga diikuti dengan pemaknaan fadilah shalat. Jadi fisiknya akan terbiasa dan maknanya pun akan terbangun juga.


7. Mendidik dengan memilihkan teman yang baik

Mengenai hal ini mungkin masih banyak pro dan kontra. Dimana kita tidak bisa menjaga sepenuhnya lingkungan atau pergaulan anak yang 100% "steril". Terlebih ketika anak semakin bertambah usia, menjadi seorang remaja yang kita tidak bisa kita pantau 24jam. Jadi, alangkah baiknya sejak dini sudah kita ajarkan bagaimana konsep bergaul.

Mulai dengan menyediakan lingkungan yang baik untuk anak, terutama untuk anak dibawah usia tamzis, dimana anak belum bisa membedakan hal yang baik dan buruk. Ajarkan juga berbagai adab dalam berteman, baik dengan sesama muslim maupun yang tidak. Kita bisa juga mengajarkan hak dalam berteman, seperti mengucap salam, mengunjungi teman saat sakit, memberi hadiah, dll.

Jika sedari dini kita sudah menyediakan lingkungan yg baik dan mengajarkan sesuai nilai islam, maka ketika anak semakin besar dia akan bisa memilih teman yang baik untuknya dan tidak akan mudah terpengaruh dengan pergaulan yang salah. 


8. Pelibatan, Penugasan, Magang

Semakin bertambah usia anak, maka kita bisa mulai libatkan anak dalam berbagai tanggung jawab. Sebagaimana dicontohkan dalam Surah Al Baqarah ayat 127

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), "Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

Dari ayat tersebut, bisa kita ketahui bahwa Ismail kecil sudah diberi kepercayaan oleh Nabi ibrahim untuk ikut terlibat dalam melakukan sesuatu yang besar, yaitu meninggikan Baitullah. 

Mari kita mulai libatkan anak dalam tugas keseharian kita, janganlah menganggap anak kita tidak mampu mengerjakannya jika kita pun tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk mencoba. Dengan demikian, anak akan tumbuh dengan memahami apa itu tanggung jawab. 


9. Memfasilitasi Minat Belajar Anak di bidang-bidang yang bermanfaat

Di jaman Rasulullah anak usia belasan tahun sudah difasilitasi untuk belajar pedang (untuk bekal berperang). Di era saat ini, anak bisa dibekali dengan belajar bela diri atau berperang di bidang lain seperti perlombaan diberbagai bidang keahlian yang bisa kita sesuaikan dengan minat belajar anak. Jika anak difasilitasi dalam belajar maka rasa keingintahuan anak bisa terpenuhi dan semangat belajarnya pun akan terus terjaga hingga dewasa.


Yang tidak kalah penting dari ke semua cara di atas adalah kita berdoa kepada Allah untuk diberi penjagaan dan kemudahan dalam mendidik anak-anak kita hingga anak kita bisa menjadi anak yang mandiri, matang secara lahir dan batinnya. Sehingga kelak bisa menjadi generasi yang membanggakan baik di dunia maupun di akhirat..aamiin


Akhir kata, wassalam.

Manajemen Pengelolaan Homeschooling


 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه



Mengingat sistem pengajaran saat ini yang masih menjalankan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ), dikarenakan pandemi yang masih belum berakhir. Adakah disini yang sudah mulai ingin beralih ke homeschooling?
Bahkan ada wacana yang menyebutkan bahwa PJJ akan berlangsung hingga bulan Januari tahun depan. Sungguh miris rasanya, terlebih banyak pro dan kontra mengenai sistem pengajaran daring selama pandemi ini. Banyak kendala dan kesulitan bagi siswa maupun orang tua dalam mendampingi anaknya, mulai dari kurangnya fasilitas yang dimiliki, seperti gawai dan koneksi internet yan membutuhkan banyak kuota sehingga mereka harus merogoh kocek lebih banyak dalam situasi yang sedang sulit seperti ini.

Sehingga tak sedikit yang mulai melirik metode homeschooling untuk Pendidikan anak mereka. Disini saya tidak sedang mempromosikan homeschooling dari pihak manapun yaa, sebagai pelaku homeschooling pun tidak belum. Hanya sedang mempelajari dan ingin berbagi sedikit seluk beluk pengajaran homeschooling yang siapa tau bisa memberikan gambaran yang lebih untuk para pembaca disini.
 

Belum lama ini sengaja meluangkan waktu, tenaga dan biaya untuk mempelajari ilmu dalam mendidik anak dalam Kelas Online Bengkel Diri Siap Mendidik, yang sayang banget kalau apa yang saya dapatkan saya simpan sendiri dalam ingatan dan coretan tulisan saja. Nah, salah satu pengisi yang memang sudah expert sekaligus pelaku dari homeschooling adalah Ibu Karina Hakman atau lebih akrab disapa Teh Karin.

Jadi langsung aja yaa, kita mulai dari persiapan awal terlebih dahulu, khususnya untuk pemula (sambil tunjuk diri sendiri).

Manajemen Pengelolaan Homeschooling untuk Pemula


Teh Karin sendiri mengingatkan di awal pertemuan, bahwa panduan ini bukanlah suatu hal yang mutlak. Jadi, bukan suatu patokan yang harus dilakukan sama persis, hanya sebagai guideline agar kita tidak bingung dan bisa disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan diri kita masing-masing. Langsung aja ya...

