13 Kesalahan Komunikasi Orang Tua ke Anak



بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


Assalamualaikum sahabat semua,

Semoga selalu mendapat perlindungan
اَللهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dari virus corona yang semakin menyebar ke seluruh Indonesia. Apa nih kesibukan para mommies selama sosial distancing dan tetap #dirumahAja? 
Pastinya tetep harus produktif dan semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta yaa...


Minggu lalu, coba ikut kulwap lagi nih, kali ini diadakan oleh High Class Response yang membahas tentang kesalahan-kesalahan umum orangtua dalam berkomunikasi dengan anak. Dalam kulwap ini, kita mendapat banyak keuntungan lho...
Apa aja itu?
- E-book
- Challenge harian (Selama 7 hari)
- Tanya Jawab dan Feedback selama 24 jam
- Hadiah Buku "Lima Langkah Komunikasi
Efektif, agar Anak Tumbuh Optimal" untuk Peserta Teraktif

Di hari pertama materi disampaikan oleh Pak Adlil Umarat atau lebih akrab dipanggil Pak Ading, yang merupakan seorang Childhood Optimizer Trainer. Setelah itu dilanjutkan dengan sesi Q&A yang dikirim ke email moderator, dimana sesi tanya jawab ini dilakukan secara langsung dan bisa langsung kasih feed back jadi bisa jelas dan tuntas. Setelah itu kita diminta mengikuti challenge selama 7hari yang dilaporkan melalui website HCR for Parents, dari challenge itu kita diminta untuk share insight via wa group dan boleh juga di sosial media.
Nah, sayang banget klo saya simpen sendiri kan? makanya saya mau coba share disini, sapa tau bisa bermanfaat..Aamiin

Langsung aja ya...

13 kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan oleh orang tua kepada anak-anak mereka

1. Direct melulu

Maksudnya? Dalam komunikasi, orangtua selalu men-direct anaknya alias mengarahkan terus anaknya. Dia langsung memberitahu apa yang harus dikerjakan anaknya. Pada kasus lain, orangtua yang otoriter, merasa dirinya paling benar, paling banyak memakan asam-garam
kehidupan, dibandingkan anaknya. So, anak harus manut kepada apapun perkataan orangtua. Ketika anak balik bertanya, orangtua menganggap itu sebagai bantahan, keras kepala, melawan, dan lain sebagainya. 
Hal ini kurang bagus buat perkembangan anak, karena anak akan jadi kurang inisiatif. Dia tidak terbiasa berpikir pada solusi jika menghadapi masalah di kemudian hari. Yang ada, ketika mendapat masalah, dia akan menunggu, menunggu, dan terus menunggu. Padahal, zaman now, kita butuh orang yang inisiatifnya tinggi jika ingin berperan besar.

2. Komunikasi hanya 1 arah

Orangtua tidak memberi jeda kepada anak untuk merespon apa pesan yang disampaikan orangtua. Belum sempat menjawab, anaknya sudah diberondong pertanyaan yang bejibun jumlahnya. 
Maka dari itu, jadilah orangtua yang memberi kesempatan kepada anak untuk menjalankan critical thinkingnya. Dengan begitu otak anak akan bekerja secara optimal untuk menghubungkan data yang ia terima. Tidak melulu menerima doktrin-doktrin belaka, agar otaknya sehat, banyak koneksi di neuronnya.

3. Bernada kelewat tinggi di 5 oktaf

Nah ini nih, kelatahan emak-emak dari jaman dahulu kala. Orangtua kerap kali bicara dengan nada tinggi kepada anak dengan harapan nada tinggi yang diucapkan itu bisa membuat anak langsung patuh, manut dan langsung mengerjakan apa yang diperintahkan. Memang, anaknya akan patuh saat itu, tapi sesungguhnya dia merasa tidak nyaman.
Bisa jadi anak patuh karena merasa takut saja, sehingga saat tidak ada orangtuanya, anak akan 180 derajat berbalik arah melakukan apa-apa yang dilarang dan tidak melakukan apa-apa yang disuruh orangtuanya. 
Alangkah baiknya, sebagai orang tua bicara ke anak dengan nada 2 oktaf. Itu seperti bicaranya orang yang sedang duduk berdampingan, seperti orang menyapa orang lain disampingnya ketika menunggu bus di halte, “Ibu mau kemana?” Tidak mungkin kita teriak-teriak menanyakan orang untuk basa-basi bukan?

