Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah



بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

 

Tak terasa minggu depan sudah lebaran haji saja ya, padahal rasanya baru kemaren shalat Idul Fitri di rumah dan belum bisa berkumpul dengan keluarga di kampung halaman. Semoga kita semua diberikan kesehatan dan perlindungan dari segala penyakit, khususnya terhindar dari virus COVID-19.

Membahas tentang bulan Dzulhijjah yang identik dengan berkurban dan hari raya Idul Adha, sebenarnya ada banyak keutamaan yang bisa diraih di bulan ini, karena bulan ini merupakan salah satu bulan yang dicintai Allah selain bulan Ramadhan. Kenapa?

Bulan Dzulhijjah ini merupakan bulan yang dicintai Allah karena 2 hal:

1. Merupakan bulan salah satu kekasih Allah yaitu Nabi Ibrahim alayhi salam.

Perjuangan Nabi Ibrahim 'alayhi sallam saat mendakwahkan agama Islam kepada kaum Namrud, tetapi tidak ada yang mau mengikuti. Bahkan mereka justru memusuhi Nabi Ibrahim dan membakarnya, tetapi Allah Subhanahu wa ta'ala menyelamatkan beliau dari api. 

Bulan ini juga menjadi bulan dimana Nabi Ibrahim 'alayhi sallam dengan patuh mengikuti perintah Allah untuk menyembelih Nabi Ismail 'alayhi sallam. Namun, atas keimanan mereka Allah mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba. Dan hingga sekarang menjadi suatu ajaran islam untuk berkurban di tanggal 10 Dzulhijjah.

2. Bulan dimana Islam menjadi agama yang sempurna

QS.Al-Mā'idah : 3

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ ۚ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌ ۗ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan azlam (anak panah) (karena) itu suatu perbuatan fasik. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Tetapi barang siapa terpaksa karena lapar bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.


Nah itu mengapa bulan ini merupakan bulan yang amat dicintai Allah, karena bulan ini memiliki nilai histori yang tinggi. Oleh karena itu, kita sehendaknya memperbanyak amalan kita karena bulan ini merupakan "prime time" untuk menabung pahala di sisi Allah, terutama di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.


Dari Ibn Abbas radhiallahu'anhu, Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

“Tidak ada hari dimana suatu amal shaleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal shaleh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10hari pertama bulan Dzulhijjah).”

Para sahabat bertanya: “Wahai rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad fi sabilillah?"

Nabi shallahu’alaihi wa sallam menjawab: “Termasuk lebih utama dibanding jihad fi sabilillah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR. Ahmad, Bukhari dan Turmudzi)

Sangat jelas sekali bagaimana keutamaan bulan ini, terutama di 10 hari pertamanya, bahkan keutamaannya bisa melebihi keutamaan 10 hari terakhir bulan Ramadhan dari suatu sisi. Para ulama menyebutkan, bahwa 10 hari pertama lebih utama dibanding 10 hari terakhir bulan Ramadhan pada siang hari. Sedangkan dari sisi malam, 10 hari terakhir bulan Ramadhan adalah yang paling utama.

Dari Abu Bakrah radhiyallahu'anhu, Rasulullah Shallallahu'alahi wa sallam bersabda:

"Ada dua bulan yang pahala amalnya tidak akan berkurang. Keduanya dua bulan hari raya: bulan Ramadhan dan bulan Dzulhijjah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah Shallallahu'alahi wa sallam menggandengkan bulan Dzulhijjah dengan Ramadhan, sebagai motivasi beliau menyebutkan bahwa pahala amal di dua bulan ini tidak berkurang. 

Jadi inilah kesempatan terbaik kita untuk memperbanyak amalan shalih kita, jika di bulan Ramadhan yang lalu masih ada amalan yang tertinggal dan kurang optimal, saat inilah kita diberi kesempatan lagi untuk memperbanyak amalan yang mana bisa saja menggugurkan dosa-dosa kita sebelumnya. 

Memperbanyak amalan shaleh disini bisa banyak sekali bentuknya. Amalan shaleh bisa kita temukan di dalam Al Quran dimana amalan-amalan tersebut disandingkan dengan kata iman. Sebagai contoh, surah Al Baqarah ayat 3:

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka,

Dari ayat ini, disebutkan bahwa orang yang beriman akan menjalankan shalat. Shalat disini tidak hanya shalat fardhu saja, tetapi kita bisa menjalankan shalat sunnah rawatib, shalat malam, shalat dhuha dan shalat syuruk. 

Adapun amalan-amalan shaleh yang lain diantaranya,

1. Berpuasa

Pada bulan ini kita bisa menjalankan puasa selama 9 hari pertama bulan Dzulhijjah. Tidak ada kewajiban untuk berpuasa selama 9 hari full, akan tetapi semakin banyak puasa yang kita lakukan maka semakin besar kesempatan kita untuk mendapatkan pahala di sisi allah Subhanahu wa ta'ala. Jika kita sebagai kaum wanita mendapat halangan berupa haid atau pun merasa tidak mampu selama 9 hari, maka setidak-setidaknya kita berpuasa Arafah di hari ke 9 Dzulhijjah. Berpuasa menjadi amalan yang paling utama dibandingkan amalan lain, karena ketika berpuasa akan menunjang amalan-amalan shaleh lainnya. Sebagai contoh, ketika puasa kita akan semangat membaca Al Quran, tidak hanya tepat shalat fardhu tetapi semangat mengerjakan shalat sunnah, dan juga dengan berpuasa bisa menekan melakukan hal yang maksiat.

2. Takbir dan Dzikir 

QS. Al-Ḥajj : 28

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۖ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Dia berikan kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.