Checklist Pra Homeschooling

  • Ruang ramah anak
Source:freepik

Usahakan siapkan ruang yang terpisah antara ruangan tenang untuk membaca dan ruang bermain. Jika memiliki rumah yang luas, sediakan ruang salat tersendiri di dalam rumah. Selain itu berikan fasilitas yang memudahkan anak mengakses sendiri apa-apa yang ia perlukan agar anak menjadi mandiri dan punya gagasan sendiri.
  • Rough Trial Schedule Ready (Jadwal Kasar)

Atur jadwal agar tidak bertabrakan dengan waktu salat, waktu orang tua untuk melakukan pekerjaannya, dan sesuaikan juga dengan jadwal anak kita lainnya (jika anak lebih dari satu).
  • Rough Short Term Curriculum Ready
Tidak perlu langsung membuat kurikulum untuk 1 tahun, tetapi kita bisa mulai buat secara garis besar terlebih dahulu untuk skala mingguan. 
  • Bahan Ajar
Source:freepik

Persiapkan terlebih dahulu bahan ajar yang akan digunakan. Baik berupa buku, catatan, printable, alat peraga, permainan edukasi, atau bahkan dengan DIY kreativitas sesuai dengan kebutuhan atau passion.
Yang butuh ide-ide DIY untuk toddler bisa langsung mampir disini yaa..

  • Pengajar dan support system
Kita sebagai orang tua bisa menjadi pengajar jika dirasa berkompeten dan mumpuni dalam mengajar anak kita. Tapi kita bisa juga menggunakan pengajar dari luar untuk materi-materi tertentu atau bahkan secara keseluruhan. Kelola juga adakah yang bisa kita minta bantuannya dalam kegiatan mengajar dirumah, baik itu suami, orang tua, saudara si anak, atau bahkan ART untuk pendelegasian tugas domestik.

Pengelolaan teknis harian untuk beberapa pekan pertama

1. Merekam perkembangan belajar anak
  • Observasi pelaksanaan homeschooling dengan optimal dan lapang dada
    Cari tau gaya belajar dan modaliti anak dalam belajar agar kita lebih mudah dalam memilih metode pengajaran yang tepat untuknya.
  • Fokus pada progres belajar bukan pada hasil
    Terkadang kita lupa diri dan terlalu fokus pada hasil yang ingin anak kita capai, padahal ada yang lebih penting dari sebuah hasil yaitu proses. Kita upayakan semaksimal mungkin segala usaha dan biarkan anak melewati setiap proses tersebut dan kita amati bagaimana progresnya, urusan hasil kita serahkan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.
  • Catat hal-hal yang penting (terutama untuk ibu yang pelupa)
    Banyaknya pekerjaan domestik atau pikiran yang harus dipikul seorang Ibu, bisa membuat kita menjadi sering lupa. Lebih baik buat catatan mengenai kurang atau lebihnya proses pengajaran kita, agar lebih mudah dalam menyusun kurikulum periode berikutnya.
  • Evaluasi dan follow up sesuai kebutuhan
    Dari catatan yang kita buat, bisa kita jadikan bahan evaluasi yang kelak akan menjadi guideline dalam menentukan metode atau kurikulum pengajaran yang lebih pas.
2. Merespon kebutuhan belajar anak
  • Saat anak memanggil atau menanyakan sesuatu, hendaknya kita tanggapi secepatnya. Jangan sepelekan anak saat berbicara atau memanggil kita, segera jawab dan perhatikan anak kita agar anak merasa diperhatikan dan keingintahuannya bisa terpenuhi.
  • Mengoptimalkan sesi tanya jawab dan waktu anak meminta "belajar"
    Terkadang ada moment tertentu dimana anak yang dengan sendirinya meminta untuk belajar sesuatu, gunakan kesempatan tersebut dan jangan sia-siakan dengan menjawab "nanti". Hal ini akan memutus semangat belajarnya, begitu pula saat anak dengan polos melontarkan berbagai pertanyaan kepada kita usahakan jawab dengan penuh perhatian dan penuh makna. Dari sesi tanya jawab yang spontan inilah kita dapat menanamkan atau mengajarkan banyak hal ke anak.
  • Melatih on off kerja karena interupsi dari anak
    Tidak hanya untuk ibu pekerja kantoran atau yang bekerja online di rumah, sebagai full time mom yang memiliki tugas domestik pun hendaknya membiasakan diri untuk bisa berhenti sejenak saat anak membutuhkan kita, dan bisa melanjutkan kembali saat anak sudah terpenuhi kebutuhannya.
    Bertahap mengajarkan anak tentang tanggung jawab orangtua selain mengaja.

Pengelolaan teknis berkala

  1. Bertahap dalam menerapkan rutinitas yang ingin dibangun jangan langsung semua diajarkan 
  2. Bertahap mengajarkan anak tentang tanggung jawab terhadap kelas belajarnya seiring dengan bertambahnya usia sang anak, seperti membereskan mainan sendiri, membuat jadwal sendir.
  3. Bertahap mengajarkan anak belajar secara mandiri
    Latih dengan kebiasaan kecil terlebih dahulu dan lakukan secara konsisten
  4. Monitoring dan evaluasi pekanan
    Pentingnya membuat evaluasi atau catatan pribadi sebagai track record yang bisa kita jadikan untuk bahan belajar kita, karena seringnya ada yang terlupa.
  5. Prepare and reprepare, dari hasil evaluasi untuk pekan selanjutnya.
    Kuncinya konsisten dan istiqomah karena sangat berbeda hasil dan perubahannya dalam harian antara prepare dengan tidak.