4. Bicara penuh amarah

Banyak orangtua sudah terpancing amarahnya, lalu pakai nada tinggi dan berteriak-teriak memanggil nama anaknya, disertai suara yang parau sehingga pesan inti yang ingin disampaikan malah tertutupi. Anak yang mendengarnya jadi merasa kaget, takut, dan ketika ia dengarkan lebih jelas lagi, ternyata ia tak menangkap apa esensi dari pesan yang disampaikan orangtuanya. “Sebenarnya orangtuaku itu maunya apa sih?” Itu pesannya belum mampu ditangkap anak, keburu dia sudah ketakutan mendengar suara tinggi, suara parau, muka merah padam. 
Akhirnya, yang terdelivery ke anak secara paripurna dan sempurna adalah RASA AMARAH. Rasa amarah itu, selalu saja bikin anak tidak nyaman, bahkan sampai trauma.

5. No eye-contact sama sekali

Banyak orangtua kalau bicara dengan anaknya dari jauh saja, tanpa menatap mata anaknya. Persentase kegagalan anak memahami pesan jadi lebih tinggi tanpa tatap mata. Jika Anda ingin menyampaikan hal penting, pastikan Anda tatap mata anak Anda. Lebih keren dan efektif lagi, jika Anda tatap mata anak Anda dari jarak 45 cm, apalagi jika pesan yang Anda ingin sampaikan itu, begitu penting. Insya Allah pesannya akan jauh lebih mudah sampai, dibandingkan teriak-teriak dari jauh. Mungkin bisa saja anak paham pesan kita, tapi kita secara tidak langsung sedang mengajarkan cara komunikasi yang TIDAK HORMAT kepada anak kita dan bisa jadi kelak anak meniru hal yang sama kepada orang lain. Na'udhubillah

6. Eye-level tidak sama

Banyak orang tua bicara dengan anaknya yang masih kecil dengan mata yang tidak sama levelnya. Maksudnya tidak sejajar, dimana orangtua berdiri dan tinggi posisinya, sementara anak ada di bawah dan dia harus mendongak melihat orangtuanya di ketinggian. Pesan yang terselubung dari posisi berdiri orangtua-anak ini adalah orangtua sebagai bos, tuan, raja, sementara anak adalah bawahan, pesuruh atau rakyat jelata. Relasi yang tercipta seperti master and slave (tuan dan budak), dimana derajatnya sudah beda jauh.
Jika hal ini berlangsung terus, anak bisa jadi takut ke orangtua. Ada masalah, dia akan pendam yang lama kelamaan bisa jadi bibit penyakit karena hormonnya tidak stabil. Ada masalah dipikirin terus, tanpa dibicarakan atau dicari solusinya.
Maka dari itu, saat berbicara dengan anak (apalagi anak kecil) sebaiknya orang tua jongkok menyesuaikan posisi tinggi anak kita. Setarakan level mata Anda, dengan begitu insya Allah anak akan lebih merasa dihargai dan lebih mudah menangkap apa yang disampaikan orangtuanya.

7. Not being present

Tidak hadir jiwa dan pikirannya saat bicara dengan anak. Jika kita ingin pesan kita efektif sampai dan dipahami dengan cepat oleh anak, maka jadilah orangtua yang hadir sepenuhnya 
dan seutuhnya bersama anak saat kita menyampaikan pesan tersebut. Jangan disambi dengan pikiran kita melayang-layang ke urusan kantor atau urusan domestik lainnya atau bahkan parahnya lebih fokus ke HP yang selalu ada di tangan.
Hadirlah buat anak saat Anda bicara dengan anak. Ini terkait dengan SOUL yang ingin kita hadirkan dalam interaksi.

8. Ketika diajak bicara oleh anak, orangtua sering menyambi dengan kegiatan tertentu

Hayoo...siapa nih yang sering ngelakuin?karena saya pun salah satunya.
Sebagai full moms dimana semua pekerjaan rumah di handle sendiri, anak bermain adalah waktu yang pas untuk nyambi kerjaan. Misalnya saat sedang memasak (wah, tanggung nih nanti gosong masakanku) atau saat mencuci piring tiba-tiba anak menghampiri dan mengajak bicara. Maka,berhentilah dari kegiatan apapun saat itu juga dan fokus menanggapi apa yang sedang dibicarakan oleh anak kita. 
Dengan demikian, kita sedang mengajarkan kepada anak kita untuk HORMAT kepada lawan bicara. Ini bagian dari berlatih atentif dalam komunikasi dengan orang lain dan merupakan attitude yang mahal.