Ibnu 'Abbas radhiyallahu'anhuma berkata, "Hari-hari yang telah ditentukan adalah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah."

Yang termasuk didalamnya bertakbir, bertahlil, bertasbih, bertahmid, beristighfar, dan memperbanyak doa. Disunnahkan untuk mengangkat (mengeraskan) suara ketika bertakbir di pasar, jalan, masid, dan tempat lainnya. Walaupun hal ini sudah sangat jarang sekali kita temukan dewasa ini. 

3. Memperbanyak  membaca Al Quran 

Saat Ramadhan kita selalu mempunyai target untuk bisa khatam minimal 1 kali. Begitu pula saat bulan Dzulhijjah ini, mari kita targetkan untuk bisa khatam di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah ini.

4. Memperbanyak bertaubat

Temasuk yang ditekankan pula adalah bertaubat dari berbagai dosa dan maksiat yang telah dilakukan dan meninggalkan tindakan zalim terhadap sesama. Karena Allah cinta kepada hamba-Nya yang "kembali" pada hari-hari istimewa ini.

5. Memperbanyak Sedekah

Dalam bersedekah, tidak ada batasan kepada siapa sedekah diberikan, dalam bentuk apa sedekah diberikan, maupun besaran sedekah itu diberikan.

QS. Al-Baqarah : 271

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.

6. Berkurban

Dihari Nahr (10 Dzulhijjah) dan hari tasyriq disunnahkan untuk berkurban sebagaimana ajaran Nabi Ibrahim 'alayhisalam. Di dalam berkurban pun terdapat sunnah-sunnah yang bisa kita lakukan untuk tabungan pahala kita. Diantaranya dilarang memotong kuku dan rambut sampai hewan kurban disembelih. Yang dilarang disini adalah orang yang sudah memiliki niat atau kemampuan untuk berkurban, bukan hewan kurban yang akan disembelih.


Intinya, keutamaan di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah ini berlaku untuk amalan shalih apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu.

Semoga kita semua dimampukan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala untuk memperbanyak amalan shaleh kita dan kita diberi kesempatan untuk bertemu di bulan Dzulhijjah berikutnya.

Aamiin..


Referensi: Kajian Syameela Ustadz Oemar Mita dan beberapa kajian bersama Ustadz Adi Hidayat.





4 Hal yang Perlu Dipahami dalam Menjalani Homeschooling

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم 

 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه




Apa kabar ni sobat onlineku?
Masih ingin membahas masalah homeschooling nih, ternyata banyak juga yang tertarik dan ingin tahu lebih dalam mengenai homeschooling. Tapi ada juga yang masih bingung mengenai pembahasan legalitas atau cara untuk mendapatkan ijazah yang sebetulnya sudah sedikit saya bahas di tulisan sebelumnya 

Next, insya Allah akan kita bahas lebih detail dalam tulisan tersendiri ya mengenai legalitas homeschooling ini. Karena tulisan kali ini akan membahas masalah fundamental terlebih dahulu, mengenai persiapan homeschooling. Jadi setelah sebelumnya kita membahas masalah teknisnya nih, sekarang kita akan bahas apa-apa saja yang perlu kita pahami untuk persiapan mental kita sebagai orang tua dalam menjalani homeschooling.
Ga perlu berlama-lama lagi, langsung aja kita mulai ya..

Edited by Canva

1. PRINSIP-PRINSIP MEMBERSAMAI ANAK

  • Bersyukur atas anak dengan segala keunikannya, beserta segala nikmat yang Allah SWT karuniakan.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta'ala dalam QS. Luqman:12

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, "Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji."

  • Memafkan anak atas segala kekurangan dan kegagalannya.
QS. At Taghabun:14

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Jika kita sebagai orang tua tidak berhati-hati maka anak kita bisa menjadi musuh. Sebaliknya, jika kita berhati-hati maka anak bisa jadi penolong kita, baik penolong dalam jalan Allah, penolong dalam kebaikan dan penolong dalam masa sulit. 

Maka kita pun harus sering memaafkan anak kita atas hal-hal yang tidak berkenan di hati kita. Jika kita belum memaafkan kesalahan anak tang telah lalu, maka akan mempengaruhi diri kita dalam bersikap dan kita pun menjadi mudah terpancing emosi sehingga mudah marah. 

Lebih baik lupakan, lepaskan masalah-masalah yang sudah lalu, jika mampu kita ikhlaskan dan ridha bahwa semua ini adalah ketetapan Allah. Apalagi jika anak kita masih kecil yang pada dasarnya memang belum paham, maka kita tidak perlu mmarah-marahatau berteriak kepada mereka.


  • Lemah lembut dan sabar dalam mendengarkan
QS. Al Imran:159

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.

Jelas sekali dalam dalil tersebut, bagaimana kita harus bertutur kata. Gunakan kata-kata yang baik dengan isi dan mimik wajah yang baik, begitupun saat menasehati, menanyakan sesuatu, dan mendampingi anak. Sedangkan saat anak menyampaikan sesuatu (apapun itu) kita wajib sabar mendengarkan dengan penuh antusias. Hal ini berlaku untuk semua umur, tidak hanya pada anak kecil. Janganlah merasa anak sudah besar jadi kita tidak perlu lagi bermanis-manis dengan anak. Karena jika kita berlaku dan berhati kasar kepada mereka, maka lama-lama anak akan tidak nyaman dan semakin menjauhi kita sebagai orangtua. Sehingga mereka pun enggan untuk menceritakan hal apapun ke kita lagi karena takut dengan respon kita yang suka marah atau memberikan kata-kata yang tidak seharusnya.


