Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Mengenali dan Mengoptimalkan Bakat Anak


Ajang pencarian bakat makin marak menghiasi layar kaca, baik di Indonesia maupun mancanegara. Mulai dari bakat bernyanyi, memainkan alat musik, melukis, menari, dan bakat secara fisik lainnya. Seringnya, yang menjadi juara adalah mereka yang memiliki suara indah nan merdu alias bakat menyanyi. Entah karena menyanyi yang dianggap paling menghibur atau karena paling banyak peminatnya. Mungkin begitulah dunia hiburan…

Terlepas dari hal di atas, sebenarnya bakat tidak hanya sebatas apa yang sering muncul atau sering menjadi tontonan banyak orang saja. Ada banyak jenis bakat yang Allah Subhanahu wa ta’ala titipkan kepada kita. Tinggal bagaimana kita bisa menggali potensi dan melatihnya dengan semaksimal mungkin agar bisa berguna bagi diri sendiri dan orang lain.

Mengingat bahwa bakat itu bisa menjadi modal penting untuk masa depan anak, Maka penting bagi kita untuk mencari tau dan mengenali potensi anak sedini mungkin. Tujuannya agar bakat yang dimiliki anak bisa semakin terasah dengan stimulasi yang tepat.

Tidak sedikit orang tua yang sudah mempersiapkan masa depan anak, mengatur dan merencanakan kesuksesan mereka hanya dengan pertimbangan sepihak tanpa memberi porsi bagaimana minat dan potensi anak. Padahal setiap individu mempunyai kemampuan dan keahlian masing-masing yang tidak bisa kita bandingkan atau kita paksakan dengan keinginan dan harapan masa lalu orang tua yang belum terwujud.

Jangan sampai, kelak anak kita menjalani kehidupan atau profesi yang bertentangan dengan minat dan bakatnya. Na'udzubillah min dzalik

 

Apa itu Bakat?

Bakat adalah kemampuan bawaan dari seseorang yang mana sebagai potensi yang masih perlu dikembangkan lebih lanjut dan dilatih agar mencapai impian yang ingin diwujudkan.

- C. Utami Munandar -

 

Bakat tidaklah hanya kemampuan dalam bentuk fisik yang bisa kasat mata saja, tapi bakat juga bisa dalam bentuk kemampuan dalam berpikir, menganalisis, dan masih banyak hal lainnya. Bakat itu yang mudah dilihat, mudah dikenali, dan konsisten muncul berulang-ulang. 

Jadi sebenarnya bakat itu bisa berkembang dan dikembangkan, dengan berbagai latihan atau faktor-faktor lain yang nanti akan kita bahas lebih dalam.


Jenis Bakat

1. Bakat Umum, merupakan potensi dasar yang dimiliki setiap individu pada umumnya. 
Seperti, kemampuan berbicara, kemampuan berpikir, kemampuan membaca dan menulis, serta kemampuan bergerak.
2. Bakat khusus, merupakan kemampuan atau potensi khusus yang dimiliki oleh seseorang yang belum tentu dimiliki oleh individu lain.
Bakat ini dibagi dalam 8 jenis kategori yang lebih dikenal dengan Multiple Inteligence yang telah saya kemas dalam gambar di bawah ini


mengenali-bakat-anak


Jadi, bakat anak tidak hanya sekadar jago menyanyi atau bermain peran saja ya Moms..

Tugas kita sebagai orang tua untuk bisa menggali dan mencari tau apa bakat anak kita agar potensi yang ada bisa semakin terasah dan dikembangkan. Lalu, bagaimana caranya?

Cara Mengenali Bakat Anak

Untuk menemukan apa bakat anak kita dibutuhkan waktu yang tidak singkat, karena perlu dilakukan pengamatan atau observasi yang bertahap. Jadi tidak satu dua hari bakat anak bisa terlihat. Biasanya mulai usia 2 atau 3 tahun anak akan menunjukkan kemampuan yang paling menonjol. 

