Sirah Shahabiyah Asma' binti 'Umais, Salah Satu Teladan Wanita Masa Kini

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه


Dari sirah kita menjadi lebih tau mengenai kehidupan Rasulullah secara detail dan keseluruhan yang membuat kita makin cinta dan kagum kepada beliau dan menjadikan beliau suri tauladan terbaik kita. Tidak hanya Sirah Nabawiyah saja yang patut kita pelajari, tetapi ada juga Sirah Sahabah dan Shahabiyah yang tidak kalah menginspirasi dan membuat kita menjadi semakin bersyukur karena ujian yang kita hadapi tidak seberat ujian para sahabat di jaman Rasulullah.

Senang rasanya tulisan kali ini bisa membahas salah satu kisah sahabat Rasulullah Shallallahu'alayhi wa Sallam, yang merupakan generasi terbaik sepanjang sejarah peradaban manusia setelah para Nabi dan Rasul. Demikian halnya dengan para sahabat wanita yang hidup bersama mereka. 
Melalui tema yang ditetapkan dalam Komunitas Blogger Bengkel Diri setiap pekan terakhir, seakan diingatkan Allah untuk kembali membaca buku "bergizi" yang sudah lama hanya tersusun rapi dalam rak buku. 
Sirah Shahabiyah, siapa yang baru denger istilah ini?
Ibnu Mandzur dalam kitab Lisanul Arab menyatakan arti as-sirah menurut bahasa adalah kebiasaan, jalan, cara, dan tingkah laku[1]. Menurut istilah umum, artinya adalah perincian hidup seseorang atau sejarah hidup seseorang. (Wikipedia)

Jadi, sirah shahabiyah merupakan kisah inspiratif dari sahabat wanita Rasulullah yang patut kita teladani. 

Berhubung ilmu masih "cetek", maka tulisan ini sebagian besar adalah hasil membaca buku milik suami yang berjudul "The Amazing Stories of Sahabah" karya M. Choirul Hudha yang berisi 66 Kisah Inspiratif Sahabat dan Sahabiyah Rasulullah Shallallahu'alayhi wa Sallam.

Sirah shahabiyah

Salah satu kisah dalam buku ini yang akan kita bahas disini adalah kisah Asma' binti 'Umais yang merupakan wanita dari kalangan pemeluk Islam pertama yang telah hijrah sebanyak dua kali.
Tak perlu berlama-lama lagi, kita akan bahas satu persatu mengenai biografi dan kemuliaan-kemulian yang patut untuk kita teladani.

Biografi Singkat

Nama lengkapnya adalah Asma' binti 'Umais bin Ma'ad bin Tamim bin Harits bin Ka'ab bin Malik bin Quhafah yang dijuluki dengan nama Ummu Abdillah. Asma binti Umais termasuk salah seorang dari empat wanita beriman yang keimanannya dipersaksikan Rasulullah, ketika Beliau berkata 
"Mereka berempat adalah wanita-wanita beriman: Maimunah, Ummul Fadhl, Salma, dan Asma."

Asma memeluk Islam sebelum kaum muslimin memasuki rumah Arqam Bin Abul Arqam. Dia adalah istri seorang sahabat sekaligus Pahlawan Islam, Ja'far bin Abi Thalib, sahabat yang bergelar Dzul-Janahain (pemilik dua sayap). Gelar ini melekat pada diri Ja'far ketika Rasulullah mengucapkan salam kepada anak Ja'far, Abdullah bin Ja'far dengan ucapan, '"Assalamualaika yabna dzil Jannaahain (kesejahteraan semoga tetap terlimpahkan kepadamu, wahai anak pemilik dua sayap)." 