2. MEMBANGUN HARAPAN PENDIDIKAN

Kita sebagai orang tua harus berani bercita-cita dan menaruh harapan setinggi mungkin akan masa depan anak kita, dengan cara:

  • Melambungkan harapan sebagaimana kita diciptakan
QS. Al-Baqarah : 30

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Aku hendak menjadikan khalifah di bumi." Mereka berkata, "Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?" Dia berfirman, "Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Sangat jelas sekali dalam ayat tersebut tujuan Allah dalam menciptakan manusia yaitu sebagai khalifah (pemimpin) dimuka bumi. Yang mana manusia adalah abdi Allah Subhanahu wa ta'ala, maka sudah sepatutnya kita melakukan hal-hal yang Allah sukai dan meninggalkan yang Allah larang. 

Dalam ayat selanjutnya QS Al Mulk:2

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun,

Nah, bagaimana kontribusi kita atau anak kita dalam kebermanfaatan di atas bumi. Jadi kita harus punya harapan atau cita-cita yang akan membantu kita dalam menyusun kurikulum keluarga. Jangan biarkan ketidakmungkinan atau keterbatasan diri kita sebagai orang tua memutus harapan tinggi kita kepada anak, tentunya di jalan Allah. Alangkah baiknya hal ini  disiapkan sedini mungkin, karena proses penanaman dalam diri membutuhkan waktu yang tidak singkat dan harus dikenalkan sejak anak masih kecil.

QS. Al Ghafir:60

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk ke Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina."

Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang memberikan kita kesempatan untuk berdoa dan berharap kepadaNya. Jadi mengapa kita justru membatasi harapan kita kepada anak-anak kita? 

Keterbatasan kita sebagai orang tua tidak bisa dijadikan alasan untuk meredam tingginya cita-cita anak kita. Tak perlu lah merasa minder atas kekurangan atau keterbatasan yang kita miliki. Kita harus yakin atas kuasa dan kebesaran Allah, dan itulah yang harusnya kita jadikan tolak ukur. Sepenuhnya kita berharap atas kekuatan dan kekuasaan Allah, karena jika kita berharap kepada manusia (dalam hal ini mungkin anak kita), justru kita bisa saja merasa kecewa.

La haula walla kuwata illa billah. Yakinlah Allah akan mengabulkan doa-doa kita.

 

3. MENTAL TRIAL & LEARN

Jika biasanya kita mendengar kata Trial and Eror, tidak untuk homeschooling. Karena untuk menjalankan homeschooling sangat dibutuhkan mental baja yang kuat untuk Trial and Learn

Wah gimana tuh?

Jadi kita tidak perlu takut untuk terus berusaha dan mencoba, jika ada sesuatu yang kurang pas, hendaknya kita mempelajari dimana letak kesalahannya dan mencoba mencari jalan keluar untuk langkah selanjutnya. Tidak perlu terlalu fokus akan hasil yang kita capai, tapi pelajari setiap proses yang kita lalui. Karena setiap usaha akan bernilai ibadah di mata Allah dan ada hikmah yang bisa ambil. 

Mungkin praktisnya kita bisa saja mencontoh suatu kurikurum yang sudah tervalidasi, tapi tetap saja akan tantangan yang akan kita lewati. Maka dari itu, kita harus siapkan mental kita untuk menghadapinya. Jadi, teruslah mencoba dan melangkah kedepan, jangan pernah takut gagal, dengan cara:


  • Mulai dari yang kita bisa dan benar, sesuaikan dengan kapasitas kita

Jangan membandingkan diri kita dengan orang lain, karena setiap orang punya perjuangan masing-masing. Jadi mulai saja sedikit demi sedikit tetapi yang penting harus konsisten. Jangan menyulitkan diri sendiri karena sesungguhnya Allah itu selalu memudahkan umatnya.

QS. Al-Baqarah : 233

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ ۚ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ ۚ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَٰلِكَ ۗ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا ۗ وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا آتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya. Ahli waris pun (berkewajiban) seperti itu pula. Apabila keduanya ingin menyapih dengan persetujuan dan permusyawaratan antara keduanya, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin menyusukan anakmu kepada orang lain, maka tidak ada dosa bagimu memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Jika kita mempunyai keterbatasan dalam suatu hal, maka carilah alternatif lain yang bisa kita kerjakan terlebih dahulu. Dalam menyusun kurikulum harian misalnya, lakukan dari yang bisa dilakukan, sembari terus mengupgrade diri. Dimulai dengan kegiatan yang kita atau anak kita sukai, seperti menemani anak bermain, lama-kelamaan dalam sesi bermain itu kita bisa menyisipkan nilai dari suatu yang kita ingin berikan.


  • Memahami tugas kita untuk giat berusaha dan tidak mudah putus asa

Fokus pada usaha jangan pada hasil. Karena Allah melihat usaha kita bukan pada hasil. Jika di perjalanan terjadi kegagalan, jangan putus asa dan merasa sia-sia. Karena setiap usaha yang kita lakukan akan bernilai pahala, saat , senantiasa berkembang dan terus maju. Dan harus dilakukan evaluasi secara rutin agar tau apa yang harus diperbaiki.

QS. At Taubah :105

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan katakanlah, "Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan."


  • Segera bangkit, bertaubat, dan berdoa setelah gagal atau berbuat salah.

QS. Al Imran:135

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.

Saat kita kelolosan melakukan hal yang tidak baik, entah marah, menghardik, atau cuek ke anak. Segeralah istighfar, taubat dan segera bangkit kembali. Meminta ampun dan mohon kekuatan untuk bisa bangkit dan semakin memperbaiki diri.