9. Melarang anak untuk menangis

Banyak orangtua melarang anaknya menangis karena malu saat ada orang banyak atau merasa berisik. Padahal menangis adalah bagian dari penyaluran emosi seseorang dengan merilisnya. Apakah masalah besar jika seseorang menangis? Sebenarnya tidak juga. Semua orang boleh menangis. Mau itu anak laki-laki ataupun perempuan. Menangis menjadi barometer bahwa hatinya masih ada sensitifitas tingkat tinggi. “Silakan menangis jika itu membuat hatimu nyaman, nak. Tapi pastikan segera regulasi diri ya.” Itu jauh lebih baik, agar anak kita tidak kaku atau beku hatinya.

10. Menghindar atau membohongi anak untuk menyelesaikan suatu masalah

Misalnya saat melihat anak jatuh di bebatuan dan kesakitan, kita ingin membuat anak tenang dan tidak menangis. Kemudian kita berusaha alihkan ke hal lain, “Lihat ada pesawat tuh…?” Padahal tidak ada pesawat. 
Jika anak jatuh, beri rasa empati terlebih dahulu. “Sakit ya? Kita obati dulu ya. Mama paham, pasti sakit jika kena batu begini,” setelah itu follow up dengan mengobatinya.
Justru saat ada masalah seperti ini adalah kesempatan kita sebagai orang tua untuk menanamkan konsep qadha dan qadr ke anak, setelah anak merasa tenang dan tidak kesakitan lagi.

11. Orangtua sering membanding-bandingkan anak dengan anak lainnya

Bahkan ada orang tua yang membandingkan dengan dirinya saat kecil dulu. Misalnya, “Mama dulu tuh, Matematika 100 terus. Masak kamu dapat nilainya segini doang? Bikin malu aja.” Tidak ada orang yang senang dibanding-bandingkan, termasuk anak kecil sekalipun. Selain sudah beda zaman, juga kompleksitas dan tantangan kehidupan juga sangat berbeda jauh dibandingkan zaman dulu. 
Ketika Anda membandingkan ananda dengan saudara kandung, saudara sepupu, atau anak lain yang seusianya, anak akan mempunyai 2 respon. Jika anak kita kuat mental, dia akan tetap percaya diri. Tapi kalau anak kita lemah mental, dia akan drop dan jadi pribadi yang minder saat berhadapan dengan orang lain.

12. Menakut-nakuti anak dengan sesuatu yang tidak masuk akal

Misalnya nih ya pas anak sakit dan harus minum obat, orang tua biasanya menakut-nakuti dengan berkata “Ayo minum obat, biar tidak disuntik pak dokter” 
Mungkin saat itu anak mau minum obat, karena merasa takut dan selanjutnya kita akan mencari alasan-alasan lain agar anak mau minum obat, seperti “Awas polisi…. Ayok makan ada polisi. Jangan main jauh-jauh, Nanti kamu ditangkap polisi lho…” Itu contoh-contoh pembodohan anak yang tidak masuk akal dan anak jadi mengalami distorsi dalam berpikir dan bertindak.
Seharusnya ajarkan konsekuensi atau manfaat dari setiap apa-apa yang kita ajarkan ke anak. Tidak perlu menakut-nakuti atau memberi iming-iming hadiah agar anak menuruti mau kita. Jangan sampai kita menciptakan ketakutan atau berhala-berhala baru di hati anak untuk melakukan sesuatu, terlebih sesuatu itu suatu kewajiban baginya.

13. Orang tua tanya sendiri, dan dijawab sendiri

Yang terakhir nih, yang kadang kita secara tidka sadar melakukannya. Misalnya, “Kamu mau dimasakin sayur apa hari ini? Kangkung atau bayam?” Pas anaknya jawab kangung, orangtuanya langsung balas “Ah, kalau kangkung mah bikin ngantuk, sayur bayam aja ya….”
Atau pertanyaan-pertanyaan lain yang kita ucapkan hanya sekedar basa-basi aja ke anak. Anak justru merasa tidak dihargai dan merasa malas menjawab saat kita benar-benar menanyakan suatu hal yang penting...
Jangan sampai kayak gitu yah Moms...


Nah itu dia tadi kesalahan yang sering terjadi saat berkomunikasi dengan anak. Jika kita renungkan lebih dalam, mana sih poin kesalahan yang paling sering kita lakukan dalam berkomunikasi dengan anak kita? 
Semoga dengan list ini kita jadi paham dan menyadari, serta berusaha setiap harinya untuk menghindari kesalahan-kesalahan tersebut. Sehingga hubungan dengan anak terjalin dengan baik dan anak bisa tumbuh dan berkembang secara optimal.
Yuks moms kita sama-sama mencetak generasi anak yang percaya diri, inisiatif, dan empati. Dimana semua itu bisa terwujud dari konsistensi kita dalam memperlakukan anak kita setiap harinya..
Semangat ya, kita pasti bisa!!

