Pentingnya Membedakan Emosi dan Strategi dalam Perilaku Anak

Semakin bertambah usia anak, semakin besar pula stock sabar yang harus dimiliki orang tua. Bagaimana tidak? Ketika anak sudah memasuki masa toddler, yaitu usia 1-3 tahun, anak akan semakin keras dalam menunjukkan kemauannya dan menjadi lebih egosentris. 

Sejak usia ini pula, anak akan cenderung lebih mudah cranky atau bahkan sering tantrum untuk mendapatkan apa yang dia mau. Sehingga tidak sedikit orang tua yang merasa kewalahan atau bahkan tidak mampu menahan emosinya. 

Saya sendiri pun setiap hari masih terus berusaha untuk tidak terpancing emosi, tetapi tidak pula serta merta menuruti keinginan anak saat dia menangis. Bukan karena tidak sayang, tetapi untuk mengajarkan ke anak bahwa tidak semua hal bisa didapatkan. Selain itu, khawatir anak akan terbiasa menjadikan tangisan sebagai senjata untuk mendapatkan sesuatu. 

Pada dasarnya, tangisan anak adalah suatu bentuk ekspresi atau cara anak untuk mengungkapkan perasaannya. Tangisan juga merupakan salah satu bentuk penyaluran emosi sang anak. Tetapi seiring bertambahnya umur, menangis bisa juga menjadi salah satu strategi anak untuk “menjajah” orang tua untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Jadi, emosi dan strategi inilah yang menjadi pencetus perilaku seorang anak.

Emosi vs Strategi

Emosi bisa terjadi karena kebutuhan yang tidak terpenuhi atau harapan anak yang tidak sesuai dengan kenyataan, energinya bisa sedih, kecewa, berduka. Sedangkan strategi merupakan keinginan anak menjajah orang lain untuk mendapatkan keinginannya  atau hanya sekedar mencari perhatian. 

Emosi bisa berisiko berubah menjadi strategi jika kita berlebihan dalam menanggapi sikap anak. Akan tetapi, strategi tidak bisa berubah menjadi emosi. Jadi kita harus hati-hati dalam menanggapi perilaku anak. Karena jika kita salah menanggapinya, maka akan berpengaruh fatal kedepan. 

Lalu, bagaimana cara membedakan emosi dan strategi dalam perilaku anak? 

Yang perlu diingat bahwa yang dibedakan adalah dorongan energinya, bukan wujud perilakunya, karena wujudnya bisa saja sama persis. Misal saat anak menangis, jika dilihat mungkin tangisannya sama persis, tapi kalau dirasakan dorongan energinya berbeda. 

Jadi, gunakan feeling kita sebagai seorang Ibu melalui hati atau kepekaan kita, bukan dari analisa pikiran. Dan cara paling mudah untuk bisa merasakan hal tersebut adalah dengan membersamai anak secara lahir dan batin. Setelah kita bisa mengenali dan memahami perbedaan emosi dan strategi pada anak kita, maka kita pun bisa memberikan tanggapan yang sesuai agar apa kebutuhan anak terpenuhi dengan tepat. 

Ketika anak berperilaku yang menunjukan emosinya

Source:Canva 

Saat kita merasakan ada dorongan emosi anak, maka kita cukup fasilitasi secara pasif, yaitu dengan mendampingi anak kita. Kita berada di dekat anak sambil sediakan hati kita untuk ikut merasakan yang anak rasakan. 

Pastikan emosi anak tersalurkan secara tuntas, setelah itu baru kita ajak bicara anak. Misal “tadi kenapa, apa yang kamu rasakan, dll”. Kalau kita tidak fasilitasi secara pasif, misal malah kita marahin atau kita hibur anak kita, maka risikonya:

  1. Emosinya bisa berubah menjadi strategi
  2. Emosinya bisa tersumbat dan tersimpan menjadi sampah emosi yang akan menumpuk, yang suatu saat bisa meledak
  3. Anak jadi tidak belajar mengendalikan dirinya secara mandiri saat ia emosi, karena tidak kesempatan bersentuhan dan mengenal pusat rasa dalam dirinya.

