7 Pedoman Seorang Ibu minim Stress

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه



Orang bilang cinta ibu ke anak itu sepanjang masa ya?
Eh ternyata benar, sekarang baru ngerasain sendiri setelah punya anak...
Katanya juga nih, cinta ibu ke anak tak bersyarat?
nah, yang ini aku masih meragu..
Setelah berbagai struggling menjadi new mom, kok rasanya justru cinta seorang anaklah yang tak bersyarat..
kok bisa?


Coba kita renungkan sejenak, anak kita yang begitu polos dan lucu, selalu menyambut manis dengan binar matanya tak peduli kita sudah mandi atau belum. Anak kita yang terkadang diri ini masih saja secara tidak sadar tidak terkontrol marah atau bernada tinggi saat anak melakukan kesalahan eksplorasi yang mungkin belum dia pahami dan akhirnya menangis, tapi selalu akhirnya minta pelukan kita kembali.

Sedangkan kita sebagai orangtua, khususnya Ibu..
Masih saja banyak menuntut ini dan itu yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan anak, bahkan berakhir marah karena anak tidak menurut atau tidak sesuai dengan harapan kita.
Rasanya malu sendiri dengan predikat Ibu dengan cinta yang masih penuh tuntutan seperti itu.

Belajar, mencoba perbaiki diri...
Mencari tau bagaimana untuk bisa menjadi orang tua yang lebih baik dan memberikan cinta kasih sayang yang tulus tanpa amarah dan emosi yang tidak terkontrol. Mulai dari membaca buku parenting, mengikuti beberapa kelas online, mengikuti beberapa influencer parenting di berbagai media sosial, hingga mengikuti komunitas yang banyak membahas seluk beluk parenting. 
Hingga akhirnya membuat aku tersadar pentingnya menjadi ibu yang sempurna bijak (karena pada hakikatnya kesempurnaan hanya milik Allah) dan terus berusaha mengelola emosi agar tidak terlampiaskan ke anak. 



Tak perlu berlama-lama lagi, disini saya akan coba rangkum 7 pedoman seorang ibu agar jauh dari rasa stress saat mengasuh dan membersamai anak.

1. Selalu ingat bahwa anak adalah amanah

Nah, ini mungkin yang terkadang kita lupakan sejenak sebagai orangtua. Bahwasanya anak kita hanyalah titipan dari Allah Subhanahu wa ta'ala yang semestinya kita jaga. Coba saja saat kita dititipi teman atau saudara untuk menja anak mereka sejenak untuk 1 dan lain hal, pasti kita akan jaga dan perlakukan dengan baik, bahkan kita tidak akan berani marahin atau omelin kan..?
ya iyalah masa iya anak orang kita omelin..? 
Terus kenapa anak sendiri malah dimarah-marahin atau dibentakin? kan anak kita juga hanyalah titipan dari Yang Maha Kuasa.? yang kelak kita akan dimintai pertanggungjawabannya.
Nulis begini pun masih merem melek karena begitu banyak kesalahan yang telah dilakukan ke anak tanpa kita sadari. Semoga dengan bertambahnya ilmu tidak akan terulang kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan ke anak dan Allah mengampuni dosa-dosa kita serta memberi kesempatan untuk memperbaikinya...aamiin

2. Selalu ingat perintah Allah akan pentingnya menjaga keluarga

QS.At-Tahrim : 6

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Perintah Allah dalam Al Quran begitu jelas adanya, tidak hanya berlaku untuk para suami atau ayah saja, tapi kita sebagai ibu pun ikut bertanggung jawab dalam menjaga keluarga, khususnya anak. Menjaga anak disini termasuk menjaga ketauhidan anak, mengajarkan baik buruknya sesuatu, menanamkan kejujuran dan nilai-nilai kebaikan islam lainnya. Dengan mengingat perintah Allah diatas, maka kita akan selalu berupaya menjaga perilaku kita agar bisa menjadi suri tauladan yang baik bagi anak.

