Lakukan 4T untuk Menghadapi Anak Tantrum

Ketika anak memasuki usia 2 tahun, sebagai moms kita harus mempersiapkan mental dan kesabaran ekstra. 
Kenapa? 
Karena pada masa ini kita akan sering menjumpai anak yang tiba-tiba tantrum.

Pada usia ini, anak memasuki masa perkembangan autonomi. Maksudnya adalah anak-anak sedang  belajar mengontrol segala sesuatunya sendiri dan tidak lagi bergantung pada orang lain seperti saat berada dalam fase sebelumnya ketika masih bayi. 
Sehingga ketika keinginannya tidak terpenuhi, anak akan bersikap berlebihan seperti menangis sambil guling-guling di lantai atau berteriak marah-marah yang diikuti perilaku fisik.  Sikap inilah yang dinamakan dengan tantrum. 

Tak heran fase perkembangan anak usia ini dinamakan “terrible two”
Dalam fase ini anak akan bersikap egosentris dan merasa semua hal berpusat pada dirinya. Anak mulai menunjukkan perilaku yang menguras kesabaran orang tuanya. Mereka menjadi lebih sering membantah atau menolak perkataan kita, kalau orang jawa bilang tuh “ngeyel”. Bahkan tidak sedikit pula anak yang menunjukannya secara fisik seperti suka melempar barang, corat-coret, menendang, atau bahkan menggigit.

Menghadapi anak tantrum memang membuat emosi kita bergejolak ya Moms. Apalagi jika anak tantrum di tempat umum atau saat berada di keramaian orang, seperti mall atau saat kumpul keluarga.  Wah pasti rasanya campur aduk ya kita Moms, antara malu dan bingung untuk menenangkan anak kita. 

Lalu, bagaimana cara yang tepat untuk menghadapi anak yang tantrum ini?

Pada artikel sebelumnya, mengenai

Pentingnya Membedakan Emosi dan Strategi dalam Perilaku Anak

kita telah mempelajari cara membedakan tangisan atau perilaku anak sekaligus cara yang tepat untuk menanggapinya. Mungkin masih ada beberapa yang salah dalam mengartikan artikel tersebut. Dimana tidak ada yang salah dengan emosi anak, yang salah adalah ketika kita sebagai orang tua justru mengartikan bahwa semua tangisan atau perilaku amarah anak adalah bentuk luapan emosi. Karena perilaku anak tersebut bisa jadi hanya strategi anak untuk mengobservasi dan mengenali cara untuk mendapatkan keinginannya. 

Misalnya, saat anak menangis atau mengamuk untuk mendapatkan sesuatu dan kita turuti, maka anak akan mengulangi cara tersebut di kemudian hari. Jika kita biarkan terus menerus, hal ini akan menjadi kebiasaan buruk bagi Si Kecil. 

Nah, di bawah ini saya akan coba share mengenai penanganan anak tantrum pada usia toddler.

Ketika anak tantrum, lakukan 4T:

Menghadapi-Anak-Tantrum

1. Tenang

Saat anak tantrum, kita harus tetap tenang dan tidak terbawa emosi. Jangan ikutan marah atau membentak ke anak. Sikap tenang kita akan membuat tantrum anak lebih mudah untuk diatasi. Jika sedang berada di tempat ramai, ajak anak untuk pindah tempat yang lebih sepi dan nyaman.

2. Terima

Terima semua perasaan yang anak rasakan. Jika itu adalah suatu luapan emosi maka kita bisa memvalidasi emosinya. Terima saja cara anak mengekspresikan emosinya agar tidak ada emosi yang tertahan yang bisa menyebabkan tumpukan emosi pada anak kita. Dampingi anak kita dan tunjukan rasa empati kita dengan berada didekatnya. Hadirkan mindset bahwa anak kita membutuhkan bantuan kita untuk meregulasi emosinya.

3. Tunda

Menunda untuk bertanya macam-macam atau bahkan buru-buru menasihati anak. Saat badai emosi terjadi, anak akan sulit diajak berpikir logis. Maka tunggu sampai emosinya stabil terlebih dahulu dan terus dampingi dia.

4. Tunjukan 

Saat anak mulai mereda dan terkendali, tunjukkan rasa cinta kita ke anak dengan memeluk dan mencium anak kita. Sambil kita sampaikan bahwa tadi kita membiarkannya menangis bukan karena kita tidak sayang atau tidak peduli, tetapi agar dia merasa lega terlebih dahulu. Lalu kita tanyakan bagaimana perasaannya. Setelah anak mengutarakan isi hatinya, baru kita menasihati anak dengan menjelaskan untuk ke depan jika ingin sesuatu cukup sampaikan dengan baik tidak perlu marah dan menangis.


