Lakukan 4T untuk Menghadapi Anak Tantrum

Ketika anak memasuki usia 2 tahun, sebagai moms kita harus mempersiapkan mental dan kesabaran ekstra. 
Kenapa? 
Karena pada masa ini kita akan sering menjumpai anak yang tiba-tiba tantrum.

Pada usia ini, anak memasuki masa perkembangan autonomi. Maksudnya adalah anak-anak sedang  belajar mengontrol segala sesuatunya sendiri dan tidak lagi bergantung pada orang lain seperti saat berada dalam fase sebelumnya ketika masih bayi. 
Sehingga ketika keinginannya tidak terpenuhi, anak akan bersikap berlebihan seperti menangis sambil guling-guling di lantai atau berteriak marah-marah yang diikuti perilaku fisik.  Sikap inilah yang dinamakan dengan tantrum. 

Tak heran fase perkembangan anak usia ini dinamakan “terrible two”
Dalam fase ini anak akan bersikap egosentris dan merasa semua hal berpusat pada dirinya. Anak mulai menunjukkan perilaku yang menguras kesabaran orang tuanya. Mereka menjadi lebih sering membantah atau menolak perkataan kita, kalau orang jawa bilang tuh “ngeyel”. Bahkan tidak sedikit pula anak yang menunjukannya secara fisik seperti suka melempar barang, corat-coret, menendang, atau bahkan menggigit.

Menghadapi anak tantrum memang membuat emosi kita bergejolak ya Moms. Apalagi jika anak tantrum di tempat umum atau saat berada di keramaian orang, seperti mall atau saat kumpul keluarga.  Wah pasti rasanya campur aduk ya kita Moms, antara malu dan bingung untuk menenangkan anak kita. 

Lalu, bagaimana cara yang tepat untuk menghadapi anak yang tantrum ini?

Pada artikel sebelumnya, mengenai

Pentingnya Membedakan Emosi dan Strategi dalam Perilaku Anak

kita telah mempelajari cara membedakan tangisan atau perilaku anak sekaligus cara yang tepat untuk menanggapinya. Mungkin masih ada beberapa yang salah dalam mengartikan artikel tersebut. Dimana tidak ada yang salah dengan emosi anak, yang salah adalah ketika kita sebagai orang tua justru mengartikan bahwa semua tangisan atau perilaku amarah anak adalah bentuk luapan emosi. Karena perilaku anak tersebut bisa jadi hanya strategi anak untuk mengobservasi dan mengenali cara untuk mendapatkan keinginannya. 

Misalnya, saat anak menangis atau mengamuk untuk mendapatkan sesuatu dan kita turuti, maka anak akan mengulangi cara tersebut di kemudian hari. Jika kita biarkan terus menerus, hal ini akan menjadi kebiasaan buruk bagi Si Kecil. 

Nah, di bawah ini saya akan coba share mengenai penanganan anak tantrum pada usia toddler.

Ketika anak tantrum, lakukan 4T:

Menghadapi-Anak-Tantrum

1. Tenang

Saat anak tantrum, kita harus tetap tenang dan tidak terbawa emosi. Jangan ikutan marah atau membentak ke anak. Sikap tenang kita akan membuat tantrum anak lebih mudah untuk diatasi. Jika sedang berada di tempat ramai, ajak anak untuk pindah tempat yang lebih sepi dan nyaman.

2. Terima

Terima semua perasaan yang anak rasakan. Jika itu adalah suatu luapan emosi maka kita bisa memvalidasi emosinya. Terima saja cara anak mengekspresikan emosinya agar tidak ada emosi yang tertahan yang bisa menyebabkan tumpukan emosi pada anak kita. Dampingi anak kita dan tunjukan rasa empati kita dengan berada didekatnya. Hadirkan mindset bahwa anak kita membutuhkan bantuan kita untuk meregulasi emosinya.

