Mengenal lebih dalam tentang Homeschooling secara Islami

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه



Belakangan ini makin marak pembahasan soal Homeschooling di negara kita Indonesia. Efek dari pandemi yang membuat anak kita harus Sekolah dari Rumah yang justru membuat sebagian orangtua khususnya Ibu kewalahan atau bahkan stress dalam mengajari anak. Padahal sebetulnya sudah menjadi tugas seorang ibu menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Jadi sudah menjadi kewajiban kita untuk menjadi pengajar dan membersamai kegiatan belajar anak.


Lalu apa sih sebenarnya homeschooling itu?
Setelah berselancar di google, secara garis besar pengertian homeschooling adalah suatu model pendidikan alternatif yang berbasis di rumah dan diselenggarakan oleh keluarga. Jadi homeschooling bukanlah suatu lembaga yang menyerupai sekolah melainkan suatu metode pendidikan yang berbasis di rumah dengan berbagai kegiatan yang sangat bervariasi. Ada yang dibuat terstruktur seperti di sekolah, ada yang menggunakan metode-metode tertentu, tergantung dari keputusan orangtua yang tentunya menyesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan anak. 

Alhamulillah, bulan ini menjadi rejeki saya untuk bisa mempelajari lebih jauh tentang seluk beluk pengajaran dan pendidikan anak, terutama mengenai homeschooling. Melalui kuliah online Bengkel Diri Kelas Siap Mendidik, ada 13 materi yang dibahas secara tuntas dengan fasilitator yang mumpuni dan sayang sekali jika saya simpan sendiri. Oleh karena itu, insya Allah saya akan mencoba menuliskan rangkuman dari materi-materi yang telah dibahas dalam tulisan blog saya ini. Jadi stay tuned terus dan doakan saya istiqomah ya..😊

Materi pertama membahas tentang Pengenalan Homeschooling yang dipaparkan oleh Teh Karin (Karina Hakman) yang mana seorang penulis dan juga pelaku homeschooler untuk ke3 anaknya. 

Homeschooling


Bentuk Homeschooling

Ada berbagai bentuk dan penerapan homeschooling, setiap orangtua memiliki landasan dan penerapan masing-masing. Tetapi sebagai umat muslim, dalam menentukan sistem pengajaran perlu diperhatikan 2 faktor utama, yaitu antara kebutuhan dan keinginan.
  • Kebutuhan pokok, yang tentunya tidak bertentangan dengan akhlak islamiyah yang berupa akhlak (adab), ibadah, aqidah, jasadiyah, dan tsaqafah.
  • Keinginan, yang terdiri dari berbagai faktor berikut:
    1. Harapan Orang tua sebagai Kepala Sekolah dalam pendidikan anak. Kita wajib merumuskannya, baik berupa visi dan misi atau mudahnya kita sebut sebagai harapan. Harapan atau doa-doa yang kita panjatkan untuk anak kita, dapat kita realisasikan dalam bentuk pengajaran yang kita berikan dirumah. Dimana banyak hal yang tidak terakomodasi dalam sitem pengajaran di sekolah.
    2. Harapan Anak, seiring dengan anak yang semakin bertumbuh besar maka anak akan mempunyai keinginan-keinginan dan harapannya sendiri, tentunya kita sebagai orang tua bisa mengarahkannya.
    3. Minat Bakat Anak, dimana anak bisa menyampaikan langsung minatnya dalam bidang apa. Jika anak kita masih kecil dan belum bisa menyampaian secara langsung, kita sebagai orang tua bisa mengenali apa-apa yang cocok dengan keunikan dan kebutuhan anak.
    4. Ekonomi Keluarga, dimana homeschooling bisa disesuaikan dengan kemampuan ekonomi keluarga masing-masing. Tidak benar bahwa homeschooling lebih mahal dari sekolah formal, karena penggunaan materi dan bahan pengajaran bisa kita sesuaikan tidak melulu menggunakan buku yang mahal.
    5. Komitmen Waktu, yang sangat fleksibel dan bisa kita sesuaikan dengan kemampuan anak dan kesanggupan pengajar. 
    6. Support System, termasuk suami yang bisa mengambil peran dalam materi tertentu atau memberikan full dana. Selain itu, saudara/kakak dari anak tersebut yang bisa memotivasi dan membantu mengajarkan atau menemani sesekali waktu. Orangtua atau mertua kita, bahkan ART yang membantu pekerjaan domestik dirumah merupakan sebuah support system yang membantu jalannya homeschooling.

Kurikulum Homeschooling

Dalam membuat kurikulum homeschooling tidak ada ilmu yang paten, karena pada dasarnya homeschooling sangat fleksibel dimana kurikulum ini harus menyesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing anak. Jadi yang perlu kita perhatikan dan jadi bahan pertimbangan dalam membuat kurikulum anak adalah sebagai berikut:
1. Mempelajari tahapan perkembangan anak dari berbagai sumber
Banyak pendapat yang berbeda mengenai penerapan homeschooling, agar pikiran kita tidak terkotak-kotak, kita harus mencari referensi dari berbagai sumber. Melalui buku yang membahas tentang perkembangan anak dalam Islam, buku tahapan perkembangan secara psikologis anak, atau buku-buku lain yang berkaitan dengan sistem pendidikan anak bisa kita pelajari sebagai referensi.
2. Mengenali anak dalam tahapan
Karena tiap anak adalah unik yang mempunyai cara dan waktu konsentrasi yang berbeda dalam belajar. Kuncinya adalah kita harus mengenali anak kita dengan sangat detail, dengan cara selalu membersamai anak untuk membangun kedekatan emosional. Homeschooling menjadi sulit saat kita tidak mengenal bagaimana karakter anak kita sendiri.
3. Mempelajari gaya belajar anak
Melalui proses yang tidak singkat, kita bisa mengenali dan paham kebutuhan anak kita dengan memperhatikan kesehariannya. Dengan memahami karakter anak, kita jadi tau cara apa yang cocok untuk sistem pengajaran yang akan kita berikan.
4. Waktu belajar efektif anak
Yang bisa kita sesuaikan setelah kita paham betul bagaimana anak kita melalui tahapan-tahapan di atas. Sehingga kita bisa mendapatkan golden moment anak dimana sangat dibutuhkan kepekaan kita sebagai orangtua. Sebagai contoh: ada anak yang mempunyai konsentrasi tinggi pada saat pagi jadi langsung menyodorkan buku untuk belajar tahsin, tetapi saat siang akan aktif bergerak kesana-kemari, sehingga membutuhkan cara belajar yang seru dengan berbagai kegiatan yang membutuhkan gerak tubuh. Dengan waktu yang efektif diharapkan ilmu yang kita ajarkan dapat terserap secara sempurna daripada kita memaksakan anak untuk duduk berjam-jam tetapi anak tidak bisa memahami sama sekali.
5. Jadwal dan rutinitas
Hal ini harus kita sesuaikan dengan kebutuhan pokok kita sebagai umat islam yang sudah dibahas di awal tadi, dimana waktu belajar tidak mengganggu waktu ibadah shalat. Disini kita sekaligus mengajarkan ilmu tauhid kepada anak, bahwa kewajiban kita sebagai umat muslim untuk menyegerakan shalat ketika waktunya sudah tiba. 
6. Sumber dan Penyusunan Materi
Sumber pengajaran dan pengajar bisa kita sesuaikan dengan kemampuan dan kapasitas kita masing-masing. Jika dirasa ilmu kita belum mumpuni dalam mengajarkan suatu materi, kita bisa memanggil atau mendatangi pengajar yang ahli dalam bidang tersebut.

Metode Homeschooling

  1. Talaqqi, metode ini biasa digunakan saat anak belum bisa membaca, jadi kita sebagai pengajar membacakan kepada anak dan kemudian anak mengikuti. Cara ini cocok digunakan untuk hafalan, jika ingin bacaan Al Quran yang pas kita bisa memperdengarkan murotal saat anak-anak sedang bermain dengan suasana yang tenang.
  2. Ngobrol/Diskusi, cara ini bisa digunakan setiap saat saat kita membersamai anak. Anak dibawah 5 tahun sangat aktif bertanya akan banyak hal, disaat itulah kita bisa memberikan banyak penjelasan secara santai seperti halnya kita mengobrol sehari-hari.
  3. Bermain, ini cocok untuk anak-anak dibawah 5 tahun, dimana fitrah mereka adalah bermain dan mencari tau akan segala sesuatu. Melalui permainan anak akan tertarik dan lebih bisa memahami sesuatu yang kita ajarka dengan cara yang menyenangkan.
  4. Story Telling/Baca Buku, ini tidak melulu menggunakan buku yang mahal. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyampaikannya ke anak.
  5. Pemaparan/Penjelasan, saat anak menanyakan sesuatu kita bisa menjelaskannya secara langsung. Jika dirasa kita tidak yakin dengan jawaban yang akan kita berikan, kita bisa bilang secara jujur kepada anak bahwa kita belum tahu dan akan segera mecari tau kepastiannya, melalui internet atau buku yang kita miliki di rumah.
  6. Studi Kasus, untuk menjelaskan berdasarkan kejadian yang sedang atau sudah terjadi dan kita jelaskan prosesnya secara mendalam.
  7. Percobaan/uji coba mengenai sains, yang bisa kita pelajari terlebih dahulu untuk menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan.
  8. Rihlah/ Jalan-jalan, cara ini bisa sesekali kita lakukan, sekaligus untuk mentadaburi ciptaan Allah dengan berbagai kondisi dengan melihat dan berinteraksi secara langsung.  
  9. Praktek Keseharian, sebagaimana kebutuhan pokok dimana ibadah shalat dilakukan saat waktunya tiba, pembiasaan mengucapkan tolong maaf dan terimakasih, mengajarkan akhlak baik yang bisa dilakukan dalam kegiatan sehari-hari.
  10. Keteladanan, memberi contoh akan lebih mengena daripada kita hanya memerintah anak saja.