 

4. KOMITMEN WAKTU, TENAGA, PIKIRAN

Yang paling mahal dalam homeschooling bukanlah tenaga pengajar, bukanlah buku-buku atau alat-alat yang digunakan. Tetapi yang paling mahal adalah komitmen kita dalam menjalankannya.

Komitmen dengan diri sendiri, untuk mengkerahkan waktu yang lebih banyak untuk homeschooling daripada saat anak bersekolah formal. Ketika kita mengharapkan hasil yang lebih baik dan optimal, pasti akan dibutuhkan waktu, tenaga dan pikiran yang lebih banyak pula. Tapi jangan sedih, karena semua itu tentunya akan bertambah banyak pula pahala yang akan kita dapatkan. Insya Allah 😊

Lalu, ada juga kelebihan dari homeschooling adalah tidak dibatasi waktu, baik dalam bereksplorasi, latihan, pertanyaan, dan memahami keingintahuan yang anak miliki. Jadi, jangan pernah memadamkan semangat belajar anak kita ya moms. Saat anak menanyakan sesuatu hendaknya segera kita jawab dan tanggapi anak kita. Hadirlah baik jiwa dan hati kita saat membersamainya. Jika kita hanya menemaninya saat dirumah tanpa ingin tau apa yang sedang anak kita kerjakan, dan justru kita sibuk dengan gawai kita sendiri tentulah kita tidak akan memahami anak kita. Hal ini akan membuat kita kesulitan sendiri dalam menentukan kurikulum yang tepat untuk anak-anak kita.

Baca juga: 13 Kesalahan Komunikasi Orang Tua ke Anak

 

Gimana nih moms, merasa lega atau justru merasa berat? Semua itu tergantung perspektif kita masing-masing. Intinya, sebagai orang tua kita harus mempunyai harapan yang tinggi untuk anak kita. Bukan untuk suatu pencapaian duniawi semata, tetapi sebagai wujud pertangungjawaban kita sebagai orang tua kelak dihari akhir.

Semoga kita semua diberi kemampuan dan keistiqomahan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala, untuk bisa memahami dan menjalani materi diatas, yang disampaikan oleh Teh Karin dalam kelas Bengkel Diri Siap Mendidik yang diprakarsai oleh Ummu Balqis.

Nantikan juga tulisan selanjutnya dalam materi mengenali psikologi anak ya.


Wassalam.








Mengenal lebih dalam tentang Homeschooling secara Islami

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه



Belakangan ini makin marak pembahasan soal Homeschooling di negara kita Indonesia. Efek dari pandemi yang membuat anak kita harus Sekolah dari Rumah yang justru membuat sebagian orangtua khususnya Ibu kewalahan atau bahkan stress dalam mengajari anak. Padahal sebetulnya sudah menjadi tugas seorang ibu menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Jadi sudah menjadi kewajiban kita untuk menjadi pengajar dan membersamai kegiatan belajar anak.


Lalu apa sih sebenarnya homeschooling itu?
Setelah berselancar di google, secara garis besar pengertian homeschooling adalah suatu model pendidikan alternatif yang berbasis di rumah dan diselenggarakan oleh keluarga. Jadi homeschooling bukanlah suatu lembaga yang menyerupai sekolah melainkan suatu metode pendidikan yang berbasis di rumah dengan berbagai kegiatan yang sangat bervariasi. Ada yang dibuat terstruktur seperti di sekolah, ada yang menggunakan metode-metode tertentu, tergantung dari keputusan orangtua yang tentunya menyesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan anak. 

Alhamulillah, bulan ini menjadi rejeki saya untuk bisa mempelajari lebih jauh tentang seluk beluk pengajaran dan pendidikan anak, terutama mengenai homeschooling. Melalui kuliah online Bengkel Diri Kelas Siap Mendidik, ada 13 materi yang dibahas secara tuntas dengan fasilitator yang mumpuni dan sayang sekali jika saya simpan sendiri. Oleh karena itu, insya Allah saya akan mencoba menuliskan rangkuman dari materi-materi yang telah dibahas dalam tulisan blog saya ini. Jadi stay tuned terus dan doakan saya istiqomah ya..😊

Materi pertama membahas tentang Pengenalan Homeschooling yang dipaparkan oleh Teh Karin (Karina Hakman) yang mana seorang penulis dan juga pelaku homeschooler untuk ke3 anaknya. 

Homeschooling


Bentuk Homeschooling

Ada berbagai bentuk dan penerapan homeschooling, setiap orangtua memiliki landasan dan penerapan masing-masing. Tetapi sebagai umat muslim, dalam menentukan sistem pengajaran perlu diperhatikan 2 faktor utama, yaitu antara kebutuhan dan keinginan.
  • Kebutuhan pokok, yang tentunya tidak bertentangan dengan akhlak islamiyah yang berupa akhlak (adab), ibadah, aqidah, jasadiyah, dan tsaqafah.
  • Keinginan, yang terdiri dari berbagai faktor berikut:
    1. Harapan Orang tua sebagai Kepala Sekolah dalam pendidikan anak. Kita wajib merumuskannya, baik berupa visi dan misi atau mudahnya kita sebut sebagai harapan. Harapan atau doa-doa yang kita panjatkan untuk anak kita, dapat kita realisasikan dalam bentuk pengajaran yang kita berikan dirumah. Dimana banyak hal yang tidak terakomodasi dalam sitem pengajaran di sekolah.
    2. Harapan Anak, seiring dengan anak yang semakin bertumbuh besar maka anak akan mempunyai keinginan-keinginan dan harapannya sendiri, tentunya kita sebagai orang tua bisa mengarahkannya.
    3. Minat Bakat Anak, dimana anak bisa menyampaikan langsung minatnya dalam bidang apa. Jika anak kita masih kecil dan belum bisa menyampaian secara langsung, kita sebagai orang tua bisa mengenali apa-apa yang cocok dengan keunikan dan kebutuhan anak.
    4. Ekonomi Keluarga, dimana homeschooling bisa disesuaikan dengan kemampuan ekonomi keluarga masing-masing. Tidak benar bahwa homeschooling lebih mahal dari sekolah formal, karena penggunaan materi dan bahan pengajaran bisa kita sesuaikan tidak melulu menggunakan buku yang mahal.
    5. Komitmen Waktu, yang sangat fleksibel dan bisa kita sesuaikan dengan kemampuan anak dan kesanggupan pengajar. 
    6. Support System, termasuk suami yang bisa mengambil peran dalam materi tertentu atau memberikan full dana. Selain itu, saudara/kakak dari anak tersebut yang bisa memotivasi dan membantu mengajarkan atau menemani sesekali waktu. Orangtua atau mertua kita, bahkan ART yang membantu pekerjaan domestik dirumah merupakan sebuah support system yang membantu jalannya homeschooling.