                  Pentingnya Membedakan Emosi dan Strategi dalam Perilaku Anak 


Mengenali-bakat-anak

 

1. Temukan 4E dalam aktivitas produktif anak, seperti saat bermain. Apa saja itu 4E?

  • EASY, hal yang dengan mudah dilakukan oleh anak
  • ENJOY, sesuatu yang dilakukan anak dengan senang dan nyaman
  • EXCELLENT, apa yang dikerjakan anak hasilnya bagus
  • EARN, anak mampu menghasilkan baik karya maupun manfaat

2. Jangan batasi rasa ingin tahunya, beri kesempatan anak untuk bereksplorasi dalam kesehariannya

3. Amati & observasi sifat dan karakteristik anak yang sering muncul

4. Catat deskripsi apa adanya, tanpa ada labelling atau persepsi orang tua yang bisa jadi mengganggu observasi bakat anak yang sesungguhnya


 

2 Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Bakat Anak

Setelah mengetahui potensi dan kemampuan anak yang lebih dengan cara di atas, kita pun bisa mengembangkan atau mengasah bakat anak dari beberapa faktor berikut.

1. Faktor internal (inside out)

Dimana kita bisa mengembangkan yang sudah ada di dalam diri anak yang bisa kita amati dan sesuaikan berdasarkan:

  • Genetik, faktor yang diturunkan atau diwariskan dari orang tua atau keluarga.
  • Kepribadian, sifat atau karakter anak
  • Minat, rasa keinginan yang tinggi atau gairah akan suatu hal
  • Motivasi berprestasi
  • Keberanian mengambil resiko
  • Resiliensi, yaitu kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit. (Wikipedia)
Selama ini saya menganggap bahwa faktor genetik yang paling mempengaruhi bakat anak. Ternyata tidak berlaku pada anak saya, Azka. Sejak usia 2 tahun hingga saat ini berusia hampir 3 tahun, Azka sangat tidak antusias saat diajak bermain berhitung. Padahal kami orang tuanya memiliki basic akuntansi yang mana "bermain" angka menjadi nilai plus buat kami. 
Saya pun tidak memaksakan dan terus memberi peluang bakat yang lain, yang sesuai dengan kepribadian anak dan mencari tau apa minatnya. 
Ini pun hanya langkah awal dan bukanlah suatu penentuan. Dengan bertambah usia anak, lama kelamaan akan nampak potensi anak yang sesungguhnya dengan adanya faktor-faktor lain sebagai alat bantu untuk mengerucutkan berbagai pilihan bakat yang ada.

2. Faktor Eksternal (outside in)

Selain faktor internal, ada juga faktor dari luar yang sebenarnya belum ada di dalam diri anak, diantaranya:

  • Kesempatan dan pengalaman

Pastinya setiap bakat membutuhkan kesempatan dan pengalaman untuk mengasahnya, misalnya aktif dalam kegiatan atau lomba yang berhubungan dengan bakat anak.

  • Sarana dan pra sarana

Kita bisa memberikan sarana bagi bakat anak dengan mengikuti les atau klub dan menggunakan jasa tenaga profesional untuk melatihnya. Tentunya komunikasikan terlebih dahulu pada anak dan atur waktu yang tidak mengganggu waktu bermain dan istirahatnya.

  • Lingkungan

Lingkungan menjadi faktor pendukung bagi keterampilan dan bakat anak. Dimana lingkungan bisa menjadi motivator yang baik bagi seorang anak. Sebagai contoh, anak yang lahir dari keluarga seniman biasanya sang anak pun tidak jauh dari profesi orang tuanya karena terbiasa dengan lingkungan yang berkecimpung dalam bidang tersebut. Namun kembali lagi, ini hanya faktor pendukung untuk mengembangkan bakat anak.

  • Pola asuh orang tua

Yang paling penting tentunya pola pengasuhan orangtua yang memberikan kebebasan pada anak untuk menekuni bakatnya, tentunya dengan batasan yang mendukung perkembangan anak. Misalnya anak rutin latihan dan berkarya namun tetap memperhatikan kebutuhan anak untuk bermain, beristirahat, belajar dan melakukan aktivitas harian lainnya. 

Kata kata positif dari orang tua yang selalu menyemangati anak dan selalu ada saat anak bertanding atau menunjukkan bakatnya juga sangat dibutuhkan anak. Berikan juga kesempatan yang luas bagi anak untuk mengungkapkan perasaan dan pendapatnya tentang bakat yang dimilikinya.


Dengan demikian bakat anak akan semakin terbentuk dan anak pun akan sehat secara mental, karena tidak ada unsur paksaan dari kita. Sebagai bonus, anak akan merasa diterima, dipahami, disayangi, dan diakui sehingga rasa percaya dirinya akan semakin meningkat.

