Manajemen Pengelolaan Homeschooling


 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه



Mengingat sistem pengajaran saat ini yang masih menjalankan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ), dikarenakan pandemi yang masih belum berakhir. Adakah disini yang sudah mulai ingin beralih ke homeschooling?
Bahkan ada wacana yang menyebutkan bahwa PJJ akan berlangsung hingga bulan Januari tahun depan. Sungguh miris rasanya, terlebih banyak pro dan kontra mengenai sistem pengajaran daring selama pandemi ini. Banyak kendala dan kesulitan bagi siswa maupun orang tua dalam mendampingi anaknya, mulai dari kurangnya fasilitas yang dimiliki, seperti gawai dan koneksi internet yan membutuhkan banyak kuota sehingga mereka harus merogoh kocek lebih banyak dalam situasi yang sedang sulit seperti ini.

Sehingga tak sedikit yang mulai melirik metode homeschooling untuk Pendidikan anak mereka. Disini saya tidak sedang mempromosikan homeschooling dari pihak manapun yaa, sebagai pelaku homeschooling pun tidak belum. Hanya sedang mempelajari dan ingin berbagi sedikit seluk beluk pengajaran homeschooling yang siapa tau bisa memberikan gambaran yang lebih untuk para pembaca disini.
 

Belum lama ini sengaja meluangkan waktu, tenaga dan biaya untuk mempelajari ilmu dalam mendidik anak dalam Kelas Online Bengkel Diri Siap Mendidik, yang sayang banget kalau apa yang saya dapatkan saya simpan sendiri dalam ingatan dan coretan tulisan saja. Nah, salah satu pengisi yang memang sudah expert sekaligus pelaku dari homeschooling adalah Ibu Karina Hakman atau lebih akrab disapa Teh Karin.

Jadi langsung aja yaa, kita mulai dari persiapan awal terlebih dahulu, khususnya untuk pemula (sambil tunjuk diri sendiri).

Manajemen Pengelolaan Homeschooling untuk Pemula


Teh Karin sendiri mengingatkan di awal pertemuan, bahwa panduan ini bukanlah suatu hal yang mutlak. Jadi, bukan suatu patokan yang harus dilakukan sama persis, hanya sebagai guideline agar kita tidak bingung dan bisa disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan diri kita masing-masing. Langsung aja ya...

Checklist Pra Homeschooling

  • Ruang ramah anak
Source:freepik

Usahakan siapkan ruang yang terpisah antara ruangan tenang untuk membaca dan ruang bermain. Jika memiliki rumah yang luas, sediakan ruang salat tersendiri di dalam rumah. Selain itu berikan fasilitas yang memudahkan anak mengakses sendiri apa-apa yang ia perlukan agar anak menjadi mandiri dan punya gagasan sendiri.
  • Rough Trial Schedule Ready (Jadwal Kasar)

Atur jadwal agar tidak bertabrakan dengan waktu salat, waktu orang tua untuk melakukan pekerjaannya, dan sesuaikan juga dengan jadwal anak kita lainnya (jika anak lebih dari satu).
  • Rough Short Term Curriculum Ready
Tidak perlu langsung membuat kurikulum untuk 1 tahun, tetapi kita bisa mulai buat secara garis besar terlebih dahulu untuk skala mingguan. 
  • Bahan Ajar
Source:freepik

Persiapkan terlebih dahulu bahan ajar yang akan digunakan. Baik berupa buku, catatan, printable, alat peraga, permainan edukasi, atau bahkan dengan DIY kreativitas sesuai dengan kebutuhan atau passion.
Yang butuh ide-ide DIY untuk toddler bisa langsung mampir disini yaa..

  • Pengajar dan support system
Kita sebagai orang tua bisa menjadi pengajar jika dirasa berkompeten dan mumpuni dalam mengajar anak kita. Tapi kita bisa juga menggunakan pengajar dari luar untuk materi-materi tertentu atau bahkan secara keseluruhan. Kelola juga adakah yang bisa kita minta bantuannya dalam kegiatan mengajar dirumah, baik itu suami, orang tua, saudara si anak, atau bahkan ART untuk pendelegasian tugas domestik.