Asma termasuk angkatan pertama dari wanita yang melakukan hijrah, dia ikut berhijrah ke Habasyah bersama suaminya Ja'far bin Abi Thalib. Ketika hijrah inilah Asma binti Umais merasakan pahitnya hidup sebagai orang terasing. Suaminya merupakan juru bicara kaum muslimin ketika terjadi dialog dengan raja Habsyi, an-Najasyi.
Di negeri Habasyah ini ketiga anaknya lahir, yaitu Abdullah, Muhammad, dan 'Aun. Anaknya yang bernama Abdullah sangat mirip rupanya dengan ayahnya, adapun ayahnya sangat mirip dengan Rasulullah. Hal ini membuat ibunya sangat bahagia dan membuat ibunya merindukan untuk bisa melihat Rasulullah.
Kemiripan Ja'far dengan Rasulullah terbukti dengan ucapan beliau kepada Ja'far, "Engkau menyerupai rupaku dan akhlakku"

Asma seperti hendak terbang karena sangat gembiranya ketika mendengar bahwa Rasulullah telah memerintahkan kaum Muhajirin yang ada di Habasyah agar segera berangkat ke Madinah. Mimpinya agar kaum muslimin mempunyai wilayah berdaulat telah menjadi kenyataan. Kini kaum muslimin telah mempunyai para pejuang yang akan menyebarkan dakwah dan meninggikan kalimah Allah. Demikianlah akhirnya asma bersama rombongan berangkat dari negeri Habasyah menuju Madinah sebagai hijrah mereka yang kedua kalinya.

Tidak lama setelah rombongan dari habasyah tiba di Madinah kaum muslimin yang ada di Madinah mendengar kabar bahwa kota Khaibar telah jatuh ke tangan pasukan muslimin. Saat itu juga takbir langsung menggema ke segala penjuru sebagai ungkapan kebahagiaan mereka atas kemenangan tentara Islam dan atas kedatangan rombongan Ja'far dari Habasyah.
Rasulullah menyambut kedatangan Ja'far dengan penuh sukacita lalu mencium keningnya seraya berkata, "Demi Allah, aku tidak tahu karena sebab yang mana aku harus bergembira, karena kemenangan di Khaibar atau karena kedatangannya Ja'far."

Cerdas dan Diplomatis

Setibanya di Madinah Asma binti Umais datang mengunjungi Hafshah binti Umar untuk bersilaturahim. Tidak lama kemudian datang Umar untuk menemui putrinya Hafshah. Ketika Umar melihat ada Asma di dekat Hafshah, dia bertanya "Siapakah wanita ini?" Hafshah menjawab "Asma binti umais" Umar bertanya lagi, "Apakah asma yang tinggal di Habsyi Dan yang pernah menyeberangi lautan?" Asma menjawab "Ya" Umar berkata lagi "Kami lebih dulu berhijrah ke Madinah daripada kalian. Oleh karena itu, kami lebih berhak kepada Rasulullah daripada kalian."
Mendengar perkataan Umar, Asma marah lalu berkata "Demi Allah tidak demikian, kalian yang bersama Rasulullah hanya bisa memberi makan orang-orang yang lapar diantara kalian dan memberi nasihat kepada orang-orang yang tidak mengerti diantara kalian. Adapun kami tinggal di Habsyi, tempat yang jauh dan penuh kebencian (karena penduduk Habsyi adalah orang kafir), adalah karena mematuhi Allah dan Rasul-Nya"
Setelah diam sejenak, Asma meneruskan ucapannya, "Aku bersumpah demi Allah, aku tidak akan makan dan minum sampai aku melaporkan ucapanmu kepada Rasulullah, karena kami merasa disakiti dan ditakut-takuti. Aku akan menceritakan kepada beliau dan menanyakannya. Demi Allah aku tidak akan berdusta dan aku akan menceritakan apa adanya tidak akan membelokkan cerita dan tidak akan menambahinya."
Asma berkata kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah sesungguhnya Umar telah berkata begini dan begini" Beliau lalu bertanya, "Lalu apa yang kau katakan kepadanya?" dia menceritakan kepada beliau apa yang telah diucapkannya kepada Umar. Berdasarkan hal tersebut beliau bersabda:
"Tidak ada orang di antara kalian yang lebih berhak terhadapku, Umar dan sahabat-sahabatnya yang hanya berhijrah satu kali sementara kalian wahai 'ahlus Safinah (orang-orang yang pernah menaiki perahu saat berhijrah ke Habsyi) telah berhijrah dua kali."