Kurikulum Homeschooling

Dalam membuat kurikulum homeschooling tidak ada ilmu yang paten, karena pada dasarnya homeschooling sangat fleksibel dimana kurikulum ini harus menyesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing anak. Jadi yang perlu kita perhatikan dan jadi bahan pertimbangan dalam membuat kurikulum anak adalah sebagai berikut:
1. Mempelajari tahapan perkembangan anak dari berbagai sumber
Banyak pendapat yang berbeda mengenai penerapan homeschooling, agar pikiran kita tidak terkotak-kotak, kita harus mencari referensi dari berbagai sumber. Melalui buku yang membahas tentang perkembangan anak dalam Islam, buku tahapan perkembangan secara psikologis anak, atau buku-buku lain yang berkaitan dengan sistem pendidikan anak bisa kita pelajari sebagai referensi.
2. Mengenali anak dalam tahapan
Karena tiap anak adalah unik yang mempunyai cara dan waktu konsentrasi yang berbeda dalam belajar. Kuncinya adalah kita harus mengenali anak kita dengan sangat detail, dengan cara selalu membersamai anak untuk membangun kedekatan emosional. Homeschooling menjadi sulit saat kita tidak mengenal bagaimana karakter anak kita sendiri.
3. Mempelajari gaya belajar anak
Melalui proses yang tidak singkat, kita bisa mengenali dan paham kebutuhan anak kita dengan memperhatikan kesehariannya. Dengan memahami karakter anak, kita jadi tau cara apa yang cocok untuk sistem pengajaran yang akan kita berikan.
4. Waktu belajar efektif anak
Yang bisa kita sesuaikan setelah kita paham betul bagaimana anak kita melalui tahapan-tahapan di atas. Sehingga kita bisa mendapatkan golden moment anak dimana sangat dibutuhkan kepekaan kita sebagai orangtua. Sebagai contoh: ada anak yang mempunyai konsentrasi tinggi pada saat pagi jadi langsung menyodorkan buku untuk belajar tahsin, tetapi saat siang akan aktif bergerak kesana-kemari, sehingga membutuhkan cara belajar yang seru dengan berbagai kegiatan yang membutuhkan gerak tubuh. Dengan waktu yang efektif diharapkan ilmu yang kita ajarkan dapat terserap secara sempurna daripada kita memaksakan anak untuk duduk berjam-jam tetapi anak tidak bisa memahami sama sekali.
5. Jadwal dan rutinitas
Hal ini harus kita sesuaikan dengan kebutuhan pokok kita sebagai umat islam yang sudah dibahas di awal tadi, dimana waktu belajar tidak mengganggu waktu ibadah shalat. Disini kita sekaligus mengajarkan ilmu tauhid kepada anak, bahwa kewajiban kita sebagai umat muslim untuk menyegerakan shalat ketika waktunya sudah tiba. 
6. Sumber dan Penyusunan Materi
Sumber pengajaran dan pengajar bisa kita sesuaikan dengan kemampuan dan kapasitas kita masing-masing. Jika dirasa ilmu kita belum mumpuni dalam mengajarkan suatu materi, kita bisa memanggil atau mendatangi pengajar yang ahli dalam bidang tersebut.

Metode Homeschooling

  1. Talaqqi, metode ini biasa digunakan saat anak belum bisa membaca, jadi kita sebagai pengajar membacakan kepada anak dan kemudian anak mengikuti. Cara ini cocok digunakan untuk hafalan, jika ingin bacaan Al Quran yang pas kita bisa memperdengarkan murotal saat anak-anak sedang bermain dengan suasana yang tenang.
  2. Ngobrol/Diskusi, cara ini bisa digunakan setiap saat saat kita membersamai anak. Anak dibawah 5 tahun sangat aktif bertanya akan banyak hal, disaat itulah kita bisa memberikan banyak penjelasan secara santai seperti halnya kita mengobrol sehari-hari.
  3. Bermain, ini cocok untuk anak-anak dibawah 5 tahun, dimana fitrah mereka adalah bermain dan mencari tau akan segala sesuatu. Melalui permainan anak akan tertarik dan lebih bisa memahami sesuatu yang kita ajarka dengan cara yang menyenangkan.
  4. Story Telling/Baca Buku, ini tidak melulu menggunakan buku yang mahal. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyampaikannya ke anak.
  5. Pemaparan/Penjelasan, saat anak menanyakan sesuatu kita bisa menjelaskannya secara langsung. Jika dirasa kita tidak yakin dengan jawaban yang akan kita berikan, kita bisa bilang secara jujur kepada anak bahwa kita belum tahu dan akan segera mecari tau kepastiannya, melalui internet atau buku yang kita miliki di rumah.
  6. Studi Kasus, untuk menjelaskan berdasarkan kejadian yang sedang atau sudah terjadi dan kita jelaskan prosesnya secara mendalam.
  7. Percobaan/uji coba mengenai sains, yang bisa kita pelajari terlebih dahulu untuk menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan.
  8. Rihlah/ Jalan-jalan, cara ini bisa sesekali kita lakukan, sekaligus untuk mentadaburi ciptaan Allah dengan berbagai kondisi dengan melihat dan berinteraksi secara langsung.  
  9. Praktek Keseharian, sebagaimana kebutuhan pokok dimana ibadah shalat dilakukan saat waktunya tiba, pembiasaan mengucapkan tolong maaf dan terimakasih, mengajarkan akhlak baik yang bisa dilakukan dalam kegiatan sehari-hari.
  10. Keteladanan, memberi contoh akan lebih mengena daripada kita hanya memerintah anak saja.