Pengelolaan teknis harian untuk beberapa pekan pertama

1. Merekam perkembangan belajar anak
  • Observasi pelaksanaan homeschooling dengan optimal dan lapang dada
    Cari tau gaya belajar dan modaliti anak dalam belajar agar kita lebih mudah dalam memilih metode pengajaran yang tepat untuknya.
  • Fokus pada progres belajar bukan pada hasil
    Terkadang kita lupa diri dan terlalu fokus pada hasil yang ingin anak kita capai, padahal ada yang lebih penting dari sebuah hasil yaitu proses. Kita upayakan semaksimal mungkin segala usaha dan biarkan anak melewati setiap proses tersebut dan kita amati bagaimana progresnya, urusan hasil kita serahkan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.
  • Catat hal-hal yang penting (terutama untuk ibu yang pelupa)
    Banyaknya pekerjaan domestik atau pikiran yang harus dipikul seorang Ibu, bisa membuat kita menjadi sering lupa. Lebih baik buat catatan mengenai kurang atau lebihnya proses pengajaran kita, agar lebih mudah dalam menyusun kurikulum periode berikutnya.
  • Evaluasi dan follow up sesuai kebutuhan
    Dari catatan yang kita buat, bisa kita jadikan bahan evaluasi yang kelak akan menjadi guideline dalam menentukan metode atau kurikulum pengajaran yang lebih pas.
2. Merespon kebutuhan belajar anak
  • Saat anak memanggil atau menanyakan sesuatu, hendaknya kita tanggapi secepatnya. Jangan sepelekan anak saat berbicara atau memanggil kita, segera jawab dan perhatikan anak kita agar anak merasa diperhatikan dan keingintahuannya bisa terpenuhi.
  • Mengoptimalkan sesi tanya jawab dan waktu anak meminta "belajar"
    Terkadang ada moment tertentu dimana anak yang dengan sendirinya meminta untuk belajar sesuatu, gunakan kesempatan tersebut dan jangan sia-siakan dengan menjawab "nanti". Hal ini akan memutus semangat belajarnya, begitu pula saat anak dengan polos melontarkan berbagai pertanyaan kepada kita usahakan jawab dengan penuh perhatian dan penuh makna. Dari sesi tanya jawab yang spontan inilah kita dapat menanamkan atau mengajarkan banyak hal ke anak.
  • Melatih on off kerja karena interupsi dari anak
    Tidak hanya untuk ibu pekerja kantoran atau yang bekerja online di rumah, sebagai full time mom yang memiliki tugas domestik pun hendaknya membiasakan diri untuk bisa berhenti sejenak saat anak membutuhkan kita, dan bisa melanjutkan kembali saat anak sudah terpenuhi kebutuhannya.
    Bertahap mengajarkan anak tentang tanggung jawab orangtua selain mengaja.

Pengelolaan teknis berkala

  1. Bertahap dalam menerapkan rutinitas yang ingin dibangun jangan langsung semua diajarkan 
  2. Bertahap mengajarkan anak tentang tanggung jawab terhadap kelas belajarnya seiring dengan bertambahnya usia sang anak, seperti membereskan mainan sendiri, membuat jadwal sendir.
  3. Bertahap mengajarkan anak belajar secara mandiri
    Latih dengan kebiasaan kecil terlebih dahulu dan lakukan secara konsisten
  4. Monitoring dan evaluasi pekanan
    Pentingnya membuat evaluasi atau catatan pribadi sebagai track record yang bisa kita jadikan untuk bahan belajar kita, karena seringnya ada yang terlupa.
  5. Prepare and reprepare, dari hasil evaluasi untuk pekan selanjutnya.
    Kuncinya konsisten dan istiqomah karena sangat berbeda hasil dan perubahannya dalam harian antara prepare dengan tidak.