Asma sangat bergembira mendengar pernyataan Nabi tersebut, berita itu pun segera tersebar di kalangan kaum muslimin Muhajir-Habsyi berbondong-bondong datang kepada Asma untuk meminta keterangan yang lebih jelas lagi tentang hal itu. Berkaitan dengan hal ini, Asma menceritakan "Sungguh aku melihat Abu Musa dan orang-orang yang ikut Hijrah Ke Habsyi datang berbondong-bondong kepadaku untuk menanyakan perihal pernyataan nabi tersebut setelah mendengar penjelasanku seolah-olah tidak ada di dunia ini yang lebih menggembirakan hati mereka dan tidak ada lagi yang lebih berarti bagi mereka selain pernyataan nabi terhadap mereka itu."


Sabar dan Ikhlas

Suatu ketika saat pasukan muslim bertolak ke negeri Syam, suami Asma, Ja'far bin Abi Thalib menjadi salah satu dari tiga orang yang ditunjuk Rasulullah sebagai pemimpin mereka. Di medan perang ini Allah memilih Ja'far sebagai salah satu diantara mereka yang mendapat keberuntungan mati syahid di jalan Allah.
Sebagai wanita beriman Asma tidaklah berlebihan dalam menangisi kesyahidan suaminya ia bersabar dan ikhlas untuk mengharap pahala yang agung dari Allah atas meninggalnya suaminya. Bahkan dia bercita-cita bisa seperti suaminya agar memperoleh keberuntungan mati syahid. Terutama ketika dia mendengar salah seorang dari Bani Murrah bin 'Auf (yang ketika itu turut berperang bersama Jafar) berkata "Demi Allah aku melihat Ja'far saat melompat dari kudanya yang berwarna pirang itu lalu dia menyembelih kuda tersebut agar tidak bisa dimanfaatkan oleh musuh. Ja'far memegang bendera komando dengan tangan kanannya, ketika tangan kanannya terpotong dia memegangnya dengan tangan kiri, ketika tangan kirinya juga terputus, dia mendekap panji perang dengan lengan atas yang masih tersisa hingga dia terbunuh" 
Dari cerita inilah asma mengetahui maksud ucapan salam Rasulullah kepada anaknya, "Assalamualaika yabna dzil Janaahain". Allah telah mengganti dua tangannya yang terpotong dengan dua sayap yang dengannya dia bisa terbang di surga kemanapun dia suka.

Istri dan Pendidik Anak yang Baik

Ibu yang Salehah dan sabar ini mendidik sendiri tiga anaknya, dia memotivasi ketiga anaknya yang masih kecil agar mengikuti jejak ayah mereka sebagai Syahid dan benar-benar menempa mereka dengan keimanan. Tidak lama setelah kematian Ja'far, Abu Bakar datang untuk melamar Asma binti Umais.
Hal ini terjadi setelah Ummu Ruman (istri Abu Bakar) wafat dan Asma menerima lamaran Abu Bakar. Selama hidup bersama Abu Bakar, cahaya kebenaran dan keimanan semakin tumbuh subur dalam hatinya. Ia pun hidup sebagai istri yang setia dan penuh kasih kepada suaminya.
Setelah beberapa lama Asma menjadi istri Abu Bakar, Allah mengaruniakan kepada mereka seorang putra yang bernama Muhammad bin Abu Bakar. Anak tersebut lahir ketika mereka sedang berada di Dzul Khulaifah untuk melakukan haji Wada'. Setelah menanyakannya kepada Rasulullah, Abu Bakar memerintahkan istrinya supaya mandi kemudian berniat dan membaca Talbiyah haji.

