header the thought journal

Buku Panduan Mengajarkan Anak Membaca Tanpa Mengeja

Konten [Tampil]

Buku Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja adalah salah satu buku yang bisa membantu seorang Ibu mendampingi anak belajar membaca. Seperti kita tahu, bisa membaca menjadi salah syarat yang harus dipenuhi ketika mendaftarkan anak memasuki Sekolah Dasar. Padahal di beberapa Taman Kanak-Kanan (TK) para guru tidak diperbolehkan mengajari anak didiknya membaca.

Suatu gap yang mungkin membuat kita tersadar akan kodrat kita sebagai seorang Ibu. Yaa, peran kita sebagai Ibu lah yang bisa mengisi gap tersebut. Dimana seorang Ibu adalah madrasatul’ula bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, tugas mengajari anak membaca pun menjadi tanggung jawab kita.

Peran ibu mendidik anak

Sayangnya, masih banyak kasus dimana seorang Ibu merasa uring-uringan saat mengajari anaknya membaca. Sebagian yang lain, ada yang memilih cara praktis dengan cara mengikutkan anak dalam Bimba atau les Calistung. Tak ada yang salah dengan 2 kondisi tersebut, masing-masing Ibu punya porsi dan skala prioritasnya masing-masing.

Bagi seorang working Mom, pendelegasian tugas mengajari anak ke kursus baca anak memang sangatlah membantu. Tapi bukan berarti juga kalau fulltime Mom tidak sepatutnya menggunakan cara tersebut. Daripada kita membuat anak trauma karena kita tidak bisa mengelola emosi ketika mengajari anak. Cara praktis di atas pun mungkin bisa menjadi alternatif.

Namun, di kondisi pandemi yang sudah hampir 2 tahun ini, kita seakan diingatkan Allah Ta’ala untuk kembali lagi pada kodrat atau fitrah kita sebagai orang tua. Khususnya seorang Ibu yang merupakan madrasatul’ula atau pendidik terbaik dan utama bagi anak-anaknya. Dimana di tengah pandemi ini, sekolah dilakukan full di rumah secara daring. Yang bekerja pun sebagian besar harus Work from Home.

Kondisi seperti inilah yang menjadi saat terbaik kita untuk melakukan hal yang lebih produktif secara aktif dan kreatif. Terutama dalam peran sebagai seorang Ibu, yuks kembali ke fitrah kita sebagai pengajar dan pendidik terbaik untuk anak-anak kita. Jika pada artikel sebelumnya saya sudah pernah membahas tentang cara mengajari anak hafalan ayat Al-Quran. Pada kesempatan ini kita akan fokus pada cara mengajari anak dalam belajar membaca.


MENGAJARI ANAK MEMBACA MINIM EMOSI

Mengajari anak suatu hal yang baru memanglah suatu hal yang menguras emosi dan tenaga. Terutama saat mengajari anak membaca, kesabaran kita benar-benar akan diuji dalam hal ini. Dimana kita mudah sekali terpancing emosi saat anak belum kunjung paham apa yang kita ajarkan.

Kita sebagai orang tua yang terkadang lupa, bahwa membaca adalah suatu hal yang baru buat anak. Belajar membaca itu butuh proses dan tahapan yang sesuai, tidak bisa ujug-ujug bisa membaca dalam waktu yang singkat. Selain pemahaman akan hal itu, ada sedikit tips yang bisa meminimalisir emosi tam terkontrol saat mengajari anak membaca seperti berikut, 

1. Ingat dan sadari tanggung jawab kita di hari akhir kelak

“Serem amat sih, kejauhan juga kali…”

Ada yang masih berpikiran begitu? Semoga enggak ya…
Karena emang tujuan hidup kita ya di akhirat kelak. Dan mengingat akan hal ini tuh bener-bener booster terbaik buatku. Saat kita ingat kembali akan kodrat dan fitrah kita sebagai seorang Ibu, maka semangat kita dalam membersamai anak akan terpompa dengan sendirinya.

Walaupun dalam pelaksanaannya memanglah tak semudah mengetikannya disini. Dimana kita akan selalu dibujuk rayu syaitan untuk lupa sesaat akan niat dan tujuan utama kita. Seperti pepatah bilang,
hijrah itu mungkin mudah, istiqomah lah yang lebih sulit dan penuh perjuangan 

2. Lakukan stimulasi dengan tahapan yang sesuai dengan perkembangan anak

Setelah kita sadar akan peranan kita di atas, maka kita pun akan berusaha mendampingi dan membersamai tumbuh kembang anak dengan optimal. Dengan cara memberi stimulasi yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan minat sang anak.

Ada beberapa tahapan yang perlu distimulasi ke anak sebelum masuk dalam proses belajar membaca. Kemampuan bicara anak pun harusnya sudah dilancarkan terlebih dahulu. Selain itu, kita bisa mengenalkan ke anak tentang bentuk-bentuk geometri, tanda atau arah panah, dan lain sebagainya. Hal ini akan mempermudah anak untuk mengenal konsep bentuk huruf nantinya.