Antara homeschooling dan aktivitas orang tua

Hal ini yang paling membuat para ibu merasa tidak belum sanggup melakukan homeschooling. Banyak yang merasa bahwa pekerjaan domestik saja tiada akhir, bagaimana kalau ditambah dengan homeschooling?
Tenang ya Moms, semua pasti ada solusinya...yang perlu kita lakukan adalah:
  • Mengintegrasikan materi ajar anak dalam aktivitas orang tua
    Salah satu kelebihan dari homeschooling adlah kita tidak terpatuk waktu dan tidak melulu belajar harus duduk manis dimeja belajar. Sembari berkegiatan pun kita bisa mengajarkan banyak hal ke anak kita. Sebagai contoh, saat kita memasak dan anak ingin ikut terlibat di dalamnya, kita bisa mengajarkan tauhid bahwa Allah yang menciptakan ikan atau ayam yang akan kita makan. Lalu juga mengajarkan jenis-jenis bahan makanan (umbi, sayur, atau biji-bijian) dan juga kita bisa mengajarkannya berhitung.
  • Atur pekerjaan yang bisa dikerjakan sembari mendampingi anak dan pekerjaan yang memang memerlukan waktu sendiri
  • Pelajari siklus belajar anak Kapan belajar mandiri dan kapan perlu pendampingan
  • Bertahap mengajarkan anak tentang tanggung jawab orang tua
  • Delegasikan tugas kepada support system yang ada

Hectic schedule time management

Saat stress melanda, karena banyaknya pekerjaan atau pikiran yang sedang kalut entah yang disebabkan satu atau lain hal, baiknya lakukan hal-hal dibawah ini yaa..
  • Berhenti sejenak lepaskan semua schedule, ambil wudhu dan salat 2 rakaat agar pikiran kembali tenang
  • Cek kembali to do list kita dan anak-anak 
  • Pilih dan tentukan yang prioritas terlebih dahulu
  • Lakukan apa yang bisa dilakukan saat itu juga
  • Pada malam harinya, susun ulang jadwal untuk besok 
  • Bersyukur, bersabar dan tawakal

Pada dasarnya, apapun yang kita kerjakan pasti akan ada tantangan dan cobaan dalam menjalaninya, terlebih lagi dalam mendidik anak yang memang sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kita sebagai orangtua.
Luruskan niat, terus bersemangat dan latih teris kesabaran kita. Semoga Allah senantiasa menggenggam hati kita agar selalu ingat dan istiqomah di jalanNya..
Aamiin.



2 hal yang Mempengaruhi Mood Belajar Anak


بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم


 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه


Mood belajar anak

Berbicara soal mood, pasti tak lepas dengan yang namanya perasaan atau lebih akrab dengan kata "feeling". Begitu pula dengan anak-anak, yang juga memiliki mood dalam kesehariannya. Selain dipengaruhi oleh perasaaan anak terhadap orang-orang yang ada disekelilingnya, mood anak juga dipengaruhi oleh kinerja otak (brain) lho...
Jadi, saat otak anak kewalahan karena merasa stress, otak akan berubah ke mode survival atau disebut  mode 3F - fight, flight, freeze. Pada mode ini, otak akan melawan apa-apa yang diterimanya, sehingga otak akan ngeblank dan menolaknya. 

3F ini bisa terjadi saat anak merasa cemas dan atau merasa seperti terancam, yakni pada saat anak menerima bentakan atau teriakan. Jadi teriakan kita membuat otak anak yang awalnya siap untuk belajar menjadi tidak bisa menerima dan menolaknya. 
Jika otak anak sudah dalam mode freeze maka mood anak pun hilang untuk belajar. Jadi, lebih baik berhenti atau break sejenak sampai mood anak kembali baik dan otak anak pun siap menerima apa yang kita berikan.  

