Efektifkah Pemberian Reward & Punishment ke Anak?

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم 
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه


Mendidik anak itu bisa dibilang gampang-gampang susah ya? Apalagi dalam melatih kedisiplinan anak. Terasa sulit saat anak sudah mulai menunjukan kemauannya sendiri dan tidak sepaham dengan harapan kita, tapi bisa dibilang mudah juga saat kita tau ilmunya. Akan tetapi, ilmu yang telah kita pelajari pun bisa "ambyar" seketika saat kita menjalankannya, entah karena tidak tega atau sulitnya mengendalikan emosi kita. 

Salah satu cara yang banyak diterapkan sebagian orangtua sejak jaman dahulu adalah sistem pemberian Reward and Punishment. Siapa yang waktu sekolah dulu suka diiming-iming mendapat hadiah saat jadi juara kelas? Atau ditakuti akan dipindah sekolah ke desa kalau nilainya jelek?

Itu sih jaman kita kecil dulu ya moms.. kalo moms milenial sih reward and punishment biasa dilakukan sejak anak memasuki masa terible two dengan pemberian pujian atau hukuman no screening time. Cara ini cukup ampuh untuk melatih kedisiplinan anak, terutama sejak dini. Disiplin dalam parenting sangat erat kaitannya dengan upaya membantu anak-anak belajar mengelola diri mereka sendiri, baik perasaan dan perilaku mereka. Pentingnya mengajarkan disiplin ke anak adalah untuk mengembangkan kompas moral mereka sendiri untuk memilah perilaku dan dorongan hati atau perasaan mereka. Sehingga mereka bisa mengetahui dan memilah sendiri mana yang benar dan mana salah serta mana yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan. 

Sebelumnya kita akan bahas terlebih dahulu apa itu reward dan punishment.

Reward berasal dari bahasa Inggris yang artinya hadiah, penghargaan atau imbalan. Reward diberikan sebagai bentuk penghargaan atau imbalan atas perilaku baik atau prestasi, saat anak berhasil melakukan tugas yang telah disepakati. Sedangkan punishment berarti hukuman atau konsekuensi yang diberikan atas perilaku yang tidak semestinya, dengan tujuan mengurangi kemungkinan hal tersebut terjadi lagi di kemudian hari.

Reward ke anak tidak hanya berbentuk barang (reward tangible), tapi juga bisa dalam bentuk pujian, tos, atau bermain bersama (reward intangible). Sedangkan punishment juga tidak melulu memarahi atau memukul anak, tapi bisa juga bentuknya “mengambil hal yg disukai anak” seperti contoh dilarang main atau screening time. Dari berbagai strategi mendisiplinkan anak, pemberian reward dan punishment menjadi strategi yang sering dilakukan oleh orangtua. Strategi ini mungkin jadi jurus andalan untuk mengubah perilaku anak yang tidak seharusnya.

Lalu apakah pemberian reward dan punishment ini dapat efektif?

Reward and Punishment

Pemberian reward pun sudah dilakukan oleh Rasulullah, tapi pada konteks yang berbeda. Rasulullah memberikan hadiah bagi pemenang dalam perlombaan anak-anak, seperti perlombaan lari atau saat memberikan pertanyaan. Diriwayatkan oleh Ahmad dari Abdullah bin Harits radhiyallahu'anhu: 

"Rasulullah membariskan Abdullah, Ubaidullah, dan beberapa anak lainynya dari cucu-cucu Abbas ra. kemudian beliau bersabda, "Siapa yang bisa sampai kepadaku terlebih dahulu maka dia akan mendapat hadiah demikian dan demikian!".

Mereka pun beradu cepat ke arah beliau lalu memeluk punggung dan dada beliau, kemudian beliau mencium dan memeluk mereka. "

Jadi, memberikan "hadiah" bagi pemenang dalam perlombaan atau kompetisi adalah suatu metode bagi orangtua atau bahkan pendidik, untuk memberikan kegiatan, mengarahkan bakat dan kecenderungan anak. Metode ini perlu diterapkan pada saat yang tepat agar hasilnya sesuai dengan harapan. Namun jika cara tersebut belum berhasil membuat anak melakukan hal baik, maka anak memerlukan pengobatan berupa "hukuman" saat anak melakukan hal yang tidak seharusnya. Hukuman disini bukanlah suatu pembalasan dendam kepada anak, tetapi anak dihukum karena merupakan salah satu metode pendidikan dan bukanlah suatu siksaan. Hukuman merupakan salah satu aspek penting dalam pendidikan anak, maka orangtua dan para pendidik harus selalu waspada dalam berinteraksi dengan anak-anak, memahami tabiat mereka, dan tentunya memilih hukuman serta cara menghukum yang tepat dan pantas sesuai usia anak kita

Sebagaimana sabda Rasulullah:

 "Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat apabila mencapai usia tujuh tahun dan pukullah mereka (kalau meninggalkan shalat) pada usia sepuluh tahun". 