Itu tadi sedikit cara yang insya Allah tidak memberikan dampak buruk ke anak-anak ketika mereka tiba-tiba tantrum. Adapun hal-hal yang perlu kita hindari ketika anak tantrum atau berperilaku yang tidak menyenangkan lainnya adalah dengan 

Hindari 4M

  • Membentak atau memarahi anak
  • Memaksa atau menjajah anak untuk menuruti keinginan kita
  • Memanipulasi anak dengan membohongi atau pura-pura ngambek ke anak
  • Menyakiti anak secara psikis, seperti mencubit atau memukul

4M diatas jika sering kita lakukan dalam menghadapi perilaku anak, akan berisiko terhadap kesehatan psikisnya dan mempunyai efek buruk jangka panjang lainnya. 

Mengutip dari seorang praktisi parenting sekaligus founder akun instagram @anakjugamanusia, Angga Setyawan, bahwa ada beberapa dampak risiko dari memukul anak, diantaranya: 

  • Anak akan merasa bahwa marah atau memukul adalah hal yang benar untuk dilakukan
  • Anak akan menduplikasikan sikap kita untuk merespons sesuatu
  • Anak akan tumbuh menjadi anak yang ragu-ragu dan tidak punya pendirian karena terbiasa menurut kemauan orang tuanya
  • Anak akan menjauh dari orang tuanya karena merasa takut dan tidak nyaman atas sikap kita
  • Anak akan merasa kebal, terbiasa dipukul dulu baru melakukan yang orang tua perintahkan
  • Anak tidak memiliki rasa empati terhadap perasaan orang lain

Orang tua mana yang mau anak merasakan dan tumbuh besar dengan perasaan seperti itu? Mungkin dalam penerapan tidak akan semulus dan semudah menulis dalam artikel ini atau semudah membacanya. Butuh tekad dan kesadaran penuh untuk bisa menjalaninya. Dan kunci untuk itu adalah kita harus selalu mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, Allah Subhanahu wa ta’ala, agar kita kita dimampukan untuk sabar dalam menghadapi dan mendampingi tumbung kembang anak kita. 

Baca juga: 9 Metode Pengajaran untuk Menumbuhkan Kemandirian Anak

Sebagai pengingat (specially for me) agar terus berusaha melapangkan dada dalam membersamai anak-anak kita, yuks kita pahami perintah Allah Subhanahu wa ta'ala dalam QS. At-Tahrim : 6

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.


Sebagai penutup, bahwa kitalah yang mengharapkan kehadiran anak-anak kita. Jangan merasa terbebani akan segala tahap perkembangan anak, termasuk ketika anak mulai sering tantrum. Syukuri setiap tingkah aktifnya, karena di luar sana masih banyak yang berharap ada di posisi kita....


Pentingnya Membedakan Emosi dan Strategi dalam Perilaku Anak

Semakin bertambah usia anak, semakin besar pula stock sabar yang harus dimiliki orang tua. Bagaimana tidak? Ketika anak sudah memasuki masa toddler, yaitu usia 1-3 tahun, anak akan semakin keras dalam menunjukkan kemauannya dan menjadi lebih egosentris. 

Sejak usia ini pula, anak akan cenderung lebih mudah cranky atau bahkan sering tantrum untuk mendapatkan apa yang dia mau. Sehingga tidak sedikit orang tua yang merasa kewalahan atau bahkan tidak mampu menahan emosinya. 

Saya sendiri pun setiap hari masih terus berusaha untuk tidak terpancing emosi, tetapi tidak pula serta merta menuruti keinginan anak saat dia menangis. Bukan karena tidak sayang, tetapi untuk mengajarkan ke anak bahwa tidak semua hal bisa didapatkan. Selain itu, khawatir anak akan terbiasa menjadikan tangisan sebagai senjata untuk mendapatkan sesuatu. 

Pada dasarnya, tangisan anak adalah suatu bentuk ekspresi atau cara anak untuk mengungkapkan perasaannya. Tangisan juga merupakan salah satu bentuk penyaluran emosi sang anak. Tetapi seiring bertambahnya umur, menangis bisa juga menjadi salah satu strategi anak untuk “menjajah” orang tua untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Jadi, emosi dan strategi inilah yang menjadi pencetus perilaku seorang anak.

Emosi vs Strategi

Emosi bisa terjadi karena kebutuhan yang tidak terpenuhi atau harapan anak yang tidak sesuai dengan kenyataan, energinya bisa sedih, kecewa, berduka. Sedangkan strategi merupakan keinginan anak menjajah orang lain untuk mendapatkan keinginannya  atau hanya sekedar mencari perhatian. 

Emosi bisa berisiko berubah menjadi strategi jika kita berlebihan dalam menanggapi sikap anak. Akan tetapi, strategi tidak bisa berubah menjadi emosi. Jadi kita harus hati-hati dalam menanggapi perilaku anak. Karena jika kita salah menanggapinya, maka akan berpengaruh fatal kedepan. 

