Observasi 4 hal ini agar tepat dalam Menstimulasi Anak

21 komentar
بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم 
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه


Bermain adalah rutinitas anak setiap harinya ya Moms. Mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, anak tak ada lelahnya untuk bermain. Kita orang dewasa mungkin tinggal seperempat saja kekuatan “baterainya”, tapi anak masih bisa lompat kesana kemari.

Sebagai fulltime Moms mungkin mendampingi anak balita adalah pekerjaan yang utama. Alangkah indahnya jika waktu kita dalam membersamai anak bisa lebih bermakna. Jadi, kita ga sekadar menemaninya bermain tapi bisa mengenali banyak hal tentang bagaimana anak kita. Tujuannya agar kita lebih mudah untuk memberikan stimulus yang tepat untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya di masa balita yang sangat krusial ini.

Hmmm… sebagai Moms masa harus mengenali anak lagi?

Kan udah dikandung selama 9 bulan pasti paham donk…

Belum tentu lho Moms, karena banyak juga orang tua yang masih memaksakan anak untuk mendalami suatu bidang tertentu tanpa peduli bagaimana bakat dan minat anak.

Maka dari itu, waktu yang tercurah untuk menemani anak bisa kita optimalkan untuk mengobservasi bagaimana kemampuan anak. Dengan begitu kita jadi lebih mudah untuk menentukan jadwal dan metode yang tepat untuk menstimulasi tumbuh kembangnya.

Lalu apa aja sih yang perlu kita cari tau saat membersamai anak kita?

1. Minat dan Ketertarikan Anak

Setiap anak punya kemampuan masing-masing yang tidak bisa disamaratakan. Ada yang lebih menonjol dalam hafalan, ada yang lebih suka calistung, ada yang lebih jago menggambar, dan ada juga yang lebih senang bermain susun balok atau mainan sejenisnya. Tentunya masih ada banyak kemampuan lain yang bisa anak miliki.

Kita kenali terlebih dahulu apa sih yang paling buat anak merasa tertarik dan enjoy saat memainkannya. Untuk tahap awal kita bisa kenalkan berbagai macam permainan atau kegiatan. Dengan begitu kita bisa tau mana yang lebih disukai oleh anak. Tanda-tanda anak suka adalah saat anak antusias dan bisa bertahan dalam waktu yang cukup lama daripada permainan yang lain. Karena rata-rata fokus anak balita masih dalam hitungan menit, dimana anak lebih mudah bosan dan ingin mencari sesuatu yang baru. Tapi pasti ada satu kegiatan yang paling diminati anak.

 

 2. Gaya Belajar

Gaya atau modalitas belajar ada 3 macam, yaitu auditory, visual, dan juga kinestetik. Tapi ada juga yang campuran dari salah duanya. Kita rinci satu-satu yaa..

  • Auditori, dimana indra pendengarnya yang paling aktif.

Ciri-cirinya:

>> anak lebih suka bercerita dan mengobrol
>> saat bermain dengan buku, anak akan langsung meminta kita membacakannya
>> lebih antusias dengan permainan yang bersuara
>> suka mendengarkan music
>> mudah ingat dan paham dari suara yang diperdengarkan
>> saat mendapat mainan baru akan lebih heboh menanyakan segala sesuatunya

  • Visual, dimana indra penglihatan yang paling dominan.

Ciri-cirinya:

>> Anak lebih suka belajar gambar
>> Anak cenderung suka rapi
>> Anak akan fokus dengan gambar
>> Saat bermain buku lebih tertarik membaca melihat isi bukunya sendiri
>> Saat mendapat mainan baru akan mencari tau gambar petunjuk di kardusnya.

  • Kinestetik, aktif bergerak dan senang kegiatan fisik.