Memukul disini pun mempunyai cara dan aturan, yaitu tidak keras dan tidak di kepala sang anak.


Terkait pada pemberian reward dan punishment, sama seperti semua hal di dunia ini, selalu ada sisi positif dan negatif. Disini kita akan bahas beberapa hal yang harus diperhatikan saat memberikan reward dan punishment kepada anak.

1. Pilih reward/punishment yang berpengaruh untuk anak.

Dengan cara ajak anak berdiskusi dan membuat daftar kesepakatan apa saja yang anak inginkan dan tentukan skala prioritas. Setelah itu kita bisa membuatkan reward chart yang ditempel, saat anak melakukan hal kebaikan berikan 1 "bintang", tapi saat anak berlaku sebaliknya maka "bintang" pun berkurang yang akan mempengaruhi lamanya reward dapat ia peroleh dengan syarat (misalnya) terkumpul 5 "bintang". Jadikan ini sebagai media anak berlomba agar timbul semangat untuk mengumpulkan "bintang" karena bintang identik dengan sesuatu yang tinggi dan bersinar.

2. Ketika perilaku muncul, segera berikan reward/punishment secara konsisten

Melalui reward chart kita pun jadi mudah dalam mengaplikasikan  sehingga anak paham dan ingat betul atas kesepakatan yang telah dibuat bersama karena anak pun bisa ikut menghitung langsung bintang yang sudah ia kumpulkan.

3. Jenis reward/punishment harus disesuaikan

Saat anak menunjukan perilaku yang tidak sesuai dan semakin menjadi, berikan punishment yang semakin tidak diinginkan oleh anak atau semakin beratnya hukuman yang diberikan. Akan tetapi berlaku juga saat pemberian reward, saat anak melakukan lebih dari ekspektasi kita, maka reward yang diberikan pun bisa lebih dari apa yang diinginkan sang anak. Cara ini dilakukan saat anak benar-benar melakukan hal yang tidak biasanya, baik hal baik maupun hal buruk.

Dalam pemberian reward/punishment dibutuhkan kehati-hatian agar tidak timbul efek negatif dari pemberian reward/punishment. Jadi ketika memberikan reward kita harus yakin betul bahwa perilaku sebelumnya yang ditunjukan oleh anak adalah perilaku yang kita harapkan. Begitu juga sebaliknya, ketika kita merespons perilaku buruk anak, kita harus yakin bahwa itu bukan respons yang diinginkan anak.

Selain itu perlu kita perhatikan juga dalam penggunaan punishment ini cukup  berisiko karena ada dampak negatifnya. Punishment dapat menghasilkan emosi negatif pada anak dan memicu munculnya perilaku melarikan diri atau menghindar. Terlalu sering memberikan punishment ke anak juga dapat mendorong orang tua untuk terus menggunakan atau bahkan meningkatkan penggunaan punishment yang bisa lebih buruk lagi. Oleh karena itu, penggunaan punishment ke anak alangkah baiknya dijadikan langkah terakhir saat anak berperilaku yang tidak sesuai. Pemberian reward/punishment dikhawatirkan membuat anak merasa cinta yang diberikan orangtuanya adalah cinta yang bersyarat. Hal ini dapat membuat anak melakukan kebaikan hanya semata-mata mengharapkan reward dari kita dan menghindari hal buruk karena takut hukuman dari kita. Padahal yang kita inginkan adalah kelak anak kita bisa memilah sendiri hal yang baik dan buruk dengan kesadaran dan motivasi dari dirinya sendiri.

Dikarenakan pemberian reward dan punishment memiliki kelemahan, jadi para ahli mengembangkan konsep yang disebut Disiplin Positif.

