header blog ivacwicha

Peran Dokter dalam Penanganan Penyakit Kusta di Tengah Pandemi

Konten [Tampil]

Peran Dokter dalam Penanganan Penyakit Kusta di Tengah Pandemi ternyata penuh tantangan. Hal ini disebabkan jumlah atau kapasitas dokter di Indonesia masih kurang dari jumlah yang seharusnya. Ditambah lagi, selama pandemi COVID-19 ini hampir 2.000 tenaga kesehatan telah gugur. Akibatnya layanan kesehatan di Indonesia pun semakin tidak optimal. Terlebih untuk mereka penderita penyakit kusta yang semakin sulit untuk mendapatkan penanganan yang semestinya.
penanganan penyakit kusta
Jumat lalu, tepatnya tanggal 29 Oktober 2021 Ruang Publik KBR mengadakan webinar dengan tema “Lika-liku Peran Dokter di Tengah Pandemi”. Acara ini merupakan acara ke tujuh yang telah diadakan oleh KBR bersama NLR Indonesia. Seperti biasa, acara ini memberikan awareness kepada masyarakat tentang penanganan penyakit kusta terutama saat masa pandemi ini.

Acara webinar ini disiarkan langsung di channel Youtube Berita KBR dan live streaming di 100 radio jaringan KBR di seluruh Indonesia, dari Aceh hingga Papua. Pada acara webinar ke tujuh ini, Ruang Publik KBR menghadirkan dua narasumber yang punya peranan penting dalam fasilitas kesehatan.
  1. dr. Ardiansyah selaku Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
  2. dr. Udeng Daman selaku Technical Advisor NLR Indonesia

For your information, NLR Indonesia merupakan sebuah organisasi non-pemerintah yang khusus menanggulangi kusta di Indonesia. Bahkan NLR telah bertransformasi menjadi entitas nasional untuk membuat kerja-kerja organisasi menjadi lebih efektif dan efisien menuju Indonesia bebas dari kusta. Sama seperti aliansi NLR Internasional, NLR Indonesia memiliki slogan,
Hingga kita bebas dari kusta
Readers sudah tau belum mengenai penyakit kusta ini? 
Seperti apa gejala dan cara pengobatannya? 
Kusta bukanlah penyakit yang sepele lho, penyakit kusta ini ternyata bisa berisiko hingga kecacatan.

APA ITU PENYAKIT KUSTA?

Kusta atau lepra adalah penyakit infeksi bakteri kronis yang menyerang jaringan kulit, saraf tepi, serta saluran pernapasan. (Alodokter.com)
Hingga saat ini penyakit kusta masih dipandang sebelah mata. Stigma di masyarakat menganggap bahwa penyakit kusta itu menjijikan bagaikan aib yang harus ditutupi. Hal ini membuat penderita kusta menjadi semakin menutup diri dan menyembunyikan penyakit tersebut sehingga tidak melakukan pengobatan dengan segera.

Anggapan atau stigma tersebut yang perlu segera disingkirkan. Karena pada dasarnya penyakit kusta sama halnya penyakit lain yang bisa disembuhkan dan perlu penanganan segera agar tidak menimbulkan efek serius seperti kecacatan atau disabilitas. Meski termasuk penyakit menular, kusta tidak bisa menular atau menyebar dengan mudah.

Penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri ini dapat menyebar melalui percikan ludah atau dahak yang keluar saat batuk atau bersin. Kusta dapat menular jika seseorang terkena percikan droplet dari penderita kusta secara terus-menerus dalam waktu yang lama. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri penyebab lepra tidak dapat menular ke orang lain dengan mudah. Selain itu, bakteri ini juga membutuhkan waktu lama untuk berkembang biak di dalam tubuh penderita.

Gejala Penyakit Kusta

gejala penyakit kusta
Kusta atau lepra dapat ditandai dengan rasa lemah atau mati rasa di tungkai dan kaki, kemudian diikuti timbulnya lesi pada kulit. Penderita bisa segera melakukan pemeriksaan ke fasilitas Kesehatan jika mengalami bercak keputih-putihan atau kemerah-merahan dan kurang rasa (tidak gatal).

Penyebab Penyakit Kusta

Beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang terkena kusta adalah:
  • Bersentuhan dengan hewan penyebar bakteri kusta, seperti armadillo atau simpanse
  • Menetap atau berkunjung ke kawasan endemis kusta
  • Memiliki gangguan sistem kekebalan tubuh

Pengobatan Penyakit Kusta

Penyakit kusta termasuk penyakit yang bisa disembuhkan. Akan tetapi, butuh pemeriksaan dan pengobatan yang tepat. Penderita kusta bisa datang langsung ke Puskesmas untuk diperiksa dan diberikan obat secara gratis. Pasien kusta harus meminum obat langsung di hadapan petugas. Pengobatan pun harus diminum secara rutin tidak boleh terputus atau terlewat satu kali pun selama periode tertentu. Setelah meminum obat lepra dari Puskesmas, di rumah pasien tidak perlu ada perlakuan khusus karena penyakit tersebut tidak lagi menular.

Sayangnya, di masa pandemi ini penanganan atau pemeriksaan penyakit kusta ini belum bisa dilakukan secara online. Pemeriksaan harus dilakukan secara langsung dengan melihat kondisi kulit ataupun bagian yang terinfeksi. Semua fasilitas Kesehatan harusnya bisa melayani pasien kusta, tapi nantinya akan dirujuk ke Puskesmas untuk mendapat pengobatan.