3. Tunda

Menunda untuk bertanya macam-macam atau bahkan buru-buru menasihati anak. Saat badai emosi terjadi, anak akan sulit diajak berpikir logis. Maka tunggu sampai emosinya stabil terlebih dahulu dan terus dampingi dia.

4. Tunjukan 

Saat anak mulai mereda dan terkendali, tunjukkan rasa cinta kita ke anak dengan memeluk dan mencium anak kita. Sambil kita sampaikan bahwa tadi kita membiarkannya menangis bukan karena kita tidak sayang atau tidak peduli, tetapi agar dia merasa lega terlebih dahulu. Lalu kita tanyakan bagaimana perasaannya. Setelah anak mengutarakan isi hatinya, baru kita menasihati anak dengan menjelaskan untuk ke depan jika ingin sesuatu cukup sampaikan dengan baik tidak perlu marah dan menangis.


Itu tadi sedikit cara yang insya Allah tidak memberikan dampak buruk ke anak-anak ketika mereka tiba-tiba tantrum. Adapun hal-hal yang perlu kita hindari ketika anak tantrum atau berperilaku yang tidak menyenangkan lainnya adalah dengan 

Hindari 4M

  • Membentak atau memarahi anak
  • Memaksa atau menjajah anak untuk menuruti keinginan kita
  • Memanipulasi anak dengan membohongi atau pura-pura ngambek ke anak
  • Menyakiti anak secara psikis, seperti mencubit atau memukul

4M diatas jika sering kita lakukan dalam menghadapi perilaku anak, akan berisiko terhadap kesehatan psikisnya dan mempunyai efek buruk jangka panjang lainnya. 

Mengutip dari seorang praktisi parenting sekaligus founder akun instagram @anakjugamanusia, Angga Setyawan, bahwa ada beberapa dampak risiko dari memukul anak, diantaranya: 

  • Anak akan merasa bahwa marah atau memukul adalah hal yang benar untuk dilakukan
  • Anak akan menduplikasikan sikap kita untuk merespons sesuatu
  • Anak akan tumbuh menjadi anak yang ragu-ragu dan tidak punya pendirian karena terbiasa menurut kemauan orang tuanya
  • Anak akan menjauh dari orang tuanya karena merasa takut dan tidak nyaman atas sikap kita
  • Anak akan merasa kebal, terbiasa dipukul dulu baru melakukan yang orang tua perintahkan
  • Anak tidak memiliki rasa empati terhadap perasaan orang lain

Orang tua mana yang mau anak merasakan dan tumbuh besar dengan perasaan seperti itu? Mungkin dalam penerapan tidak akan semulus dan semudah menulis dalam artikel ini atau semudah membacanya. Butuh tekad dan kesadaran penuh untuk bisa menjalaninya. Dan kunci untuk itu adalah kita harus selalu mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, Allah Subhanahu wa ta’ala, agar kita kita dimampukan untuk sabar dalam menghadapi dan mendampingi tumbung kembang anak kita. 

Baca juga: 9 Metode Pengajaran untuk Menumbuhkan Kemandirian Anak

Sebagai pengingat (specially for me) agar terus berusaha melapangkan dada dalam membersamai anak-anak kita, yuks kita pahami perintah Allah Subhanahu wa ta'ala dalam QS. At-Tahrim : 6

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.


Sebagai penutup, bahwa kitalah yang mengharapkan kehadiran anak-anak kita. Jangan merasa terbebani akan segala tahap perkembangan anak, termasuk ketika anak mulai sering tantrum. Syukuri setiap tingkah aktifnya, karena di luar sana masih banyak yang berharap ada di posisi kita....


22 komentar:

  1. Ya Allah, makanya aku takut banget kalo liat anak tantrum, takut kejadian sama anak sendiri.
    Menghadapi anak memang harus tenang dan sabar ya. Sekalipun lagi kesel, jangan anak dijadiin pelampiasan, sekalipun anak ngelakuin kesalahan, dinasehatin aja baek-baek.