3. Selalu ingat bahwa anak adalah ladang pahala 

Masih ada sebagian orang tua yang berpikir bahwa anak adalah beban. Bahkan banyak negara yang masyarakatnya menghindari pernikahan karena tidak mau repot mengurus anak. (Semoga kita semua dihindarkan dari pikiran seperti itu yaa...)
Padahal sebenarnya anak adalah ladang pahala untuk bekal kita di akhirat nanti. Sebagaimana kita ketahui, hadits yang sudah sering kita dengar:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Pasti kita semua mengharapkan anak kita menjadi anak yang sholeh dan sholehan kan? Karena doanya kelak akan terus mengalir menjadi amalan baik kita walaupun kita sudah tiada.
Dengan mengingat hadits tersebut, insya Allah cara pandang kita dalam menghadapi anak akan berbeda dengan cara pandang yang menganggap anak adalah beban. Kita akan lebih bersemangat dalam mengurus anak mulai saat bayi yang suka menangis saat kita tinggal, kita akan semangat merapikan mainan yang dieksplore oleh anak, kita akan lebih semangat saat mengajari anak, dana banyak hal lainnya. Karena pada dasarnya kodrat seorang Ibu adalah sebagai madrasah ula bagi anaknya, yaitu pendidik yang pertama dan utama, dimana banyak pahala yang bisa kita dapatkan.

4. Perbanyak ilmu parenting

Seperti sudah saya bahas di awal, kurangnya ilmu akan pengasuhan anak akan membuat kita tidak tau bagaimana seharusnya bersikap ke anak. Karena anak kita mengalami tahapan perkembangan yang sangat kompleks, sehingga sayang sekali jika kita salah dalam menanganinya. Mempelajari ilmu parenting baiknya idealnya sebelum kita menikah, jadi kita bisa mulai persiapan dengan memilih pasangan yang akan sama pemikiran dalam membangun keluarga dan membesarkan anak. Tapi jangan sedih bagi yang sudah terlewat dan anak sudah mulai besar, karena lebih baik terlambat daripada tidak tau ilmunya sama sekali. Apalagi di era digital seperti sekarang ini, dimana kita bisa sangat mudah menemukan ilmu dan informasi, tapi pastikan juga informasi yang kita dapat itu informasi yang benar dengan mencari sumber yang sudah terpercaya keabsahannya. 

5. Perbaiki hubungan dengan suami

Agendakan secara rutin untuk couple time bersama suami untuk saling bertukar pikiran, menyampaikan pendapat dan keluh kesah agar tidak ada konflik yang berkepanjangan. Karena kondisi keharmonisan suami istri akan sangat berpengaruh dengan psikis sang anak. Anak sangat peka dengan kondisi ibunya, apalagi saat anak masih bayi, jika ibu banyak pikiran atau ada permasalah dengan suami, bayi kita akan cenderung lebih rewel dari biasanya. Kalaupun anak sudah mulai besar dan orang tua sedang dalam masalah yang belum terselesaikan, dikhawatirkan kejengkelan sang ibu ke suami akan terlampiaskan ke anak saat anak melakukan kesalahan, masalah yang awalnya kecil akan dibesar-besarkan oleh sang ibu. Oleh karena itu, saat ada masalah dengan suami hendaknya diselesaikan secara langsung tanpa ditunda-tunda, dikomunikasikan dengan baik saat tidak ada anak kita.

6. Samakan visi dan misi keluarga

Saat couple time bersama suami, sempatkan pula untuk membuat family goals dan berusaha komit dengan suami atas apa yang sudah disepakati. Lebih baik lagi jika kita bisa membuat kurikulum keluarga bersama suami. Seperti halnya lembaga pendidikan yang ada kurikulumnya, dalam berkeluarga pun mestinya dibuat kurikulum yang berisi tujuan, topik dan strategi pembelajaran anak. Bicarakan dari hati ke hati dengan mempertimbangan dari berbagai aspek, sehingga saat menjalankannya tidak ada kendala yang cukup besar karena sudah diantisipasi sejak awal. Lakukan juga evaluasi atas apa yang sudah dikerjakan agar bisa dilakukan perbaikan di kemudia hari.