Lalu, bagaimana cara membedakan emosi dan strategi dalam perilaku anak? 

Yang perlu diingat bahwa yang dibedakan adalah dorongan energinya, bukan wujud perilakunya, karena wujudnya bisa saja sama persis. Misal saat anak menangis, jika dilihat mungkin tangisannya sama persis, tapi kalau dirasakan dorongan energinya berbeda. 

Jadi, gunakan feeling kita sebagai seorang Ibu melalui hati atau kepekaan kita, bukan dari analisa pikiran. Dan cara paling mudah untuk bisa merasakan hal tersebut adalah dengan membersamai anak secara lahir dan batin. Setelah kita bisa mengenali dan memahami perbedaan emosi dan strategi pada anak kita, maka kita pun bisa memberikan tanggapan yang sesuai agar apa kebutuhan anak terpenuhi dengan tepat. 

Ketika anak berperilaku yang menunjukan emosinya

Source:Canva 

Saat kita merasakan ada dorongan emosi anak, maka kita cukup fasilitasi secara pasif, yaitu dengan mendampingi anak kita. Kita berada di dekat anak sambil sediakan hati kita untuk ikut merasakan yang anak rasakan. 

Pastikan emosi anak tersalurkan secara tuntas, setelah itu baru kita ajak bicara anak. Misal “tadi kenapa, apa yang kamu rasakan, dll”. Kalau kita tidak fasilitasi secara pasif, misal malah kita marahin atau kita hibur anak kita, maka risikonya:

  1. Emosinya bisa berubah menjadi strategi
  2. Emosinya bisa tersumbat dan tersimpan menjadi sampah emosi yang akan menumpuk, yang suatu saat bisa meledak
  3. Anak jadi tidak belajar mengendalikan dirinya secara mandiri saat ia emosi, karena tidak kesempatan bersentuhan dan mengenal pusat rasa dalam dirinya.

Saat anak menunjukan strategi

Berbeda dengan perilaku anak karena emosi, saat anak berperilaku sebagai suatu strategi untuk mendapatkan keinginannya. Yang harus kita lakukan adalah cuekin lahir batin. Anggap perilakunya tidak terjadi, karena jika kita tegur/ nasehati/marahi/dihibur, maka anak tidak akan peduli semua itu. Justru anak merasa bahwa ia direspon dan respon adalah bentuk perhatian,. Sehingga anak akan mengulang-ulang karena terbukti itu efektif baginya untuk mendapat perhatian. 

Yang penting untuk diingat, kita pantang galau/ kepikiran/terganggu/baper saat menghadapi strategi anak. Sebab anak bisa merasakan celah untuk menang sehingga ia makin menguji kita dengan perilaku yang lebih ekstrim. 

Lalu, setelahnya kita biarkan dan anak terdiam, kita tidak perlu membahas kejadian  tersebut baik ke anak atau ke siapapun. Seperti “itu lho yah, tadi adik mukul” sementara anak kita melihat kita membahas kejadian tadi, sehingga ia merasa “ah, ternyata tadi hanya pura-pura cuek, sebetulnya masih perhatian karena masih dibahas lagi”. Sehingga suatu saat anak akan mengulang strateginya lagi. 

Baca juga: 7 Pedoman Seorang Ibu Minim Stres

Terkadang, ada beberapa anak yang berperilaku secara berlebihan dengan perilaku menyakiti dirinya sendiri atau bahkan orang lain. Maka, tanggapan kita pun harus berbeda dengan cara di atas.

Jika perilaku berbahaya tersebut merupakan luapan emosi, maka yang pertama dilakukan adalah amankan pelaku. Lakukan tindakan untuk menghentikan perilaku anak yang berbahaya (yang merusak atau menyakiti diri atau orang lain). Misal dengan kita dekap erat anak kita atau dengan kita arahkan anak untuk berada di pojokan atau sudut ruangan. Dampingi anak dan jangan ada upaya untuk menyumbat emosinya. 

Setelah mereda dan emosinya tuntas, baru kita ajak bicara, misal “tadi kamu bunda dekap erat/ taruh pojokan bukan karena marahmu, tapi caramu marah yang bunda tidak setuju, boleh marah tapi caranya cukup kepalkan tangan saja ya..(atau hal lainnya yang sekiranya aman)”.

Akan tetapi, jika perilaku anak tadi adalah suatu strategi, maka setelah kita amankan anak, kita tidak perlu tanggapi dengan berbagai perhatian. Cukup diamkan anak, cuekin lahir dan batin, anggap tidak ada kejadian apa-apa.

Masa anak nangis kita cuekin sih?

Jika tangisan atau amarahnya sebagai sebuah strategi, kita pun harus menanggapinya dengan strategi. Dampingi anak, biarkan anak tenang terlebih dahulu, setelah itu baru kita berikan alternatif pilihan untuknya.

Baca juga: Efektifkah Pemberian Reward & Punishment?