Demikianlah cara untuk mengenali atau menemukan bakat anak serta cara untuk mengoptimalkan bakat mereka. Yang paling penting untuk diingat sebagai orang tua, kita tidak berhak untuk memaksakan keinginan atau harapan kita kepada mereka. Tugas kita hanya memfasilitasi minat dan bakat anak agar kelak anak bisa mencapai sesuatu yang sesuai dengan passion mereka, tentunya dengan arahan dan bimbingan dari kita sebagai orang tua agar anak tetap berada di jalan yang diridhai dan diberkahi Allah Subhanahu wa ta'ala.

Aamiin ya Rabbal'alaamiin...


5 Ide Bermain DIY Simple bersama Anak di Rumah

Assalamualaikum,

Masa golden age atau 1000 hari pertama kehidupan merupakan masa krusial yang sayang jika kita lewatkan begitu saja tanpa adanya stimulasi dan bonding yang kuat antara orang tua dan anak. 

Bermain bersama anak merupakan salah satu cara mempererat ikatan dan juga bisa merangsang pertumbuhan dan perkembangan otak anak.  Jadi sudah seharusnya bermain dengan anak menjadi rutinitas wajib yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu oleh orang tua.

Sayangnya, masih ada sebagian orang tua yang hanya memberikan gawai atau mainan elektronik lain sebagai media bermain anak di rumah. Entah dengan dalih anak yang lebih tertarik dan “anteng” saat screentime atau memang orang tua yang tidak mau repot?

Padahal, banyak studi yang menyebutkan bahwa penggunaan gawai untuk anak usia dini akan berdampak negatif bagi kesehatannya. Selain gangguan fungsi penglihatan, penggunaan gawai yang terlalu sering juga dapat mengganggu pertumbuhan otak dan memperlambat perkembangan anak.

Oleh karena itu, kita sebagai orang tua haruslah bijak dalam memberikan screentime untuk anak-anak kita. Masih banyak aktivitas lain yang tidak kalah seru dan sekaligus bisa merangsang perkembangan fisik dan otak anak.

Kita bisa mengajak anak beraktivitas di luar rumah untuk melatih kekuatan fisik atau motorik kasar anak. Seperti bermain bola, berlari, memanjat, dan bersepeda. Selain itu, masih banyak juga aktivitas atau permainan lain yang memiliki banyak manfaat bagi tumbuh kembang si kecil lho..


DIY Permainan Anak di Rumah

Pasti sudah tidak asing lagi dengan kata DIY kan Moms?

DIY adalah singkatan dari "do it yourself" yang dalam Bahasa Indonesia berarti "lakukan sendiri". DIY permainan anak merupakan kegiatan membuat berbagai kreativitas tanpa bantuan ahli dengan menggunakan alat dan bahan yang sederhana. 

Selama lebih dari 1 tahun, membuat DIY permainan anak sudah menjadi kegiatan wajib bagi saya di rumah. Salah satu hal yang membuat saya bersemangat adalah ketika anak saya selalu menagih dan menanyakan DIY apa yang akan saya buat untuknya.

Hanya dengan barang-barang yang ada di rumah dan mencari ide dari berbagai sumber, kita juga bisa bermain dengan anak yang tidak kalah seru dengan permainanan di gawai kita lho Moms..

Nah, disini saya akan berbagi beberapa ide bermain bersama anak yang telah saya buat, yang insya Allah dapat mengasah kemampuan anak. Untuk kali ini kita akan membahas permainan DIY yang bertema transportasi.

Tema transportasi merupakan tema permainan yang paling diminati oleh anak-anak, khususnya anak laki-laki. Jadi tema transportasi ini adalah teknik yang tepat untuk para pemula yang sedang berusaha mengalihkan anaknya dari kecanduan gadget.

Ide Bermain Anak dengan Tema Transportasi


1. Melukis dengan cat air

Anak-anak akan tertarik bermain dengan pilihan warna yang menarik dan terdapat unsur air di dalamnya. 

Anak mana yang sih yang ga suka bermain di air?

Bahan yang dibutuhkan  : cat air dan kuas, styrofoam bekas, spidol untuk menggambar pada styrofoam Anda.

Penggunaan sterofoam akan memudahkan anak dalam mengaplikasikan cat air dalam gambar, karena tidak akan cepat meluber seperti menggunakan kertas biasa. 

Bermain art seperti ini memiliki banyak fungsi untuk anak lho.. Selain untuk kreativitas dan mengasah keterampilan motorik halus anak, art  juga dapat meningkatkan kemampuan psikososial anak, dimana anak dapat meluapkan emosi dan mengekspresikan diri.