PERMASALAHAN PENYAKIT KUSTA DI INDONESIA

Dalam acara webinar tersebut, dr. Udeng menyampaikan kondisi penyakit kusta di Indonesia.
Data dari Kementrian Kesehatan di Indonesia ada beberapa kabupaten yang masih belum mencapai eliminasi. Tepatnya 110 Kabupaten di 21 Provinsi yang tersebar di seluruh Indonesia.
Faktor-faktor yang menyebabkan beberapa kabupaten ini masih belum tereliminasi dari penyakit kusta ini pun bervariasi. Diantaranya karena pengaruh lingkungan, kebersihan, tersedianya sanitasi rumah, sosial ekonomi, perilaku hidup bersih dan juga pengaruh kepadatan penduduk.

Kondisi pandemi saat ini pun memberikan pengaruh yang buruk bagi mereka penderita kusta. Mereka pun terpaksa putus obat dan tidak mendapat layanan yang semestinya. Akibatnya temuan kasus baru pun menurun karena aktivitas pelacakan kasus terbatas. Padahal angka kecacatan dan keparahan penyakit kusta ini makin meningkat.

Belum lagi untuk daerah terpencil, dimana masih minim sekali tenaga medis yang tersedia untuk melayani mereka penderita kusta. Maka dari itu dibutuhkan peningkatan kapasitas tenaga medis untuk daerah-daerah terpencil, terutama untuk wilayah endemis yang sangat rawan terjangkit penyakit kusta ini.

KONDISI DAN PERAN DOKTER DI TENGAH PANDEMI

Seperti sudah saya singgung di awal, bahwa ada ketimpangan kapasitas dokter di Indonesia. Rasio jumlah dokter masih sangat rendah, hanya sebesar 0,4 per 1.000 penduduk. Dengan kata lain, hanya tersedia 4 dokter untuk melayani 10.000 penduduk.

dr. Ardiansyah menjelaskan bahwa menurut World Health Organization (WHO) kondisi ideal dokter dalam memberikan pelayanan adalah 1:1.000 penduduk. Sungguh angka rasio yang jauh dari jumlah dokter yang ada di Indonesia saat ini. Ditambah lagi kondisi pandemi saat ini yang membuat jumlah dokter semakin berkurang dari jumlah semestinya.

Dibutuhkan peran serta dari pemerintah untuk membantu meningkatkan dan mendistribusikan tenaga medis ke daerah terpencil. Karena yang menjadi kendala adalah masalah keamanan dan kurangnya jaminan pendidikan bagi mereka yang harus bertugas ke daerah terpencil.

LANGKAH DAN STRATEGI DALAM MENANGANI MASALAH KUSTA DI TENGAH PANDEMI

narasumber kbr
NLR Indonesia mendukung upaya pencegahan penularan kusta hingga ke desa-desa. NLR telah bekerja sama dengan dinas Kesehatan hingga puskesmas dan kader kesehatan. Disampaikan oleh dr.Udeng saat acara webinar tersebut, bahwa NLR Indonesia memberikan beberapa rekomendasi untuk penguatan tenaga medis dalam menangani penyakit kusta.
  • Distribusi di daerah endemis tinggi perlu diprioritaskan
  • Meningkatkan kapasitas tenaga medis yang lebih intens dalam menangani pasien kusta
  • Bagi dokter-dokter baru seharusnya mengikuti pelatihan secara formal mengenai penanganan kusta
  • Untuk dokter-dokter senior bisa mengikuti workshop atau ikut aktif berbagi pengalaman untuk meningkatkan kesadaran akan penyakit kusta
  • Untuk tenaga medis di daerah non endemis tidak boleh lalai dan harus siaga
Selain itu peran dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pun tidak ketinggalan. Dokter Ardiansyah menerangkan beberapa program yang dicanangkan oleh IDI untuk menguatkan kapasitas dokter, baik secara kualitas maupun kuantitas.
  • Membina dan memelihara sumpah dokter dan kode etik kedokteran
  • Meningkatkan mutu pendidikan
  • Melakukan kemitraan dengan pemerintah tentang kebijakan yang terkait profesi kedokteran
  • Melakukan kemitraan dengan pihak luar seperti NLR
  • Memberdayakan masyarakat dan memberikan edukasi mengenai penyakit kusta ini
Tidak lupa dokter Udeng menambahkan tentang stategi pendekatan 3zero dari NLR sebagai penanganan penyakit kusta. 3zero tersebut adalah zero transmission (nihil penularan), zero disability (nihil disabilitas), dan zero exclusion (nihil eksklusi). Selain itu, kemitraan dan penambahan kapasitas tenaga medis menjadi strategi yang penting agar penanganan penyakit kusta bisa lebih optimal. Tentunya kerja sama dan sinergi dari seluruh lapisan sangat diperlukan agar Eliminasi Penyakit Kusta 2024 bisa tercapai.

Iva C Wicha
Parenting Enthusiast, Happy to share #FunLearning idea for Kids on my Instagram, Email: ivacwicha@gmail.com

Related Posts

3 komentar

  1. Dulu memang kusta sempat dikira penyakit kutukan sehingga penderitanya merasa sangat malu bila menderita penyakit ini. Dengan adanya webinar begini, semakin banyak masyarakat tercerahkan bahwa kusta bisa disembuhkan. Informasi yang baik ini semoga bisa terus digaungkan.

    BalasHapus
  2. Ternyata seperti itu ya kak peran dokterdalam penanganan penyakit kusta di tengah pandemi ini.. terima kasih sudah menulis ulasannya.. sangat bermanfaat

    BalasHapus
  3. Mudah-mudahan penyakit ini segera tereliminasi dari Indonesia ya. Prihatin dengan masih banyaknya angka penyakit ini, utamanya di anak-anak.

    BalasHapus

Posting Komentar