Ciri-cirinya:

>> Anak lebih suka mengekspresikan diri melalui perbuatan langsung
>> Saat bermain akan sulit diam selalu ingin bergerak
>> Lebih suka eksplor saat bepergian
>> Suka bermain yang mengolah fisik

Dengan mengetahui gaya belajar anak, kita jadi lebih mudah menentukan cara yang tepat untuk bermain dengannya dan anak pun jadi lebih mudah menerima apa yang kita ajarkan.

 

3. Waktu Efektif Belajar

Kita harus coba satu per satu waktu yang paling cocok diterima oleh anak ketika mempelajari suatu hal. Tiap anak akan punya waktu “ON” masing-masing yang lebih peka dalam menerima stimulus yang kita berikan. Mulai dari pagi saat bangun tidur, sebelum atau setelah tidur siang, sore hari, atau bahkan malam hari menjelang tidur. Semua wajib kita coba satu per satu dan kita rolling jenis-jenis mainannya.

Seperti belakangan ini, akhirnya saya menemukan waktu yang paling efektif untuk anak saya bermain counting, yaitu di malam hari. Dari banyak bidang bermain anak, berhitung sangat tidak diminati olehnya. Perkiraan saya waktu itu, karena setiap diajak berhitung selalu tidak fokus dan bingung. Hingga suatu ketika, setelah waktu Isya’ dia membuka buku countingnya dan mengajak berhitung sendiri. Dan benar saja, dia lebih lancar dan semangat menghitung gambar-gambar dalam buku. Selama ini saya merasa ga tega malam-malam mengajak bermain yang “berat”, tapi ternyata itulah waktu “ON” Azka untuk berhitung.


4. Periode Sensitif

Adalah jendela kesempatan bagi anak-anak untuk belajar tentang keterampilan khusus selama enam tahun pertama kehidupan mereka. Inilah saatnya ketika mereka belajar untuk menguasai keterampilan tertentu, dengan mudah.

Boleh jadi, minggu kemarin anak kita sangat tidak tertarik menggambar, tapi dalam beberapa minggu ke depan anak sangat semangat dan antusias untuk menggambar banyak hal.

Jadi jangan pernah bosan dan menyerah saat anak menolak atau tidka tertarik dengan permainan yang kita beri ya Moms. Terus tawarkan dan variasi kegiatan di rumah, atur jadwal bermain dan lakukan rotasi permainan agar kita bisa menemukan ke empat hal di atas.

 

Semoga bisa membantu Moms sekalian untuk bisa mengetahui cara dan jadwal yang tepat untuk memberikan kurikulum pendidikan di rumah yang sesuai dengan minat dan bakatnya.

Jika Moms ingin hasil yang lebih akurat, Moms bisa melakukan tes screening melalui sidik jari anak di berbagai lembaga atau klinik psikologis yang menyediakan tes sidik jari anak untuk mengetahui potensi genetik anak.


PS: bermain yang saya tuliskan disini adalah bermain yang menstimulasi kemampuan kogntif anak.


Iva C Wicha
24/7 Full Mom and Wife Parenting Enthusiast, Hanya hamba Allah yang tak luput dari salah dan khilaf, tapi slalu berusaha menebar manfaat dan mengUpgrade diri.

Related Posts

21 komentar

  1. Nah aku belum nyobain yang pakai screening sidik Jari ini, memang sering lihat sih temenku nunjukin hasil screening sidik jarinya, rada pengen nyoba juga tapi belum tahu dimana tempatnya, mesti searching dulu kayaknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya dah banyak skrang mom, kyak stifin dan yg lainnya. cek ig nya juga ada.

      Hapus
  2. Setuju banget mbak dengan cara mengajarkan anak sesuai tipe dan waktu yang cocok buat dia, karena dengan metode yang tepat akan memaksimalkan potensi anak juga belajar akan lebih efektif. Lebih bagus lagi kalau bisa dicombine antara mendengar, melihat dan mencoba.