Yang terpenting dari semua itu adalah konsistensi kita sebagai orang tua dalam menanggapi perilaku anak dengan tepat. Kuncinya ada pada diri kita sendiri seberapa jauh kita memahami anak kita, karena kita sendiri yang bisa membedakan perilaku anak kita itu merupakan strategi ataukah emosi. Cara terbaik untuk mengetahui hal tersebut dengan sepenuhnya hadir secara lahir dan batin saat membersamai anak. 


Semangat membersamai anak kita ya Moms...


9 Metode Pengajaran untuk Menumbuhkan Kemandirian Anak

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم 
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه



Apa kabar Moms yang hebat?

Senang rasanya bisa kembali menulis mengenai pengasuhan atau pendidikan anak. Pada tulisan sebelumnya, kita sudah membahas tentang seluk beluk homeschooling yaa...

Adakah yang sudah mempraktikan?

Atau ada yang terlewat belum membaca artikel sebelumya? Yuk, bisa langsung mampir dulu kesini ya.. 

👉Mengenal lebih dalam tentang Homeschooling secara Islami

👉 4 Hal yang Perlu Dipahami dalam Menjalani Homeschooling


Nah, tulisan kali ini kita akan membahas mengenai kemandirian anak.

"Duh..anak ku masih kecil sih, ntar ajalaah kalau anak sudah mulai sekolah…"

Jangan salah ya Moms, kemandirian itu bisa kita ajarkan ke anak sejak mereka masih kecil lho. Dengan pengenalan dan latihan sedini mungkin, maka akan lebih mudah menjadi suatu kebiasaan yang akan tertanam hingga anak sudah besar kelak. Apalagi dalam masa new normal seperti saat ini, dimana anak harus menjalankan Pengajaran Jarak jauh (PJJ) yang menuntut kemandirian anak dalam belajar. Jadi, yuk jangan tunda-tunda lagi, kita bisa mulai melatih kemandirian anak dalam belajar mulai sekarang.

Lalu bagaimana sih caranya?

Kita renungkan dulu ayat berikut yaa..


"Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar."

Ayat ini menjadi pengingat bagi kita betapa pentingnya kita mempersiapkan masa depan anak keturunan kita, baik secara materi maupun dalam kematangan jiwa sehingga anak mampu mandiri. 

Sejak jaman para Nabi pun anak-anak sudah dilatih kemandiriannya sejak dini. Berikut hal-hal yang bisa menjembatani agar anak bisa berkembang secara mandiri di jaman Rasulullah.

1. Teladan dalam mengajarkan iman dan akhlak

Keimanan merupakan keyakinan sepenuhnya yang diikat atau dikokohkan dengan kuat dalam hati, diikrarkan dalam lisan, dan diwujudkan dalam tindakan. Sebagai umat muslim, keimanan atau ketauhidan adalah hal yang paling utama untuk kita ajarkan ke anak yang telah terangkum dalam rukun iman.

Memberikan teladan adalah sebaik-baiknya cara mengajarkan ke anak, dan sebaik-baiknya teladan adalah Rasulullah Shallallahu'alayhi wa salam.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, “Hendaknya kamu bersikap lemah lembut, kasih sayang, dan hindarilah sikap keras dan keji.” (HR. Bukhari)

Rasulullah selalu berlemah lembut kepada siapa pun, terlebih kepada anak-anak. Jadi sudah seharusnya kita pun berusaha untuk selalu bersikap lembut kepada anak-anak kita. Dengan begitu kita pun sekaligus sedang memberikan teladan yang baik bagi anak, karena teladan yang baik akan mengenai hati sehingga anak akan mengikutinya.


2. Mendidik dengan nasihat yang singkat dan pokok

Memberikan nasihat yang sederhana secara konsisten baik dari lisan dan maknanya, sangatlah berpengaruh secara kuat terhadap moral anak. Terlebih dalam hal-hal yang pokok, gunakan kalimat perintah secara langsung agar anak lebih paham. Baiknya, setiap perintah yang kita berikan ke anak diiringi dengan penjelasan yang memberikan landasan keyakinan.

Kita juga bisa menyampaikan nasihat melalui cerita atau kisah singkat untuk anak yang lebih kecil, karena konsentrasinya masih singkat. Dalam keseharian, kita bisa sampaikan secara langsung saat anak rileks bermain atau saat jeda membacakan buku ke anak menjelang tidur. 

Saat anak tiba-tiba menanyakan sesuatu, itulah kesempatan emas kita untuk menanamkan nilai sesuatu yang akan kita ajarkan ke anak. Jadi, jangan sia-siakan waktu membersamai anak kita dengan tidak mempersiapkan nilai-nilai apa saja yang akan kita tanamkan ke anak kita.


3. Al-quran sebagai media dan bahan ajar yang utama

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa Al-quran adalah pedoman hidup manusia dan sumber pengetahuan. 