Diharapkan dengan kegiatan ini anak-anak akan lebih mampu mengungkapkan dan mengekspresikan diri.



2. Membedakan jenis transportasi

Anak-anak biasanya sangat menyukai berbagai jenis dan bentuk transportasi. Disini kita bisa mengenalkan kepada anak berbagai bentuk kendaraan, baik kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Gunakan gambar yang colourfull agar anak lebih tertarik. Di sini saya menggunakan printable gambar dan siluetnya yang ditempel ke karton untuk jenis-jenis transportasi darat, air dan udara.

Lihat posting ini di Instagram

PEMBELAJARAN TRANSPORTASI Bahan: kertas gambar besar (saya: kalender bekas), gambar transportasi (saya: bisa dicetak di atas karton tempel supaya tebal), spidol untuk gambar. Sasaran: memperkenalkan jenis transportasi darat, laut dan udara. Gunakan siluet untuk lebih memahami di mana lokasinya. Azka hepi sekali kalau tema ini iya lho guys. Dimainkan, saya tidak ingin berhenti bahkan di malam hari, saya tidak ingin diajak tidur. Azka menindaklanjuti dari awal, ikut gunting dan paste lalu gambar-gambarnya juga begitu heboh saat saya selesai.Terima kasih nak karena telah mengajarimu banyak hal 💜 #azkabermain # Azka32months #idebermainanak #idebermain #friendbermainanak #SENSORYplay #invitationtoplay #montessoriathome #funlearning #funplay #edufun #eduplay

Sebuah pos dibagikan oleh Ivayana C Wichayanti (@ivacwicha) di


 3. Membedakan Arah 

Masih menggunakan bahan pada permainan sebelumnya, kita bisa membuat permainan lain yang tidak kalah manfaat.

Mengajarkan arah atas bawah, kanan kiri bisa kita ajarkan ke anak sejak 18bulan ketika anak sudah lancar bicara. Hal ini bertujuan untuk membiasakan anak untuk lebih aktif menggunakan tangan kanannya dan tangan kiri digunakan untuk membersihkan badan. Semakin besar anak, kita bisa mengajarkan arah dengan tanda panah seperti dibawah ini, agar saat belajat menulis huruf anak sudah paham konsep dasarnya.



 4. Menyusun Simple Puzzle

Nah kalau ini mainan super simple tapi anak sangat suka. Hanya bermodalkan kardus bekas dan pensil warna kita bisa membuat puzzle yang mudah disusun oleh anak karena hanya terdiri dari 4 bagian. 

Ps: abaikan gambar yang meletot sana sini ya, maklum dulu ga sekolah TK jadi ketrampilan kurang terasah.


Buat yang ga jago gambar seperti aku nih, bisa banget pakai gambar printable atau gambar yang dipunya di rumah, lalu tempel ke kardus bekas. 


Puzzle bernomer seperti ini bisa banget sekaligus untuk mengajarkan urutan angka ke anak.

 5. Tangram bentuk pesawat



Material: kertas HVS, kertas origami, lem, pulpen, doubletape, dan kardus untuk alas.
Permainan ini bisa untuk stimulasi kognitif anak dengan mengenalkan berbagai bentuk segitiga untuk disusun menjadi gambar pesawat utuh. Sekaligus stimulasi koordinasi tangan dan mata anak saat melepas double tape dan menempel pada segitiga yang sesuai.

Baca juga :

Tips dan Trik Bermain DIY dengan Anak

Bermain anak yang penuh interaksi seperti ini pasti ada tantangannya, terlebih untuk anak toddler yang sangat egosentris. 

Ide-bermain-anak


Sekalian aku bagikan beberapa tips (based on experience) untuk Mommies agar bisa meminimalisir stres saat memperkenalkan mainan baru kepada anak.

  • Jangan memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap anak

Berbagai jurnal menyebutkan bahwa tingkat konsentrasi balita sangat pendek. Jadi anak-anak bisa fokus hanya dalam beberapa menit. Anak akan mudah teralihkan oleh apa yang ada di sekitarnya. Tidak ada yang instan dalam dunia parenting (jangan menyebut merek mie instan), semua butuh proses dan pembelajaran setiap saat. Saya sendiri juga membutuhkan waktu dan konsistensi yang cukup lama agar anak-anak saya bisa duduk tenang sambil bermain bersama.