Dengan berbagai kapasitas BIAYA,  kita bisa menyesuaikan sesuai kemampuan kita masing-masing.

1. Pengajar, dengan pertimbangan: 
  • kesesuaian nilai
  • kesesuaian materi
  • pembekalan materi
2. Bahan, yang disesuaikan dengan kapasitas dan budget kita masing-masing.
  • Mandiri, dengan cara kita kumpulkan sendiri dengan berbagai kreatifitas yang kita miliki 
  • Eksternal yang sudah tersedia secara lengkap dalam bentuk buku atau modul dengan berbagai biaya. 
3. Jadwal, yang disesuaikan dengan kemampuan anak.
  • waktu shalat
  • kebutuhan orang tua
  • materi/metode/pengajar/anak

Sosialisasi Anak yang Homeschooling

Hal ini menjadi pertanyaan yang paling sering ditanyakan mengenai homeschooling. Dimana orangtua merasa takut anaknya kurang terpenuhi kebutuhan sosial karena paradigma anak homeschooling belajar sendirian dirumah. Padahal saat ini sudah banyak acara playdate sesama homeschooler dan berbagai komunitas homeschooler yang bisa kita ikuti untuk memenuhi kebutuhan interaksi anak dengan tema sebayanya. Yang perlu dan penting untuk diingat adalah:
  • Tujuan Sosialisasi: saling mengenal, saling belajar dan tolong menolong, sehingga ada hubungan interaksi dengan orang lain secara global. 
  • Objek Sosialisasi: mulai dari teman sebaya, tetangga, orang yang lebih tua, guru, saudara, sesama jenis dan lawan jenis, bahkan orang yang baru dikenal.
  • Adab Sosialisasi: dimana kita akan lebih banyak mengajarkan adab-adab yang semestinya sesuai syariat Islam yang mana saat bersekolah formal kita kurang bisa mengontrolnya.

Legalisasi/Ijazah

Ada beberapa opsi yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan ijazah untuk anak kita yang homeschooling, diantaranya:
  • Sekolah Induk
  • Ujian Persamaan
  • Portofolio
  • Ujian Internasional
  • Sertifikasi Homeschooling Formal

Nah, demikian berbagai informasi yang bisa kita jadikan bahan pertimbangan untuk memutuskan apakah anak kita akan homeschooling atau tidak.
Yang terpenting adalah kita harus menyesuaikan dengan tahapan perkembangan anak kita masing-masing, tanpa membandingan dengan anak orang lain. Karena pada dasarnya setiap anak adalah unik dan tidak ada sistem pengajaran yang terbaik melainkan satu sama lain saling melengkapi dengan mengutamakan nilai-nilai harapan yang ingin kita capai dan kapasitas serta kemampuan kita sebagai orangtua. 

Semoga kita semua diberikan kemampuan untuk memberikan pengajaran yang sesuai dengan fitrah anak dan selalu mendapatkan ridha Allah Subhanahu wa ta'ala.

Akhir kata, wassalamualaikum.















Efektifkah Pemberian Reward & Punishment ke Anak?

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم 
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه


Mendidik anak itu bisa dibilang gampang-gampang susah ya? Apalagi dalam melatih kedisiplinan anak. Terasa sulit saat anak sudah mulai menunjukan kemauannya sendiri dan tidak sepaham dengan harapan kita, tapi bisa dibilang mudah juga saat kita tau ilmunya. Akan tetapi, ilmu yang telah kita pelajari pun bisa "ambyar" seketika saat kita menjalankannya, entah karena tidak tega atau sulitnya mengendalikan emosi kita. 

Salah satu cara yang banyak diterapkan sebagian orangtua sejak jaman dahulu adalah sistem pemberian Reward and Punishment. Siapa yang waktu sekolah dulu suka diiming-iming mendapat hadiah saat jadi juara kelas? Atau ditakuti akan dipindah sekolah ke desa kalau nilainya jelek?

Itu sih jaman kita kecil dulu ya moms.. kalo moms milenial sih reward and punishment biasa dilakukan sejak anak memasuki masa terible two dengan pemberian pujian atau hukuman no screening time. Cara ini cukup ampuh untuk melatih kedisiplinan anak, terutama sejak dini. Disiplin dalam parenting sangat erat kaitannya dengan upaya membantu anak-anak belajar mengelola diri mereka sendiri, baik perasaan dan perilaku mereka. Pentingnya mengajarkan disiplin ke anak adalah untuk mengembangkan kompas moral mereka sendiri untuk memilah perilaku dan dorongan hati atau perasaan mereka. Sehingga mereka bisa mengetahui dan memilah sendiri mana yang benar dan mana salah serta mana yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan. 