(Source:Canva)


يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

"Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman." (QS. Yunus : 57)

Mengajari anak dengan Al-quran adalah pondasi awal agar anak tumbuh sesuai dengan fitrahnya, yaitu beriman dan bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Selain itu, segala hal atau ilmu yang dipelajari bisa kita temukan dalam Al-quran. Sebagai contoh, proses penciptaan manusia yang mungkin mulai anak tanyakan atau mereka pelajari di sekolah, kita bisa mengajak anak untuk mencari pedomannya dalam Al-quran pada Surah Al-Ḥajj ayat 5 berikut

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ ۚ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ۖ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّىٰ وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَىٰ أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا ۚ وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ

"Wahai manusia! Jika kamu meragukan (hari) Kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna agar Kami jelaskan kepada kamu; dan Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak Kami sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai kepada usia dewasa, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dikembalikan sampai usia sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air (hujan) di atasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis pasangan tetumbuhan yang indah."

Jadi, kita pun sebagai orang tua hendaknya terus upgrade ilmu kita, terutama dalam mempelajari Al-quran. Sehingga kita bisa terus memberikan rujukan-rujukan yang semestinya dari Al-quran, dalam menjawab atau menjelaskan segala sesuatu yang anak tanyakan dan seharusnya mereka ketahui.


4. Rihlah dan tadabur (perenungan terhadap alam dan penciptaan Allah)

(Source:Canva)

Rihlah merupakan suatu kegiatan perjalanan atau bepergian untuk mentadaburi alam dan ciptaan Allah. Rihlah menjadi salah satu cara menanamkan keimanan kepada anak dengan cara mengajak anak untuk merenungi dan memikirkan penciptaan Allah. Saat bepergian kita bisa mengajarkan banyak hal ke anak dengan cara mengajak anak berpikir mengenai apa saja yang mereka lihat. Cara ini juga bisa membangun kemampuan berpikir anak untuk dijadikan modal belajar ke depan.

Bimbingan ini bisa dimulai sejak masa tamzis, dimana anak sudah bisa membedakan hal yang baik dan buruk. Secara bertahap sedikit demi sedikit, sesuatu yang bisa diindra hingga hal-hal yang rasional, dari yang sederhana ke hal yang kompleks, hingga kita bisa menanamkan keimanan dengan argumentasi yang memuaskan. 

Tugas kita sebagai orangtua adalah mengajak anak untuk merenungi dan berpikir tentang proses-proses kejadian yang terjadi di muka bumi ini, bukanlah serta merta terjadi tetapi Allah lah yang menciptakan dan mengatur segala sesuatu. Sehingga anak akan benar-benar memahami konsep kehidupan ini. Rihlah menjadi salah satu kegiatan belajar yang paling digemari, bahkan bagi orangtua sekalipun. Tapi, rihlah tidak perlu bepergian jauh tetapi cukup keluar dari rumah dan melihat keadaan sekitar dimana banyak hal yang bisa kita ajarkan ke anak, seperti daun yang berguguran, melihat serangga dan banyak hal lainnya. 


5. Menelaah buku yang bermanfaat

(Source:Canva)

Alhamdulillah ya sekarang sudah banyak sekali jenis buku bacaan anak, baik dengan pertimbangan jenis bahan buku, rentang usia, dan juga isi dari buku itu sendiri. Penggunaan buku menjadi alat bantu yang sangat cocok untuk media belajar anak kita. Berikut ini hal-hal yang perlu kita perhatikan dalam menggunakan buku sebagai media belajar anak.

  • Memilihkan cerita yang disesuaikan dengan usia dan level kemampuan anak. Usia anak tidak bisa kita jadikan patokan khusus, karena mengingat perkembangan kemampuan tiap anak berbeda dengan rentang usia yang sama. 

• Sedikit demi sedikit kenalkan ke anak buku-buku yang berisi kisah para Nabi, Rasulullah dan para sahabah dan sahabiyah. Bersyukur ya, sekarang sudah banyak buku anak yang berisi kisah para Nabi dan akidah yang dikemas dalam cerita yang menarik.

• Jadikan buku sebagai media untuk memberikan wawasan ke anak. Hal ini sangat membatu para orangtua yang merasa ilmunya belum mumpuni, sehingga bisa memilih buku yang terstuktur dan komplit. Dengan demikan kita pun bisa mempelajarinya sekaligus saat membacakan ke anak kita.

• Melalui buku kita bisa menasehati anak tentang kebiasaan baik dalam sehari-hari. Bacakan buku secara berulang-ulang dan konsisten dalam waktu minimal 21 kali agar apa yang disampaikan dalam cerita tersebut bisa masuk ke memori anak kita sehingga anak pun bisa mengikuti atau melakukan kebiasaan baik yang ingin kita tanamkan.