Sosial Distancing, Tetap Produktif untuk Perkuat Iman dan Imun Bersama



بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


Assalamualaikum,
Apa kabar Sahabat, semoga dalam keadaan sehat dan tenang walau negeri kita sedang dirundung virus corona sejak awal bulan Maret ini.

Melanjutkan tulisan sebelumnya, mengenai Corona dan Penangkalnya dimana saat itu COVID-19 baru saja masuk di Indonesia dengan diberitakannya 2 warga Depok positif corona, tepatnya tanggal 2 Maret 2020. Warga Indonesia sempat panik, harga masker melonjak tinggi dan banyak warga yang berbelanja dalam jumlah tidak wajar. Namun kepanikan itu hanya sesaat dan keadaan kembali normal tanpa ada pencegahan yang optimal.

Hingga akhirnya, 12 Maret 2020 WHO menyatakan bahwa corona menjadi pandemi global. Selang 1 hari, pada 13 Maret 2020 Gubernur Jakarta, Bapak Anies Baswedan melakukan penutupan sementara objek wisata di Jakarta selama 2 minggu terhitung tanggal 14-29 Maret 2020. Kemudian diikuti tindakan meliburkan kegiatan sekolah dan digantikan sistem pembelajaran online dirumah. Hingga akhirnya diberlakukan work from home untuk sebagian para pekerja. Semua tindakan tersebut dilakukan sebagai bentuk sosial distancing agar virus corona tidak semakin menyebar. 

Akan tetapi, hampir 1 minggu sudah...
Kondisi saat ini justru semakin genting, dimana sore tadi bapak Gubernur Jakarta menyatakan bahwa kondisi Jakarta sudah masuk ke tahap Tanggap Darurat karena jumlah kasus positif COVID-19 yang terus semakin meningkat dan korban meninggal semakin bertambah.
Per 20 Maret 2020, terdapat 369 kasus positif COVID-19 dengan 32 kematian dan 17 sembuh. Dimana dari jumlah tersebut, 224 kasus positif di DKI Jakarta dengan 20 kematian dan 13 orang dinyatakan sembuh.
Untuk lebih detailnya, berikut data kasus corona di Indonesia.

(https://corona.jakarta.go.id/id)



Sungguh perbandingan yang memprihatinkan dimana korban yang meninggal lebih banyak daripada yang sembuh.
Hal ini memaksa kita untuk semakin mawas diri, menjaga kebersihan dan kesehatan, dan benar benar mengikuti himbauan pemerintah untuk melakukan sosial distancing

Apa sih sosial distancing itu?
Pembatasan sosial atau jaga jarak dan interaksi dengan orang banyak di sekitar kita.

Pembatasan sosial adalah serangkaian tindakan pengendalian infeksi nonfarmasi yang dimaksudkan untuk menghentikan atau memperlambat penyebaran penyakit menular. Tujuan dari pembatasan sosial adalah untuk mengurangi kemungkinan kontak antara orang terinfeksi dan orang lain yang tidak terinfeksi, sehingga dapat meminimalkan penularan penyakit, morbiditas, dan terutama, kematian. (Wikipedia)

Biar lebih jelas berikut ilustrasinya.


Sosialisasi mengenai sosial distancing ini sudah banyak dilakukan oleh pemerintah melalui berbagai media, tapi entah mengapa masyarakat Indonesia ini kurang aware dengan kondisi saat ini. Baru saja tadi pagi saat berkendara ke tukang sayur, sepanjang jalan mengamati kondisi sekitar yang masih banyak anak kecil diluar rumah sambil disuapi makan oleh ibunya, dan penjual warung makan berjualan seperti biasanya tanpa menggunakan penutup yang lebih aman. Saya pun yang menggunakan masker ke tukang sayur justru dipandang "aneh" oleh beberapa orang. Yaa...saya pakai masker ke luar rumah walau saya tidak sakit bukan lah hal yang seharusnya, tapi itu bentuk upaya saya menjaga diri terutama untuk anak saya yang masih balita karena kami termasuk golongan rentan terkena virus ini.

Hmmm...sepertinya terlalu panjang membahas si corona ini dan mungkin akan menyita banyak halaman jika tidak segera disudahi. Biar sesuai dengan judul, mari kita to the point aja...