Sebelumnya kita akan bahas terlebih dahulu apa itu reward dan punishment.

Reward berasal dari bahasa Inggris yang artinya hadiah, penghargaan atau imbalan. Reward diberikan sebagai bentuk penghargaan atau imbalan atas perilaku baik atau prestasi, saat anak berhasil melakukan tugas yang telah disepakati. Sedangkan punishment berarti hukuman atau konsekuensi yang diberikan atas perilaku yang tidak semestinya, dengan tujuan mengurangi kemungkinan hal tersebut terjadi lagi di kemudian hari.

Reward ke anak tidak hanya berbentuk barang (reward tangible), tapi juga bisa dalam bentuk pujian, tos, atau bermain bersama (reward intangible). Sedangkan punishment juga tidak melulu memarahi atau memukul anak, tapi bisa juga bentuknya “mengambil hal yg disukai anak” seperti contoh dilarang main atau screening time. Dari berbagai strategi mendisiplinkan anak, pemberian reward dan punishment menjadi strategi yang sering dilakukan oleh orangtua. Strategi ini mungkin jadi jurus andalan untuk mengubah perilaku anak yang tidak seharusnya.

Lalu apakah pemberian reward dan punishment ini dapat efektif?

Reward and Punishment

Pemberian reward pun sudah dilakukan oleh Rasulullah, tapi pada konteks yang berbeda. Rasulullah memberikan hadiah bagi pemenang dalam perlombaan anak-anak, seperti perlombaan lari atau saat memberikan pertanyaan. Diriwayatkan oleh Ahmad dari Abdullah bin Harits radhiyallahu'anhu: 

"Rasulullah membariskan Abdullah, Ubaidullah, dan beberapa anak lainynya dari cucu-cucu Abbas ra. kemudian beliau bersabda, "Siapa yang bisa sampai kepadaku terlebih dahulu maka dia akan mendapat hadiah demikian dan demikian!".

Mereka pun beradu cepat ke arah beliau lalu memeluk punggung dan dada beliau, kemudian beliau mencium dan memeluk mereka. "

Jadi, memberikan "hadiah" bagi pemenang dalam perlombaan atau kompetisi adalah suatu metode bagi orangtua atau bahkan pendidik, untuk memberikan kegiatan, mengarahkan bakat dan kecenderungan anak. Metode ini perlu diterapkan pada saat yang tepat agar hasilnya sesuai dengan harapan. Namun jika cara tersebut belum berhasil membuat anak melakukan hal baik, maka anak memerlukan pengobatan berupa "hukuman" saat anak melakukan hal yang tidak seharusnya. Hukuman disini bukanlah suatu pembalasan dendam kepada anak, tetapi anak dihukum karena merupakan salah satu metode pendidikan dan bukanlah suatu siksaan. Hukuman merupakan salah satu aspek penting dalam pendidikan anak, maka orangtua dan para pendidik harus selalu waspada dalam berinteraksi dengan anak-anak, memahami tabiat mereka, dan tentunya memilih hukuman serta cara menghukum yang tepat dan pantas sesuai usia anak kita

Sebagaimana sabda Rasulullah:

 "Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat apabila mencapai usia tujuh tahun dan pukullah mereka (kalau meninggalkan shalat) pada usia sepuluh tahun". 

Memukul disini pun mempunyai cara dan aturan, yaitu tidak keras dan tidak di kepala sang anak.


Terkait pada pemberian reward dan punishment, sama seperti semua hal di dunia ini, selalu ada sisi positif dan negatif. Disini kita akan bahas beberapa hal yang harus diperhatikan saat memberikan reward dan punishment kepada anak.

1. Pilih reward/punishment yang berpengaruh untuk anak.

Dengan cara ajak anak berdiskusi dan membuat daftar kesepakatan apa saja yang anak inginkan dan tentukan skala prioritas. Setelah itu kita bisa membuatkan reward chart yang ditempel, saat anak melakukan hal kebaikan berikan 1 "bintang", tapi saat anak berlaku sebaliknya maka "bintang" pun berkurang yang akan mempengaruhi lamanya reward dapat ia peroleh dengan syarat (misalnya) terkumpul 5 "bintang". Jadikan ini sebagai media anak berlomba agar timbul semangat untuk mengumpulkan "bintang" karena bintang identik dengan sesuatu yang tinggi dan bersinar.

2. Ketika perilaku muncul, segera berikan reward/punishment secara konsisten

Melalui reward chart kita pun jadi mudah dalam mengaplikasikan  sehingga anak paham dan ingat betul atas kesepakatan yang telah dibuat bersama karena anak pun bisa ikut menghitung langsung bintang yang sudah ia kumpulkan.

3. Jenis reward/punishment harus disesuaikan

Saat anak menunjukan perilaku yang tidak sesuai dan semakin menjadi, berikan punishment yang semakin tidak diinginkan oleh anak atau semakin beratnya hukuman yang diberikan. Akan tetapi berlaku juga saat pemberian reward, saat anak melakukan lebih dari ekspektasi kita, maka reward yang diberikan pun bisa lebih dari apa yang diinginkan sang anak. Cara ini dilakukan saat anak benar-benar melakukan hal yang tidak biasanya, baik hal baik maupun hal buruk.

Dalam pemberian reward/punishment dibutuhkan kehati-hatian agar tidak timbul efek negatif dari pemberian reward/punishment. Jadi ketika memberikan reward kita harus yakin betul bahwa perilaku sebelumnya yang ditunjukan oleh anak adalah perilaku yang kita harapkan. Begitu juga sebaliknya, ketika kita merespons perilaku buruk anak, kita harus yakin bahwa itu bukan respons yang diinginkan anak.