    Ya Allah, semoga kita jadi orangtua yang amanah ya mbak :')

    Terima kasih untuk sharingnya :*

    BalasHapus
  2. Bener banget nih. Kalau aku alhamdulillah anak busa di bilang jarang banget tantrum. Bersyukur banget.

    Bagaimana anak kita mereka adalah anugerah terbesar untuk kita ya mom.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba harus banyak bersyukur biar minim marah2

      Hapus
  3. Catatan banget buatku ini, masih sering gabisa kendalikan emosi jadinya aku kadang pura2 ngambek (padahal mah ngambek beneran) sama anak.
    terimakasih ilmunya mbaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini jga buat pengingat yg nulis kok mba, smangat pasti bisa!!

      Hapus
  4. Nah ini mungkin kesalahan umum yang sering dilakukan oleh orang tua. Anak rewel malah dibentak, dimarahi. Bukannya bikin dia reda, malah tambah jadi. Tetap tenang untuk menghadapi si kecil😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya klo angkatan orang tua kita alias babybloomer kebanyakan begitu ya mba, smoga moms milenial dah ga gitu2 lagi

      Hapus
  5. masyaAllah, jadi enak dibacanya ya..lakukan 4T dan jgn lakukan 4m..terima kasih remindernya mom icha

    BalasHapus
  6. Kalau saya tambahkan satu T lagi, yaitu tega. Hehehe...
    Meski sebenarnya Dalma hati ya tidak tega juga membiarkan anak begitu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Klo dibiarin anak jga bsa stress mba, mgkin tega dgn tidak menuruti kemauan anak ya, tpi tetep harus didampingi

      Hapus
  7. Selalu hadir utk anak ngak hanya saat dia anteng tp jg saat dia rewel yaaa. 4T ini perlu bgt dilakukan ya mom. Kalo saya biasanya diamkan aja dlu. Katanya jgn dialihkan jg ya supaya dia tahu cara menghadapi masalah tsb. Gmna ga mom?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mom, mengalihkan fokus anak biasanya saat anak masih dibawah 2thn, klo diatasnya lebuh diajarkan utk meregulasi diri

      Hapus
  8. semua ibu nampaknya pasti akan melewati fas eterrible two dan three, saya juga! hihihihi tapi ini memang tahapan penting bagi mereka mulai mengenal lingkungan dan emosi mereka sendiri. dan si 4T ini penting dilakukan ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, klo ga melewati fase ini malah bahaya krna ada sesuatu dgn anak klo cma anteng dan nurut terus

      Hapus
  9. Kadang kalau anak tantrum memang bikin nggak tenang. Saya sewaktu kecil sering ikutan pusing kalau adik saya tantrum karena kekacauan akan terjadi. Sebab penanganan kurang baik dari ortu, berdampak besar hingga sekarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bersyukur kita jdi moms milenial ya mba jdi bisa lebuh melek informasi parenting

      Hapus
  10. Kalau dulu pernah belajar metode pendidikan sentra atau BCCT, lebih dikenal dengan 3M. Ternyata sekarang ada 4M ya kak. Btw anak tantrum pasti terjadi, tinggal bagaimana cara kita menangani dengan lakukan 4T tadi ya.

    BalasHapus
  11. Setuju.
    Makanya dulu pas anakku tantrum di mall, wes, tak biarin dia menangis gegoleran di lantai mall karena mau beli balon yang harganya hampir 100rbu .😅😅😅

    Karena kalau dituruti bakalan merembet sampai permintaan selanjutnya.

    BalasHapus
  12. Wah informasinya bermanfaat banget nih Mom. Anakku dulu yang nomor dua mudah tantrum tapi sekarang alhamdulillah ga ada yang emosian.

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung, dengan senang hati menerima masukan saran dan komentar Anda 😊🙏