4 Hal yang Perlu Dipahami dalam Menjalani Homeschooling

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم 

 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه




Apa kabar ni sobat onlineku?
Masih ingin membahas masalah homeschooling nih, ternyata banyak juga yang tertarik dan ingin tahu lebih dalam mengenai homeschooling. Tapi ada juga yang masih bingung mengenai pembahasan legalitas atau cara untuk mendapatkan ijazah yang sebetulnya sudah sedikit saya bahas di tulisan sebelumnya 

Next, insya Allah akan kita bahas lebih detail dalam tulisan tersendiri ya mengenai legalitas homeschooling ini. Karena tulisan kali ini akan membahas masalah fundamental terlebih dahulu, mengenai persiapan homeschooling. Jadi setelah sebelumnya kita membahas masalah teknisnya nih, sekarang kita akan bahas apa-apa saja yang perlu kita pahami untuk persiapan mental kita sebagai orang tua dalam menjalani homeschooling.
Ga perlu berlama-lama lagi, langsung aja kita mulai ya..

Edited by Canva

1. PRINSIP-PRINSIP MEMBERSAMAI ANAK

  • Bersyukur atas anak dengan segala keunikannya, beserta segala nikmat yang Allah SWT karuniakan.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta'ala dalam QS. Luqman:12

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, "Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji."

  • Memafkan anak atas segala kekurangan dan kegagalannya.
QS. At Taghabun:14

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Jika kita sebagai orang tua tidak berhati-hati maka anak kita bisa menjadi musuh. Sebaliknya, jika kita berhati-hati maka anak bisa jadi penolong kita, baik penolong dalam jalan Allah, penolong dalam kebaikan dan penolong dalam masa sulit. 

Maka kita pun harus sering memaafkan anak kita atas hal-hal yang tidak berkenan di hati kita. Jika kita belum memaafkan kesalahan anak tang telah lalu, maka akan mempengaruhi diri kita dalam bersikap dan kita pun menjadi mudah terpancing emosi sehingga mudah marah. 

Lebih baik lupakan, lepaskan masalah-masalah yang sudah lalu, jika mampu kita ikhlaskan dan ridha bahwa semua ini adalah ketetapan Allah. Apalagi jika anak kita masih kecil yang pada dasarnya memang belum paham, maka kita tidak perlu mmarah-marahatau berteriak kepada mereka.


  • Lemah lembut dan sabar dalam mendengarkan
QS. Al Imran:159

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.

Jelas sekali dalam dalil tersebut, bagaimana kita harus bertutur kata. Gunakan kata-kata yang baik dengan isi dan mimik wajah yang baik, begitupun saat menasehati, menanyakan sesuatu, dan mendampingi anak. Sedangkan saat anak menyampaikan sesuatu (apapun itu) kita wajib sabar mendengarkan dengan penuh antusias. Hal ini berlaku untuk semua umur, tidak hanya pada anak kecil. Janganlah merasa anak sudah besar jadi kita tidak perlu lagi bermanis-manis dengan anak. Karena jika kita berlaku dan berhati kasar kepada mereka, maka lama-lama anak akan tidak nyaman dan semakin menjauhi kita sebagai orangtua. Sehingga mereka pun enggan untuk menceritakan hal apapun ke kita lagi karena takut dengan respon kita yang suka marah atau memberikan kata-kata yang tidak seharusnya.


2. MEMBANGUN HARAPAN PENDIDIKAN

Kita sebagai orang tua harus berani bercita-cita dan menaruh harapan setinggi mungkin akan masa depan anak kita, dengan cara:

  • Melambungkan harapan sebagaimana kita diciptakan
QS. Al-Baqarah : 30

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Aku hendak menjadikan khalifah di bumi." Mereka berkata, "Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?" Dia berfirman, "Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Sangat jelas sekali dalam ayat tersebut tujuan Allah dalam menciptakan manusia yaitu sebagai khalifah (pemimpin) dimuka bumi. Yang mana manusia adalah abdi Allah Subhanahu wa ta'ala, maka sudah sepatutnya kita melakukan hal-hal yang Allah sukai dan meninggalkan yang Allah larang. 

Dalam ayat selanjutnya QS Al Mulk:2

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun,

Nah, bagaimana kontribusi kita atau anak kita dalam kebermanfaatan di atas bumi. Jadi kita harus punya harapan atau cita-cita yang akan membantu kita dalam menyusun kurikulum keluarga. Jangan biarkan ketidakmungkinan atau keterbatasan diri kita sebagai orang tua memutus harapan tinggi kita kepada anak, tentunya di jalan Allah. Alangkah baiknya hal ini  disiapkan sedini mungkin, karena proses penanaman dalam diri membutuhkan waktu yang tidak singkat dan harus dikenalkan sejak anak masih kecil.

QS. Al Ghafir:60

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk ke Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina."

Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang memberikan kita kesempatan untuk berdoa dan berharap kepadaNya. Jadi mengapa kita justru membatasi harapan kita kepada anak-anak kita? 