Kuncinya, literasi bukanlah sekedar hanya membaca, tapi kemampuan memahami apa yang disampaikan dalam buku tersebut. Sehingga kelak anak pun bisa menganalisa, mengkaji dan mengajarkannya ke orang lain.


6. Pembiasaan yang diiringi dengan pemaknaan

Sebagaimana firman Allah dalam Surah Ar-Rum : 30


فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ


"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,"

Imam Ghazali menyebutkan bahwa "anak adalah amanah bagi orangtuanya, hatinya yang suci bagaikan substansi yang berharga, jika dibiasakan dengan kebaikan maka akan bahagia dunia akhirat".

Setelah deretan cara sebelumnya, kita lanjutkan dengan membiasakan yang diiringi dengan teori atau pemaknaan dari apa yang kita berikan. Agar pembiasaan yang telah kita lakukan sedari kecil bisa bertahan sampai anak dewasa. Sebagai contoh, mengajarkan anak shalat beserta dengan hukum atau ilmu fiqihnya. Tidak hanya dari sisi praktek mengajak anak shalat berjamaah tepat waktu, tetapi juga diikuti dengan pemaknaan fadilah shalat. Jadi fisiknya akan terbiasa dan maknanya pun akan terbangun juga.


7. Mendidik dengan memilihkan teman yang baik

Mengenai hal ini mungkin masih banyak pro dan kontra. Dimana kita tidak bisa menjaga sepenuhnya lingkungan atau pergaulan anak yang 100% "steril". Terlebih ketika anak semakin bertambah usia, menjadi seorang remaja yang kita tidak bisa kita pantau 24jam. Jadi, alangkah baiknya sejak dini sudah kita ajarkan bagaimana konsep bergaul.

Mulai dengan menyediakan lingkungan yang baik untuk anak, terutama untuk anak dibawah usia tamzis, dimana anak belum bisa membedakan hal yang baik dan buruk. Ajarkan juga berbagai adab dalam berteman, baik dengan sesama muslim maupun yang tidak. Kita bisa juga mengajarkan hak dalam berteman, seperti mengucap salam, mengunjungi teman saat sakit, memberi hadiah, dll.

Jika sedari dini kita sudah menyediakan lingkungan yg baik dan mengajarkan sesuai nilai islam, maka ketika anak semakin besar dia akan bisa memilih teman yang baik untuknya dan tidak akan mudah terpengaruh dengan pergaulan yang salah. 


8. Pelibatan, Penugasan, Magang

Semakin bertambah usia anak, maka kita bisa mulai libatkan anak dalam berbagai tanggung jawab. Sebagaimana dicontohkan dalam Surah Al Baqarah ayat 127

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), "Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

Dari ayat tersebut, bisa kita ketahui bahwa Ismail kecil sudah diberi kepercayaan oleh Nabi ibrahim untuk ikut terlibat dalam melakukan sesuatu yang besar, yaitu meninggikan Baitullah. 

Mari kita mulai libatkan anak dalam tugas keseharian kita, janganlah menganggap anak kita tidak mampu mengerjakannya jika kita pun tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk mencoba. Dengan demikian, anak akan tumbuh dengan memahami apa itu tanggung jawab. 


9. Memfasilitasi Minat Belajar Anak di bidang-bidang yang bermanfaat

Di jaman Rasulullah anak usia belasan tahun sudah difasilitasi untuk belajar pedang (untuk bekal berperang). Di era saat ini, anak bisa dibekali dengan belajar bela diri atau berperang di bidang lain seperti perlombaan diberbagai bidang keahlian yang bisa kita sesuaikan dengan minat belajar anak. Jika anak difasilitasi dalam belajar maka rasa keingintahuan anak bisa terpenuhi dan semangat belajarnya pun akan terus terjaga hingga dewasa.


Yang tidak kalah penting dari ke semua cara di atas adalah kita berdoa kepada Allah untuk diberi penjagaan dan kemudahan dalam mendidik anak-anak kita hingga anak kita bisa menjadi anak yang mandiri, matang secara lahir dan batinnya. Sehingga kelak bisa menjadi generasi yang membanggakan baik di dunia maupun di akhirat..aamiin


Akhir kata, wassalam.

Manajemen Pengelolaan Homeschooling


 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه



Mengingat sistem pengajaran saat ini yang masih menjalankan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ), dikarenakan pandemi yang masih belum berakhir. Adakah disini yang sudah mulai ingin beralih ke homeschooling?
Bahkan ada wacana yang menyebutkan bahwa PJJ akan berlangsung hingga bulan Januari tahun depan. Sungguh miris rasanya, terlebih banyak pro dan kontra mengenai sistem pengajaran daring selama pandemi ini. Banyak kendala dan kesulitan bagi siswa maupun orang tua dalam mendampingi anaknya, mulai dari kurangnya fasilitas yang dimiliki, seperti gawai dan koneksi internet yan membutuhkan banyak kuota sehingga mereka harus merogoh kocek lebih banyak dalam situasi yang sedang sulit seperti ini.