Gencarnya sosial distancing memaksa kita untuk stay at home, yups #dirumahAja sampai menjadi hashtag nomer satu.
Mungkin bagi para extrovert fenomena ini menjadi ujian tersendiri karena tidak sesuai dengan kepribadiannya yang selalu ingin berhubungan sosial diluar. Namun kebalikannya, sosial distancing ini menjadi hal yang mudah dan biasa dilakukan karena berada dirumah adalah hal ternyaman bagi kami...
Well, saya seorang introvert (tapi sebenernya saya pun punya hasrat yang tinggi untuk keluar rumah di kala weekend 😁✌) Tapi di tiap harinya ketika suami bekerja, saya sangat menikmati berada di dalam rumah berduaan dengan anak saya, keluar rumah hanya sebatas belanja sayur pagi-pagi.

Maka dari itu, saya ingin mengulas apa-apa saja sih yang bisa kita lakukan selama masa sosial distancing agar tetap jadi produktif sehingga iman dan imun kita semakin kuat, terutama untuk para ladies nih.
Ladies disini pun pasti banyak tipe ya, nah sesuaikan dulu kamu termasuk yang mana nih?

Singlelillah

Untuk gadis-gadis hebat nan cantik jelita, apapun rutinitas yang biasa dilakukan baik sekolah, kuliah, ataupun bekerja, dengan adanya sosial distancing ini pasti kamu-kamu punya waktu lebih dari biasanya. Karena ga ada lagi waktu tersita untuk bermacet-macetan dijalan, ga ada lagi waktu kumpul bareng temen, dan melalang buana kesana kemari. 
Disinilah kamu bisa manfaatkan waktu untuk hal yang lebih manfaat, mulailah untuk quality time bersama orang tua atau saudara mu dirumah.
Perbanyak waktu untuk menghibur dan ngobrol bareng keluarga, manfaatkan lah waktu sebaik-baiknya untuk selalu menyenangkan orang tua terutama Ibumu. Karena jika sudah berkeluarga kamu tidak akan bisa sebebas sekarang.
Perbanyak ilmu dan skill, bisa dari berbagai buku atau media lainnya seperti kulwhap yang saat ini banyak sekali dipromosikan. Siapkan diri untuk menjadi istri dan ibu yang luar biasa dengan mempelajari ilmu berkeluarga dan parenting. Atau yang paling simple, kamu bisa juga belajar memasak,  dengan begitu kita bisa quality time dengan ibu plus bonus jadi jago masak untuk suami kita kelak (Aamiin...)

Working Moms

Sebelumnya mau menyapa dulu aah..
Hai mommy2 kece,
salut deh untuk kalian yang masih bekerja diluar sana yang bisa membagi waktu dengan ciamik antara tugas domestik mengurus anak dan suami tetapi masih bisa berkarya diluar sana. Baik untuk meringankan beban suami atau sebagai bentuk menebar manfaat ke sesama umat, kalian sungguh luar biasa....!
Nah, pasti adanya work from home ini menjadi moment yang langka ya, dimana bisa bekerja dirumah sambil memandangi anak dan bisa sambil ngemil dengan leluasa adalah kebahagiaan tersendiri ya...
Yang biasanya bangun pagi-pagi sudah berjibaku bersama suami untuk menghindari macetnya jalanan, kini bisa asyik dulu di dapur mencoba resep baru, menyiapkan makan untuk keluarga sambil quality time bersama suami. Mulai dari membahas pekerjaan masing-masing atau membahas rencana ke depan mengenai si corona ini.
Lalu disela-sela mengerjakan pekerjaan kantor atau orderan nih buat para pebisnis, kita bisa sambil membersamai aktivitas si kecil atau anak-anak kita saat sekolah dirumah.
Bersyukur kita masih diberi kesempatan untuk kembali ke kodrat kita sebagai madrasah utama bagi anak-anak kita. Menggantikan sementara peran guru di sekolah, menjadikan kita mengerti bahwa tidak mudah menjadi seorang pengajar, dimana kesabaran kita akan benar-benar diuji saat mengajari anak-anak kita. Tapi disitulah ladang pahala kita untuk bekal akhirat kelak.
Jika anak sudah mandiri, kita pun bisa mengupgrade diri menambah ilmu atau menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang selama ini tertunda, seperti merapikan barang-barang dirumah, menyortir barang yang bisa kita sumbangkan ke orang yang membutuhkan.

Full time Moms

Untuk para full mommies mungkin tidak banyak yang berubah ya, hanya saja tugas dirumah akan semakin banyak karena ditambah menjadi "guru" dijam-jam yang seharusnya anak sekolah.
Seperti halnya working moms diatas saat membersamai anak belajar dirumah ya Moms.
Tapi saat sosial distancing kita tidak perlu mengantar jemput anak sekolah, mengurus acara pertemuan atau pengajian, sehingga ada waktu untuk me time dengan tenang di rumah.
Dan tentunya merasa semakin bahagia karena saat mengerjakan pekerjaan domestik tidak sendirian lagi seperti biasanya. Akan lebih banyak waktu bersama dengan suami untuk sama-sama menerapkan kurikulum keluarga yang selama ini sudah dirancang bersama.