Disiplin Positif adalah jenis disiplin yang menggunakan teknik pencegahan, pengalihan, dan penggantian untuk menghentikan perilaku anak yang tidak sesuai dengan semestinya. Cara ini dapat membantu memperkuat dan meningkatkan kepercayaan anak kepada orang tua. Strategi ini juga dapat mengurangi konflik antara orang tua dan anak di kemudian hari.

Sebagai contoh, pencegahan dan pengalihan bisa dilakukan ketika kita menyaksikan ada kemungkinan  si kecil akan merebut mainan kakak, maka kita bisa segera menawarkan mainan lain atau mengajak sang kakak untuk meminjamkan ke adik dan bermain secara bergiliran.

Agar lebih jelas lagi dalam mempraktikan disiplin positif, berikut beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penerapan disiplin positif. 

  • There are no bad kids, just bad behavior
Jangan sampai kita menganggap anak kita adalah anak yang nakal, apalagi sampai terucap ke anak kita secara langsung. Ini bisa mensugesti dirinya dan memperuat citra negatif anak baik dalam pikiran kita maupun dalam diri anak. Terkadang anak meyakini apa yang ia lakukan adalah hal yang benar, dan kalau sudah begitu ia akan bersikukuh dengan apa yang ia lakukan. Tugas kita adalah tetap tenang dan fokus memperbaiki, dengan cara memberi tau kepadanya dengan baik dan katakan berulang-ulang dengan mengganti pilihan kata yang kita gunakan, kuncinya sabar ya Moms >.<
  • Tunjukkan rasa empati
Saat anak menangis atau berontak, kita haus menunjukan rasa peduli kepadanya dengan cara memeluk dan mengatakan secara langsung kata-kata yang bisa membuatnya lebih tenang, seperti "iya..mama tau/ngerti kamu ingin (begini atau begitu)"
  • Berikan pilihan untuk menyelesaikan masalah
Setelah menunjukan empati kita kepada anak, kita bisa menawarkan beberapa pilihan yang berimbang dan penuh kehati-hatian. Pemberikan pilihan membuat anak merasa memiliki kontrol, daripada harus menuruti satu perintah yang langsung kita berikan kepadanya. 
  • Tetapkan batasan yang jelas dan konsisten dalam penerapannya
Buat kesepakan dengan si kecil untuk aturan dan konsekuensinya dengan jelas dan terperinci. Konsisten adalah kunci utama dalam sebuah kedisiplinan. Jangan mudah terlena karena tangisan drama si anak atau karena merasa lama jika menunggu si kecil melakukannya sendiri.
  • Gunakan kalimat yang sederhana atau pertanyaan untuk mengingatkan anak
Ketika anak sudah mengetahui tugas dan kewajibannya, kita hanya memerlukam kalimat sederhana atau sekedar pertanyaan retoris untuk mengingatkan anak bagaimana seharusnya bersikap. jadi kita tidak perlu bicara panjang lebar ngomel dari A hingga Z kepada anak, karena akan buang-buang energi saja moms.
  • Sesuaikan dengan usia anak

Seperti sudah dibahas di awal tadi, bahwa penerapan pada anak usia dini (toddler) berbeda dengan anak yang lebih besar. Toddler (anak dibawah 3 tahun) belum bisa memahami kalimat sulit atau perintah bertingkat, serta belum bisa memahami dengan baik konsekuensi dari suatu perilaku. Jadi, untuk anak toddler, pengalihan akan lebih efektif untuk digunakan. Sedangkan anak usia lebih besar, kita dapat membantu perkembangan kognitif mereka dengan memberi mereka pilihan dan mengajak mereka berdiskusi. 

Mayoritas orang memperoleh tabiat buruk dari kebiasaan semasa kecil yang tidak diubah dengan pengajaran dan pendidikan yang dapat memperbaiki akhlak dan perilaku mereka.

Jadi sudah menjadi tugas kita sebagai orang tua untuk mengajarkan ke anak agar bisa berperilaku baik sesuai hati nurani dan motivasi dalam dirinya sendiri. Tentunya dengan cara yang bijak dan penuh kasih sayang seperti langkah-langkah yang sudah dijelaskan di atas. Yang terpenting adalah kekonsistenan kita sebagai orang tua untuk memberi teladan dan bersikap tegas saat anak mulai menunjukan "ketidakbaikannya" dalam bersikap.