  • Siapkan area bermain yang bersih dari gangguan

Beragam permainan siap pakai akan semakin menarik bagi anak-anak kita karena telah didesain sedemikian rupa. Jadi persiapkan ruangan atau area khusus di mana anak tidak mudah teralihkan fokusnya.

  • Ciptakan suasana bermain yang menyenangkan

Biarkan anak mengeksplorasi sejenak mainan yang telah kita siapkan untuknya, beri kesempatan pada anak untuk mengetahui cara kerja permainan tersebut. Setelah itu kami bisa menjelaskan kepada anak-anak cara kerja permainan yang kami sediakan.  

  • Tidak ada unsur paksaan

Pada awalnya, anak mungkin masih belum terbiasa mengikuti arahan yang kita berikan. Atau bisa juga anak tidak menyukai cara kita memberi dan memilih menggunakan imajinasinya sendiri dalam bermain. Ikuti saja apa yang diinginkan anak-anak dulu, jangan memaksa anak untuk mengikuti aturan permainan kita. Jika kita paksakan dikhawatirkan anak akan trauma dan merasa bermain dengan kita tidak menyenangkan sehingga kedepannya anak akan lebih sulit mengikuti instruksi kita.

  • Jangan lupa berdoa sebelum bermain

Apapun kegiatan kita terutama saat bersama anak biasakan mengucapkan basmallah, 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Karena pemilik segala sesuatu di dunia ini adalah Allah Subhanahu wa ta'ala, termasuk hati anak-anak kita ada dalam  genggaman Allah. 

Jadi, kunci utamanya adalah banyak berdoa kepada Allah agar kita diberikan kemampuan dan kesabaran dalam membersamai anak. Semoga usaha kita dalam mendidik anak bisa menjadi amal  ibadah di sisiNya...(aamiin)


Jangan mudah menyerah saat anak mulai tidak tertarik dengan permainan yang telah kita persiapkan untuk mereka. Kenali dan pahami anak kita, dengan mencari tahu apa yang dia suka dan cara apa yang bisa membuat dia nyaman. 

Hadirlah 100% saat bermain bersamanya, tidak hanya hadir secara fisik tetepi batin pun juga. Dengan bonding yang kuat maka akan memudahkan kita untuk mencari dan memberikan apa yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak kita.

Sebagai penutup, bahwasanya setiap anak itu unik, mereka punya kelebihan di bidangnya masing-masing. Jangan pernah membandingkan dengan anak orang lain. Setiap anak memiliki karakteristik dan kemampuan yang berbeda. Bahkan anak kembar pun memiliki sifat dan karakter yang berbeda.

Lakukan 4T untuk Menghadapi Anak Tantrum

Ketika anak memasuki usia 2 tahun, sebagai moms kita harus mempersiapkan mental dan kesabaran ekstra. 
Kenapa? 
Karena pada masa ini kita akan sering menjumpai anak yang tiba-tiba tantrum.

Pada usia ini, anak memasuki masa perkembangan autonomi. Maksudnya adalah anak-anak sedang  belajar mengontrol segala sesuatunya sendiri dan tidak lagi bergantung pada orang lain seperti saat berada dalam fase sebelumnya ketika masih bayi. 
Sehingga ketika keinginannya tidak terpenuhi, anak akan bersikap berlebihan seperti menangis sambil guling-guling di lantai atau berteriak marah-marah yang diikuti perilaku fisik.  Sikap inilah yang dinamakan dengan tantrum. 

Tak heran fase perkembangan anak usia ini dinamakan “terrible two”
Dalam fase ini anak akan bersikap egosentris dan merasa semua hal berpusat pada dirinya. Anak mulai menunjukkan perilaku yang menguras kesabaran orang tuanya. Mereka menjadi lebih sering membantah atau menolak perkataan kita, kalau orang jawa bilang tuh “ngeyel”. Bahkan tidak sedikit pula anak yang menunjukannya secara fisik seperti suka melempar barang, corat-coret, menendang, atau bahkan menggigit.

Menghadapi anak tantrum memang membuat emosi kita bergejolak ya Moms. Apalagi jika anak tantrum di tempat umum atau saat berada di keramaian orang, seperti mall atau saat kumpul keluarga.  Wah pasti rasanya campur aduk ya kita Moms, antara malu dan bingung untuk menenangkan anak kita. 

Lalu, bagaimana cara yang tepat untuk menghadapi anak yang tantrum ini?