Selama menjadi istri Abu Bakar, Asma banyak menyaksikan langsung berbagai peristiwa penting dalam sejarah Islam. Saat itulah Asma ikut meringankan beban suaminya dalam menjalankan tugas yang diamanatkan umat sebagai Khalifah. Tak lama kemudian Khalifah Abu Bakar pun jatuh sakit dari hari ke hari sakitnya bertambah parah dan keringat mulai bercucuran dari kedua pipinya. Keadaan itu membuat Abu Bakar merasa bahwa ajalnya sudah dekat. Karenanya Abu Bakar segera mewasiatkan beberapa hal, diantaranya dia meminta agar jenazahnya dimandikan oleh Asma binti Umais dan menyuruh Asma agar membatalkan puasa sunnahnya pada hari itu dengan berkata, "Hal itu lebih menguatkan dirimu".
Mendengar hal itu, Asma pun merasa bahwa ajal suaminya benar-benar akan segera tiba. Dia hanya bisa mengucapkan istirja' dan istighfar, dia tetap terus memandangi wajah suaminya sampai roh suaminya kembali kepada pemiliknya yang Maha Kuasa.
Air mata Asma mengalir dan hatinya pun merasa sedih, akan tetapi dia tidak mengucapkan kata-kata selain perkataan yang diridhai Allah. 

Patuh dan Amanah 

Setelah suaminya Abu Bakar meninggal, Asma kemudian melaksanakan hal yang diminta oleh almarhum suaminya sebagai bentuk kepatuhan kepadanya. Asma pun memandikan jenazah suaminya dengan masih dirundung duka dan kesedihan sampai dia lupa dengan wasiat Abu Bakar yang kedua, yaitu menyuruhnya agar berbuka. Padahal waktunya sudah mendekati akhir siang dan hanya tinggal beberapa saat lagi matahari akan terbenam. Akan tetapi, Asma memilih untuk menepati perintah suaminya yang telah tiada, dia pun meminta diambilkan air lalu meminumnya dan sambil berkata "Demi Allah aku melakukan ini bukan berarti aku menurutinya untuk dosa pada hari ini".

Selalu Tawakal kepada Allah

Sepeninggal suaminya, Asma tetap tinggal di rumah untuk merawat anak-anaknya dari buah pernikahannya dengan Jafar dan Abu Bakar, dia selalu berdoa agar Allah menjadikan mereka anak-anak yang saleh dan pemimpin bagi orang-orang bertaqwa. Hanya itulah puncak harapannya di dunia ini tanpa mengetahui takdir apa yang tersembunyi pada ilmu Allah yang akan menimpanya.
Ternyata Ali bin Abi Thalib. saudara Ja'far sang pemilik dua sayap, pada suatu hari datang kepadanya dan memintanya untuk dijadikan istri. Ali melamarnya sebagai bentuk kesetiaan dan penghormatan kepada saudaranya tercinta Ja'far dan sahabatnya Abu Bakar As Siddiq.
Setelah mempertimbangkannya dari berbagai sisi, Asma akhirnya menerima lamaran Ali untuk menjadi istrinya dan memberikan kesempatan kepada Ali untuk turut menjaga anak-anak saudaranya Ja'far. 
Asma pindah ke rumah Ali setelah wafatnya istri Ali, Fatimah az-Zahra. Asma bagi Ali adalah seorang istri yang Salehah dan Ali bagi Asma adalah seorang suami terbaik dalam mengatur kehidupan rumah tangganya. Ali hampir tidak pernah luput memuji dan membanggakan Asma.
Allah memuliakan Ali dengan mengaruniakan anak dari pernikahannya dengan Asma yaitu Yahya dan 'Aun.