Antara homeschooling dan aktivitas orang tua

Hal ini yang paling membuat para ibu merasa tidak belum sanggup melakukan homeschooling. Banyak yang merasa bahwa pekerjaan domestik saja tiada akhir, bagaimana kalau ditambah dengan homeschooling?
Tenang ya Moms, semua pasti ada solusinya...yang perlu kita lakukan adalah:
  • Mengintegrasikan materi ajar anak dalam aktivitas orang tua
    Salah satu kelebihan dari homeschooling adlah kita tidak terpatuk waktu dan tidak melulu belajar harus duduk manis dimeja belajar. Sembari berkegiatan pun kita bisa mengajarkan banyak hal ke anak kita. Sebagai contoh, saat kita memasak dan anak ingin ikut terlibat di dalamnya, kita bisa mengajarkan tauhid bahwa Allah yang menciptakan ikan atau ayam yang akan kita makan. Lalu juga mengajarkan jenis-jenis bahan makanan (umbi, sayur, atau biji-bijian) dan juga kita bisa mengajarkannya berhitung.
  • Atur pekerjaan yang bisa dikerjakan sembari mendampingi anak dan pekerjaan yang memang memerlukan waktu sendiri
  • Pelajari siklus belajar anak Kapan belajar mandiri dan kapan perlu pendampingan
  • Bertahap mengajarkan anak tentang tanggung jawab orang tua
  • Delegasikan tugas kepada support system yang ada

Hectic schedule time management

Saat stress melanda, karena banyaknya pekerjaan atau pikiran yang sedang kalut entah yang disebabkan satu atau lain hal, baiknya lakukan hal-hal dibawah ini yaa..
  • Berhenti sejenak lepaskan semua schedule, ambil wudhu dan salat 2 rakaat agar pikiran kembali tenang
  • Cek kembali to do list kita dan anak-anak 
  • Pilih dan tentukan yang prioritas terlebih dahulu
  • Lakukan apa yang bisa dilakukan saat itu juga
  • Pada malam harinya, susun ulang jadwal untuk besok 
  • Bersyukur, bersabar dan tawakal

Pada dasarnya, apapun yang kita kerjakan pasti akan ada tantangan dan cobaan dalam menjalaninya, terlebih lagi dalam mendidik anak yang memang sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kita sebagai orangtua.
Luruskan niat, terus bersemangat dan latih teris kesabaran kita. Semoga Allah senantiasa menggenggam hati kita agar selalu ingat dan istiqomah di jalanNya..
Aamiin.



2 hal yang Mempengaruhi Mood Belajar Anak


بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم


 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه


Mood belajar anak

Berbicara soal mood, pasti tak lepas dengan yang namanya perasaan atau lebih akrab dengan kata "feeling". Begitu pula dengan anak-anak, yang juga memiliki mood dalam kesehariannya. Selain dipengaruhi oleh perasaaan anak terhadap orang-orang yang ada disekelilingnya, mood anak juga dipengaruhi oleh kinerja otak (brain) lho...
Jadi, saat otak anak kewalahan karena merasa stress, otak akan berubah ke mode survival atau disebut  mode 3F - fight, flight, freeze. Pada mode ini, otak akan melawan apa-apa yang diterimanya, sehingga otak akan ngeblank dan menolaknya. 

3F ini bisa terjadi saat anak merasa cemas dan atau merasa seperti terancam, yakni pada saat anak menerima bentakan atau teriakan. Jadi teriakan kita membuat otak anak yang awalnya siap untuk belajar menjadi tidak bisa menerima dan menolaknya. 
Jika otak anak sudah dalam mode freeze maka mood anak pun hilang untuk belajar. Jadi, lebih baik berhenti atau break sejenak sampai mood anak kembali baik dan otak anak pun siap menerima apa yang kita berikan.  

Nah, dua hal tadi yang sangat berpengaruh dalam menjaga mood anak dalam belajar. Lalu bagaimana kota mempersiapkan 2 hal tersebut?
Yuk kita bahas lebih detail lagi..

RELATIONSHIP

Ada landasan paling kuat dalam mengasuh anak, Allah Subhanahu wa ta'ala dalam surah Al-Baqarah ayat 233 berfirman

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ ۚ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ ۚ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَٰلِكَ ۗ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا ۗ وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا آتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya. Ahli waris pun (berkewajiban) seperti itu pula. Apabila keduanya ingin menyapih dengan persetujuan dan permusyawaratan antara keduanya, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin menyusukan anakmu kepada orang lain, maka tidak ada dosa bagimu memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Dari ayat tersebut dapat kita jadikan sebagai Power of emotional relationship antara orang tua dan anak. Pentingnya menjaga hubungan dan bonding dengan anak selama 2 tahun, baik dengan menyusui langsung atau pun tidak. 
Dalam ilmu psikologi pun dijelaskan bahwa selama usia 2 tahun itulah akhir pembentukan attachment atau kelekatan hubungan ibu dan anak. Saat anak mulai lahir hingga usia 3 tahun adalah masa-masa yang paling berpengaruh dalam menjalin hubungan atau bonding dengan anak.