Pada artikel sebelumnya, mengenai

Pentingnya Membedakan Emosi dan Strategi dalam Perilaku Anak

kita telah mempelajari cara membedakan tangisan atau perilaku anak sekaligus cara yang tepat untuk menanggapinya. Mungkin masih ada beberapa yang salah dalam mengartikan artikel tersebut. Dimana tidak ada yang salah dengan emosi anak, yang salah adalah ketika kita sebagai orang tua justru mengartikan bahwa semua tangisan atau perilaku amarah anak adalah bentuk luapan emosi. Karena perilaku anak tersebut bisa jadi hanya strategi anak untuk mengobservasi dan mengenali cara untuk mendapatkan keinginannya. 

Misalnya, saat anak menangis atau mengamuk untuk mendapatkan sesuatu dan kita turuti, maka anak akan mengulangi cara tersebut di kemudian hari. Jika kita biarkan terus menerus, hal ini akan menjadi kebiasaan buruk bagi Si Kecil. 

Nah, di bawah ini saya akan coba share mengenai penanganan anak tantrum pada usia toddler.

Ketika anak tantrum, lakukan 4T:

Menghadapi-Anak-Tantrum

1. Tenang

Saat anak tantrum, kita harus tetap tenang dan tidak terbawa emosi. Jangan ikutan marah atau membentak ke anak. Sikap tenang kita akan membuat tantrum anak lebih mudah untuk diatasi. Jika sedang berada di tempat ramai, ajak anak untuk pindah tempat yang lebih sepi dan nyaman.

2. Terima

Terima semua perasaan yang anak rasakan. Jika itu adalah suatu luapan emosi maka kita bisa memvalidasi emosinya. Terima saja cara anak mengekspresikan emosinya agar tidak ada emosi yang tertahan yang bisa menyebabkan tumpukan emosi pada anak kita. Dampingi anak kita dan tunjukan rasa empati kita dengan berada didekatnya. Hadirkan mindset bahwa anak kita membutuhkan bantuan kita untuk meregulasi emosinya.

3. Tunda

Menunda untuk bertanya macam-macam atau bahkan buru-buru menasihati anak. Saat badai emosi terjadi, anak akan sulit diajak berpikir logis. Maka tunggu sampai emosinya stabil terlebih dahulu dan terus dampingi dia.

4. Tunjukan 

Saat anak mulai mereda dan terkendali, tunjukkan rasa cinta kita ke anak dengan memeluk dan mencium anak kita. Sambil kita sampaikan bahwa tadi kita membiarkannya menangis bukan karena kita tidak sayang atau tidak peduli, tetapi agar dia merasa lega terlebih dahulu. Lalu kita tanyakan bagaimana perasaannya. Setelah anak mengutarakan isi hatinya, baru kita menasihati anak dengan menjelaskan untuk ke depan jika ingin sesuatu cukup sampaikan dengan baik tidak perlu marah dan menangis.


Itu tadi sedikit cara yang insya Allah tidak memberikan dampak buruk ke anak-anak ketika mereka tiba-tiba tantrum. Adapun hal-hal yang perlu kita hindari ketika anak tantrum atau berperilaku yang tidak menyenangkan lainnya adalah dengan 

Hindari 4M

  • Membentak atau memarahi anak
  • Memaksa atau menjajah anak untuk menuruti keinginan kita
  • Memanipulasi anak dengan membohongi atau pura-pura ngambek ke anak
  • Menyakiti anak secara psikis, seperti mencubit atau memukul

4M diatas jika sering kita lakukan dalam menghadapi perilaku anak, akan berisiko terhadap kesehatan psikisnya dan mempunyai efek buruk jangka panjang lainnya. 

Mengutip dari seorang praktisi parenting sekaligus founder akun instagram @anakjugamanusia, Angga Setyawan, bahwa ada beberapa dampak risiko dari memukul anak, diantaranya: 

  • Anak akan merasa bahwa marah atau memukul adalah hal yang benar untuk dilakukan
  • Anak akan menduplikasikan sikap kita untuk merespons sesuatu
  • Anak akan tumbuh menjadi anak yang ragu-ragu dan tidak punya pendirian karena terbiasa menurut kemauan orang tuanya
  • Anak akan menjauh dari orang tuanya karena merasa takut dan tidak nyaman atas sikap kita
  • Anak akan merasa kebal, terbiasa dipukul dulu baru melakukan yang orang tua perintahkan
  • Anak tidak memiliki rasa empati terhadap perasaan orang lain

Orang tua mana yang mau anak merasakan dan tumbuh besar dengan perasaan seperti itu? Mungkin dalam penerapan tidak akan semulus dan semudah menulis dalam artikel ini atau semudah membacanya. Butuh tekad dan kesadaran penuh untuk bisa menjalaninya. Dan kunci untuk itu adalah kita harus selalu mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, Allah Subhanahu wa ta’ala, agar kita kita dimampukan untuk sabar dalam menghadapi dan mendampingi tumbung kembang anak kita. 