Dengan berbagai kapasitas BIAYA,  kita bisa menyesuaikan sesuai kemampuan kita masing-masing.

1. Pengajar, dengan pertimbangan: 
  • kesesuaian nilai
  • kesesuaian materi
  • pembekalan materi
2. Bahan, yang disesuaikan dengan kapasitas dan budget kita masing-masing.
  • Mandiri, dengan cara kita kumpulkan sendiri dengan berbagai kreatifitas yang kita miliki 
  • Eksternal yang sudah tersedia secara lengkap dalam bentuk buku atau modul dengan berbagai biaya. 
3. Jadwal, yang disesuaikan dengan kemampuan anak.
  • waktu shalat
  • kebutuhan orang tua
  • materi/metode/pengajar/anak

Sosialisasi Anak yang Homeschooling

Hal ini menjadi pertanyaan yang paling sering ditanyakan mengenai homeschooling. Dimana orangtua merasa takut anaknya kurang terpenuhi kebutuhan sosial karena paradigma anak homeschooling belajar sendirian dirumah. Padahal saat ini sudah banyak acara playdate sesama homeschooler dan berbagai komunitas homeschooler yang bisa kita ikuti untuk memenuhi kebutuhan interaksi anak dengan tema sebayanya. Yang perlu dan penting untuk diingat adalah:
  • Tujuan Sosialisasi: saling mengenal, saling belajar dan tolong menolong, sehingga ada hubungan interaksi dengan orang lain secara global. 
  • Objek Sosialisasi: mulai dari teman sebaya, tetangga, orang yang lebih tua, guru, saudara, sesama jenis dan lawan jenis, bahkan orang yang baru dikenal.
  • Adab Sosialisasi: dimana kita akan lebih banyak mengajarkan adab-adab yang semestinya sesuai syariat Islam yang mana saat bersekolah formal kita kurang bisa mengontrolnya.

Legalisasi/Ijazah

Ada beberapa opsi yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan ijazah untuk anak kita yang homeschooling, diantaranya:
  • Sekolah Induk
  • Ujian Persamaan
  • Portofolio
  • Ujian Internasional
  • Sertifikasi Homeschooling Formal

Nah, demikian berbagai informasi yang bisa kita jadikan bahan pertimbangan untuk memutuskan apakah anak kita akan homeschooling atau tidak.
Yang terpenting adalah kita harus menyesuaikan dengan tahapan perkembangan anak kita masing-masing, tanpa membandingan dengan anak orang lain. Karena pada dasarnya setiap anak adalah unik dan tidak ada sistem pengajaran yang terbaik melainkan satu sama lain saling melengkapi dengan mengutamakan nilai-nilai harapan yang ingin kita capai dan kapasitas serta kemampuan kita sebagai orangtua. 

Semoga kita semua diberikan kemampuan untuk memberikan pengajaran yang sesuai dengan fitrah anak dan selalu mendapatkan ridha Allah Subhanahu wa ta'ala.

Akhir kata, wassalamualaikum.















Efektifkah Pemberian Reward & Punishment ke Anak?

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم 
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه


Mendidik anak itu bisa dibilang gampang-gampang susah ya? Apalagi dalam melatih kedisiplinan anak. Terasa sulit saat anak sudah mulai menunjukan kemauannya sendiri dan tidak sepaham dengan harapan kita, tapi bisa dibilang mudah juga saat kita tau ilmunya. Akan tetapi, ilmu yang telah kita pelajari pun bisa "ambyar" seketika saat kita menjalankannya, entah karena tidak tega atau sulitnya mengendalikan emosi kita. 

Salah satu cara yang banyak diterapkan sebagian orangtua sejak jaman dahulu adalah sistem pemberian Reward and Punishment. Siapa yang waktu sekolah dulu suka diiming-iming mendapat hadiah saat jadi juara kelas? Atau ditakuti akan dipindah sekolah ke desa kalau nilainya jelek?

Itu sih jaman kita kecil dulu ya moms.. kalo moms milenial sih reward and punishment biasa dilakukan sejak anak memasuki masa terible two dengan pemberian pujian atau hukuman no screening time. Cara ini cukup ampuh untuk melatih kedisiplinan anak, terutama sejak dini. Disiplin dalam parenting sangat erat kaitannya dengan upaya membantu anak-anak belajar mengelola diri mereka sendiri, baik perasaan dan perilaku mereka. Pentingnya mengajarkan disiplin ke anak adalah untuk mengembangkan kompas moral mereka sendiri untuk memilah perilaku dan dorongan hati atau perasaan mereka. Sehingga mereka bisa mengetahui dan memilah sendiri mana yang benar dan mana salah serta mana yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan. 

Sebelumnya kita akan bahas terlebih dahulu apa itu reward dan punishment.

Reward berasal dari bahasa Inggris yang artinya hadiah, penghargaan atau imbalan. Reward diberikan sebagai bentuk penghargaan atau imbalan atas perilaku baik atau prestasi, saat anak berhasil melakukan tugas yang telah disepakati. Sedangkan punishment berarti hukuman atau konsekuensi yang diberikan atas perilaku yang tidak semestinya, dengan tujuan mengurangi kemungkinan hal tersebut terjadi lagi di kemudian hari.

Reward ke anak tidak hanya berbentuk barang (reward tangible), tapi juga bisa dalam bentuk pujian, tos, atau bermain bersama (reward intangible). Sedangkan punishment juga tidak melulu memarahi atau memukul anak, tapi bisa juga bentuknya “mengambil hal yg disukai anak” seperti contoh dilarang main atau screening time. Dari berbagai strategi mendisiplinkan anak, pemberian reward dan punishment menjadi strategi yang sering dilakukan oleh orangtua. Strategi ini mungkin jadi jurus andalan untuk mengubah perilaku anak yang tidak seharusnya.

Lalu apakah pemberian reward dan punishment ini dapat efektif?

Reward and Punishment

Pemberian reward pun sudah dilakukan oleh Rasulullah, tapi pada konteks yang berbeda. Rasulullah memberikan hadiah bagi pemenang dalam perlombaan anak-anak, seperti perlombaan lari atau saat memberikan pertanyaan. Diriwayatkan oleh Ahmad dari Abdullah bin Harits radhiyallahu'anhu: 

"Rasulullah membariskan Abdullah, Ubaidullah, dan beberapa anak lainynya dari cucu-cucu Abbas ra. kemudian beliau bersabda, "Siapa yang bisa sampai kepadaku terlebih dahulu maka dia akan mendapat hadiah demikian dan demikian!".

Mereka pun beradu cepat ke arah beliau lalu memeluk punggung dan dada beliau, kemudian beliau mencium dan memeluk mereka. "

Jadi, memberikan "hadiah" bagi pemenang dalam perlombaan atau kompetisi adalah suatu metode bagi orangtua atau bahkan pendidik, untuk memberikan kegiatan, mengarahkan bakat dan kecenderungan anak. Metode ini perlu diterapkan pada saat yang tepat agar hasilnya sesuai dengan harapan. Namun jika cara tersebut belum berhasil membuat anak melakukan hal baik, maka anak memerlukan pengobatan berupa "hukuman" saat anak melakukan hal yang tidak seharusnya. Hukuman disini bukanlah suatu pembalasan dendam kepada anak, tetapi anak dihukum karena merupakan salah satu metode pendidikan dan bukanlah suatu siksaan. Hukuman merupakan salah satu aspek penting dalam pendidikan anak, maka orangtua dan para pendidik harus selalu waspada dalam berinteraksi dengan anak-anak, memahami tabiat mereka, dan tentunya memilih hukuman serta cara menghukum yang tepat dan pantas sesuai usia anak kita

Sebagaimana sabda Rasulullah:

 "Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat apabila mencapai usia tujuh tahun dan pukullah mereka (kalau meninggalkan shalat) pada usia sepuluh tahun". 

Memukul disini pun mempunyai cara dan aturan, yaitu tidak keras dan tidak di kepala sang anak.


Terkait pada pemberian reward dan punishment, sama seperti semua hal di dunia ini, selalu ada sisi positif dan negatif. Disini kita akan bahas beberapa hal yang harus diperhatikan saat memberikan reward dan punishment kepada anak.

1. Pilih reward/punishment yang berpengaruh untuk anak.

Dengan cara ajak anak berdiskusi dan membuat daftar kesepakatan apa saja yang anak inginkan dan tentukan skala prioritas. Setelah itu kita bisa membuatkan reward chart yang ditempel, saat anak melakukan hal kebaikan berikan 1 "bintang", tapi saat anak berlaku sebaliknya maka "bintang" pun berkurang yang akan mempengaruhi lamanya reward dapat ia peroleh dengan syarat (misalnya) terkumpul 5 "bintang". Jadikan ini sebagai media anak berlomba agar timbul semangat untuk mengumpulkan "bintang" karena bintang identik dengan sesuatu yang tinggi dan bersinar.

2. Ketika perilaku muncul, segera berikan reward/punishment secara konsisten

Melalui reward chart kita pun jadi mudah dalam mengaplikasikan  sehingga anak paham dan ingat betul atas kesepakatan yang telah dibuat bersama karena anak pun bisa ikut menghitung langsung bintang yang sudah ia kumpulkan.

3. Jenis reward/punishment harus disesuaikan

Saat anak menunjukan perilaku yang tidak sesuai dan semakin menjadi, berikan punishment yang semakin tidak diinginkan oleh anak atau semakin beratnya hukuman yang diberikan. Akan tetapi berlaku juga saat pemberian reward, saat anak melakukan lebih dari ekspektasi kita, maka reward yang diberikan pun bisa lebih dari apa yang diinginkan sang anak. Cara ini dilakukan saat anak benar-benar melakukan hal yang tidak biasanya, baik hal baik maupun hal buruk.