Source:freepik


Hubungan antara orang tua dengan anak inilah yang sangat mempengaruhi mood anak. Jika hubungan anak dengan orang tua sudah baik, maka mood anak akan lebih mudah dipengaruhi. 

Interaksi yang perlu dijalin dengan anak agar relationship terjalin dengan baik dan mempengaruhi mood anak, yaitu nurture and protection. Yup, pengasuhan dan perlindungan  yang utuh dari kita sebagai orang tua ke anak yang mampu memberikan signal menyenangkan ke otak anak. Semakin banyak interaksi atau hubungan yang positif dan menyenangkan, maka otak anak pun akan semakin tersimulasi untuk mengeksplore lebih banyak hal yang ada disekitarnya. 

BRAIN

Selain peran kita dalam membersamai anak bermain dan belajar agar tercipta bonding dan relationship yang baik, kita juga harus memperhatikan perkembangan otak anak, yang disebut executive function.

Source:freepik


Executive function adalah bagian terpenting pada perkembangan otak anak di usia dini, hal ini akan membantu anak mempelajari kemampuan untuk bertahan hidup, bahkan menjadi pribadi yang lebih bahagia. Ada 8 hal yang perlu kita optimalkan dalam perkembangan otak anak,

  • Impulse control (think before acting)
Kemampuan anak untuk mengontrol impulsifnya

  • Emotional control (keep feelings in check)
Kemampuan anak untuk mengontrol emosinya

  • Flexible thinking (adjust to the unexpected)
Kemampuan anak dalam menyesuaikan kondisi yang dialaminya

  • Working memory (keep key information in mind)
Kemampuan anak untuk mengingat sesuatu atau informasi yang ia terima

  • Self monitoring (evaluate how they are doing)
Kemampuan anak untuk mengevaluasi dirinya

  • Planning & prioritizing (decide on a goal and a plan to meet it)
Kemampuan anak untuk merencanakan dan memprioritaskan apa yang akan ia kerjakan

  • Task invitation (take action and get started)
Kemampuan untuk memulai suatu tugas

  • Organization (keep track of things physically & mentally)
Kemampuan anak dalam pengorganisasian atau penyusunan banyak hal


Bagi yang penasaran detail mengenai 8 executive function ini bisa nantikan di tulisan selanjutnya. Atau yang mau cek n ricek dahulu kira-kira anak kita ada gejala gangguan executive function ga ya nih, bisa langsung Screening Awal disini yaa..

See you 😉



Source:Materi Bengkel Diri Kelas Mendidik oleh Ibu Devi Sani (Psikolog Anak)

4 Hal yang Perlu Dipahami dalam Menjalani Homeschooling

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم 

 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه




Apa kabar ni sobat onlineku?
Masih ingin membahas masalah homeschooling nih, ternyata banyak juga yang tertarik dan ingin tahu lebih dalam mengenai homeschooling. Tapi ada juga yang masih bingung mengenai pembahasan legalitas atau cara untuk mendapatkan ijazah yang sebetulnya sudah sedikit saya bahas di tulisan sebelumnya 

Next, insya Allah akan kita bahas lebih detail dalam tulisan tersendiri ya mengenai legalitas homeschooling ini. Karena tulisan kali ini akan membahas masalah fundamental terlebih dahulu, mengenai persiapan homeschooling. Jadi setelah sebelumnya kita membahas masalah teknisnya nih, sekarang kita akan bahas apa-apa saja yang perlu kita pahami untuk persiapan mental kita sebagai orang tua dalam menjalani homeschooling.
Ga perlu berlama-lama lagi, langsung aja kita mulai ya..

Edited by Canva

1. PRINSIP-PRINSIP MEMBERSAMAI ANAK

  • Bersyukur atas anak dengan segala keunikannya, beserta segala nikmat yang Allah SWT karuniakan.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta'ala dalam QS. Luqman:12

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, "Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji."

  • Memafkan anak atas segala kekurangan dan kegagalannya.
QS. At Taghabun:14

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Jika kita sebagai orang tua tidak berhati-hati maka anak kita bisa menjadi musuh. Sebaliknya, jika kita berhati-hati maka anak bisa jadi penolong kita, baik penolong dalam jalan Allah, penolong dalam kebaikan dan penolong dalam masa sulit. 

Maka kita pun harus sering memaafkan anak kita atas hal-hal yang tidak berkenan di hati kita. Jika kita belum memaafkan kesalahan anak tang telah lalu, maka akan mempengaruhi diri kita dalam bersikap dan kita pun menjadi mudah terpancing emosi sehingga mudah marah. 

Lebih baik lupakan, lepaskan masalah-masalah yang sudah lalu, jika mampu kita ikhlaskan dan ridha bahwa semua ini adalah ketetapan Allah. Apalagi jika anak kita masih kecil yang pada dasarnya memang belum paham, maka kita tidak perlu mmarah-marahatau berteriak kepada mereka.


  • Lemah lembut dan sabar dalam mendengarkan
QS. Al Imran:159

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.