Selain itu perlu kita perhatikan juga dalam penggunaan punishment ini cukup  berisiko karena ada dampak negatifnya. Punishment dapat menghasilkan emosi negatif pada anak dan memicu munculnya perilaku melarikan diri atau menghindar. Terlalu sering memberikan punishment ke anak juga dapat mendorong orang tua untuk terus menggunakan atau bahkan meningkatkan penggunaan punishment yang bisa lebih buruk lagi. Oleh karena itu, penggunaan punishment ke anak alangkah baiknya dijadikan langkah terakhir saat anak berperilaku yang tidak sesuai. Pemberian reward/punishment dikhawatirkan membuat anak merasa cinta yang diberikan orangtuanya adalah cinta yang bersyarat. Hal ini dapat membuat anak melakukan kebaikan hanya semata-mata mengharapkan reward dari kita dan menghindari hal buruk karena takut hukuman dari kita. Padahal yang kita inginkan adalah kelak anak kita bisa memilah sendiri hal yang baik dan buruk dengan kesadaran dan motivasi dari dirinya sendiri.

Dikarenakan pemberian reward dan punishment memiliki kelemahan, jadi para ahli mengembangkan konsep yang disebut Disiplin Positif.

Disiplin Positif adalah jenis disiplin yang menggunakan teknik pencegahan, pengalihan, dan penggantian untuk menghentikan perilaku anak yang tidak sesuai dengan semestinya. Cara ini dapat membantu memperkuat dan meningkatkan kepercayaan anak kepada orang tua. Strategi ini juga dapat mengurangi konflik antara orang tua dan anak di kemudian hari.

Sebagai contoh, pencegahan dan pengalihan bisa dilakukan ketika kita menyaksikan ada kemungkinan  si kecil akan merebut mainan kakak, maka kita bisa segera menawarkan mainan lain atau mengajak sang kakak untuk meminjamkan ke adik dan bermain secara bergiliran.

Agar lebih jelas lagi dalam mempraktikan disiplin positif, berikut beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penerapan disiplin positif. 

  • There are no bad kids, just bad behavior
Jangan sampai kita menganggap anak kita adalah anak yang nakal, apalagi sampai terucap ke anak kita secara langsung. Ini bisa mensugesti dirinya dan memperuat citra negatif anak baik dalam pikiran kita maupun dalam diri anak. Terkadang anak meyakini apa yang ia lakukan adalah hal yang benar, dan kalau sudah begitu ia akan bersikukuh dengan apa yang ia lakukan. Tugas kita adalah tetap tenang dan fokus memperbaiki, dengan cara memberi tau kepadanya dengan baik dan katakan berulang-ulang dengan mengganti pilihan kata yang kita gunakan, kuncinya sabar ya Moms >.<
  • Tunjukkan rasa empati
Saat anak menangis atau berontak, kita haus menunjukan rasa peduli kepadanya dengan cara memeluk dan mengatakan secara langsung kata-kata yang bisa membuatnya lebih tenang, seperti "iya..mama tau/ngerti kamu ingin (begini atau begitu)"
  • Berikan pilihan untuk menyelesaikan masalah
Setelah menunjukan empati kita kepada anak, kita bisa menawarkan beberapa pilihan yang berimbang dan penuh kehati-hatian. Pemberikan pilihan membuat anak merasa memiliki kontrol, daripada harus menuruti satu perintah yang langsung kita berikan kepadanya. 
  • Tetapkan batasan yang jelas dan konsisten dalam penerapannya
Buat kesepakan dengan si kecil untuk aturan dan konsekuensinya dengan jelas dan terperinci. Konsisten adalah kunci utama dalam sebuah kedisiplinan. Jangan mudah terlena karena tangisan drama si anak atau karena merasa lama jika menunggu si kecil melakukannya sendiri.
  • Gunakan kalimat yang sederhana atau pertanyaan untuk mengingatkan anak
Ketika anak sudah mengetahui tugas dan kewajibannya, kita hanya memerlukam kalimat sederhana atau sekedar pertanyaan retoris untuk mengingatkan anak bagaimana seharusnya bersikap. jadi kita tidak perlu bicara panjang lebar ngomel dari A hingga Z kepada anak, karena akan buang-buang energi saja moms.
  • Sesuaikan dengan usia anak

Seperti sudah dibahas di awal tadi, bahwa penerapan pada anak usia dini (toddler) berbeda dengan anak yang lebih besar. Toddler (anak dibawah 3 tahun) belum bisa memahami kalimat sulit atau perintah bertingkat, serta belum bisa memahami dengan baik konsekuensi dari suatu perilaku. Jadi, untuk anak toddler, pengalihan akan lebih efektif untuk digunakan. Sedangkan anak usia lebih besar, kita dapat membantu perkembangan kognitif mereka dengan memberi mereka pilihan dan mengajak mereka berdiskusi. 

Mayoritas orang memperoleh tabiat buruk dari kebiasaan semasa kecil yang tidak diubah dengan pengajaran dan pendidikan yang dapat memperbaiki akhlak dan perilaku mereka.

Jadi sudah menjadi tugas kita sebagai orang tua untuk mengajarkan ke anak agar bisa berperilaku baik sesuai hati nurani dan motivasi dalam dirinya sendiri. Tentunya dengan cara yang bijak dan penuh kasih sayang seperti langkah-langkah yang sudah dijelaskan di atas. Yang terpenting adalah kekonsistenan kita sebagai orang tua untuk memberi teladan dan bersikap tegas saat anak mulai menunjukan "ketidakbaikannya" dalam bersikap.