3. Menemukan teknik yang tepat

Saat ini memang sudah banyak metode atau pun teknik cara belajar membaca untuk anak usia dini. Pasti kita pun masih teringat (walau samar-samar) bagaimana cara kita belajar membaca saat duduk di bangku sekolah dasar dahulu kala. Secara serempak kita mengeja huruf demi huruf yang dipandu oleh guru kita di kelas.

Ternyata cara mengeja seperti dulu itu kurang efektif dan efisien lho. Memang benar kita bisa membaca, namun ternyata teknik seperti itu  membuat paham sendiri apa yang dibaca. Alhasil, perlu membaca ulang dengan sepenuh hati agar bisa memahami apa yang dibaca.


KEAJAIBAN MEMBACA TANPA MENGEJA

Dalam kesempatan ini, saya akan sedikit mengulas salah satu buku yang menjelaskan teknik membaca tanpa mengeja. Sebenarnya teknik membaca tanpa mengeja ini digunakan dalam beberapa metode pendidikan
Namun, pada artikel ini saya akan mengulas salah satu buku yg membahas satu metode yang sudah sangat famous sekali di kalangan Ibu Milenial. 
Pasti sudah bisa ketebak kan?
Yups, metode Montessori yang saya ambil dari salah satu buku dengan judul "Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja"

keajaiban membaca tanpa mengeja


MONTESSORI: KEAJAIBAN MEMBACA TANPA MENGEJA

Pasti buku ini sudah tak asing lagi di mata dan telinga bukan? Buku ini berhasil menjadi topik hangat di beberapa komunitas parenting yang saya ikuti. Buku ini merupakan salah satu karya Vidya Dwina Paramita, seorang Montessorian dan Praktisi Pendidikan Anak Usia Dini.

Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Bentan Anggota Ikapi pada tahun 2020 dengan cetakan pertama di bulan Maret dan cetakan kedua di bulan Juni di tahun yang sama. Buku ini sangat cocok untuk menjadi teman 'waras' para Ibu dalam mendampingi anak belajar membaca.

Buku Montessori: Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja ini merupakan dokumentasi “ramuan” penulis tentang cara pengajaran mmbaca dengan menggunakan metode Montessori. Dengan harapan dapat membantu guru dan orang tua dalam mendampingi anak belajar membaca, akhirnya buku ini release setelah tertunda hampir dua tahun lamanya.

Pofil Penulis Buku “Montessori:Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja”

Vidya Dwina Paramita seorang Ibu satu anak yang telah berpengalaman selama lebih dari 12 tahun dalam dunia Pendidikan anak usia dini. Bersama sang suami, Vidya mendirikan satu lembaga training Filosofi Montessori Indonesia pada tahun 2017. Selain itu, beliau juga merupakan co-founders Sekolah Montessori Rumah Krucil yang berlokasi di Bekasi, Jawa Barat.

Sebelum menulis buku ini, Vidya Dwina Paramita telah sukses dengan buku pertamanya di tahun 2017. Buku yang berjudul “Jatuh hati pada Montessori” dengan penerbit yang sama yaitu Bentang Pustaka. Buku tersebut menjadi best seller dan telah menembus cetakan ke-7 pada bulan Agustus 2019 lalu.

Selama bertahun-tahun, beliau sudah terjun langsung sebagai guru yang berlatar belakang Pendidikan humaniora dan mempelajari Bahasa Indonesia. Sebelum buku ini terbit, beliau juga sering berbagi teknik dalam berbagai pelatihan.

Isi dari Buku "Montessori:Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja"

daftar isi buku montessori

1. Bagian pembuka

Buku nonfiksi ini berisi 10 bab yang saling berkesinambungan dan tersaji secara runtun. Di awali dengan kisah pribadi sang penulis, membuat kita tahu betul bagaimana profil dan dedikasi beliau dalam menuliskan buku ini. Sehingga kita pun tertular semangat dalam mengajari anak membaca dengan cara yang menyenangkan khas Montessori.

Buku ini tidak hanya membahas teknis dan tahapan pengajaran membaca ke anak saja. Tapi di lima bab pertama kita diajak untuk menyelami pentingnya proses membaca itu sendiri. Bahwa mengajarkan anak membaca itu bukan hanya tentang anak bisa membaca huruf demi huruf, tetapi juga mampu membuat anak paham dengan apa yang dibacanya.
Oleh karena itu, teknik yang digunakan pun harus secara menyenangkan dan minim emosi agar tidak menimbulkan trauma pada si Kecil. Karena goals utama dalam setiap pengajaran ke anak adalah menumbuhkan jiwa pembelajar sepanjang hayat. 