7. Kelola dan manajemen waktu dengan lebih baik lagi

Siapa disini yang menajdi fullmom dengan pekerjaan domestik yang seabrek tanpa bantuan ART? 
Berarti kita tak sendiri ya moms, karena saya pun berada di rantau jauh dari sanak saudara dan suami yang sering pulang malam karena kantor jauh dan tuntutan pekerjaan yang memaksa suami untuk sering lembur di kantor..(uups jadi curcol)
Rasanya sungguh melelahkan ya Moms, apalagi kalo anak belum mau disambi yaa, yang sering membuat pikiran kita jadi ruwet. Nah, kalau udah mulai ruwet gini kembali dulu ke point 3. Ingat bahwa ini lah kesempatan kita untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya. Sambil sedikit demi sedikit mengatur jadwal dan skala prioritas demi kewarasan hati dan pikiran. Kita harus pintar mengatur waktu dengan baik, dengan tidak menunda pekerjaan dan jika merasa overload mintalah bantuan ke suami. Manajemen waktu yang baik akan membuat kita lebih lega dan fokus dengan apa yang sedang kita kerjakan. Saat kita menemani anak kita bisa being present sehingga anak merasa betul kehadiran kita, sehingga jika sudah saatnya melakukan tugas domestik anak akan mau dengan sendirinya, sehingga pekerjaan bisa beres sesuai waktunya dan kita pun tidak menjadi snewen sendiri.


Nah itu dia tadi, hal-hal yang perlu kita ingat dan persiapkan dalam mengemban tugas utama kita sebagai seorang Ibu dengan tulus ikhlas dan jauh dari amarah hingga membuat kita stress sendiri.Dan yang tidak kalah penting juga adalah 
menjadi ibu itu harus happy dan penuh rasa syukur..


Semangat selalu ya mommies...


16 komentar:

  1. Waaaah sudut pandang yang baru aku sadari: justru cinta anak lah yang tidak bersyarat <3 ku jadi pengen buru-buru pulang ke rumah peluk anakuuu

    BalasHapus
  2. Jazakillah sharingnya. Saya rasa cinta keduanya tak bersyarat, karena ikatan batin yang tak terpisahkan. Kita dan anak kita adalah satu darah daging. Tetapi untuk memantrai positif terhadap semua yang anak lakukan, tentu, cinta anak tak bersyarat menjadi motivasi yang baik. :)

    BalasHapus
  3. Beneerr, jadi ibu itu bukan perkara hanya karena sdh bisa melahirkan saja, tapi juga harus berilmu, setuju aku kl ilmu parenting dikuasai paling tepat saat single,saat punya anak ga Ada lg tuh drama 'kaget-kagetan' perilaku anak😂

    BalasHapus
  4. Waah bener² bisa menjadi pengingat kelak.. kazakillah khair ilmu dan sharing nya mba ♥

    BalasHapus
  5. 7 poin yang benar benar harus di praktekan nih.
    Dan emang yang paling penting adalah menjadi ibu yang bahagia dan bersyukur.

    BalasHapus
  6. barakallah...
    tq for sharing n reminder
    sehat2 selalu mba :)

    BalasHapus
  7. Terima kasih sharingnya mba, semoga kelak bisa dipraktekkan 😊

    BalasHapus
  8. masyaa allah, makasih ilmu nya mbak, semoga bisa segera diaplikasikan dan Allah luaskaaaan sabar aku :"

    BalasHapus
  9. Masya Allah, menjadi catatan bagi saya yang masih jomblo.. supaya gak stress pas di kehidupan pernikahan, hehe.. barakallah.. jazakillah khairan

    BalasHapus
  10. Makasih sharingnya Mba 😊, secara teori kayaknya mudah diserap tapi kalo di kenyataannya perlu banyak latihan ya Mba.

    BalasHapus
  11. MasyaAllah, terimakasih atas sharingnya mbaa, sebagai seorang yang masih single sangat memberikan pencerahan bagi saya, bahwa mengurus anak itu tidak mudah, butuh ilmu yang harus di persiapakan sedini mungkin...

    BalasHapus
  12. Thanks for sharing mbaa, semangaat para moms, semoga nantinya bisa mengamalkan juga, aamiiin.

    BalasHapus
  13. MaasyaaAllah.... Makasih sudah diingatkan mbak....

    BalasHapus
  14. MasyaAllah.. makasiy untuk remindernya ❤️

    BalasHapus
  15. masyaAllah, terimakasih sudah diingatkan kembali dengan tulisan ini ya mba..

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung, dengan senang hati menerima masukan saran dan komentar Anda 😊🙏