Dalam pemberian reward/punishment dibutuhkan kehati-hatian agar tidak timbul efek negatif dari pemberian reward/punishment. Jadi ketika memberikan reward kita harus yakin betul bahwa perilaku sebelumnya yang ditunjukan oleh anak adalah perilaku yang kita harapkan. Begitu juga sebaliknya, ketika kita merespons perilaku buruk anak, kita harus yakin bahwa itu bukan respons yang diinginkan anak.

Selain itu perlu kita perhatikan juga dalam penggunaan punishment ini cukup  berisiko karena ada dampak negatifnya. Punishment dapat menghasilkan emosi negatif pada anak dan memicu munculnya perilaku melarikan diri atau menghindar. Terlalu sering memberikan punishment ke anak juga dapat mendorong orang tua untuk terus menggunakan atau bahkan meningkatkan penggunaan punishment yang bisa lebih buruk lagi. Oleh karena itu, penggunaan punishment ke anak alangkah baiknya dijadikan langkah terakhir saat anak berperilaku yang tidak sesuai. Pemberian reward/punishment dikhawatirkan membuat anak merasa cinta yang diberikan orangtuanya adalah cinta yang bersyarat. Hal ini dapat membuat anak melakukan kebaikan hanya semata-mata mengharapkan reward dari kita dan menghindari hal buruk karena takut hukuman dari kita. Padahal yang kita inginkan adalah kelak anak kita bisa memilah sendiri hal yang baik dan buruk dengan kesadaran dan motivasi dari dirinya sendiri.

Dikarenakan pemberian reward dan punishment memiliki kelemahan, jadi para ahli mengembangkan konsep yang disebut Disiplin Positif.

Disiplin Positif adalah jenis disiplin yang menggunakan teknik pencegahan, pengalihan, dan penggantian untuk menghentikan perilaku anak yang tidak sesuai dengan semestinya. Cara ini dapat membantu memperkuat dan meningkatkan kepercayaan anak kepada orang tua. Strategi ini juga dapat mengurangi konflik antara orang tua dan anak di kemudian hari.

Sebagai contoh, pencegahan dan pengalihan bisa dilakukan ketika kita menyaksikan ada kemungkinan  si kecil akan merebut mainan kakak, maka kita bisa segera menawarkan mainan lain atau mengajak sang kakak untuk meminjamkan ke adik dan bermain secara bergiliran.

Agar lebih jelas lagi dalam mempraktikan disiplin positif, berikut beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penerapan disiplin positif. 

  • There are no bad kids, just bad behavior
Jangan sampai kita menganggap anak kita adalah anak yang nakal, apalagi sampai terucap ke anak kita secara langsung. Ini bisa mensugesti dirinya dan memperuat citra negatif anak baik dalam pikiran kita maupun dalam diri anak. Terkadang anak meyakini apa yang ia lakukan adalah hal yang benar, dan kalau sudah begitu ia akan bersikukuh dengan apa yang ia lakukan. Tugas kita adalah tetap tenang dan fokus memperbaiki, dengan cara memberi tau kepadanya dengan baik dan katakan berulang-ulang dengan mengganti pilihan kata yang kita gunakan, kuncinya sabar ya Moms >.<
  • Tunjukkan rasa empati
Saat anak menangis atau berontak, kita haus menunjukan rasa peduli kepadanya dengan cara memeluk dan mengatakan secara langsung kata-kata yang bisa membuatnya lebih tenang, seperti "iya..mama tau/ngerti kamu ingin (begini atau begitu)"
  • Berikan pilihan untuk menyelesaikan masalah
Setelah menunjukan empati kita kepada anak, kita bisa menawarkan beberapa pilihan yang berimbang dan penuh kehati-hatian. Pemberikan pilihan membuat anak merasa memiliki kontrol, daripada harus menuruti satu perintah yang langsung kita berikan kepadanya. 
  • Tetapkan batasan yang jelas dan konsisten dalam penerapannya
Buat kesepakan dengan si kecil untuk aturan dan konsekuensinya dengan jelas dan terperinci. Konsisten adalah kunci utama dalam sebuah kedisiplinan. Jangan mudah terlena karena tangisan drama si anak atau karena merasa lama jika menunggu si kecil melakukannya sendiri.
  • Gunakan kalimat yang sederhana atau pertanyaan untuk mengingatkan anak
Ketika anak sudah mengetahui tugas dan kewajibannya, kita hanya memerlukam kalimat sederhana atau sekedar pertanyaan retoris untuk mengingatkan anak bagaimana seharusnya bersikap. jadi kita tidak perlu bicara panjang lebar ngomel dari A hingga Z kepada anak, karena akan buang-buang energi saja moms.
  • Sesuaikan dengan usia anak

Seperti sudah dibahas di awal tadi, bahwa penerapan pada anak usia dini (toddler) berbeda dengan anak yang lebih besar. Toddler (anak dibawah 3 tahun) belum bisa memahami kalimat sulit atau perintah bertingkat, serta belum bisa memahami dengan baik konsekuensi dari suatu perilaku. Jadi, untuk anak toddler, pengalihan akan lebih efektif untuk digunakan. Sedangkan anak usia lebih besar, kita dapat membantu perkembangan kognitif mereka dengan memberi mereka pilihan dan mengajak mereka berdiskusi. 

Mayoritas orang memperoleh tabiat buruk dari kebiasaan semasa kecil yang tidak diubah dengan pengajaran dan pendidikan yang dapat memperbaiki akhlak dan perilaku mereka.

Jadi sudah menjadi tugas kita sebagai orang tua untuk mengajarkan ke anak agar bisa berperilaku baik sesuai hati nurani dan motivasi dalam dirinya sendiri. Tentunya dengan cara yang bijak dan penuh kasih sayang seperti langkah-langkah yang sudah dijelaskan di atas. Yang terpenting adalah kekonsistenan kita sebagai orang tua untuk memberi teladan dan bersikap tegas saat anak mulai menunjukan "ketidakbaikannya" dalam bersikap.


Sirah Shahabiyah Asma' binti 'Umais, Salah Satu Teladan Wanita Masa Kini

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه


Dari sirah kita menjadi lebih tau mengenai kehidupan Rasulullah secara detail dan keseluruhan yang membuat kita makin cinta dan kagum kepada beliau dan menjadikan beliau suri tauladan terbaik kita. Tidak hanya Sirah Nabawiyah saja yang patut kita pelajari, tetapi ada juga Sirah Sahabah dan Shahabiyah yang tidak kalah menginspirasi dan membuat kita menjadi semakin bersyukur karena ujian yang kita hadapi tidak seberat ujian para sahabat di jaman Rasulullah.

Senang rasanya tulisan kali ini bisa membahas salah satu kisah sahabat Rasulullah Shallallahu'alayhi wa Sallam, yang merupakan generasi terbaik sepanjang sejarah peradaban manusia setelah para Nabi dan Rasul. Demikian halnya dengan para sahabat wanita yang hidup bersama mereka. 
Melalui tema yang ditetapkan dalam Komunitas Blogger Bengkel Diri setiap pekan terakhir, seakan diingatkan Allah untuk kembali membaca buku "bergizi" yang sudah lama hanya tersusun rapi dalam rak buku. 
Sirah Shahabiyah, siapa yang baru denger istilah ini?
Ibnu Mandzur dalam kitab Lisanul Arab menyatakan arti as-sirah menurut bahasa adalah kebiasaan, jalan, cara, dan tingkah laku[1]. Menurut istilah umum, artinya adalah perincian hidup seseorang atau sejarah hidup seseorang. (Wikipedia)

Jadi, sirah shahabiyah merupakan kisah inspiratif dari sahabat wanita Rasulullah yang patut kita teladani. 

Berhubung ilmu masih "cetek", maka tulisan ini sebagian besar adalah hasil membaca buku milik suami yang berjudul "The Amazing Stories of Sahabah" karya M. Choirul Hudha yang berisi 66 Kisah Inspiratif Sahabat dan Sahabiyah Rasulullah Shallallahu'alayhi wa Sallam.

Sirah shahabiyah

Salah satu kisah dalam buku ini yang akan kita bahas disini adalah kisah Asma' binti 'Umais yang merupakan wanita dari kalangan pemeluk Islam pertama yang telah hijrah sebanyak dua kali.
Tak perlu berlama-lama lagi, kita akan bahas satu persatu mengenai biografi dan kemuliaan-kemulian yang patut untuk kita teladani.

Biografi Singkat

Nama lengkapnya adalah Asma' binti 'Umais bin Ma'ad bin Tamim bin Harits bin Ka'ab bin Malik bin Quhafah yang dijuluki dengan nama Ummu Abdillah. Asma binti Umais termasuk salah seorang dari empat wanita beriman yang keimanannya dipersaksikan Rasulullah, ketika Beliau berkata 
"Mereka berempat adalah wanita-wanita beriman: Maimunah, Ummul Fadhl, Salma, dan Asma."

Asma memeluk Islam sebelum kaum muslimin memasuki rumah Arqam Bin Abul Arqam. Dia adalah istri seorang sahabat sekaligus Pahlawan Islam, Ja'far bin Abi Thalib, sahabat yang bergelar Dzul-Janahain (pemilik dua sayap). Gelar ini melekat pada diri Ja'far ketika Rasulullah mengucapkan salam kepada anak Ja'far, Abdullah bin Ja'far dengan ucapan, '"Assalamualaika yabna dzil Jannaahain (kesejahteraan semoga tetap terlimpahkan kepadamu, wahai anak pemilik dua sayap)." 