Jelas sekali dalam dalil tersebut, bagaimana kita harus bertutur kata. Gunakan kata-kata yang baik dengan isi dan mimik wajah yang baik, begitupun saat menasehati, menanyakan sesuatu, dan mendampingi anak. Sedangkan saat anak menyampaikan sesuatu (apapun itu) kita wajib sabar mendengarkan dengan penuh antusias. Hal ini berlaku untuk semua umur, tidak hanya pada anak kecil. Janganlah merasa anak sudah besar jadi kita tidak perlu lagi bermanis-manis dengan anak. Karena jika kita berlaku dan berhati kasar kepada mereka, maka lama-lama anak akan tidak nyaman dan semakin menjauhi kita sebagai orangtua. Sehingga mereka pun enggan untuk menceritakan hal apapun ke kita lagi karena takut dengan respon kita yang suka marah atau memberikan kata-kata yang tidak seharusnya.


2. MEMBANGUN HARAPAN PENDIDIKAN

Kita sebagai orang tua harus berani bercita-cita dan menaruh harapan setinggi mungkin akan masa depan anak kita, dengan cara:

  • Melambungkan harapan sebagaimana kita diciptakan
QS. Al-Baqarah : 30

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Aku hendak menjadikan khalifah di bumi." Mereka berkata, "Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?" Dia berfirman, "Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Sangat jelas sekali dalam ayat tersebut tujuan Allah dalam menciptakan manusia yaitu sebagai khalifah (pemimpin) dimuka bumi. Yang mana manusia adalah abdi Allah Subhanahu wa ta'ala, maka sudah sepatutnya kita melakukan hal-hal yang Allah sukai dan meninggalkan yang Allah larang. 

Dalam ayat selanjutnya QS Al Mulk:2

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun,

Nah, bagaimana kontribusi kita atau anak kita dalam kebermanfaatan di atas bumi. Jadi kita harus punya harapan atau cita-cita yang akan membantu kita dalam menyusun kurikulum keluarga. Jangan biarkan ketidakmungkinan atau keterbatasan diri kita sebagai orang tua memutus harapan tinggi kita kepada anak, tentunya di jalan Allah. Alangkah baiknya hal ini  disiapkan sedini mungkin, karena proses penanaman dalam diri membutuhkan waktu yang tidak singkat dan harus dikenalkan sejak anak masih kecil.

QS. Al Ghafir:60

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk ke Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina."

Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang memberikan kita kesempatan untuk berdoa dan berharap kepadaNya. Jadi mengapa kita justru membatasi harapan kita kepada anak-anak kita? 

Keterbatasan kita sebagai orang tua tidak bisa dijadikan alasan untuk meredam tingginya cita-cita anak kita. Tak perlu lah merasa minder atas kekurangan atau keterbatasan yang kita miliki. Kita harus yakin atas kuasa dan kebesaran Allah, dan itulah yang harusnya kita jadikan tolak ukur. Sepenuhnya kita berharap atas kekuatan dan kekuasaan Allah, karena jika kita berharap kepada manusia (dalam hal ini mungkin anak kita), justru kita bisa saja merasa kecewa.

La haula walla kuwata illa billah. Yakinlah Allah akan mengabulkan doa-doa kita.

 

3. MENTAL TRIAL & LEARN

Jika biasanya kita mendengar kata Trial and Eror, tidak untuk homeschooling. Karena untuk menjalankan homeschooling sangat dibutuhkan mental baja yang kuat untuk Trial and Learn

Wah gimana tuh?

Jadi kita tidak perlu takut untuk terus berusaha dan mencoba, jika ada sesuatu yang kurang pas, hendaknya kita mempelajari dimana letak kesalahannya dan mencoba mencari jalan keluar untuk langkah selanjutnya. Tidak perlu terlalu fokus akan hasil yang kita capai, tapi pelajari setiap proses yang kita lalui. Karena setiap usaha akan bernilai ibadah di mata Allah dan ada hikmah yang bisa ambil. 

Mungkin praktisnya kita bisa saja mencontoh suatu kurikurum yang sudah tervalidasi, tapi tetap saja akan tantangan yang akan kita lewati. Maka dari itu, kita harus siapkan mental kita untuk menghadapinya. Jadi, teruslah mencoba dan melangkah kedepan, jangan pernah takut gagal, dengan cara:


  • Mulai dari yang kita bisa dan benar, sesuaikan dengan kapasitas kita

Jangan membandingkan diri kita dengan orang lain, karena setiap orang punya perjuangan masing-masing. Jadi mulai saja sedikit demi sedikit tetapi yang penting harus konsisten. Jangan menyulitkan diri sendiri karena sesungguhnya Allah itu selalu memudahkan umatnya.

QS. Al-Baqarah : 233

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ ۚ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ ۚ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَٰلِكَ ۗ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا ۗ وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا آتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya. Ahli waris pun (berkewajiban) seperti itu pula. Apabila keduanya ingin menyapih dengan persetujuan dan permusyawaratan antara keduanya, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin menyusukan anakmu kepada orang lain, maka tidak ada dosa bagimu memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Jika kita mempunyai keterbatasan dalam suatu hal, maka carilah alternatif lain yang bisa kita kerjakan terlebih dahulu. Dalam menyusun kurikulum harian misalnya, lakukan dari yang bisa dilakukan, sembari terus mengupgrade diri. Dimulai dengan kegiatan yang kita atau anak kita sukai, seperti menemani anak bermain, lama-kelamaan dalam sesi bermain itu kita bisa menyisipkan nilai dari suatu yang kita ingin berikan.