Saat anak menunjukan strategi

Berbeda dengan perilaku anak karena emosi, saat anak berperilaku sebagai suatu strategi untuk mendapatkan keinginannya. Yang harus kita lakukan adalah cuekin lahir batin. Anggap perilakunya tidak terjadi, karena jika kita tegur/ nasehati/marahi/dihibur, maka anak tidak akan peduli semua itu. Justru anak merasa bahwa ia direspon dan respon adalah bentuk perhatian,. Sehingga anak akan mengulang-ulang karena terbukti itu efektif baginya untuk mendapat perhatian. 

Yang penting untuk diingat, kita pantang galau/ kepikiran/terganggu/baper saat menghadapi strategi anak. Sebab anak bisa merasakan celah untuk menang sehingga ia makin menguji kita dengan perilaku yang lebih ekstrim. 

Lalu, setelahnya kita biarkan dan anak terdiam, kita tidak perlu membahas kejadian  tersebut baik ke anak atau ke siapapun. Seperti “itu lho yah, tadi adik mukul” sementara anak kita melihat kita membahas kejadian tadi, sehingga ia merasa “ah, ternyata tadi hanya pura-pura cuek, sebetulnya masih perhatian karena masih dibahas lagi”. Sehingga suatu saat anak akan mengulang strateginya lagi. 

Baca juga: 7 Pedoman Seorang Ibu Minim Stres

Terkadang, ada beberapa anak yang berperilaku secara berlebihan dengan perilaku menyakiti dirinya sendiri atau bahkan orang lain. Maka, tanggapan kita pun harus berbeda dengan cara di atas.

Jika perilaku berbahaya tersebut merupakan luapan emosi, maka yang pertama dilakukan adalah amankan pelaku. Lakukan tindakan untuk menghentikan perilaku anak yang berbahaya (yang merusak atau menyakiti diri atau orang lain). Misal dengan kita dekap erat anak kita atau dengan kita arahkan anak untuk berada di pojokan atau sudut ruangan. Dampingi anak dan jangan ada upaya untuk menyumbat emosinya. 

Setelah mereda dan emosinya tuntas, baru kita ajak bicara, misal “tadi kamu bunda dekap erat/ taruh pojokan bukan karena marahmu, tapi caramu marah yang bunda tidak setuju, boleh marah tapi caranya cukup kepalkan tangan saja ya..(atau hal lainnya yang sekiranya aman)”.

Akan tetapi, jika perilaku anak tadi adalah suatu strategi, maka setelah kita amankan anak, kita tidak perlu tanggapi dengan berbagai perhatian. Cukup diamkan anak, cuekin lahir dan batin, anggap tidak ada kejadian apa-apa.

Masa anak nangis kita cuekin sih?

Jika tangisan atau amarahnya sebagai sebuah strategi, kita pun harus menanggapinya dengan strategi. Dampingi anak, biarkan anak tenang terlebih dahulu, setelah itu baru kita berikan alternatif pilihan untuknya.

Baca juga: Efektifkah Pemberian Reward & Punishment?

Yang terpenting dari semua itu adalah konsistensi kita sebagai orang tua dalam menanggapi perilaku anak dengan tepat. Kuncinya ada pada diri kita sendiri seberapa jauh kita memahami anak kita, karena kita sendiri yang bisa membedakan perilaku anak kita itu merupakan strategi ataukah emosi. Cara terbaik untuk mengetahui hal tersebut dengan sepenuhnya hadir secara lahir dan batin saat membersamai anak. 


Semangat membersamai anak kita ya Moms...