Asma termasuk angkatan pertama dari wanita yang melakukan hijrah, dia ikut berhijrah ke Habasyah bersama suaminya Ja'far bin Abi Thalib. Ketika hijrah inilah Asma binti Umais merasakan pahitnya hidup sebagai orang terasing. Suaminya merupakan juru bicara kaum muslimin ketika terjadi dialog dengan raja Habsyi, an-Najasyi.
Di negeri Habasyah ini ketiga anaknya lahir, yaitu Abdullah, Muhammad, dan 'Aun. Anaknya yang bernama Abdullah sangat mirip rupanya dengan ayahnya, adapun ayahnya sangat mirip dengan Rasulullah. Hal ini membuat ibunya sangat bahagia dan membuat ibunya merindukan untuk bisa melihat Rasulullah.
Kemiripan Ja'far dengan Rasulullah terbukti dengan ucapan beliau kepada Ja'far, "Engkau menyerupai rupaku dan akhlakku"

Asma seperti hendak terbang karena sangat gembiranya ketika mendengar bahwa Rasulullah telah memerintahkan kaum Muhajirin yang ada di Habasyah agar segera berangkat ke Madinah. Mimpinya agar kaum muslimin mempunyai wilayah berdaulat telah menjadi kenyataan. Kini kaum muslimin telah mempunyai para pejuang yang akan menyebarkan dakwah dan meninggikan kalimah Allah. Demikianlah akhirnya asma bersama rombongan berangkat dari negeri Habasyah menuju Madinah sebagai hijrah mereka yang kedua kalinya.

Tidak lama setelah rombongan dari habasyah tiba di Madinah kaum muslimin yang ada di Madinah mendengar kabar bahwa kota Khaibar telah jatuh ke tangan pasukan muslimin. Saat itu juga takbir langsung menggema ke segala penjuru sebagai ungkapan kebahagiaan mereka atas kemenangan tentara Islam dan atas kedatangan rombongan Ja'far dari Habasyah.
Rasulullah menyambut kedatangan Ja'far dengan penuh sukacita lalu mencium keningnya seraya berkata, "Demi Allah, aku tidak tahu karena sebab yang mana aku harus bergembira, karena kemenangan di Khaibar atau karena kedatangannya Ja'far."

Cerdas dan Diplomatis

Setibanya di Madinah Asma binti Umais datang mengunjungi Hafshah binti Umar untuk bersilaturahim. Tidak lama kemudian datang Umar untuk menemui putrinya Hafshah. Ketika Umar melihat ada Asma di dekat Hafshah, dia bertanya "Siapakah wanita ini?" Hafshah menjawab "Asma binti umais" Umar bertanya lagi, "Apakah asma yang tinggal di Habsyi Dan yang pernah menyeberangi lautan?" Asma menjawab "Ya" Umar berkata lagi "Kami lebih dulu berhijrah ke Madinah daripada kalian. Oleh karena itu, kami lebih berhak kepada Rasulullah daripada kalian."
Mendengar perkataan Umar, Asma marah lalu berkata "Demi Allah tidak demikian, kalian yang bersama Rasulullah hanya bisa memberi makan orang-orang yang lapar diantara kalian dan memberi nasihat kepada orang-orang yang tidak mengerti diantara kalian. Adapun kami tinggal di Habsyi, tempat yang jauh dan penuh kebencian (karena penduduk Habsyi adalah orang kafir), adalah karena mematuhi Allah dan Rasul-Nya"
Setelah diam sejenak, Asma meneruskan ucapannya, "Aku bersumpah demi Allah, aku tidak akan makan dan minum sampai aku melaporkan ucapanmu kepada Rasulullah, karena kami merasa disakiti dan ditakut-takuti. Aku akan menceritakan kepada beliau dan menanyakannya. Demi Allah aku tidak akan berdusta dan aku akan menceritakan apa adanya tidak akan membelokkan cerita dan tidak akan menambahinya."
Asma berkata kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah sesungguhnya Umar telah berkata begini dan begini" Beliau lalu bertanya, "Lalu apa yang kau katakan kepadanya?" dia menceritakan kepada beliau apa yang telah diucapkannya kepada Umar. Berdasarkan hal tersebut beliau bersabda:
"Tidak ada orang di antara kalian yang lebih berhak terhadapku, Umar dan sahabat-sahabatnya yang hanya berhijrah satu kali sementara kalian wahai 'ahlus Safinah (orang-orang yang pernah menaiki perahu saat berhijrah ke Habsyi) telah berhijrah dua kali."

Asma sangat bergembira mendengar pernyataan Nabi tersebut, berita itu pun segera tersebar di kalangan kaum muslimin Muhajir-Habsyi berbondong-bondong datang kepada Asma untuk meminta keterangan yang lebih jelas lagi tentang hal itu. Berkaitan dengan hal ini, Asma menceritakan "Sungguh aku melihat Abu Musa dan orang-orang yang ikut Hijrah Ke Habsyi datang berbondong-bondong kepadaku untuk menanyakan perihal pernyataan nabi tersebut setelah mendengar penjelasanku seolah-olah tidak ada di dunia ini yang lebih menggembirakan hati mereka dan tidak ada lagi yang lebih berarti bagi mereka selain pernyataan nabi terhadap mereka itu."


Sabar dan Ikhlas

Suatu ketika saat pasukan muslim bertolak ke negeri Syam, suami Asma, Ja'far bin Abi Thalib menjadi salah satu dari tiga orang yang ditunjuk Rasulullah sebagai pemimpin mereka. Di medan perang ini Allah memilih Ja'far sebagai salah satu diantara mereka yang mendapat keberuntungan mati syahid di jalan Allah.
Sebagai wanita beriman Asma tidaklah berlebihan dalam menangisi kesyahidan suaminya ia bersabar dan ikhlas untuk mengharap pahala yang agung dari Allah atas meninggalnya suaminya. Bahkan dia bercita-cita bisa seperti suaminya agar memperoleh keberuntungan mati syahid. Terutama ketika dia mendengar salah seorang dari Bani Murrah bin 'Auf (yang ketika itu turut berperang bersama Jafar) berkata "Demi Allah aku melihat Ja'far saat melompat dari kudanya yang berwarna pirang itu lalu dia menyembelih kuda tersebut agar tidak bisa dimanfaatkan oleh musuh. Ja'far memegang bendera komando dengan tangan kanannya, ketika tangan kanannya terpotong dia memegangnya dengan tangan kiri, ketika tangan kirinya juga terputus, dia mendekap panji perang dengan lengan atas yang masih tersisa hingga dia terbunuh" 
Dari cerita inilah asma mengetahui maksud ucapan salam Rasulullah kepada anaknya, "Assalamualaika yabna dzil Janaahain". Allah telah mengganti dua tangannya yang terpotong dengan dua sayap yang dengannya dia bisa terbang di surga kemanapun dia suka.

Istri dan Pendidik Anak yang Baik

Ibu yang Salehah dan sabar ini mendidik sendiri tiga anaknya, dia memotivasi ketiga anaknya yang masih kecil agar mengikuti jejak ayah mereka sebagai Syahid dan benar-benar menempa mereka dengan keimanan. Tidak lama setelah kematian Ja'far, Abu Bakar datang untuk melamar Asma binti Umais.
Hal ini terjadi setelah Ummu Ruman (istri Abu Bakar) wafat dan Asma menerima lamaran Abu Bakar. Selama hidup bersama Abu Bakar, cahaya kebenaran dan keimanan semakin tumbuh subur dalam hatinya. Ia pun hidup sebagai istri yang setia dan penuh kasih kepada suaminya.
Setelah beberapa lama Asma menjadi istri Abu Bakar, Allah mengaruniakan kepada mereka seorang putra yang bernama Muhammad bin Abu Bakar. Anak tersebut lahir ketika mereka sedang berada di Dzul Khulaifah untuk melakukan haji Wada'. Setelah menanyakannya kepada Rasulullah, Abu Bakar memerintahkan istrinya supaya mandi kemudian berniat dan membaca Talbiyah haji.

Selama menjadi istri Abu Bakar, Asma banyak menyaksikan langsung berbagai peristiwa penting dalam sejarah Islam. Saat itulah Asma ikut meringankan beban suaminya dalam menjalankan tugas yang diamanatkan umat sebagai Khalifah. Tak lama kemudian Khalifah Abu Bakar pun jatuh sakit dari hari ke hari sakitnya bertambah parah dan keringat mulai bercucuran dari kedua pipinya. Keadaan itu membuat Abu Bakar merasa bahwa ajalnya sudah dekat. Karenanya Abu Bakar segera mewasiatkan beberapa hal, diantaranya dia meminta agar jenazahnya dimandikan oleh Asma binti Umais dan menyuruh Asma agar membatalkan puasa sunnahnya pada hari itu dengan berkata, "Hal itu lebih menguatkan dirimu".
Mendengar hal itu, Asma pun merasa bahwa ajal suaminya benar-benar akan segera tiba. Dia hanya bisa mengucapkan istirja' dan istighfar, dia tetap terus memandangi wajah suaminya sampai roh suaminya kembali kepada pemiliknya yang Maha Kuasa.
Air mata Asma mengalir dan hatinya pun merasa sedih, akan tetapi dia tidak mengucapkan kata-kata selain perkataan yang diridhai Allah. 

Patuh dan Amanah 

Setelah suaminya Abu Bakar meninggal, Asma kemudian melaksanakan hal yang diminta oleh almarhum suaminya sebagai bentuk kepatuhan kepadanya. Asma pun memandikan jenazah suaminya dengan masih dirundung duka dan kesedihan sampai dia lupa dengan wasiat Abu Bakar yang kedua, yaitu menyuruhnya agar berbuka. Padahal waktunya sudah mendekati akhir siang dan hanya tinggal beberapa saat lagi matahari akan terbenam. Akan tetapi, Asma memilih untuk menepati perintah suaminya yang telah tiada, dia pun meminta diambilkan air lalu meminumnya dan sambil berkata "Demi Allah aku melakukan ini bukan berarti aku menurutinya untuk dosa pada hari ini".