Baca juga: 9 Metode Pengajaran untuk Menumbuhkan Kemandirian Anak

Sebagai pengingat (specially for me) agar terus berusaha melapangkan dada dalam membersamai anak-anak kita, yuks kita pahami perintah Allah Subhanahu wa ta'ala dalam QS. At-Tahrim : 6

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.


Sebagai penutup, bahwa kitalah yang mengharapkan kehadiran anak-anak kita. Jangan merasa terbebani akan segala tahap perkembangan anak, termasuk ketika anak mulai sering tantrum. Syukuri setiap tingkah aktifnya, karena di luar sana masih banyak yang berharap ada di posisi kita....


Pentingnya Membedakan Emosi dan Strategi dalam Perilaku Anak

Semakin bertambah usia anak, semakin besar pula stock sabar yang harus dimiliki orang tua. Bagaimana tidak? Ketika anak sudah memasuki masa toddler, yaitu usia 1-3 tahun, anak akan semakin keras dalam menunjukkan kemauannya dan menjadi lebih egosentris. 

Sejak usia ini pula, anak akan cenderung lebih mudah cranky atau bahkan sering tantrum untuk mendapatkan apa yang dia mau. Sehingga tidak sedikit orang tua yang merasa kewalahan atau bahkan tidak mampu menahan emosinya. 

Saya sendiri pun setiap hari masih terus berusaha untuk tidak terpancing emosi, tetapi tidak pula serta merta menuruti keinginan anak saat dia menangis. Bukan karena tidak sayang, tetapi untuk mengajarkan ke anak bahwa tidak semua hal bisa didapatkan. Selain itu, khawatir anak akan terbiasa menjadikan tangisan sebagai senjata untuk mendapatkan sesuatu. 

Pada dasarnya, tangisan anak adalah suatu bentuk ekspresi atau cara anak untuk mengungkapkan perasaannya. Tangisan juga merupakan salah satu bentuk penyaluran emosi sang anak. Tetapi seiring bertambahnya umur, menangis bisa juga menjadi salah satu strategi anak untuk “menjajah” orang tua untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Jadi, emosi dan strategi inilah yang menjadi pencetus perilaku seorang anak.

Emosi vs Strategi

Emosi bisa terjadi karena kebutuhan yang tidak terpenuhi atau harapan anak yang tidak sesuai dengan kenyataan, energinya bisa sedih, kecewa, berduka. Sedangkan strategi merupakan keinginan anak menjajah orang lain untuk mendapatkan keinginannya  atau hanya sekedar mencari perhatian. 

Emosi bisa berisiko berubah menjadi strategi jika kita berlebihan dalam menanggapi sikap anak. Akan tetapi, strategi tidak bisa berubah menjadi emosi. Jadi kita harus hati-hati dalam menanggapi perilaku anak. Karena jika kita salah menanggapinya, maka akan berpengaruh fatal kedepan. 

Lalu, bagaimana cara membedakan emosi dan strategi dalam perilaku anak? 

Yang perlu diingat bahwa yang dibedakan adalah dorongan energinya, bukan wujud perilakunya, karena wujudnya bisa saja sama persis. Misal saat anak menangis, jika dilihat mungkin tangisannya sama persis, tapi kalau dirasakan dorongan energinya berbeda. 

Jadi, gunakan feeling kita sebagai seorang Ibu melalui hati atau kepekaan kita, bukan dari analisa pikiran. Dan cara paling mudah untuk bisa merasakan hal tersebut adalah dengan membersamai anak secara lahir dan batin. Setelah kita bisa mengenali dan memahami perbedaan emosi dan strategi pada anak kita, maka kita pun bisa memberikan tanggapan yang sesuai agar apa kebutuhan anak terpenuhi dengan tepat. 