Nah, secuplik kegiatan saat sosial distancing tadi jika kita niatkan mengharap ridha Allah semoga bisa menjadi bekal amalan kita kelak di akhirat. Dan jika kita melakukannya dengan ikhlas pasti terasa ringan dan kita pun menjadi bahagia sehingga stress pun go away..
Dengan begitu imun kita semakin kuat dan insya Allah terhindar dari berbagai penyakit termasuk COVID-19 ini..

Gimana nih cara lain memperkuat imun kita?
Yuks Get The Sun alias rajin-rajin berjemur. Mari kita manfaatkan sinar matahari yang Allah berikan kepada kita secara gratisss..tiss.tisss....
Sebagaimana yang dijelaskan oleh dr. Vinci Edy Wibowo, SpP bahwa berjemur yang paling baik adalah saat matahari terik yaitu sekitar pukul 09.00-11.00 selama 15-30 menit. Usahakan mengenai kulit secara langsung dan saat berjemur pilih tempat yang terhindar dari polusi.
Selain itu, untuk meningkatkan imun atau daya tahan tubuh, tidur yang cukup selama 6-8 jam per hari. Waktu terbaik untuk tidur adalah malam hari. Jadi selama sosial distancing ini jangan malah begadang ngabisin waktu ga jelas buat streaming film atau hal yang kurang manfaat lainnya.

Trus gimana biar iman kita juga kuat?
Banyak-banyak istighfar, memohon ampun kepada Allah. Ketika aktifitas keluar semakin minim, tubuh tidak terlalu lelah. Cocok banget kita gunakan sepertiga malam kita untuk muhasabah diri bertaubat kepada Allah begitu banyak waktu yang kita habiskan untuk mengurus masalah duniawi hingga mengesampingkan bekal akhirat kita.
Selain itu, kita bisa banyak bersedekah untuk membantu keadaan yang kurang mampu dimana mereka tetap harus bekerja diluar sana sebagai sumber penghasilan keluarga.



Intinya, sosial distancing ini bisa menjadi moment yang berharga jika kita bisa memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Terutama untuk semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta اَللهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.

Bagi yang masih harus berjuang keluar ditengah-tengah virus corona ini, mari luruskan niat agar menjadi ibadah dan bernilai pahala disisi اَللهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.
Tak lupa juga, mari kita dengan tulus ikhlas mendoakan para tenaga medis yang berada di garis terdepan menghadapi virus ini, semoga senantiasa diberi kesehatan dan perlindungan oleh اَللهُ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dan menjadi amal jariyah karena telah berjuang menyelamatkan nyawa mereka yang terinfeksi virus corona ini.

Semoga kita semua bisa melewati wabah ini dengan sabar dan Allah segera angkat musibah ini sehingga kita bisa menyambut Ramadhan dengan penuh suka cita, meramaikan masjid-masjid untuk shalat berjamaah dan berkumpul bersama keluarga saat lebaran nanti...
Aamiin ya Rabbal'alaamiin....



Bookish Play, Tumbuhkan Generasi Anak Cinta Buku



بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم



Assalamualaikum mommies hebat,

Bagaimana cerita membersamai anak hari ini? Semoga tercipta kenangan indah setiap harinya ya...

Siapa disini yang pengen banget anaknya suka baca buku..?
Pasti hampir semua mommies ingin anaknya cinta buku ya, walaupun entah mommy nya sendiri suka baca buku atau tidak 😁✌
Karena seperti kita ketahui semua, bahwa buku adalah jendela dunia. Dengan mengenalkan buku sedari kecil, harapannya anak akan gemar membaca dan mencintai buku. Membaca buku akan menjadi sebuah kebutuhan hingga dewasa dan anak akan mendapat ilmu dari sumber yang jelas yaitu dari buku bukan dari media internet yang memang lebih mudah kita dapatkan tetapi belum pasti kebenarannya.🤐

Maka dari itu, disini sedikit sharing gimana caranya agar anak lebih menyukai buku.

Salah satunya dengan cara bookish play.

Siapa disini yang baru denger istilah bookish play?

Jadi, bookish play ini merupakan aktivitas bermain anak yang berhubungan dengan tema sebuah buku. Bagaimana caranya?