37 komentar:

  1. Anak-anak susah nebaknya. Apalagi masih di bawah 5 tahun, masih belum fasih bicara.
    Pengalaman kalo main sama ponakan, harus teliti ngeliat mau nya mereka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kuncinya emang harus peka sama anak mba, walaupun anak belum lancar bicara bsa kok diliat bahasa tubuhnya

      Hapus
  2. betul mba, salah satu cara membedakannya bisa dari air mata. Tapi insting orangtua biasanya lebih tajam ya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya main feeling klo bedain ini, klo bonding dgn anak bagus pasti bisa bedainnya

      Hapus
  3. Anakku sekarang usia 2 tahun, dan lagi masa-masanya tantrum, hehehe. Kalau dia sudah mulai mengamuk, biasanya aku taro di kasur biar dia bisa gulang-guling tanpa menyakiti dirinya. Setelah tangisnya reda, baru aku ajak ngomong tentang kelakuannya yang tadi. Yang penting gak boleh kebawa emosi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul bgt mba, bagus klo dia bisa ngelola emosinya..klo anaku ditaruh kasur justru makin nangis minta gendong

      Hapus
  4. Mah saat menghadapi strategi anak ini pada kenyataannya perlu kerjasama antara ayah, ibu atau orang dewasa lain di rumah. Soalnya pengalaman, saya cuek, eh ayahnya bela. Yah gagal deh. Ayahnya cuek, saya cuek, beuh neneknya bantuin anak. Kacau terus jadinya sementara anak merasa menang terus jadinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul bgt nih, emg hrus ada kesepakatan dlu dgn support system yg ada drmah. krna aku merantau jdi pegang kendali penuh, makasih masukannya ya mba

      Hapus
  5. Anak saya banget nih, yang kedua lagi sampai di fase bermain dengan strategi tapi kadang juga emosi.
    Kalau anak saya ditandai dengan nangis, kalau dia nangis trus liat saya melotot dia langsung diam, berarti lagi strategi .
    Tapi kalau dia lagi emosi, diapain pun nggak mau diam, biasanya diam kalau dipeluk :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah diplototin lgsg diem ya mba, bisa dicoba nih caranya..hehehe

      Hapus
    2. Insight yang menarik mom iva dan mom rey. Aku jarang sih melotot, tapi bersuara lbh aja kalo dia lagi pasang strategi.

      Hapus
  6. Terimakasih mbak, Informasinya sangat membantu aku memahami antara strategi terhadap perilaku anak dg emosi seorang anak.
    aku sendiri memiliki anak 2,5 tahun sama 1,5 tahun, kalo nangis kedua2nya kadang buatku pusing sih, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat mom, saya 1 anak aja kdg bsa bkin kepala nyut2an...

      Hapus
  7. benar nih mba, anakku juga makin gede makin bisa menunjukkan emosinya, tapi aku ajak dia komunikasi dan mendefinisikan emosinya apakah itu marah, sedih atau bahagia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya penting lho ngajarin ttg emosi da ekspresi ke anak, bisa pas anak ngalamin lgsg atau waktu bacain buku

      Hapus
  8. Bener mba. Anak ku yang usia 4.5 tahun juga lagi suka tiba-tiba ambekan gitu. Harus pandai-pandai melihat anak nih sekrang. Biar tau penyebab anak marah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ngambek biasanya jdi cara jitu buat anak mba

      Hapus
  9. Kerjasama antara ayah dan bunda sangat penting untuk membangun emosional anak. Biasanya aku dan suamiku selalu membebaskan anakku menunjukkan bakat atau mengutarakan pendapatnya, biasanya kalau gak sesuai kita kasih taunya dengan menggunakan contoh masalah juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju mba, komunikasi nomer satu, semakin besar anak akan semakin lancar cara komunikasinya

      Hapus
  10. Mbak, mungkin yang perlu digarisbawahi tergantung usia dan karakter anak kali ya. oya masukkan dariku emosi itu wajar kok, yang perlu kita cari tahu reaksi emosinya. kemarin saya dapatkan pas kulwap sama psikolog mbak aisyah, kalau luang ada tulisannya di blogku ttg mengelola emosi marah hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di awal sudah saya sebutkan bahwa sejak usia toddler mba, usia ini anak sudah punya insting sperti ini. Memang bukan masalah emosinya, tpi peran orang tua yg harus bijak menanggapi tangisan anak. Emosi harus tersalurkan dan ga boleh dipendam sama anak tpi klo itu hanya strategi kita harus arahkan bahwa menangis bukanlah cara buat dpetin sesuatu 🙂 Ibu Aisyah Dahlan memang pakarnya soal ini ya mba, saya pun senang ikut kajiannya.