  • Memahami tugas kita untuk giat berusaha dan tidak mudah putus asa

Fokus pada usaha jangan pada hasil. Karena Allah melihat usaha kita bukan pada hasil. Jika di perjalanan terjadi kegagalan, jangan putus asa dan merasa sia-sia. Karena setiap usaha yang kita lakukan akan bernilai pahala, saat , senantiasa berkembang dan terus maju. Dan harus dilakukan evaluasi secara rutin agar tau apa yang harus diperbaiki.

QS. At Taubah :105

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan katakanlah, "Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan."


  • Segera bangkit, bertaubat, dan berdoa setelah gagal atau berbuat salah.

QS. Al Imran:135

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.

Saat kita kelolosan melakukan hal yang tidak baik, entah marah, menghardik, atau cuek ke anak. Segeralah istighfar, taubat dan segera bangkit kembali. Meminta ampun dan mohon kekuatan untuk bisa bangkit dan semakin memperbaiki diri.

 

4. KOMITMEN WAKTU, TENAGA, PIKIRAN

Yang paling mahal dalam homeschooling bukanlah tenaga pengajar, bukanlah buku-buku atau alat-alat yang digunakan. Tetapi yang paling mahal adalah komitmen kita dalam menjalankannya.

Komitmen dengan diri sendiri, untuk mengkerahkan waktu yang lebih banyak untuk homeschooling daripada saat anak bersekolah formal. Ketika kita mengharapkan hasil yang lebih baik dan optimal, pasti akan dibutuhkan waktu, tenaga dan pikiran yang lebih banyak pula. Tapi jangan sedih, karena semua itu tentunya akan bertambah banyak pula pahala yang akan kita dapatkan. Insya Allah 😊

Lalu, ada juga kelebihan dari homeschooling adalah tidak dibatasi waktu, baik dalam bereksplorasi, latihan, pertanyaan, dan memahami keingintahuan yang anak miliki. Jadi, jangan pernah memadamkan semangat belajar anak kita ya moms. Saat anak menanyakan sesuatu hendaknya segera kita jawab dan tanggapi anak kita. Hadirlah baik jiwa dan hati kita saat membersamainya. Jika kita hanya menemaninya saat dirumah tanpa ingin tau apa yang sedang anak kita kerjakan, dan justru kita sibuk dengan gawai kita sendiri tentulah kita tidak akan memahami anak kita. Hal ini akan membuat kita kesulitan sendiri dalam menentukan kurikulum yang tepat untuk anak-anak kita.

Baca juga: 13 Kesalahan Komunikasi Orang Tua ke Anak

 

Gimana nih moms, merasa lega atau justru merasa berat? Semua itu tergantung perspektif kita masing-masing. Intinya, sebagai orang tua kita harus mempunyai harapan yang tinggi untuk anak kita. Bukan untuk suatu pencapaian duniawi semata, tetapi sebagai wujud pertangungjawaban kita sebagai orang tua kelak dihari akhir.

Semoga kita semua diberi kemampuan dan keistiqomahan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala, untuk bisa memahami dan menjalani materi diatas, yang disampaikan oleh Teh Karin dalam kelas Bengkel Diri Siap Mendidik yang diprakarsai oleh Ummu Balqis.

Nantikan juga tulisan selanjutnya dalam materi mengenali psikologi anak ya.


Wassalam.








Mengenal lebih dalam tentang Homeschooling secara Islami

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه



Belakangan ini makin marak pembahasan soal Homeschooling di negara kita Indonesia. Efek dari pandemi yang membuat anak kita harus Sekolah dari Rumah yang justru membuat sebagian orangtua khususnya Ibu kewalahan atau bahkan stress dalam mengajari anak. Padahal sebetulnya sudah menjadi tugas seorang ibu menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Jadi sudah menjadi kewajiban kita untuk menjadi pengajar dan membersamai kegiatan belajar anak.


Lalu apa sih sebenarnya homeschooling itu?
Setelah berselancar di google, secara garis besar pengertian homeschooling adalah suatu model pendidikan alternatif yang berbasis di rumah dan diselenggarakan oleh keluarga. Jadi homeschooling bukanlah suatu lembaga yang menyerupai sekolah melainkan suatu metode pendidikan yang berbasis di rumah dengan berbagai kegiatan yang sangat bervariasi. Ada yang dibuat terstruktur seperti di sekolah, ada yang menggunakan metode-metode tertentu, tergantung dari keputusan orangtua yang tentunya menyesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan anak. 

Alhamulillah, bulan ini menjadi rejeki saya untuk bisa mempelajari lebih jauh tentang seluk beluk pengajaran dan pendidikan anak, terutama mengenai homeschooling. Melalui kuliah online Bengkel Diri Kelas Siap Mendidik, ada 13 materi yang dibahas secara tuntas dengan fasilitator yang mumpuni dan sayang sekali jika saya simpan sendiri. Oleh karena itu, insya Allah saya akan mencoba menuliskan rangkuman dari materi-materi yang telah dibahas dalam tulisan blog saya ini. Jadi stay tuned terus dan doakan saya istiqomah ya..😊

Materi pertama membahas tentang Pengenalan Homeschooling yang dipaparkan oleh Teh Karin (Karina Hakman) yang mana seorang penulis dan juga pelaku homeschooler untuk ke3 anaknya. 