Sehingga tak sedikit yang mulai melirik metode homeschooling untuk Pendidikan anak mereka. Disini saya tidak sedang mempromosikan homeschooling dari pihak manapun yaa, sebagai pelaku homeschooling pun tidak belum. Hanya sedang mempelajari dan ingin berbagi sedikit seluk beluk pengajaran homeschooling yang siapa tau bisa memberikan gambaran yang lebih untuk para pembaca disini.
 

Belum lama ini sengaja meluangkan waktu, tenaga dan biaya untuk mempelajari ilmu dalam mendidik anak dalam Kelas Online Bengkel Diri Siap Mendidik, yang sayang banget kalau apa yang saya dapatkan saya simpan sendiri dalam ingatan dan coretan tulisan saja. Nah, salah satu pengisi yang memang sudah expert sekaligus pelaku dari homeschooling adalah Ibu Karina Hakman atau lebih akrab disapa Teh Karin.

Jadi langsung aja yaa, kita mulai dari persiapan awal terlebih dahulu, khususnya untuk pemula (sambil tunjuk diri sendiri).

Manajemen Pengelolaan Homeschooling untuk Pemula


Teh Karin sendiri mengingatkan di awal pertemuan, bahwa panduan ini bukanlah suatu hal yang mutlak. Jadi, bukan suatu patokan yang harus dilakukan sama persis, hanya sebagai guideline agar kita tidak bingung dan bisa disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan diri kita masing-masing. Langsung aja ya...

Checklist Pra Homeschooling

  • Ruang ramah anak
Source:freepik

Usahakan siapkan ruang yang terpisah antara ruangan tenang untuk membaca dan ruang bermain. Jika memiliki rumah yang luas, sediakan ruang salat tersendiri di dalam rumah. Selain itu berikan fasilitas yang memudahkan anak mengakses sendiri apa-apa yang ia perlukan agar anak menjadi mandiri dan punya gagasan sendiri.
  • Rough Trial Schedule Ready (Jadwal Kasar)

Atur jadwal agar tidak bertabrakan dengan waktu salat, waktu orang tua untuk melakukan pekerjaannya, dan sesuaikan juga dengan jadwal anak kita lainnya (jika anak lebih dari satu).
  • Rough Short Term Curriculum Ready
Tidak perlu langsung membuat kurikulum untuk 1 tahun, tetapi kita bisa mulai buat secara garis besar terlebih dahulu untuk skala mingguan. 
  • Bahan Ajar
Source:freepik

Persiapkan terlebih dahulu bahan ajar yang akan digunakan. Baik berupa buku, catatan, printable, alat peraga, permainan edukasi, atau bahkan dengan DIY kreativitas sesuai dengan kebutuhan atau passion.
Yang butuh ide-ide DIY untuk toddler bisa langsung mampir disini yaa..

  • Pengajar dan support system
Kita sebagai orang tua bisa menjadi pengajar jika dirasa berkompeten dan mumpuni dalam mengajar anak kita. Tapi kita bisa juga menggunakan pengajar dari luar untuk materi-materi tertentu atau bahkan secara keseluruhan. Kelola juga adakah yang bisa kita minta bantuannya dalam kegiatan mengajar dirumah, baik itu suami, orang tua, saudara si anak, atau bahkan ART untuk pendelegasian tugas domestik.