Selalu Tawakal kepada Allah

Sepeninggal suaminya, Asma tetap tinggal di rumah untuk merawat anak-anaknya dari buah pernikahannya dengan Jafar dan Abu Bakar, dia selalu berdoa agar Allah menjadikan mereka anak-anak yang saleh dan pemimpin bagi orang-orang bertaqwa. Hanya itulah puncak harapannya di dunia ini tanpa mengetahui takdir apa yang tersembunyi pada ilmu Allah yang akan menimpanya.
Ternyata Ali bin Abi Thalib. saudara Ja'far sang pemilik dua sayap, pada suatu hari datang kepadanya dan memintanya untuk dijadikan istri. Ali melamarnya sebagai bentuk kesetiaan dan penghormatan kepada saudaranya tercinta Ja'far dan sahabatnya Abu Bakar As Siddiq.
Setelah mempertimbangkannya dari berbagai sisi, Asma akhirnya menerima lamaran Ali untuk menjadi istrinya dan memberikan kesempatan kepada Ali untuk turut menjaga anak-anak saudaranya Ja'far. 
Asma pindah ke rumah Ali setelah wafatnya istri Ali, Fatimah az-Zahra. Asma bagi Ali adalah seorang istri yang Salehah dan Ali bagi Asma adalah seorang suami terbaik dalam mengatur kehidupan rumah tangganya. Ali hampir tidak pernah luput memuji dan membanggakan Asma.
Allah memuliakan Ali dengan mengaruniakan anak dari pernikahannya dengan Asma yaitu Yahya dan 'Aun.

Bijaksana dan Santun

Suatu hari Ali menyaksikan pemandangan yang ganjil, ketika itu salah seorang anak Ja'far dan Muhammad bin Abu Bakar bertengka. Masing-masing mereka merasa lebih mulia daripada lainnya dengan berkata aku lebih mulia daripada engkau dan ayahku lebih baik daripada ayahmu.
Ali tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada keduanya dan bagaimana cara mendamaikan mereka berdua sehingga keduanya merasa puas. Tidak ada pilihan lain baginya selain memanggil ibu kedua anak tersebut, yaitu asma. Dengan pikirannya yang cemerlang dan bijaksana, Asma pun berkata kepada kedua anaknya,  "Aku tidak pernah melihat pemuda Arab yang lebih baik daripada Ja'far dan aku tidak pernah melihat ada orang tua yang lebih baik daripada Abu Bakar". Ucapan brilian dari Asma ini mampu menghentikan perselisihan kedua anaknya, mereka kembali akur dan saling menyayangi serta kembali bermain bersama.
Ali pun kagum dengan cara asma menyelesaikan perselisihan anak-anaknya, sambil memandang wajah istrinya yang cerdas lalu berkata "Mengapa engkau tidak menganggap aku apa-apa wahai Asma?". Dengan kecerdasannya yang tajam, keberaniannya yang luar biasa, dan akhlaknya yang santun, Asma menjawab "Dari ketiga suamiku (Jafar, Abu Bakar, dan Ali), engkaulah yang paling istimewa."

2 kali menjadi istri Amirul Mukminin yang Bertanggung Jawab

Sepeninggal sahabat Utsman bin Affan kaum muslimin kemudian memilih Ali sebagai khalifah. Jadilah Asma untuk kedua kalinya menjadi istri seorang Amirul Mukminin. Kali ini dia menjadi istri dari khalifah keempat dari Khulafaur Rasyidin. Asma pun menunjukkan tanggung jawabnya sebagai istri yang baik ketika suaminya sebagai khalifah menghadapi berbagai permasalahan besar dalam masa kepemimpinannya. Dia juga selalu mendorong anak-anaknya Abdullah bin Ja'far dan Muhammad bin Abu Bakar untuk mendampingi ayahnya dalam menegakkan kebenaran. 
Suatu hari dia mendengar kabar bahwa anaknya Muhammad bin Abu Bakar terbunuh di Mesir, musibah ini meninggalkan duka yang begitu mendalam di hati asma akan tetapi sebagai mukminah dia tidak mungkin menyalahi ajaran ajaran Islam sehingga berteriak-teriak merana atau melakukan hal lain yang tidak patut dilakukan.  Melalui sabar dan salat, dia terus memohon kepada Allah agar diberi kekuatan dan ketabahan dalam menerima musibah ini. Karena begitu sangatnya dalam menahan kesedihannya sampai-sampai payudaranya mengeluarkan darah. 
Tidak sampai setahun setelah sepeninggal putranya, berbagai penyakit pun menimpa Asma dan akhirnya Asma pun meninggal dunia. 

Asma wafat dengan menorehkan sejarah sebagai teladan Agung kebijaksanaan dan kesabaran dalam menghadapi berbagai cobaan.

Demikian kisah yang sangat menginspirasi dari seorang Shahabiyah, Asma binti Umais.  Semoga dengan kisah tersebut, bisa menjadi cambuk untuk kita agar terus bertawakal dan sabar dalam menghadapi berbagai cobaan kehidupan.

آمِيْن يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ

Let's Read Baby! 5 Langkah Menumbuhkan Minat Baca Anak Sedini Mungkin

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه


Let's Read baby!


Siapa disini yang suka membaca? 

Kalo kita tanyakan ke mommies nih, pasti jawabannya beda-beda ya.. Tapi begitu pertanyaaannya dirubah,

Siapa yang mau anaknya hobi membaca?

Pasti ibu-ibu serempak menjawab sambil tunjuk tangan.

Karena pada dasarnya setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, termasuk menumbuhkan minat baca anak. Karena seperti sudah kita ketahui bahwa dengan membaca, banyak ilmu dan pengetahuan yang bisa kita dapatkan.

Semakin aku banyak membaca, semakin aku banyak berpikir, semakin aku banyak belajar, semakin aku sadar bahwa aku tak mengetahui apapun. 

~ Voltaire ~

Jelas sekali bukan? bahwa dengan membaca banyak hal yang bisa kita dapatkan. Mulai bertambahnya pengetahuan dan wawasan, meningkatkan daya ingat, menjadi pribadi yang lebih berpikir, yang mana otak kita pun jadi makin berkembang dengan bertambahnya kosakata yang kita dapatkan dari membaca. 

Nah kebayang kan kalo ini kita berikan ke anak-anak kita saat golden age. Masa golden age adalah masa emas pada anak-anak di awal kehidupannya yaitu pada usia 0-5 tahun. Pada masa ini, otak anak-anak mampu menyerap secara cepat berbagai informasi yang diterima, sehingga sangat penting untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangannya. Oleh karena itu, pasa masa inilah waktu yang tepat untuk kita sebagai orang tua memberikan simulasi-simulasi untuk memaksimalkan kebutuhan otaknya. 

Yup, salah satunya dengan mengenalkan buku sedari bayi untuk menumbuhkan minat baca anak hingga dewasa kelak. Sayangnya, untuk saat ini mengajarkan anak cinta buku menjadi tantangan yang semakin sulit karena kemajuan teknologi yang hampir semua hal beralih ke digital. Terlebih lagi media elektronik menampilkan visual yang penuh warna dan juga interaktif sehingga anak-anak pun betah berlama-lama menggunakannya. Hal ini membuat buku menjadi kurang diminati dan terlihat membosankan bagi sebagian anak. Akan tetapi sebagai orang tua, pasti kita bisa mencari celah untuk tetap memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita.


Berdasarkan pengalaman pribadi dalam usaha mengajarkan anak gemar membaca, saya akan coba bagikan tips dan trik untuk menumbuhkan minat baca anak di era digital seperti saat ini. 


1. Kenalkan buku ke anak sedini mungkin

Bayi belum mengenal banyak hal dan apa yang kita kenalkan ke bayi sejak awal menjadi sesuatu yang menarik bagi si kecil. Saat bayi mulai belajar tengkurap adalah saat yang ideal untuk mengenalkan benda-benda dengan beragam warna yang cerah untuk membuat dia betah berlama-lama latihan tengkurap. Nah, berilah buku yang aman dengan ragam gambar dan warna yang cerah agar menarik perhatiannya. 

Softbook
Contoh soft book dan mainan untuk bayi. (Dokpri)

Tapi perlu diingat saat ini kita hanya ingin mengenalkan buku, bukan untuk menyuruhnya membaca (karena memang belum saatnya yaa). Berikan buku dengan bahan kain yang lembut yang berisi busa agar aman untuk si kecil saat mulai memegang dan membolak-balik lembaran bukunya.


2. Bacakan buku dengan intonasi suara yang menarik

Saat bayi sudah mulai duduk, kita sudah bisa mulai membacakan buku bergambar dengan cerita singkat di dalamnya. Bacakan dengan penuh intonasi dan mimik wajah yang beragam sesuai isi cerita agar anak semakin tertarik dan antusias mendengarkan cerita dari buku yang kita bacakan. Ada juga jenis buku yang bisa mengeluarkan suara (sound book/noisy book) yang bisa kita dapatkan di toko buku besar atau di berbagai e-commerce favoritmu. 

Saat anak bermain soundbook 3lingual (dokpri)

Biasanya buku bercerita tentang binatang atau alat transportasi akan membuat si kecil tertarik, sambil kita sebutkan satu-satu nama binatang atau jenis apapun yang ada dalam gambar buku. Pilihlah buku dengan bahan karton yang tebal agar tidak mudah sobek saat anak mulai tertarik dan membolak-balik isi buku tersebut.

Usahakan membacakan buku untuk si kecil setiap hari untuk menjadikan habits hingga dewasa kelas. Membacakan buku juga bisa kita lakukan untuk pengantar tidur anak kita yang tersayang.