Homeschooling


Bentuk Homeschooling

Ada berbagai bentuk dan penerapan homeschooling, setiap orangtua memiliki landasan dan penerapan masing-masing. Tetapi sebagai umat muslim, dalam menentukan sistem pengajaran perlu diperhatikan 2 faktor utama, yaitu antara kebutuhan dan keinginan.
  • Kebutuhan pokok, yang tentunya tidak bertentangan dengan akhlak islamiyah yang berupa akhlak (adab), ibadah, aqidah, jasadiyah, dan tsaqafah.
  • Keinginan, yang terdiri dari berbagai faktor berikut:
    1. Harapan Orang tua sebagai Kepala Sekolah dalam pendidikan anak. Kita wajib merumuskannya, baik berupa visi dan misi atau mudahnya kita sebut sebagai harapan. Harapan atau doa-doa yang kita panjatkan untuk anak kita, dapat kita realisasikan dalam bentuk pengajaran yang kita berikan dirumah. Dimana banyak hal yang tidak terakomodasi dalam sitem pengajaran di sekolah.
    2. Harapan Anak, seiring dengan anak yang semakin bertumbuh besar maka anak akan mempunyai keinginan-keinginan dan harapannya sendiri, tentunya kita sebagai orang tua bisa mengarahkannya.
    3. Minat Bakat Anak, dimana anak bisa menyampaikan langsung minatnya dalam bidang apa. Jika anak kita masih kecil dan belum bisa menyampaian secara langsung, kita sebagai orang tua bisa mengenali apa-apa yang cocok dengan keunikan dan kebutuhan anak.
    4. Ekonomi Keluarga, dimana homeschooling bisa disesuaikan dengan kemampuan ekonomi keluarga masing-masing. Tidak benar bahwa homeschooling lebih mahal dari sekolah formal, karena penggunaan materi dan bahan pengajaran bisa kita sesuaikan tidak melulu menggunakan buku yang mahal.
    5. Komitmen Waktu, yang sangat fleksibel dan bisa kita sesuaikan dengan kemampuan anak dan kesanggupan pengajar. 
    6. Support System, termasuk suami yang bisa mengambil peran dalam materi tertentu atau memberikan full dana. Selain itu, saudara/kakak dari anak tersebut yang bisa memotivasi dan membantu mengajarkan atau menemani sesekali waktu. Orangtua atau mertua kita, bahkan ART yang membantu pekerjaan domestik dirumah merupakan sebuah support system yang membantu jalannya homeschooling.

Kurikulum Homeschooling

Dalam membuat kurikulum homeschooling tidak ada ilmu yang paten, karena pada dasarnya homeschooling sangat fleksibel dimana kurikulum ini harus menyesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing anak. Jadi yang perlu kita perhatikan dan jadi bahan pertimbangan dalam membuat kurikulum anak adalah sebagai berikut:
1. Mempelajari tahapan perkembangan anak dari berbagai sumber
Banyak pendapat yang berbeda mengenai penerapan homeschooling, agar pikiran kita tidak terkotak-kotak, kita harus mencari referensi dari berbagai sumber. Melalui buku yang membahas tentang perkembangan anak dalam Islam, buku tahapan perkembangan secara psikologis anak, atau buku-buku lain yang berkaitan dengan sistem pendidikan anak bisa kita pelajari sebagai referensi.
2. Mengenali anak dalam tahapan
Karena tiap anak adalah unik yang mempunyai cara dan waktu konsentrasi yang berbeda dalam belajar. Kuncinya adalah kita harus mengenali anak kita dengan sangat detail, dengan cara selalu membersamai anak untuk membangun kedekatan emosional. Homeschooling menjadi sulit saat kita tidak mengenal bagaimana karakter anak kita sendiri.
3. Mempelajari gaya belajar anak
Melalui proses yang tidak singkat, kita bisa mengenali dan paham kebutuhan anak kita dengan memperhatikan kesehariannya. Dengan memahami karakter anak, kita jadi tau cara apa yang cocok untuk sistem pengajaran yang akan kita berikan.
4. Waktu belajar efektif anak
Yang bisa kita sesuaikan setelah kita paham betul bagaimana anak kita melalui tahapan-tahapan di atas. Sehingga kita bisa mendapatkan golden moment anak dimana sangat dibutuhkan kepekaan kita sebagai orangtua. Sebagai contoh: ada anak yang mempunyai konsentrasi tinggi pada saat pagi jadi langsung menyodorkan buku untuk belajar tahsin, tetapi saat siang akan aktif bergerak kesana-kemari, sehingga membutuhkan cara belajar yang seru dengan berbagai kegiatan yang membutuhkan gerak tubuh. Dengan waktu yang efektif diharapkan ilmu yang kita ajarkan dapat terserap secara sempurna daripada kita memaksakan anak untuk duduk berjam-jam tetapi anak tidak bisa memahami sama sekali.
5. Jadwal dan rutinitas
Hal ini harus kita sesuaikan dengan kebutuhan pokok kita sebagai umat islam yang sudah dibahas di awal tadi, dimana waktu belajar tidak mengganggu waktu ibadah shalat. Disini kita sekaligus mengajarkan ilmu tauhid kepada anak, bahwa kewajiban kita sebagai umat muslim untuk menyegerakan shalat ketika waktunya sudah tiba. 
6. Sumber dan Penyusunan Materi
Sumber pengajaran dan pengajar bisa kita sesuaikan dengan kemampuan dan kapasitas kita masing-masing. Jika dirasa ilmu kita belum mumpuni dalam mengajarkan suatu materi, kita bisa memanggil atau mendatangi pengajar yang ahli dalam bidang tersebut.