Ketika anak berperilaku yang menunjukan emosinya

Source:Canva 

Saat kita merasakan ada dorongan emosi anak, maka kita cukup fasilitasi secara pasif, yaitu dengan mendampingi anak kita. Kita berada di dekat anak sambil sediakan hati kita untuk ikut merasakan yang anak rasakan. 

Pastikan emosi anak tersalurkan secara tuntas, setelah itu baru kita ajak bicara anak. Misal “tadi kenapa, apa yang kamu rasakan, dll”. Kalau kita tidak fasilitasi secara pasif, misal malah kita marahin atau kita hibur anak kita, maka risikonya:

  1. Emosinya bisa berubah menjadi strategi
  2. Emosinya bisa tersumbat dan tersimpan menjadi sampah emosi yang akan menumpuk, yang suatu saat bisa meledak
  3. Anak jadi tidak belajar mengendalikan dirinya secara mandiri saat ia emosi, karena tidak kesempatan bersentuhan dan mengenal pusat rasa dalam dirinya.

Saat anak menunjukan strategi

Berbeda dengan perilaku anak karena emosi, saat anak berperilaku sebagai suatu strategi untuk mendapatkan keinginannya. Yang harus kita lakukan adalah cuekin lahir batin. Anggap perilakunya tidak terjadi, karena jika kita tegur/ nasehati/marahi/dihibur, maka anak tidak akan peduli semua itu. Justru anak merasa bahwa ia direspon dan respon adalah bentuk perhatian,. Sehingga anak akan mengulang-ulang karena terbukti itu efektif baginya untuk mendapat perhatian. 

Yang penting untuk diingat, kita pantang galau/ kepikiran/terganggu/baper saat menghadapi strategi anak. Sebab anak bisa merasakan celah untuk menang sehingga ia makin menguji kita dengan perilaku yang lebih ekstrim. 

Lalu, setelahnya kita biarkan dan anak terdiam, kita tidak perlu membahas kejadian  tersebut baik ke anak atau ke siapapun. Seperti “itu lho yah, tadi adik mukul” sementara anak kita melihat kita membahas kejadian tadi, sehingga ia merasa “ah, ternyata tadi hanya pura-pura cuek, sebetulnya masih perhatian karena masih dibahas lagi”. Sehingga suatu saat anak akan mengulang strateginya lagi. 

Baca juga: 7 Pedoman Seorang Ibu Minim Stres

Terkadang, ada beberapa anak yang berperilaku secara berlebihan dengan perilaku menyakiti dirinya sendiri atau bahkan orang lain. Maka, tanggapan kita pun harus berbeda dengan cara di atas.

Jika perilaku berbahaya tersebut merupakan luapan emosi, maka yang pertama dilakukan adalah amankan pelaku. Lakukan tindakan untuk menghentikan perilaku anak yang berbahaya (yang merusak atau menyakiti diri atau orang lain). Misal dengan kita dekap erat anak kita atau dengan kita arahkan anak untuk berada di pojokan atau sudut ruangan. Dampingi anak dan jangan ada upaya untuk menyumbat emosinya. 

Setelah mereda dan emosinya tuntas, baru kita ajak bicara, misal “tadi kamu bunda dekap erat/ taruh pojokan bukan karena marahmu, tapi caramu marah yang bunda tidak setuju, boleh marah tapi caranya cukup kepalkan tangan saja ya..(atau hal lainnya yang sekiranya aman)”.

Akan tetapi, jika perilaku anak tadi adalah suatu strategi, maka setelah kita amankan anak, kita tidak perlu tanggapi dengan berbagai perhatian. Cukup diamkan anak, cuekin lahir dan batin, anggap tidak ada kejadian apa-apa.

Masa anak nangis kita cuekin sih?

Jika tangisan atau amarahnya sebagai sebuah strategi, kita pun harus menanggapinya dengan strategi. Dampingi anak, biarkan anak tenang terlebih dahulu, setelah itu baru kita berikan alternatif pilihan untuknya.

Baca juga: Efektifkah Pemberian Reward & Punishment?

Yang terpenting dari semua itu adalah konsistensi kita sebagai orang tua dalam menanggapi perilaku anak dengan tepat. Kuncinya ada pada diri kita sendiri seberapa jauh kita memahami anak kita, karena kita sendiri yang bisa membedakan perilaku anak kita itu merupakan strategi ataukah emosi. Cara terbaik untuk mengetahui hal tersebut dengan sepenuhnya hadir secara lahir dan batin saat membersamai anak. 


Semangat membersamai anak kita ya Moms...