3. Membaca buku sambil bermain dan menceritakan kembali isi buku

Siapa yang sudah tau tentang bookish play?

Yang belum tau, bisa baca lengkapnya disini ya >>Bookish Play, Tumbuhkan Generasi Anak Cinta Buku 

Jadi kegiatan bookish play ini merupakan aktivitas bermain yang berhubungan dengan tema sebuah bukuCara ini diharapkan bisa membuat anak kita semakin paham dengan isi cerita buku dan makin dekat dengan buku karena bisa sambil asyik bermain. Awalnya kita akan membacakan cerita sebuah buku sampai selesai, lalu kita ajak anak kita membuat permainan sambil  meminta anak kita untuk menceritakan kembali isi buku tersebut.

Saat anak masuk tahun ke-2 nya, anak akan menjadi semakin aktif dan suka kegiatan yang mampu menyalurkan tenaga dan keingintahuannya. Saat inilah anak akan menjadi sulit diam dan terus mengeksplor apapun yang ada disekelilingnya. Dengan bermain bookish play ini, anak akan kita buat penasaran dengan berbagai kerajinan yang bisa kita buat dengan melibatkan si kecil. Dengan begitu anak akan semakin antusias ingin tau cerita buku yang lainnya.


4. Kenalkan huruf sedikit demi sedikit dengan berbagai mainan yang menyenangkan

Saat anak sudah mulai lancar berbicara, kita sudah bisa mengenalkan huruf abjad untuk si kecil. Kita bisa memulai dari huruf vocal a-i-u-e-o terlebih dahulu sampai anak paham, setelah itu kita bisa mengenalkam huruf konsonan lain sedikit demi sedikit. 

Sedikit berbagi pengalaman, dulu mengenalkan huruf ke anak saat memasuki 1,5 tahun dimana saat itu anak sudah lancar berbicara dengan jelas dan suka menanyakan apapun yang dilihatnya termasuk gambar huruf yang ada di mainan puzzle evamat miliknya. Lalu sebelum genap 2 tahun anak sudah hafal huruf abjad kapital A-Z dan suka menyebutkan huruf-huruf yang dilihatnya, baik di buku, mainan, dan gambar baju. Lalu setelah itu bisa ditambah mengenalkan huruf abjad kecil. 

Liat huruf-huruf anak pun jadi ingin membacanya. (Dokpri)

Ingat ya moms, kenalkan saja terlebih dahulu jangan memaksakan anak untuk bisa karena seharusnya memang belum waktunya.


5. Ciptakan suasana yang mendukung anak makin gemar membaca

Nah, anak kita yang tadinya sudah mengenal dan tertarik dengan buku, kini sudah semakin besar dan semakin paham mengenal beragam mainan lain dan “kehebatan” media eletronik seperti tv dan gawai yang ada dirumah. Kita pun sebagai orang tua harus mempertahankan ketertarikan anak akan buku, dengan cara sebagai berikut:

  • No screening time
Sudah jadi rahasia umum pengaruh buruk dari layar kaca. Beberapa DSA menyebutkan bahwa anak dibawah usia 2 tahun tidak perlu dikenalkan TV atau gawai. Bahkan setelah usia 2 tahun, screening time maksimal hanya 30 menit per hari. Dengan tidak mengenalkan sejak awal diharapkan tidak menjadi candu dikemudian hari. 

Saat perjalanan jauh anak senang membaca bukunya dan tidak tertarik gawai ayahnya. (Dokpri)

Jujur ini berpengaruh sekali, saya tidak membiasakan screening time ke anak sampai usia 2 tahun, lihat pastinya pernah apalagi saat pulang kampung dan banyak saudara yang selalu memberikan HP atau TV agar anak merasa senang (padahal tidak dikasih pun anak juga senang jika mendapat perhatian kita). Dan sekarang anak hanya menonton TV acara yang dia suka, hanya 30 menit dan setelah acara kartunnya selesai, dia pun minta televisi dimatikan.

  • Berikan contoh ke anak
Karena anak adalah peniru ulung dan buah jatuh tak jauh dari pohonnya, maka kita pun sebagai orang tua yang ingin anaknya cinta dan gemar membaca harus memberi contoh dengan membaca buku juga.

Anak jadi ingin ikut membaca buku kitab yang sering dibaca orangtuanya. (Dokpri)

  • Ciptakan ruang atau rak khusus yang berisi buku-buku 
Sehingga anak bisa memilih sendiri buku yang ingin dia baca. Dengan begitu anak melihat buku-buku sebagai pemandangan di dalam rumahnya yang akan mendorong anak ingin membacanya juga.

  • Jadikan buku sebagai hadiah dan sering-sering ajak anak ke toko buku daripada ke toko mainan
  • Setelah membaca sebuah buku, ajak anak berdiskusi dan mengimplementasikan dalam kegiatan sehari-hari agar anak semakin paham manfaat buku dan mencari tau banyak hal melalui buku.


Demikian beberapa langkah yang bisa kita usahakan untuk menumbuhkan minat baca anak. Tentunya akan ada rintangan dan halangan sewaktu menjalaninya, kuncinya adalah konsistensi kita sebagai orang tua dan mencoba meminimalisir distraksi media lain yang lebih menarik daripada buku untuk anak kecil. 
Perkembangan teknologi pun tidak dapat kita pungkiri, karena di dalamnya banyak manfaat dan kemudahan yang bisa kita dapatkan. Salah satunya, dengan menjadikan gawai yang kita miliki sebagai media membaca anak. 
Hah, kok bisa?
Bisa donk, karena sekarang ada aplikasi Let's Read - Perpustakaan Digital Cerita Anak.
Let's Read merupakan aplikasi yang berisi ratusan cerita anak yang pastinya menghibur dan juga edukatif. Let's Read diprakarsai oleh Books for Asia dari The Asia Foundation yang bertujuan menumbuhkan para pembaca cilik di Asia. Let's Read menjadi pilihan yang tepat untuk kita tunjukan ke anak saat anak penasaran dengan gawai yang sedang kita pakai. Semua koleksi cerita dalam aplikasi ini penuh gambar dan berwarna sehingga akan membuat anak senang. Tersedia juga cerita mengenai COVID-19 yang dikemas dalam cerita yang lucu dan menarik sehingga sangat pas untuk mengajarkan si kecil tentang wabah pandemi ini yang semoga segera berakhir ya..

Let's Read



Kehebatan lainnya nih, cerita dalam Let's Read bisa diunduh secara gratis dan juga bisa dicetak lho.. Selain itu, terdapat pilihan multi bahasa sehingga kita bisa mengajarkan anak-anak berbagai bahasa termasuk ada bahasa daerah juga lho... seru banget kan?
Makanya yuks segera download gratis aplikasi Let's Read melalui Google PlayStore atau AppStore, biar gampang aku share linknya disini yaa..

Jadi ga perlu lagi mengutuki teknologi, tinggal bagaimana kita sebagai orang tua yang sudah melek ilmu dan digital harus pintar dalam memanfaatkan dan mengatur pemakaiannya. Jika kita sudah membekali kebutuhan membaca sedari dini, insya Allah anak akan terus senang membaca dan bisa memanfaatkan media elektronik untuk bahan bacaan mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang semakin luas jangkauannya.

Semoga sharing pengalaman ini bisa bermanfaat dan menjadi motivasi (khususnya saya pribadi) agar terus bersemangat mempertahankan minat baca anak-anak kita. Aamiin


Let's read baby!



7 Pedoman Seorang Ibu minim Stress

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه



Orang bilang cinta ibu ke anak itu sepanjang masa ya?
Eh ternyata benar, sekarang baru ngerasain sendiri setelah punya anak...
Katanya juga nih, cinta ibu ke anak tak bersyarat?
nah, yang ini aku masih meragu..
Setelah berbagai struggling menjadi new mom, kok rasanya justru cinta seorang anaklah yang tak bersyarat..
kok bisa?


Coba kita renungkan sejenak, anak kita yang begitu polos dan lucu, selalu menyambut manis dengan binar matanya tak peduli kita sudah mandi atau belum. Anak kita yang terkadang diri ini masih saja secara tidak sadar tidak terkontrol marah atau bernada tinggi saat anak melakukan kesalahan eksplorasi yang mungkin belum dia pahami dan akhirnya menangis, tapi selalu akhirnya minta pelukan kita kembali.

Sedangkan kita sebagai orangtua, khususnya Ibu..
Masih saja banyak menuntut ini dan itu yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan anak, bahkan berakhir marah karena anak tidak menurut atau tidak sesuai dengan harapan kita.
Rasanya malu sendiri dengan predikat Ibu dengan cinta yang masih penuh tuntutan seperti itu.

Belajar, mencoba perbaiki diri...
Mencari tau bagaimana untuk bisa menjadi orang tua yang lebih baik dan memberikan cinta kasih sayang yang tulus tanpa amarah dan emosi yang tidak terkontrol. Mulai dari membaca buku parenting, mengikuti beberapa kelas online, mengikuti beberapa influencer parenting di berbagai media sosial, hingga mengikuti komunitas yang banyak membahas seluk beluk parenting. 
Hingga akhirnya membuat aku tersadar pentingnya menjadi ibu yang sempurna bijak (karena pada hakikatnya kesempurnaan hanya milik Allah) dan terus berusaha mengelola emosi agar tidak terlampiaskan ke anak. 



Tak perlu berlama-lama lagi, disini saya akan coba rangkum 7 pedoman seorang ibu agar jauh dari rasa stress saat mengasuh dan membersamai anak.