      Hapus
  11. Wah keren mbak saya baru tahu kalau ternyata dari tangisan saja kita bisa membedakan emosinya ya. Makasih kak infonya

    BalasHapus
    Balasan
    1. tangisan itu bentuk penyaluran emosi lebih tepatnya mba

      Hapus
  12. Jadi ibu mah memang harus peka sama keadaan sekitar, termasuk membedakan hal satu dengan hal lain.

    kalo anakku sih lebih ke berani tapi cepat baper, kalo dimarahin pasti nangis, tapi langsung minta maaf kalo memang dia salah, duh super sekali pokoknya, hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hampir semua anak kecil klo dimarahin akan menangis mba, bersyukur ya mba anaknya punya empati yg tinggi

      Hapus
  13. Saya punya adik yang umurnya 2 tahun. Masih banget yah itu masuk ke masa toddler. Bener kata mbaknya, anak di usia itu agak keras kepala sih. Kalo dia mau A, harus A. Apa-apa yang ia inginkan harus tercapai.

    Lagi-lagi orang tua harus bisa mengimbangi 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya betul mba, orang tua harusnya ga serta merta nurutin, harus cari tau dlu

      Hapus
  14. Ilmu baru lagi nih buat cewe2 yg belum berumah tangga kayak saya. Sebagai calon Ibu (aamiin), kudu mulai bisa menyeimbangkan emosi juga ya. Thanks infonya kak, saya belajar ngelatih emosi dulu sama kucing2 saya deh

    BalasHapus
  15. Ngena bangett. Banyak belajar dari artikel ini. Sering banget anakku pura pura nangis, seringnya juga ngga tega. Padahal ngga baik yaa yg begituuu

    BalasHapus
    Balasan
    1. baiknya kita harus bisa paham betul anak nangis krna apa mba, klo cuma siasat aja kita pun harus mensiasatinya juga, hehehe

      Hapus
  16. Wah ini relate banget sama tingkahnya Nahla belakangan ini. Ternyata strategi ya.

    Saya juga selalu mencoba untuk nyuekin dia kalo lg dia lg pasang strategi gitu. Udah sukses nyuekin, eh malah seringnya yg ga tega itu malah ayahnyaa nih. Harus dikooridinasikan nih berarti

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya baiknya komunikasikan juga mengenai hal ini ke suami atau pun support system yg drumah, krna klo kitanya teges tapi tetep ada yg belain anak akan sama aja jdinya

      Hapus
  17. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

  18. saya pernah membaca entah itu di artikel atau di buku, tapi anak yang punya kesulitan dalam berkomunikasi, karena perbendaharaan katanya sedikit / kurang , mereka punya kecenderungan menunjukan emosinya.

    Ini juga terjadi ketika kita dewasa, dan kita hidup di negara lain dengan bahasa berbeda, perilaku seperti anak kecil ini bisa kembali terulang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. karena anak ga mampu mengutarakan langsung scara verbal jdinya terpendam dan menumpuk menjadi emosi dan bsa meledak suatu saat, utk masalah orang dewasa ini saya masih belum paham pengaruhnya sih mba

      Hapus
  19. Kebetulan saat ini saya masih jomlo mbak, setelah membaca tulisan ini. Jadi punya insight baru. Ooh gini toh kalo punya anak.
    Nice sharing, mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. semangat kak, smoga segera bertemu jodohnya dan sudah punya wawasan mengenai emosi anak ya

      Hapus

Terimakasih sudah berkunjung, dengan senang hati menerima masukan saran dan komentar Anda 😊🙏