Keterbatasan kita sebagai orang tua tidak bisa dijadikan alasan untuk meredam tingginya cita-cita anak kita. Tak perlu lah merasa minder atas kekurangan atau keterbatasan yang kita miliki. Kita harus yakin atas kuasa dan kebesaran Allah, dan itulah yang harusnya kita jadikan tolak ukur. Sepenuhnya kita berharap atas kekuatan dan kekuasaan Allah, karena jika kita berharap kepada manusia (dalam hal ini mungkin anak kita), justru kita bisa saja merasa kecewa.

La haula walla kuwata illa billah. Yakinlah Allah akan mengabulkan doa-doa kita.

 

3. MENTAL TRIAL & LEARN

Jika biasanya kita mendengar kata Trial and Eror, tidak untuk homeschooling. Karena untuk menjalankan homeschooling sangat dibutuhkan mental baja yang kuat untuk Trial and Learn

Wah gimana tuh?

Jadi kita tidak perlu takut untuk terus berusaha dan mencoba, jika ada sesuatu yang kurang pas, hendaknya kita mempelajari dimana letak kesalahannya dan mencoba mencari jalan keluar untuk langkah selanjutnya. Tidak perlu terlalu fokus akan hasil yang kita capai, tapi pelajari setiap proses yang kita lalui. Karena setiap usaha akan bernilai ibadah di mata Allah dan ada hikmah yang bisa ambil. 

Mungkin praktisnya kita bisa saja mencontoh suatu kurikurum yang sudah tervalidasi, tapi tetap saja akan tantangan yang akan kita lewati. Maka dari itu, kita harus siapkan mental kita untuk menghadapinya. Jadi, teruslah mencoba dan melangkah kedepan, jangan pernah takut gagal, dengan cara:


  • Mulai dari yang kita bisa dan benar, sesuaikan dengan kapasitas kita

Jangan membandingkan diri kita dengan orang lain, karena setiap orang punya perjuangan masing-masing. Jadi mulai saja sedikit demi sedikit tetapi yang penting harus konsisten. Jangan menyulitkan diri sendiri karena sesungguhnya Allah itu selalu memudahkan umatnya.

QS. Al-Baqarah : 233

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ ۚ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ ۚ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَٰلِكَ ۗ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا ۗ وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا آتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya. Ahli waris pun (berkewajiban) seperti itu pula. Apabila keduanya ingin menyapih dengan persetujuan dan permusyawaratan antara keduanya, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin menyusukan anakmu kepada orang lain, maka tidak ada dosa bagimu memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Jika kita mempunyai keterbatasan dalam suatu hal, maka carilah alternatif lain yang bisa kita kerjakan terlebih dahulu. Dalam menyusun kurikulum harian misalnya, lakukan dari yang bisa dilakukan, sembari terus mengupgrade diri. Dimulai dengan kegiatan yang kita atau anak kita sukai, seperti menemani anak bermain, lama-kelamaan dalam sesi bermain itu kita bisa menyisipkan nilai dari suatu yang kita ingin berikan.


  • Memahami tugas kita untuk giat berusaha dan tidak mudah putus asa

Fokus pada usaha jangan pada hasil. Karena Allah melihat usaha kita bukan pada hasil. Jika di perjalanan terjadi kegagalan, jangan putus asa dan merasa sia-sia. Karena setiap usaha yang kita lakukan akan bernilai pahala, saat , senantiasa berkembang dan terus maju. Dan harus dilakukan evaluasi secara rutin agar tau apa yang harus diperbaiki.

QS. At Taubah :105

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan katakanlah, "Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan."


  • Segera bangkit, bertaubat, dan berdoa setelah gagal atau berbuat salah.

QS. Al Imran:135

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.

Saat kita kelolosan melakukan hal yang tidak baik, entah marah, menghardik, atau cuek ke anak. Segeralah istighfar, taubat dan segera bangkit kembali. Meminta ampun dan mohon kekuatan untuk bisa bangkit dan semakin memperbaiki diri.

 

4. KOMITMEN WAKTU, TENAGA, PIKIRAN

Yang paling mahal dalam homeschooling bukanlah tenaga pengajar, bukanlah buku-buku atau alat-alat yang digunakan. Tetapi yang paling mahal adalah komitmen kita dalam menjalankannya.

Komitmen dengan diri sendiri, untuk mengkerahkan waktu yang lebih banyak untuk homeschooling daripada saat anak bersekolah formal. Ketika kita mengharapkan hasil yang lebih baik dan optimal, pasti akan dibutuhkan waktu, tenaga dan pikiran yang lebih banyak pula. Tapi jangan sedih, karena semua itu tentunya akan bertambah banyak pula pahala yang akan kita dapatkan. Insya Allah 😊

Lalu, ada juga kelebihan dari homeschooling adalah tidak dibatasi waktu, baik dalam bereksplorasi, latihan, pertanyaan, dan memahami keingintahuan yang anak miliki. Jadi, jangan pernah memadamkan semangat belajar anak kita ya moms. Saat anak menanyakan sesuatu hendaknya segera kita jawab dan tanggapi anak kita. Hadirlah baik jiwa dan hati kita saat membersamainya. Jika kita hanya menemaninya saat dirumah tanpa ingin tau apa yang sedang anak kita kerjakan, dan justru kita sibuk dengan gawai kita sendiri tentulah kita tidak akan memahami anak kita. Hal ini akan membuat kita kesulitan sendiri dalam menentukan kurikulum yang tepat untuk anak-anak kita.