1. Selalu ingat bahwa anak adalah amanah

Nah, ini mungkin yang terkadang kita lupakan sejenak sebagai orangtua. Bahwasanya anak kita hanyalah titipan dari Allah Subhanahu wa ta'ala yang semestinya kita jaga. Coba saja saat kita dititipi teman atau saudara untuk menja anak mereka sejenak untuk 1 dan lain hal, pasti kita akan jaga dan perlakukan dengan baik, bahkan kita tidak akan berani marahin atau omelin kan..?
ya iyalah masa iya anak orang kita omelin..? 
Terus kenapa anak sendiri malah dimarah-marahin atau dibentakin? kan anak kita juga hanyalah titipan dari Yang Maha Kuasa.? yang kelak kita akan dimintai pertanggungjawabannya.
Nulis begini pun masih merem melek karena begitu banyak kesalahan yang telah dilakukan ke anak tanpa kita sadari. Semoga dengan bertambahnya ilmu tidak akan terulang kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan ke anak dan Allah mengampuni dosa-dosa kita serta memberi kesempatan untuk memperbaikinya...aamiin

2. Selalu ingat perintah Allah akan pentingnya menjaga keluarga

QS.At-Tahrim : 6

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Perintah Allah dalam Al Quran begitu jelas adanya, tidak hanya berlaku untuk para suami atau ayah saja, tapi kita sebagai ibu pun ikut bertanggung jawab dalam menjaga keluarga, khususnya anak. Menjaga anak disini termasuk menjaga ketauhidan anak, mengajarkan baik buruknya sesuatu, menanamkan kejujuran dan nilai-nilai kebaikan islam lainnya. Dengan mengingat perintah Allah diatas, maka kita akan selalu berupaya menjaga perilaku kita agar bisa menjadi suri tauladan yang baik bagi anak.

3. Selalu ingat bahwa anak adalah ladang pahala 

Masih ada sebagian orang tua yang berpikir bahwa anak adalah beban. Bahkan banyak negara yang masyarakatnya menghindari pernikahan karena tidak mau repot mengurus anak. (Semoga kita semua dihindarkan dari pikiran seperti itu yaa...)
Padahal sebenarnya anak adalah ladang pahala untuk bekal kita di akhirat nanti. Sebagaimana kita ketahui, hadits yang sudah sering kita dengar:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Pasti kita semua mengharapkan anak kita menjadi anak yang sholeh dan sholehan kan? Karena doanya kelak akan terus mengalir menjadi amalan baik kita walaupun kita sudah tiada.
Dengan mengingat hadits tersebut, insya Allah cara pandang kita dalam menghadapi anak akan berbeda dengan cara pandang yang menganggap anak adalah beban. Kita akan lebih bersemangat dalam mengurus anak mulai saat bayi yang suka menangis saat kita tinggal, kita akan semangat merapikan mainan yang dieksplore oleh anak, kita akan lebih semangat saat mengajari anak, dana banyak hal lainnya. Karena pada dasarnya kodrat seorang Ibu adalah sebagai madrasah ula bagi anaknya, yaitu pendidik yang pertama dan utama, dimana banyak pahala yang bisa kita dapatkan.

4. Perbanyak ilmu parenting

Seperti sudah saya bahas di awal, kurangnya ilmu akan pengasuhan anak akan membuat kita tidak tau bagaimana seharusnya bersikap ke anak. Karena anak kita mengalami tahapan perkembangan yang sangat kompleks, sehingga sayang sekali jika kita salah dalam menanganinya. Mempelajari ilmu parenting baiknya idealnya sebelum kita menikah, jadi kita bisa mulai persiapan dengan memilih pasangan yang akan sama pemikiran dalam membangun keluarga dan membesarkan anak. Tapi jangan sedih bagi yang sudah terlewat dan anak sudah mulai besar, karena lebih baik terlambat daripada tidak tau ilmunya sama sekali. Apalagi di era digital seperti sekarang ini, dimana kita bisa sangat mudah menemukan ilmu dan informasi, tapi pastikan juga informasi yang kita dapat itu informasi yang benar dengan mencari sumber yang sudah terpercaya keabsahannya. 

5. Perbaiki hubungan dengan suami

Agendakan secara rutin untuk couple time bersama suami untuk saling bertukar pikiran, menyampaikan pendapat dan keluh kesah agar tidak ada konflik yang berkepanjangan. Karena kondisi keharmonisan suami istri akan sangat berpengaruh dengan psikis sang anak. Anak sangat peka dengan kondisi ibunya, apalagi saat anak masih bayi, jika ibu banyak pikiran atau ada permasalah dengan suami, bayi kita akan cenderung lebih rewel dari biasanya. Kalaupun anak sudah mulai besar dan orang tua sedang dalam masalah yang belum terselesaikan, dikhawatirkan kejengkelan sang ibu ke suami akan terlampiaskan ke anak saat anak melakukan kesalahan, masalah yang awalnya kecil akan dibesar-besarkan oleh sang ibu. Oleh karena itu, saat ada masalah dengan suami hendaknya diselesaikan secara langsung tanpa ditunda-tunda, dikomunikasikan dengan baik saat tidak ada anak kita.

6. Samakan visi dan misi keluarga

Saat couple time bersama suami, sempatkan pula untuk membuat family goals dan berusaha komit dengan suami atas apa yang sudah disepakati. Lebih baik lagi jika kita bisa membuat kurikulum keluarga bersama suami. Seperti halnya lembaga pendidikan yang ada kurikulumnya, dalam berkeluarga pun mestinya dibuat kurikulum yang berisi tujuan, topik dan strategi pembelajaran anak. Bicarakan dari hati ke hati dengan mempertimbangan dari berbagai aspek, sehingga saat menjalankannya tidak ada kendala yang cukup besar karena sudah diantisipasi sejak awal. Lakukan juga evaluasi atas apa yang sudah dikerjakan agar bisa dilakukan perbaikan di kemudia hari.

7. Kelola dan manajemen waktu dengan lebih baik lagi

Siapa disini yang menajdi fullmom dengan pekerjaan domestik yang seabrek tanpa bantuan ART? 
Berarti kita tak sendiri ya moms, karena saya pun berada di rantau jauh dari sanak saudara dan suami yang sering pulang malam karena kantor jauh dan tuntutan pekerjaan yang memaksa suami untuk sering lembur di kantor..(uups jadi curcol)
Rasanya sungguh melelahkan ya Moms, apalagi kalo anak belum mau disambi yaa, yang sering membuat pikiran kita jadi ruwet. Nah, kalau udah mulai ruwet gini kembali dulu ke point 3. Ingat bahwa ini lah kesempatan kita untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya. Sambil sedikit demi sedikit mengatur jadwal dan skala prioritas demi kewarasan hati dan pikiran. Kita harus pintar mengatur waktu dengan baik, dengan tidak menunda pekerjaan dan jika merasa overload mintalah bantuan ke suami. Manajemen waktu yang baik akan membuat kita lebih lega dan fokus dengan apa yang sedang kita kerjakan. Saat kita menemani anak kita bisa being present sehingga anak merasa betul kehadiran kita, sehingga jika sudah saatnya melakukan tugas domestik anak akan mau dengan sendirinya, sehingga pekerjaan bisa beres sesuai waktunya dan kita pun tidak menjadi snewen sendiri.


Nah itu dia tadi, hal-hal yang perlu kita ingat dan persiapkan dalam mengemban tugas utama kita sebagai seorang Ibu dengan tulus ikhlas dan jauh dari amarah hingga membuat kita stress sendiri.Dan yang tidak kalah penting juga adalah 
menjadi ibu itu harus happy dan penuh rasa syukur..


Semangat selalu ya mommies...


Merawat Keistiqomahan Pasca Ramadhan


بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه


Siapa disini yang udah kangen Ramadhan?
Belum genap 2 minggu tapi udah rindu banget rasanya...Hari-harinya sama tapi suasana Ramadhan itu beda banget, rasanya tuh semangat terus...Semangat buat ibadah plus semangat ngerjain tugas domestik juga.
Nah, karena iman lagi mulai turun dan butuh recharge ilmu dan motivasi, sekalian aku tulis disini buat pemecut diri biar ga kendor ibadah lagi.
Saat Ramadhan kita sangat semangat buat membaca Al Quran, target minimal 1x Khatam, jadi berusaha gimana caranya 1 hari bisa 1 juz baca. Tapi setelah Lebaran jadi agak terlena dan merasa "kehabisan" waktu untuk tilawah Al Quran. Padahal Allah menurunkan Al Quran sebagai petunjuk hidup kita, tapi kenapa kita tidak semangat membacanya. Yuk biar semangat lagi coba kita refresh lagi bagaimana dahsyatnya keutamaan dari Al Qurannul karim.

Al quran


Sejak 1200 tahun silam, ketika dunia belum mengenal komputer atau alat hitung sejenis, IMAM SYAFI'I telah mampu mendata JUMLAH masing-masing HURUF dalam AL-QURĀN secara detail dan tepat.

IMAM SYAFI'I dalam kitab Majmu al-Ulum wa Mathli’u an Nujum dan dikutip oleh Imam ibn ‘Arabi dalam mukaddimah al-Futuhuat al-Ilahiyah menyatakan jumlah huruf-huruf dalam Al Qur'an di susun sesuai dengan banyaknya :
  •  ا Alif : 48740 huruf,
  •  ل Lam : 33922 huruf,
  •  م Mim : 28922 huruf,
  •  ح Ha ’ : 26925 huruf,
  •  ي Ya’ : 25717 huruf,
  •  و Waw : 25506 huruf,
  •  ن Nun : 17000 huruf,
  •  لا Lam alif : 14707 huruf,
  •  ب Ba ’ : 11420 huruf,
  •  ث Tsa’ : 10480 huruf,
  •  ف Fa’ : 9813 huruf,
  •  ع ‘Ain : 9470 huruf,
  •  ق Qaf : 8099 huruf,
  •  ك Kaf : 8022 huruf,
  •  د Dal : 5998 huruf,
  •  س Sin : 5799 huruf,
  •  ذ Dzal : 4934 huruf,
  •  ه Ha : 4138 huruf,
  •  ج Jim : 3322 huruf,
  •  ص Shad : 2780 huruf,
  •  ر Ra ’ : 2206 huruf,
  •  ش Syin : 2115 huruf,
  •  ض Dhadl : 1822 huruf,
  •  ز Zai : 1680 huruf,
  •  خ Kha ’ : 1503 huruf,
  •  ت Ta’ : 1404 huruf,
  •  غ Ghain : 1229 huruf,
  •  ط Tha’ : 1204 huruf dan terakhir
  •  ظ Dza’ : 842 huruf.
Jika kita hitung, jumlah semua huruf dalam al-Quran sebanyak 1.027.000 huruf.