35 komentar:

  1. Baik, boleh kuterapkan untuk sistem Bintang 5nya,biasanya langsung kasih aja tanpa step, sekarang biar lebih challenging pake * reward dan punishment makasih sharingnya kak

    BalasHapus
  2. Dari dulu selalu suka quotes no bad kids..just bad behavior...
    Terima kasih ilmunya mba..
    Saya praktekin ke anak ah..
    :)

    BalasHapus
  3. Syahdian Sofwan5:43 PM, Juli 07, 2020

    MasyaAllah setuju banget, tabiat buruk amsa kecil yang tidak segera diperbaiki, akan terbawa hingga ia dewasa dan menilai tabiat itu benar, karena tidak ada mengoreksi. Padahal tidak seperti itu. Makanya pendampingan orang tua yang berilmu akan ini penting. Memberi hadiah tidak berniat memanjakan, dan memberi hukuman tanpa berniat menjatuhkan. Jazakillah sharingnya mba,

    BalasHapus
  4. Punishment juga bagian dr mendidik ya.. sip sip
    Bismillah catet dulu

    BalasHapus
  5. betul mba, aku pun karena anak masih usia 3 tahun belum menerapkan punishment, masih dalam tahap pembiasaan perilaku baik dan disiplin.

    BalasHapus
  6. terimaksih mbak postingannya ngasih persfektif baru meskioun aku belum punya anak dan belum merasakan jadi orangtua, aku bisa tau dan belajar banyak mengenai bagaimana reward dan punishment buat anak :(

    BalasHapus
  7. MasyaaAllah sangat bermanfaat Mom. Kebetulan anakku masih di bawah 3 tahun. Selama ini cuma kuajari dulu cara meminta maaf kalau ada salah, hehe. Terima aksih panduannya Mom

    BalasHapus
  8. Beberapa hal memang sudah saya coba terapkan ke anak hanya masalah konsisten yang belum terlalu di biasakan.

    BalasHapus
  9. Semoga aku bisa konsiten lagi kedepannya menerapkan disiplin kepada anak.

    BalasHapus
  10. yg terpenting memang konsisten yaa, jd anak jg belajar mengerti yg benar dan salah :)

    BalasHapus
  11. Terimakasih atas sharingnya mbaa, ilmu yang bermanfaat untuk saya nanti saat punya anak :)

    BalasHapus
  12. Beberapa sudah saya terapkan untuk anak saya sih, tapi jelas masih banyak kekurangan karena minimnya pengetahuan saya sebagai orang tua. Thanks mbak ilmunya, sukses yaaaa 😊

    BalasHapus
  13. Terima kasih mbak buat ilmu parentingnya. Kebetulan aku belum punya anak nih, jadi ortu memang banyak PR-nya ya. Nanti Insya Allah bisa diterapkan ketika sudah punya anak. Hehe.

    BalasHapus
  14. Aku udah menerapkan reward and punishment ini mba. So far anak-anak paham sih kenapa di hukum, kenapa dikasih reward dan jangan lupa besyukur. gitu deh...cuma yang belum bisa dikendalikan itu intonasi suaraku masih gampang ngegas hahahaha

    BalasHapus
  15. PR banget ya mba jadi orangtua itu, aku karena belum punya anak masih belajar nyimak dan baca-baca pengalaman temen-temen. Semoga aku bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anak ke depannya. Aamiin

    BalasHapus
  16. Susah susah gampang memangvya. Saya termasuk orang tua Yang menerapkan reward dan punishment tapi sampai di usia 5 th ini terlihat dia baiknketika ada reward. Dan kembali berbuat ulah saat hadiah sudah diterima. Sebaliknya jika Di beri punishment dia menjadi lebih kasar Dan semaunya

    BalasHapus

  17. Kadang disekitar masih sering ada ortu yg tdk kompak (ilmu komunikasnya blm mantap nih) dlm memberikan reward/punishment pd anak

    BalasHapus
  18. Terimakasih ilmunya mba, saya belum berkeluarga, dengan membaca postingan ini jadi tahu manfaat dan dampak dari sistem reward and punishment untuk anak-anak. Semoga kita bisa menjadi orangtua yang baik pada anak yaa, aamiin

    BalasHapus
  19. Tapi sekarang banyak ibu" yang mengatakan kalau pemberian rewardh itu bikin anak jadi tuman, jadinya gak tulus. Hihihi.