2. Bagian isi

Setelah penjelasan penting di awal, di bab ke-6 kita mulai disuguhkan penjelasan tentang tahapan dan teknis belajar membaca mulai dari tahap pra-membaca. Kita diingatkan kembali akan kemampuan-kemampuan anak dalam berkomunikasi dan juga pentingnya observasi kesiapan anak untuk lanjut dalam tahap selanjutnya.

Salah satu tanda anak siap mqsuk ke tahapa teknis membaca adalah kemampuannya memgoordinasikan anggota tubuhnya. (halaman 158)

Masih di bab yang sama, penulis juga menuliskan tentang peranan read aloud. Membaca nyaring merupakan saah satu kunci suksesnya perkembangan kemampuan membaca anak. Setelah itu, dijelaskan detail tahapan mengajarkan anak membaca dengan teknik dan permainan yang menyenangkan.

Pada bab tujuh dalam buku ini dijelaskan bahwa yang diperkenalkan ke anak bukanlah nama huruf, tetapi bunyi huruf. Bunyi huruf atau yang disebut fonik ini yang akan mempermudah membaca ke depannya. Dan dalam mengenalkan bunyi huruf tidak perlu diajarkan secara berurutan seperti mengajarkan bentuk angka.
Menarik bukan?

3. Bagian penutup

Sebagai penutup, penulis juga memberikan bab yang berisi tanya jawab yang sering dilontarkan seputar proses belajar membaca anak. Selain itu, di bab terakhir penulis juga mencantumkan beberapa testimoni dari para guru dan juga orang tua yang telah mengajari anak mereka membaca dengan teknik tanpa mengeja ini.


Lengkap sekali yaa isi dari buku ini. Jadi pilihan buku yang sangat cocok untuk menjadi panduan buat para Ibu dalam membersamai anak belajar membaca di rumah. Dengan demikian, kita pun bisa mengoptimalkan peran Ibu di rumah dengan terus aktif dan produktif dalam mengupgrade diri.

Semoga dengan pemahaman fitrah sebagai Ibu dan teknik membaca tanpa mengeja ini, kita bisa jadi lebih minim emosi saat mengajari anak. Dengan demikian, anak bisa menjadi pribadi pembelajar karena sudah terbiasa dengan pengajaran yang kita berikan dengan cara yang menyenangkan.

Iva C Wicha
Parenting Enthusiast, Happy to share #FunLearning idea for Kids on my Instagram, Email: ivacwicha@gmail.com

Related Posts

13 komentar

  1. Mbak Iva ini penggiat metode Montessori yak? Kereeeen ulasannya. Jadi pengen baca buku-buku Montessori

    BalasHapus
  2. Ini buku yang sudah masuk wl paling atas dari zaman anakku 2 tahun sampe sekarang udah mau 3 tahun, tapi belum kebeli juga. Wkwk..

    Jadi makin penasaran sama isi bukunya nih, mb..

    BalasHapus
  3. Karya bubVidya ini selalu laris ya, bukunyq bagus²

    BalasHapus
  4. Nah aku sekarang difase berusaha sabar mengajari anak membaca wkwkwk... Dulu sempat berekspektasi begini begitu, tapi kemudian stress, akhirnya ya let it flow aja. Mungkin aku perlu baca buku ini dulu buat ngajarin anak baca.

    BalasHapus
  5. Sepertinya harus punya buku ini nih karna anakku udah mulai ingin belajar.. Semoga bisa menerapkan isi dari buku ini yaahh..

    BalasHapus
  6. Pas hntuk anak nih, baru masuk TK usia 5 tahun, 16 agustus besok. Montessori saat inj sedang menjadi pilihan dalam dunia parenting, utamanya berhhbjngan pendidikan anak ya mb.

    BalasHapus
  7. Mbak aku makin pengen cepetan beli nihh.

    BalasHapus
  8. Ulasannya dalam. Dan mantap.
    Makasih sudah berbagi ya Mbak...

    BalasHapus
  9. Mba vidya emang keren nih kalau ngeluarin buku. Di Gramed sempet masuk jajaran buku happening bareng yg punyanya indonesia montessori club itu. Informatif bgt ulasannya mba ;)

    BalasHapus
  10. Menarik kayaknya nih metodenya, aku ada bukunya di rumah cuma belum sempat dibaca hehe

    BalasHapus
  11. Waaah mau coba ah metodenya 😍😍😍😍 makasih infonya mbak

    BalasHapus
  12. Aku pernah nyobain metode Montessori ini, emang gampil bikin anak paham langsung ke kosakata menurutku, prakteknya juga bs diteeima anak dgn cepat juga. Tapi skrg belum sempat nyobain ngajar baca lagi, lebih banyak bacain buku skrg haha

    BalasHapus
  13. Udah belajar montessori dari anak 1 tahun tapi belum bisa full mengaplikasikannya. Baca ini jadi semangat ngajarin anak-anak

    BalasHapus

Posting Komentar