Pengelolaan teknis harian untuk beberapa pekan pertama

1. Merekam perkembangan belajar anak
  • Observasi pelaksanaan homeschooling dengan optimal dan lapang dada
    Cari tau gaya belajar dan modaliti anak dalam belajar agar kita lebih mudah dalam memilih metode pengajaran yang tepat untuknya.
  • Fokus pada progres belajar bukan pada hasil
    Terkadang kita lupa diri dan terlalu fokus pada hasil yang ingin anak kita capai, padahal ada yang lebih penting dari sebuah hasil yaitu proses. Kita upayakan semaksimal mungkin segala usaha dan biarkan anak melewati setiap proses tersebut dan kita amati bagaimana progresnya, urusan hasil kita serahkan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.
  • Catat hal-hal yang penting (terutama untuk ibu yang pelupa)
    Banyaknya pekerjaan domestik atau pikiran yang harus dipikul seorang Ibu, bisa membuat kita menjadi sering lupa. Lebih baik buat catatan mengenai kurang atau lebihnya proses pengajaran kita, agar lebih mudah dalam menyusun kurikulum periode berikutnya.
  • Evaluasi dan follow up sesuai kebutuhan
    Dari catatan yang kita buat, bisa kita jadikan bahan evaluasi yang kelak akan menjadi guideline dalam menentukan metode atau kurikulum pengajaran yang lebih pas.
2. Merespon kebutuhan belajar anak
  • Saat anak memanggil atau menanyakan sesuatu, hendaknya kita tanggapi secepatnya. Jangan sepelekan anak saat berbicara atau memanggil kita, segera jawab dan perhatikan anak kita agar anak merasa diperhatikan dan keingintahuannya bisa terpenuhi.
  • Mengoptimalkan sesi tanya jawab dan waktu anak meminta "belajar"
    Terkadang ada moment tertentu dimana anak yang dengan sendirinya meminta untuk belajar sesuatu, gunakan kesempatan tersebut dan jangan sia-siakan dengan menjawab "nanti". Hal ini akan memutus semangat belajarnya, begitu pula saat anak dengan polos melontarkan berbagai pertanyaan kepada kita usahakan jawab dengan penuh perhatian dan penuh makna. Dari sesi tanya jawab yang spontan inilah kita dapat menanamkan atau mengajarkan banyak hal ke anak.
  • Melatih on off kerja karena interupsi dari anak
    Tidak hanya untuk ibu pekerja kantoran atau yang bekerja online di rumah, sebagai full time mom yang memiliki tugas domestik pun hendaknya membiasakan diri untuk bisa berhenti sejenak saat anak membutuhkan kita, dan bisa melanjutkan kembali saat anak sudah terpenuhi kebutuhannya.
    Bertahap mengajarkan anak tentang tanggung jawab orangtua selain mengaja.

Pengelolaan teknis berkala

  1. Bertahap dalam menerapkan rutinitas yang ingin dibangun jangan langsung semua diajarkan 
  2. Bertahap mengajarkan anak tentang tanggung jawab terhadap kelas belajarnya seiring dengan bertambahnya usia sang anak, seperti membereskan mainan sendiri, membuat jadwal sendir.
  3. Bertahap mengajarkan anak belajar secara mandiri
    Latih dengan kebiasaan kecil terlebih dahulu dan lakukan secara konsisten
  4. Monitoring dan evaluasi pekanan
    Pentingnya membuat evaluasi atau catatan pribadi sebagai track record yang bisa kita jadikan untuk bahan belajar kita, karena seringnya ada yang terlupa.
  5. Prepare and reprepare, dari hasil evaluasi untuk pekan selanjutnya.
    Kuncinya konsisten dan istiqomah karena sangat berbeda hasil dan perubahannya dalam harian antara prepare dengan tidak.

Antara homeschooling dan aktivitas orang tua

Hal ini yang paling membuat para ibu merasa tidak belum sanggup melakukan homeschooling. Banyak yang merasa bahwa pekerjaan domestik saja tiada akhir, bagaimana kalau ditambah dengan homeschooling?
Tenang ya Moms, semua pasti ada solusinya...yang perlu kita lakukan adalah:
  • Mengintegrasikan materi ajar anak dalam aktivitas orang tua
    Salah satu kelebihan dari homeschooling adlah kita tidak terpatuk waktu dan tidak melulu belajar harus duduk manis dimeja belajar. Sembari berkegiatan pun kita bisa mengajarkan banyak hal ke anak kita. Sebagai contoh, saat kita memasak dan anak ingin ikut terlibat di dalamnya, kita bisa mengajarkan tauhid bahwa Allah yang menciptakan ikan atau ayam yang akan kita makan. Lalu juga mengajarkan jenis-jenis bahan makanan (umbi, sayur, atau biji-bijian) dan juga kita bisa mengajarkannya berhitung.
  • Atur pekerjaan yang bisa dikerjakan sembari mendampingi anak dan pekerjaan yang memang memerlukan waktu sendiri
  • Pelajari siklus belajar anak Kapan belajar mandiri dan kapan perlu pendampingan
  • Bertahap mengajarkan anak tentang tanggung jawab orang tua
  • Delegasikan tugas kepada support system yang ada

Hectic schedule time management

Saat stress melanda, karena banyaknya pekerjaan atau pikiran yang sedang kalut entah yang disebabkan satu atau lain hal, baiknya lakukan hal-hal dibawah ini yaa..
  • Berhenti sejenak lepaskan semua schedule, ambil wudhu dan salat 2 rakaat agar pikiran kembali tenang
  • Cek kembali to do list kita dan anak-anak 
  • Pilih dan tentukan yang prioritas terlebih dahulu
  • Lakukan apa yang bisa dilakukan saat itu juga
  • Pada malam harinya, susun ulang jadwal untuk besok 
  • Bersyukur, bersabar dan tawakal

Pada dasarnya, apapun yang kita kerjakan pasti akan ada tantangan dan cobaan dalam menjalaninya, terlebih lagi dalam mendidik anak yang memang sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kita sebagai orangtua.
Luruskan niat, terus bersemangat dan latih teris kesabaran kita. Semoga Allah senantiasa menggenggam hati kita agar selalu ingat dan istiqomah di jalanNya..
Aamiin.