Saat akan membacakan sebuah buku ke anak kita bisa menyiapkan terlebih dahulu permainan apa yang berhubungan dengan isi dari buku itu. Ga perlu cari yang ribet-ribet dulu, kita bisa kok pakai bahan seadanya dirumah, atau dengan mainan anak yang sudah siap pakai. Setelah kita menemukan tema yang sesuai dan bahan mainannya, kita bisa memulai dengan membacakan isi buku, biasanya buku yang dipilih untuk anak balita kita adalah buku yang berisi kegiatan sehari-hari dengan tokoh yang lucu atau kehidupan binatang (kalau saya memilih buku yang mengandung unsur islami untuk menanamkan akidah ke anak sejak kecil).

Setelah membacakan isi buku, kita bisa retelling story dengan cara yang interaktif dengan menggunakan mainan yang sudah disiapkan sebelumnya.

Berikut sedikit contoh bookish play yang simple dengan bahan yang simple pula, ya Moms.

Bermain origami hewan laut (dokpri)

Menyusun balok bangunan masjid (dokpri)

Gunting tempel dan mewarnai (dokpri)


Dengan permainan yang seru, anak akan jadi lebih antusias dan lebih memahami isi buku. Selain itu diharapkan anak bisa enganged dengan buku dan mencintai buku, dengan begitu anak akan ketagihan membaca buku dan menanti-nanti buku baru dari mommies nya ketimbang meminta gadget. Jika si anak sudah semakin besar biarkan anak memilih ide bermain sendiri yang sesuai dengan isi buku yang ia pilih untuk dibaca.

Dan yang terpenting adalah dampingi, bersamai kegiatan bermain dengan si kecil, fokus sepenuhnya dengan anak kita. 


Yuks moms boleh banget yang mau sharing ide bookish play di kolom komentar dibawah ya...
Semangat membersamai anaknya moms..🤗🤗



#bookishplay #montessoriathome #sensoryplay #playathome #fitrahbelajaranak

Corona dan Penangkalnya


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


Assalamualaikum sahabat...

Semoga dalam keadaan sehat dan tenang walaupun virus corona mulai "tercium" di Indonesia...
Sebelum kita bahas lebih mendalam, yuks kita bahas sebentar siapa sih si corona virus ini?

Koronavirus atau coronavirus (istilah populernya: virus korona, virus corona, atau virus Corona) adalah sekumpulan virus dari subfamili Orthocoronavirinae dalam keluarga Coronaviridae dan ordo Nidovirales. 
Kelompok virus ini yang dapat menyebabkan penyakit pada burung dan mamalia (termasuk manusia). Pada manusia, koronavirus menyebabkan infeksi saluran pernapasan yang umumnya ringan, seperti pilek, meskipun beberapa bentuk penyakit seperti SARS, MERS, dan COVID-19 sifatnya lebih mematikan. Manifestasi klinis yang muncul cukup beragam pada spesies lain: pada ayam, koronavirus menyebabkan penyakit saluran pernapasan atas, sedangkanpada sapi dan babi menyebabkan diare. Belum ada vaksin atau obat antivirus untuk mencegah atau mengobati infeksi koronavirus pada manusia. Source:Wikipedia.

Sebenarnya masih simpang siur juga sih, siapa si corona virus ini? Awal mula menyerang masyarakat Wuhan China, diberitakan bahwa virus ini menyebar dari pasar seafood di Huanan China dimana kelelawar yang dijadikan korban atas penyebab virus ini menyebar. Bahkan santer berita pula bahwa corona ini adalah virus buatan china yang dibuat untuk senjata biologis untuk perang. 
Entah bagaimana kebenarannya wallahu a'lam bishawab.

Tapi jangan khawatir akan virus ini, karena sudah banyak pula informasi yang beredar tentang bagaimana penularan dan langkah-langkah antisipasinya, seperti dalam gambar dibawah ini.




Lalu, bagaimana dengan di Indonesia?
Awal bulan Februari masyarakat Indonesia masih tenang adem ayem tidak takut akan virus ini. Bahkan banyak meme yang mengatakan virus corona ini takut dengan orang Indonesia dikarenakan pola makan dan gaya hidup masyarakatnya yang tidak "sehigienis" negara maju. Tapi disini harga masker di pasaran sudah mulai membumbung tinggi. Karena saya termasuk orang yang selalu stock masker dirumah untuk berbagai keperluan jadi kaget ketika harga masker menjadi tidak wajar padahal virus itu belum "terdeteksi" di Indonesia. Harga 1 box surgical mask 3ply isi 50 pcs yang normalnya sekitar 18-20ribu tiba-tiba menjadi ratusan ribu di e-commerce dan di toko offline sudah banyak yang kosong. Entah manipulasi dari pihak mana, tapi begitulah yang terjadi di negara +62 ini, dimana banyak oknum yang tidak punya hati mencari keuntungan sebanyak mungkin bahkan dalam kondisi genting seperti ini.