    BalasHapus
  3. Saya jadi tertarik untuk tes sidik jari anak ni mbak iva, dari tiga anakku memang saya selaku ibunya sudah tahu anak ini suka apa, tapi dari segi penglihatanku saat membersamai mereka bermain saja, belum diukur dari segi lainnya

    BalasHapus
  4. Aku manggut-manggut sih baca ini, haha.. Bener juga ternyata orangtua memang harus mengajarkan sesuai sama minat anak, jadi nggak memaksa.

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah dapet ilmu darimu mba, jadi bisa bersiap-siap kalau diamanahi momongan. Sebagai orangtua banyak banget PR memelajari minat anak.

    BalasHapus
  6. Waktu belajar juga diperlukan untuk memahami, anak bersemangat di pagi atau malam hari ya. Anakku keduanya kinestetik dan auditori. Jadi, masih perlu tantangan untuk mengajak anak untuk terbiasa membaca sendiri dan duduk anteng.

    BalasHapus
    Balasan
    1. emang tantangan banget ya mba utk anak kinestetik dan auditori dengan kurikulum dan sistem pengajaran di sekolah. kudu ekstra pendampingan momy nya dirumah

      Hapus
  7. Aku belum pernah coba yang pakai sidik jari itu mba . Kayaknya patut dicoba .
    Dan bener sekali, kita gak boleh menyerah kalau mau memunculkan bakat anak yang masih dalam periode mudah bosan gini ya.

    BalasHapus
  8. Anakku ternyata tipe kinestetik, pantaslah tidak bisa diam begitu saja. Maunya gerak terus, termasuk saat belajar. Jadi perlu benar-benar cari selah kapan waktunya yang tepat dan nyaman.

    BalasHapus
  9. Ah aku gaya belajarnya visual nih ya ternyata. Bagus ya kalo tau begini, nanti insyaAllah aku terapin ke anak ehehe

    BalasHapus
  10. saya suka belajar yang segi visual mbak karena lebih paham belajarnya dan semakin mengerti pemahaman materi yang akan di pelajari.

    Boleh juga nih ide untuk menstimulus anak

    BalasHapus
  11. Terima kasih kak Icha, saya pribadi adalah pembelajar audio-visual, sedangkan anak-anak kebanyakan auditori, jadi saya harus sering-sering read aloud dan nggak boleh ngomong macam-macam biar nggak ditiru, hehe

    BalasHapus
  12. Makasih banyak Mba Iva, saya jadi tahu banyak gimana mencari tahu gaya dan cara belajar anak yang tepat. Saya pribadi ke audio dan visual hihi

    BalasHapus
  13. Mencari minat dan ketertarikan anak ini penting banget, aku biasanya suka mencoba beberapa hal untuk anakku dan suka lihat dalam waktu satu minggu biasanya untuk observasi.

    BalasHapus
  14. Belum pernah nih melakukan tes sidik jari utk anak. Beberapa kali dengar sih tapi belum ada kesempatan. Kapan2 moga bisa melakukannya. Penasaran seakurat apa sih sebenernya tes2 kek gtu?

    BalasHapus
  15. Gaya belajar anak pertamaku visual kinestetik kak, nah PR banget ini kalau zoom untuk sekolah online. karena sisi kinestetiknya gak di asah, jadilah dia ngalor ngidul keliling dan gak merhatikan gurunya ngomong.

    BalasHapus
  16. Masukan juga nih buat daku, meski belum berumahtangga jadinya coba praktekin ke keponakan dulu hehe, biar dapat ilmunya

    BalasHapus
  17. Kadang sering kewalahan ngak sih kak mengikuti keinginan anak kinestetik karena ide muncul ada aja dan selalu aktif, jadi para orang tua jug harus extra

    BalasHapus
  18. Eaah baru tau kalau ada tes sidik jari yaa buat tau potensi anak dari genetiknya. Menarik untuk dicoba ni kak

    BalasHapus
  19. Aku baca ini jadi inget konsep montessori. Ada sensitive period, dll. Emang jadi ortu harus pinter-pinter observasi anak. Karena tiap anak juga beda potensi dan semuanya unik. Jadi stimulasinya tepat sasaran

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email