Coba bayangkan, setiap kali kita khatam Al-Quran, kita telah membaca lebih dari 1 juta huruf. 
Jika,
1 huruf = 1 kebaikan 
1 kebaikan = 10 pahala,
maka insyaAllah kira-kira 10 juta pahala bisa kita dapatkan dengan 1x khatam Al Quran. 
Sayang sekali ya kalau kita lewatkan pahala sebanyak itu? 

Selain itu, Al-Quran juga menjadi penolong kita di Alam Kubur.

Dari Sa’id bin Sulaim ra, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Tiada penolong yg lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari Kiamat daripada Al-Qur’an. Bukan nabi, bukan malaikat dan bukan pula yang lainnya.” (Abdul Malik bin Habib-Syarah Ihya).

Bazzar meriwayatkan dalam kitab La’aali Masnunah bahwa jika seseorang meninggal dunia, ketika orang - orang sibuk dgn kain kafan dan persiapan pengebumian di rumahnya, tiba -tiba seseorang yang sangat tampan berdiri di kepala mayat. Ketika kain kafan mulai dipakaikan, dia berada di antara dada dan kain kafan. Setelah dikuburkan dan orang-orang mulai meninggalkannya, datanglah 2 malaikat. Yaitu Malaikat Munkar dan Nakir yang berusaha memisahkan orang tampan itu dari mayat agar memudahkan tanya jawab.
Tetapi si tampan itu berkata: ”Ia adalah sahabat karibku. Dalam keadaan bagaimanapun aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian ditugaskan utk bertanya kepadanya, lakukanlah pekerjaan kalian. Aku tidak akan berpisah dari orang ini sehingga ia di masukkan ke dalam syurga.”
Lalu ia berpaling kepada sahabatnya dan berkata,”Aku adalah Al Quran yang terkadang kamu baca dengan suara keras dan terkadang dengan suara perlahan. Jangan khawatir setelah menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir ini, engkau tidak akan mengalami kesulitan.”
Setelah para malaikat itu selesai memberi pertanyaan, ia menghamparkan tempat tidur dan permadani sutera yang penuh dengan kasturi dari Mala’il A’la. (Himpunan Fadhilah Amal : 609)

Allahu Akbar, bergetar hati ini membacanya. Memantik semangat dalam diri untuk membuat jadwal khusus membaca Al Quran dalam keseharian kita. 


Itulah dahsyatnya membaca Al Quran, lalu bagaimana agar semangat ketakwaan saat Ramadhan tidak pudar?

Bisyr al-Hafi, seorang ulama shalih, suatu saat berkata, “Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal hak Allah, kecuali hanya pada bulan Ramadhan saja. Sesungguhnya seorang disebut shalih ketika ia beribadah dan ber-mujahadah selama setahun penuh.”

Selama Ramadhan, kita sebagai umat muslim 'digembleng' untuk menahan hawa nafsu lapar, haus, amarah, dan nafsu lainnya sejak fajar hingga Maghrib. Kita pun secara otomatis terdorong untuk melakukan tilawah al-Quran dan qiyamul lail atau shalat tarawih, serta banyak bersedekah karena pahalanya yang berlipat ganda saat bulan Ramadhan. Semua itu bisa kita lakukan sembari mengerjakan aktivitas harian seperti biasa. Bahkan di sepuluh hari penghujung Ramadhan, kita sebagai kaum Muslim juga dianjurkan menghidupkan mesjid-mesjid untuk beritikaf, di antaranya untuk mendapatkan keutamaan Lailatul Qadar.
Tapi begitu Ramadhan berakhir, tak sedikit orang yang terlena dan melupakan kebiasaan-kebiasaan ibadah yang telah kita lakukan selama 30 hari di bulan Ramadhan.

Padahal, amal yang paling dicintai oleh Allah SWT adalah keteguhan atau keistiqamahan
#jleb banget ya rasanya...

Suatu ketika Nabi saw. dimintai nasihat oleh seorang sahabat. Beliau lalu bersabda:
قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ، ثُمَّ اسْتَقِمْ
Katakanlah, “Aku beriman kepada Allah.” Kemudian beristiqamahlah! (HR Muslim).


Allah SWT menyebutkan besarnya keutamaan orang yang istiqamah dalam ketaatan:


فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِير

Beristiqamahlah kamu (di jalan yang benar), sebagaimana kamu diperintah, juga orang yang telah bertobat bersama kamu. Janganlah kalian melampaui batas! Sungguh Dia Maha melihat apa saja yang kalian kerjakan. (QS Hud [11]: 112).


Selanjutnya Allah SWT menjanjikan derajat yang agung bagi siapa saja di antara hamba-hamba-Nya yang bisa istiqamah:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sungguh orang-orang yang berkata, "Tuhan kami adalah Allah," lalu mereka beristiqamah, kepada mereka malaikat akan turun dengan mengatakan, "Janganlah kalian takut dan jangan pula merasa sedih. Bergembiralah dengan surga yang telah Allah janjikan kepada kalian." (QS al-Fushshilat [41]: 30)

Lalu bagaimana caranya merawat keistiqamahan?

Agar menjadi hamba yang senantiasa istiqamah dalam ketaatan, kaum Muslim perlu menghayati sejumlah hal. 

Pertama, Mengingat kematian dan tempat kembali kepada Allah SWT. 

Setiap Muslim mesti meyakinkan diri bahwa kehidupan ini fana. Kelak kita akan kembali kepada Allah SWT. Pada saat itu tak ada yang bisa menyelamatkan dirinya selain ketakwaan. Banyak ayat yang menyebutkan penyesalan manusia di akhirat karena melepaskan diri dari agama Allah SWT. 
Di antaranya firman Allah SWT:

وَلَوْ تَرَى إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ

(Alangkah ngerinya) jika engkau melihat orang-orang berdosa itu menundukkan kepala mereka di hadapan Tuhan mereka (seraya berkata), “Duhai Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar. Karena itu kembalikanlah kami ke dunia. Kami akan mengerjakan amal shalih. Sungguh kami adalah orang-orang yakin.” (QS as-Sajdah [32]: 12).

Baginda Rasulullah Shallallahu'alayhi wa salam  mengingatkan bahwa kedudukan seseorang di hadapan Allah SWT justru ditentukan di penghujung kehidupan, bukan di awal:

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
Sungguh amal-amal itu ditentukan saat penutupan (akhir)-nya. (HR al-Bukhari).



Kedua, Menjadikan Allah SWT dan Rasul-Nya sebagai satu-satunya yang ditaati secara mutlak.

Sikap istiqamah bisa runtuh ketika manusia lebih memilih menaati pihak selain Allah Subhanahu wa ta'ala dan Rasul-Nya. Padahal kelak pada Hari Akhir, orang-orang seperti itu akan menyesal. Mereka bahkan akan melaknat para pejabat, pimpinan dan raja yang dulu mereka taati di dunia. 

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا

وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا

رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا

Pada hari (ketika) wajah mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, "Wahai, kiranya dahulu kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul."
Dan mereka berkata, "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).
Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar. (QS al-Ahzab [33]: 66-68).


Ketiga, Bersabar dalam ketaatan. 

Istiqamah dalam ketaatan membutuhkan kesabaran. Sebabnya, orang yang istiqamah akan dihadapkan pada ragam ujian sampai ia menghadap Allah SWT. 
Allah SWT berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan saja berkata, "Kami telah beriman," sementara mereka tidak diuji lagi?” (QS al-Ankabut [29]: 2).


Sabar yang diperlukan seorang hamba adalah sabar menghadapi musibah, sabar menjalankan ketaatan dan sabar menghadapi kemungkaran. Ketiga jenis kesabaran itulah yang mutlak diperlukan seorang Muslim dalam meniti keistiqamahan. 

Pada masa sekarang, ketika umat Muslim ada dalam kemunduran, berpegang teguh pada Islam menghadapi ujian yang sangat berat. Tudingan radikal, fundamentalis, kaku, konservatif dll sering disematkan pada kaum Muslim yang sedang merawat keistiqamahan.

Dalam hal ini Baginda Nabi saw. memberikan motivasi bahwa kesabaran pada akhir zaman mendatangkan kebaikan yang amat besar:

يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

Akan datang kepada manusia suatu zaman saat orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api. (HR at-Tirmidzi).


Keempat, Tetap beramal sekalipun hanya sedikit.

Amal yang paling Allah cintai adalah yang terus dilakukan meskipun sedikit. Nabi Shallallahu'alayhi wa salam bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَال إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang paling Allah cintai adalah yang paling berkelanjutan meski hanya sedikit. (HR Muslim).

Itulah sedikit rangkuman dari bulettin Kaffah mengenai pentingnya keistiqamahan. Semoga bisa menjadi motivasi (khususnya untuk saya pribadi) untuk terus berusaha melanjutkan ibadah-ibadah saat bulan Ramadhan, karena keistiqomahan adalah buah yang harus diraih pasca Ramadhan. 


Akhir kata,    وَ السَّلَامُعَلَيْكُمُ