Bijaksana dan Santun

Suatu hari Ali menyaksikan pemandangan yang ganjil, ketika itu salah seorang anak Ja'far dan Muhammad bin Abu Bakar bertengka. Masing-masing mereka merasa lebih mulia daripada lainnya dengan berkata aku lebih mulia daripada engkau dan ayahku lebih baik daripada ayahmu.
Ali tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada keduanya dan bagaimana cara mendamaikan mereka berdua sehingga keduanya merasa puas. Tidak ada pilihan lain baginya selain memanggil ibu kedua anak tersebut, yaitu asma. Dengan pikirannya yang cemerlang dan bijaksana, Asma pun berkata kepada kedua anaknya,  "Aku tidak pernah melihat pemuda Arab yang lebih baik daripada Ja'far dan aku tidak pernah melihat ada orang tua yang lebih baik daripada Abu Bakar". Ucapan brilian dari Asma ini mampu menghentikan perselisihan kedua anaknya, mereka kembali akur dan saling menyayangi serta kembali bermain bersama.
Ali pun kagum dengan cara asma menyelesaikan perselisihan anak-anaknya, sambil memandang wajah istrinya yang cerdas lalu berkata "Mengapa engkau tidak menganggap aku apa-apa wahai Asma?". Dengan kecerdasannya yang tajam, keberaniannya yang luar biasa, dan akhlaknya yang santun, Asma menjawab "Dari ketiga suamiku (Jafar, Abu Bakar, dan Ali), engkaulah yang paling istimewa."

2 kali menjadi istri Amirul Mukminin yang Bertanggung Jawab

Sepeninggal sahabat Utsman bin Affan kaum muslimin kemudian memilih Ali sebagai khalifah. Jadilah Asma untuk kedua kalinya menjadi istri seorang Amirul Mukminin. Kali ini dia menjadi istri dari khalifah keempat dari Khulafaur Rasyidin. Asma pun menunjukkan tanggung jawabnya sebagai istri yang baik ketika suaminya sebagai khalifah menghadapi berbagai permasalahan besar dalam masa kepemimpinannya. Dia juga selalu mendorong anak-anaknya Abdullah bin Ja'far dan Muhammad bin Abu Bakar untuk mendampingi ayahnya dalam menegakkan kebenaran. 
Suatu hari dia mendengar kabar bahwa anaknya Muhammad bin Abu Bakar terbunuh di Mesir, musibah ini meninggalkan duka yang begitu mendalam di hati asma akan tetapi sebagai mukminah dia tidak mungkin menyalahi ajaran ajaran Islam sehingga berteriak-teriak merana atau melakukan hal lain yang tidak patut dilakukan.  Melalui sabar dan salat, dia terus memohon kepada Allah agar diberi kekuatan dan ketabahan dalam menerima musibah ini. Karena begitu sangatnya dalam menahan kesedihannya sampai-sampai payudaranya mengeluarkan darah. 
Tidak sampai setahun setelah sepeninggal putranya, berbagai penyakit pun menimpa Asma dan akhirnya Asma pun meninggal dunia. 

Asma wafat dengan menorehkan sejarah sebagai teladan Agung kebijaksanaan dan kesabaran dalam menghadapi berbagai cobaan.

Demikian kisah yang sangat menginspirasi dari seorang Shahabiyah, Asma binti Umais.  Semoga dengan kisah tersebut, bisa menjadi cambuk untuk kita agar terus bertawakal dan sabar dalam menghadapi berbagai cobaan kehidupan.

آمِيْن يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ

26 komentar:

  1. Seneng mbak, menyimak sirah tokoh-tokoh zaman Rasulullah. Terutama tokoh wanitanya. Bikin kita sebagai perempuan terus berkaca. Semoga kita dianugrahi untuk terus meneladani sosok muslimah yang dirahmati Allah. Amin...

    BalasHapus
  2. Asma bin Umais, sosok istri mulia yang luar biasa. Saya malah baru membaca sosok beliau dari tulisan ini, selama ini tahunya kalau istri dari Ali ya Fatimah saja. (beneran harus update baca buku biografi tokoh-tokoh Islam)

    BalasHapus
  3. Masyaallah terharu sedih campur aduk banget deh baca cerita asma binti umais ini. Betapa tangguh jiwanya di landa berbagai ujian. Seorang wanita kuat.

    BalasHapus
  4. Ah bisa sesempurna itu kayaknya jauh banget dari aku kak. Banyak sekali kekurangan. ga bisa sesabar dan seikhlas itu. tapi memang ini teladan yang sangat baik. ANyway, aku suka tagline blog-nya kak. So True!