Dan benar saja, akhir bulan Februari tiba-tiba Bapak Presiden (yang banyak dielu-elukan sebagian orang ini) mengumumkan bahwa ada 2 warga Depok yang positif corona. Sontak berita ini membuat heboh dan panik masyarakat. Banyak orang yang mulai memborong belanjaan dan harga maskerpun semakin menggila. Saya pun mencoba tetap woles (padahal lokasi saya tidak begitu jauh dari 2 warga tersebut) sembari mencari informasi melalui gawai di tangan. Tapi justru beragam asumsi yang saya dapatkan, tinggal di negara yang berflower ini sungguh penuh intrik yang mana pemerintahannya memang cukuplah "antik".

Akhirnya saya mendapati beberapa statement di media sosial yang bisa membuat saya lebih tenang dan tidak latah dengan kondisi yang ada. Serasa tertampar, bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan selama kita yakin dan selalu ingat kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.

Yaa, memang benar segala sesuatu itu sudah Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى atur sedemikian rupa, tugas kita hanya sabar dan ikhlas dalam menjalaninya. Memang tidak semudah mengucapkannya menuliskannya, butuh iman yang benar-benar kuat. Dan saya menulis disini sebagai bentuk untuk merefleksi diri agar bisa terus berpositif thinking dalam menghadapi wabah ini.


Yaaa..
Sebaik-baiknya penangkal dari semua virus dan wabah adalah berserah diri memohon perlindungan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.
Yakin dan percaya sepenuhnya akan qadarullah, bahwa sakit datangnya dari Allah dan kesembuhan juga atas ijin Allah, dengan begitu insya Allah perasaan was-was dan khawatir berlebihan akan sirna dengan sendirinya. Dan yang tidak kalah penting senantiasa berdoa dan ikhtiar untuk selalu menjaga kesehatan sebagai bentuk tanggung jawab kita atas anugerah tubuh yang diberikan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى .

Lalu kita sebagai umat muslim, banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai bentuk ikhtiar dan tawakal kita kepada Allah.

1. Berdoa

Ada salah satu hadits yang menerangkan tentang doa memohon perlindungan dari segala penyakit mengerikan termasuk penyakit COVID-19 ini. Berikut doanya:

Source:@ShahihFiqih

2. Dzikir Pagi&Petang

Ada pepatah bilang "dzikir pagi petang bagaikan baju besi berperang" yang dapat melindungi kita dari berbagai mata bahaya, tentunya dengan seijin Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى .
Banyak penulis yang menuliskan buku dzikir pagi petang, saya sendiri membaca buku karya 
Yazid bin Abdul Qadir Jawas.
Bagi yang belum punya bisa download PDF ini ya..

3. Memelihara Wudhu 

Beruntunglah sebagai umat muslim kita wajib shalat 5 waktu, dimana sebelum shalat kita berwudhu terlebih dahulu. Bukankah saat berwudhu yang dibasuh pertama kali adalah kedua tangan? Sebagaimana yang dianjurkan oleh berbagai praktisi saat ini untuk rutin mencuci tangan sebelum memegang wajah.
Lalu, yang dimaksud memelihara disini adalah ketika Wudhu kita sudah batal, maka langsung berwudhu lagi tanpa menunggu waktu kita akan shalat. Tapi ini disesuaikan dengan kondisi dan aktivitas masing-masing individu ya...

4. Jaga Kesehatan dan Stamina Tubuh

Hal ini bisa dilakukan dengan banyak hal 
• Perbanyak makan sayur dan buah segar yang banyak mengandung vitamin C
• Jaga kebersihan makanan dan kebersihan diri
• Rutin berolahraga dan berjemur sekita jam 7-8 pagi untuk mendapat vitamin D alami
• Perbanyak konsumsi rempah yang banyak mengandung curcuma seperti kunyit, jahe, temulawak, dan sereh
• Konsumsi madu untuk meningkatkan imun tubuh 
• Be calm and dont panic agar tidak stres yang menyebabkan imun turun



Semoga dengan langkah-langkah di atas, biidznillah kita dapat terhindar dari berbagai macam penyakit, khususnya COVID-19 yang sedang menyerang negara kita tercinta. 

Akhir kata, wassalam.




#COVID-19 #viruscorona #rempah #qadarullah #doa #dzikir #dzikirpagipetang