Baca juga: 13 Kesalahan Komunikasi Orang Tua ke Anak

 

Gimana nih moms, merasa lega atau justru merasa berat? Semua itu tergantung perspektif kita masing-masing. Intinya, sebagai orang tua kita harus mempunyai harapan yang tinggi untuk anak kita. Bukan untuk suatu pencapaian duniawi semata, tetapi sebagai wujud pertangungjawaban kita sebagai orang tua kelak dihari akhir.

Semoga kita semua diberi kemampuan dan keistiqomahan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala, untuk bisa memahami dan menjalani materi diatas, yang disampaikan oleh Teh Karin dalam kelas Bengkel Diri Siap Mendidik yang diprakarsai oleh Ummu Balqis.

Nantikan juga tulisan selanjutnya dalam materi mengenali psikologi anak ya.


Wassalam.








23 komentar:

  1. Kalau aku merasa sangat tertantang untuk kondisi skearang. Harus mulai membersamai anak-anak belajar bersama dirumah.

    BalasHapus
  2. Bagi keluarga yang sudah menerapkan HS untuk anak-anak kondisi pandemi ini tidak begitu berpengaruh ya mbak? Tapi bagi yang tidak, situasi kini pasti tidak mudah. Terimakasih atas tulisan bahasan HS ini, semoga banyak manfaatnya juga bagi keluarga yg ingin beralih ke HS.

    BalasHapus
  3. Wah, ikut Bengkel Diri, ya, Mbak... Kurikulumnya menarik ya, materinya juga bermanfaat sepertinya. Tapi belum kesampaian buat komit ikutannya. Jangan bosen berbagi ilmu di blog ini ya, Mbak....

    BalasHapus
  4. Komitmen ini sih yang menurutku penting, kedua pembagian waktu. Alhamdulillah sekarang ini saya sudah tidak kerja kantoran lagi jadi bisa mendampingi anak belajar di rumah.

    BalasHapus
  5. Masya Alloh pembahasannya lengkap mom.. bermanfaat bagi buat ibu2 yang masih galau untuk nyekolahin anaknya di sekolah formal atau homeschooling aja terutama masih pandemi begini..

    BalasHapus
  6. Wah terima kasiih infonya, memang paling aman untuk saat ini ya dirumah aja ya mom, semoga para orangtua selalu sedia mendampingi anak :)

    BalasHapus
  7. Eh iya ya mbak, setelah dipikir-pikir lagi, komitmen itu penting banget. By the way, thank you for sharing mbak, aku jadi dapet sedikit ilmu tentang homeschooling nih.

    BalasHapus
  8. Semangat terhadap tanggungjawab membangun keinginan belajar anak-anak. Bismillah

    BalasHapus
  9. Alhamdulillah dapet sharing ilmu lagi makasih mb

    BalasHapus
  10. Saya selalu menunggu sharing ttg iniii..terima kasih banyak mbaa sangat bermabfaat :)

    BalasHapus
  11. Orang tua yg biasanya memasrahkan anaknya ke sekolah umum pasti tertantang bgt ya mbak dgn kondisi "harus" homeschooling kyk skrg. Thanks for sharing ya mbak, apalagi disertai kutipan2 ayat Al-Qur'an, makin mengingatkan kita bhw sejatinya mendidik anak adl tugas org tua

    BalasHapus
  12. Masya Allah, memang kalau HS harus komitmen buat banyak hal ya mba.

    BalasHapus
  13. aku bayangin banget gimana struggle nya para ibu dan anak ini ketika semuanya kayaknya udah serba daring ya sekolahnya. Dan buat ga lelah buat trial and learn tadi itu

    BalasHapus
  14. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

  15. Masya Allah, mantap nih ilmu HS nya, save dulu 😀

    BalasHapus
  16. MasyaAllah ilmu yang sangat bermanfaat ini. Terimakasih sudah sharing mbaa

    BalasHapus
  17. barakallah buat orang tua yang memilih home schooling :)
    semoga berkah selalu, aku blm bisa membayangkan besok lusa kalau punya anak mau home schooling atau ku sekolahin,wkwkwk

    BalasHapus
  18. Wah banyak yg ku baru Tau mba.. selama ini g sampe kepikiran Hal2 yang dikau sebutin

    BalasHapus
  19. Jadi orang tua benar-benar harus banyak belajar ya mba. Ga boleh nyerah dengan keterbatasan yang ada

    BalasHapus
  20. Jazaakillahu khairan sharingnya Mba :)

    BalasHapus
  21. MasyaAllah... rangkumannya... 💞

    BalasHapus
  22. wah wah waaaah tips perpoint nya sungguh ngademin hati dan bikin makin yakin dg pilihan aku sbg ortu untuk anakk2u kelak <3

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung, dengan senang hati menerima masukan saran dan komentar Anda 😊🙏