Metode Homeschooling

  1. Talaqqi, metode ini biasa digunakan saat anak belum bisa membaca, jadi kita sebagai pengajar membacakan kepada anak dan kemudian anak mengikuti. Cara ini cocok digunakan untuk hafalan, jika ingin bacaan Al Quran yang pas kita bisa memperdengarkan murotal saat anak-anak sedang bermain dengan suasana yang tenang.
  2. Ngobrol/Diskusi, cara ini bisa digunakan setiap saat saat kita membersamai anak. Anak dibawah 5 tahun sangat aktif bertanya akan banyak hal, disaat itulah kita bisa memberikan banyak penjelasan secara santai seperti halnya kita mengobrol sehari-hari.
  3. Bermain, ini cocok untuk anak-anak dibawah 5 tahun, dimana fitrah mereka adalah bermain dan mencari tau akan segala sesuatu. Melalui permainan anak akan tertarik dan lebih bisa memahami sesuatu yang kita ajarka dengan cara yang menyenangkan.
  4. Story Telling/Baca Buku, ini tidak melulu menggunakan buku yang mahal. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyampaikannya ke anak.
  5. Pemaparan/Penjelasan, saat anak menanyakan sesuatu kita bisa menjelaskannya secara langsung. Jika dirasa kita tidak yakin dengan jawaban yang akan kita berikan, kita bisa bilang secara jujur kepada anak bahwa kita belum tahu dan akan segera mecari tau kepastiannya, melalui internet atau buku yang kita miliki di rumah.
  6. Studi Kasus, untuk menjelaskan berdasarkan kejadian yang sedang atau sudah terjadi dan kita jelaskan prosesnya secara mendalam.
  7. Percobaan/uji coba mengenai sains, yang bisa kita pelajari terlebih dahulu untuk menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan.
  8. Rihlah/ Jalan-jalan, cara ini bisa sesekali kita lakukan, sekaligus untuk mentadaburi ciptaan Allah dengan berbagai kondisi dengan melihat dan berinteraksi secara langsung.  
  9. Praktek Keseharian, sebagaimana kebutuhan pokok dimana ibadah shalat dilakukan saat waktunya tiba, pembiasaan mengucapkan tolong maaf dan terimakasih, mengajarkan akhlak baik yang bisa dilakukan dalam kegiatan sehari-hari.
  10. Keteladanan, memberi contoh akan lebih mengena daripada kita hanya memerintah anak saja.

Dengan berbagai kapasitas BIAYA,  kita bisa menyesuaikan sesuai kemampuan kita masing-masing.

1. Pengajar, dengan pertimbangan: 
  • kesesuaian nilai
  • kesesuaian materi
  • pembekalan materi
2. Bahan, yang disesuaikan dengan kapasitas dan budget kita masing-masing.
  • Mandiri, dengan cara kita kumpulkan sendiri dengan berbagai kreatifitas yang kita miliki 
  • Eksternal yang sudah tersedia secara lengkap dalam bentuk buku atau modul dengan berbagai biaya. 
3. Jadwal, yang disesuaikan dengan kemampuan anak.
  • waktu shalat
  • kebutuhan orang tua
  • materi/metode/pengajar/anak

Sosialisasi Anak yang Homeschooling

Hal ini menjadi pertanyaan yang paling sering ditanyakan mengenai homeschooling. Dimana orangtua merasa takut anaknya kurang terpenuhi kebutuhan sosial karena paradigma anak homeschooling belajar sendirian dirumah. Padahal saat ini sudah banyak acara playdate sesama homeschooler dan berbagai komunitas homeschooler yang bisa kita ikuti untuk memenuhi kebutuhan interaksi anak dengan tema sebayanya. Yang perlu dan penting untuk diingat adalah:
  • Tujuan Sosialisasi: saling mengenal, saling belajar dan tolong menolong, sehingga ada hubungan interaksi dengan orang lain secara global. 
  • Objek Sosialisasi: mulai dari teman sebaya, tetangga, orang yang lebih tua, guru, saudara, sesama jenis dan lawan jenis, bahkan orang yang baru dikenal.
  • Adab Sosialisasi: dimana kita akan lebih banyak mengajarkan adab-adab yang semestinya sesuai syariat Islam yang mana saat bersekolah formal kita kurang bisa mengontrolnya.

Legalisasi/Ijazah

Ada beberapa opsi yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan ijazah untuk anak kita yang homeschooling, diantaranya:
  • Sekolah Induk
  • Ujian Persamaan
  • Portofolio
  • Ujian Internasional
  • Sertifikasi Homeschooling Formal

Nah, demikian berbagai informasi yang bisa kita jadikan bahan pertimbangan untuk memutuskan apakah anak kita akan homeschooling atau tidak.
Yang terpenting adalah kita harus menyesuaikan dengan tahapan perkembangan anak kita masing-masing, tanpa membandingan dengan anak orang lain. Karena pada dasarnya setiap anak adalah unik dan tidak ada sistem pengajaran yang terbaik melainkan satu sama lain saling melengkapi dengan mengutamakan nilai-nilai harapan yang ingin kita capai dan kapasitas serta kemampuan kita sebagai orangtua. 

Semoga kita semua diberikan kemampuan untuk memberikan pengajaran yang sesuai dengan fitrah anak dan selalu mendapatkan ridha Allah Subhanahu wa ta'ala.

Akhir kata, wassalamualaikum.