    Padahal sekali-kali gapapa kan ya kalau mau bikin reward. Oetunya aja seneng kok kalau dikasih reward

    BalasHapus
  20. aku menerapkan ini juga sama anakku, tujuannya biar anakku paham kalo apapun dalam hidup ini ada reward dan punishment. biar belajar bertanggung jawab juga

    BalasHapus
  21. Memang reward dan punishment ini ada positif negatifnya ya mbak. Tp setuju sih kalo sistem reward dan punishment ini mengajarkan tanggung jawab dan disiplin ke anak.

    BalasHapus
  22. Punishment yang dimaksud itu karena terkait juga ya dengan didikan, bukan siksaan. Pembelajaran nih buat daku yang bisa diterapkan awal-awal sama Ponakan dulu, biar nanti pas berkeluarga dan punya anak sudah paham

    BalasHapus
  23. Nah, kalau lagi nangis atau berontak, katanya buat peluk pun lebih baik nanti dulu ya karena kalau dalam kondisi kayak gitu belum tentu responnya akan baik. Atau gimana sih ya Mbak sebaiknya?

    Kalau terkait reward, pernah dengar kajian memang kalau kata ustadznya untuk anak kecil arahannya adalah untuk memberikan kabar gembira, jadi nggak apa menyenangkan dengan hadiah. Tapi ya memang pendekatan yang digunakan juga harus diperhatikan, ya, seperti Mbak udah jelaskan di atas.

    BalasHapus
  24. Thank you sudah berbagi mbak. Ternyata milih reward dan punishment nya juga perlu ya, alhamdulillah dapet ilmu lagi buat bekal kalo udah punya anak ntar🤭

    BalasHapus
  25. Kuncinya konsisten ya mba. Kalau kita konsisten, anak akan terbiasa dan ga bingung lagi dengan aturan yang telah ditetapkan

    BalasHapus
  26. saya masih belum bisa konsisten nih terapin reward and punish tuk anak
    padahal si Kakak udah ngerti sih tentang pemberian bintang gitu tapi yaaa itu masih sering kelewat.

    BalasHapus
  27. Yup sepakat. Dan kalo saya terkadang suka kasih reward kejutan. Sesuatu yg dia ingin namun hampir dia lupakan 😉

    BalasHapus
  28. Pertama kali dengar disiplin positif dari Mbak Najeela Shihab lewat bukunya Keluarga Kita, dan aku emang setuju dengan konsep ini. Memberikan reward n punishment emang ngga bisa asal, banyak pertimbangan. Jangan sampai melenakan, jangan pula menyakitkan.

    BalasHapus
  29. Terimakasih mbaaa ilmu parenting ya. Kykny ku harus banyak jalan2 k blogmu. Tulisannya bagus bgt

    BalasHapus
  30. Kalau saya sesekali siy sebagai pemacu semangat, pinter-pinternya kita aja sebagai orang tua memberi reward yang bikin anak jadi nggak tuman.

    Btw, tfs kak, berkah ilmunya yaaa

    BalasHapus
  31. Jazaakillahu khairan ilmunya. Alhamdulillah tambah lagi bekal kelak menjadi orang tua :)

    BalasHapus
  32. Wah lengkap sekali sharingnya, semoga bisa mengamalkan ya mba, paling ngga ke diri sendiri karena belum ada anak hehe..
    Harus konsisten emang

    BalasHapus
  33. Well aku punya pendapat tersendiri dengan reward and punishment ini. Waktu kuliah aku belajar teori tentang ini juga. Pasti ada kelebihan dan kekurangannya ya.
    Aku khawatirnya, kalau anak itu akan semangat belajar kalau ada reward nya aja gt. Sisi positif nya pastinya anak jadi senang dan merasa usahanya ga sia² ya.

    BalasHapus
  34. terima kasih untuk remindernya.. ortu selalu mencontohkan ❤️

    BalasHapus
  35. Bener banget kak, memberi pendidikan yang benar kepada anak gampang gampang susah. Tapi kalau aku beneran ngrasain susahnya hehehe. Apalgi disiplin. Menerapkan nya susah banget. Ga konsisten. Kadang dari akunya sendiri. Terimakasih mba. Aku jadi makin banyak belajar nih buat menghadapi anakku

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung, dengan senang hati menerima masukan saran dan komentar Anda 😊🙏