Nah, dua hal tadi yang sangat berpengaruh dalam menjaga mood anak dalam belajar. Lalu bagaimana kota mempersiapkan 2 hal tersebut?
Yuk kita bahas lebih detail lagi..

RELATIONSHIP

Ada landasan paling kuat dalam mengasuh anak, Allah Subhanahu wa ta'ala dalam surah Al-Baqarah ayat 233 berfirman

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ ۚ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ ۚ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَٰلِكَ ۗ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا ۗ وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا آتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya. Ahli waris pun (berkewajiban) seperti itu pula. Apabila keduanya ingin menyapih dengan persetujuan dan permusyawaratan antara keduanya, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin menyusukan anakmu kepada orang lain, maka tidak ada dosa bagimu memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Dari ayat tersebut dapat kita jadikan sebagai Power of emotional relationship antara orang tua dan anak. Pentingnya menjaga hubungan dan bonding dengan anak selama 2 tahun, baik dengan menyusui langsung atau pun tidak. 
Dalam ilmu psikologi pun dijelaskan bahwa selama usia 2 tahun itulah akhir pembentukan attachment atau kelekatan hubungan ibu dan anak. Saat anak mulai lahir hingga usia 3 tahun adalah masa-masa yang paling berpengaruh dalam menjalin hubungan atau bonding dengan anak.

Source:freepik


Hubungan antara orang tua dengan anak inilah yang sangat mempengaruhi mood anak. Jika hubungan anak dengan orang tua sudah baik, maka mood anak akan lebih mudah dipengaruhi. 

Interaksi yang perlu dijalin dengan anak agar relationship terjalin dengan baik dan mempengaruhi mood anak, yaitu nurture and protection. Yup, pengasuhan dan perlindungan  yang utuh dari kita sebagai orang tua ke anak yang mampu memberikan signal menyenangkan ke otak anak. Semakin banyak interaksi atau hubungan yang positif dan menyenangkan, maka otak anak pun akan semakin tersimulasi untuk mengeksplore lebih banyak hal yang ada disekitarnya. 

BRAIN

Selain peran kita dalam membersamai anak bermain dan belajar agar tercipta bonding dan relationship yang baik, kita juga harus memperhatikan perkembangan otak anak, yang disebut executive function.

Source:freepik


Executive function adalah bagian terpenting pada perkembangan otak anak di usia dini, hal ini akan membantu anak mempelajari kemampuan untuk bertahan hidup, bahkan menjadi pribadi yang lebih bahagia. Ada 8 hal yang perlu kita optimalkan dalam perkembangan otak anak,

  • Impulse control (think before acting)
Kemampuan anak untuk mengontrol impulsifnya

  • Emotional control (keep feelings in check)
Kemampuan anak untuk mengontrol emosinya

  • Flexible thinking (adjust to the unexpected)
Kemampuan anak dalam menyesuaikan kondisi yang dialaminya

  • Working memory (keep key information in mind)
Kemampuan anak untuk mengingat sesuatu atau informasi yang ia terima

  • Self monitoring (evaluate how they are doing)
Kemampuan anak untuk mengevaluasi dirinya

  • Planning & prioritizing (decide on a goal and a plan to meet it)
Kemampuan anak untuk merencanakan dan memprioritaskan apa yang akan ia kerjakan

  • Task invitation (take action and get started)
Kemampuan untuk memulai suatu tugas

  • Organization (keep track of things physically & mentally)
Kemampuan anak dalam pengorganisasian atau penyusunan banyak hal


Bagi yang penasaran detail mengenai 8 executive function ini bisa nantikan di tulisan selanjutnya. Atau yang mau cek n ricek dahulu kira-kira anak kita ada gejala gangguan executive function ga ya nih, bisa langsung Screening Awal disini yaa..

See you 😉



Source:Materi Bengkel Diri Kelas Mendidik oleh Ibu Devi Sani (Psikolog Anak)