    BalasHapus
  5. Kisahnya sangat menginspirasi, ilmu yang paling sulit diterapkan adalah ilmu ikhlas dan sabar ya mba, semoga kita bisa memiliki kepribadian seperti aasma binti umais

    BalasHapus
  6. Masyaallah kisahnya asma binti umais sangat menginspirasi sekali ya mbak, bisa sesempurna itu sebagi sosok wanita. Saya gak bisa sesabar dan se ikhlas itu.

    BalasHapus
  7. Benar-benar deh ya, tak hanya kisahnya tapi sosok pribadinya sangat mengispirasi. Patut jadi contoh. Saya masih jauh banget untuk bisa sabar dan ikhlas.

    BalasHapus
  8. Masyaallah terharu kakk, insyaallah kita semua bisa menjadi seperti beliau ya versi diri kita sendiri tentunya. Thank u for sharing kak, so inspiring🥰

    BalasHapus
  9. Masya Allah tabarakallah. Aku pernah baca buku ini dan amat terkesan dengan kisah Asma, terlebih keberaniannya dan keikhlasannya.. Semoga kita semua bisa meneladani beliau.

    BalasHapus
  10. Aku jadi pengen baca bukunya, ini baru baca blogmu aja bikin aku takjub dan sangat menginspirasi. Semoga kita bisa seperti beliau.

    BalasHapus
  11. Sirah Shahabiyah, aku baru denger istilah ini kak. Masya Alloh kisah Asma menginspirasi banget. Aku jadi penasaran owngen baca bukunya

    BalasHapus
  12. MasyaAllah baru taw kisah Lengkapnya Asma binti Umais sebegitu mendalam Ditulis ya, auto nyari Bukunya akutuh💞

    BalasHapus
  13. Masyaallah kisahnya asma binti umais sangat menginspirasi sekali, sabar dan ikhlas memang menjadi kunci yaa.

    BalasHapus
  14. Bisa diambil hikmahnya dan ditarik teladanannya untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sangat menginspirasi

    BalasHapus
  15. selalu seneng baca cerita ini. banyak hikmah banyak pelajaran

    BalasHapus
  16. MasyaAllah, para shahabiyah ini sangat bahagia ketika mendengar kabar suami/anaknya meninggal di medan perang sebagai syahid. Sedangkan kita terkadang, ditinggal suami kerja luar kota aja ada ga ikhlasnya. Hehe. Semoga kita bisa sama2 belajar dan lebih bijaksana. Aamiin. Jazakillah udah sharing ya mba.

    BalasHapus
  17. Masya Allah sungguh sempurna Asma binti Umais ini, sungguh menjadi teladan para wanita muslimah :)

    BalasHapus
  18. Masya Allah. Kalau dikumpulkan dengan cerita sahabiyah lainnya, bisa jadi buku ya. Semoga terus menginspirasi.

    BalasHapus
  19. Masya Allah, luar biasa sekali kisah Asma. Ibu yang taat pada Allah, anak-anaknya soleh serta menjadi iatri dari Amirul Mukminin

    BalasHapus
  20. MashaAllah cerita yg sangat menginspirasi.. semoga kita bs meneladani kisah Asma ini..

    BalasHapus
  21. Semoga mampu meneladani para sahabiyah

    BalasHapus
  22. Masya Allah. Sungguh merasa malu dengan kiprah dan kontribusi para shahabiyah untuk Islam. Bismillah semoga bisa mengambil hikmah dan juga meneladaninya. Aamiin. Semangat!

    BalasHapus
  23. Aamiin yaa Allah.... Sabar & tawakkal-nya beliau.... Sungguh teladan istri sholihah.

    BalasHapus
  24. MasyaAllah... baru tau juga cerita tentang ini...

    BalasHapus
  25. Wah lengkap sekali mbaa, jadi penasaran sama bukunya. Semoga bisa meneledani beliau ya mba, thanks for sharing :)

    BalasHapus
  26. MasyaAllah sangat terharu membaca kisah Asma Binti Umais, kisahnya sangat detail dan rinci. Semoga kita semua bisa meneladanii beliau. Aamin.. Terimakasih atas sharingnya mbaa :)

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung, dengan senang hati menerima masukan saran dan komentar Anda 😊🙏