ivacwicha-header

Mengenali Hamil BO, Bahayakah Hamil Kosong Tanpa Kuret?

Konten [Tampil]

Bahayakah hamil kosong tanpa kuret? Ini menjadi pertanyaan yang sering ditanyakan mereka yang harus mengalami hamil kosong atau hamil BO. Setengah hati masih tidak menyangka jika janin dalam kandungan tidak berkembang sebagaimana mestinya. Tapi di satu sisi harus bisa menerima kondisi dimana harus melakukan pembersihan kantung janin.
mengenali hamil bo atau hamil kosong

Rasanya pasti campur aduk ya Moms, sedih tak terkira tentunya. Ketika apa yang dinanti-nantikan telah didapat namun ternyata harus merelakannya. Meski bukan anak pertama, jujur hadirnya adik untuk anak pertamaku Azka, sangat aku nantikan. Namun, qadarullah di usia kehamilan 10 weeks saat pertama melakukan pemeriksaan USG ke obgyn, aku mendapati kenyataan bahwa kantung janin ku ternyata kosong.

Masih setengah tidak percaya, berharap ada kesalahan dalam pemeriksaan tersebut. Pikiran masih terfokus pada hasil beberapa test pack yang menunjukan hasil positif. Selain itu aku juga merasakan tanda-tanda kehamilan seperti kehamilan pertama dulu. Ya, aku merasakan badan lemas di pagi hari, mudah mual dan juga lelah, serta payudara yang nyeri dan membengkak.

Saat periksa di obgyn aku masih mencoba tenang dan mencerna, dokter pun memberi beberapa alternatif apa yang harus aku jalani. Beliau juga memberikan masukan untuk melakukan pemeriksaan lagi ke dokter obgyn lain jika dirasa tidak yakin atas diagnosa dokter tersebut. Namun beliau juga sudah menjelaskan detail kondisi yang aku alami, yaitu blighted ovum.

Apa itu Blighted Ovum atau Hamil Kosong?

Blighted ovum atau kehamilan kosong merupakan kehamilan yang terjadi tanpa adanya embrio atau bakal janin di dalam rahim. Kondisi ini biasanya terdeteksi saat trimester awal kehamilan. Menurut penjelasan dokter, untuk perumpamaan gampangnya hamil BO ini seperti kasus padi yang kopong atau gabug.

Penyebabnya pun bisa banyak hal, seperti faktor kualitas sperma atau sel telur yang kurang baik, gangguan pada proses pembuahan, kelainan genetik atau rahim, efek samping obat-obatan, hingga gangguan hormon. Ketika ini terjadi tentu kehamilan ini tidak lagi dapat dipertahankan. 

Menurut kanal Alodokter, bakal janin akan terbentuk dalam waktu sekitar 2 pekansetelah pembuahan. Kemudian diikuti terbentuknya kantung ketuban pada usia kehamilan 5-6 pekan. Akan tetapi pada kehamilan kosong, baik embrio maupun kantung ketuban tidak terbentuk, sehingga tidak ditemukan janin di dalam kandungan, meskipun telah mengalami tanda-tanda kehamilan.

Tanda-Tanda Kehamilan Kosong atau Blighted Ovum

Seperti sudah aku ceritakan di awal, kehamilan kosong juga mengalami tanda-tanda kehamilan seperti kehamilan normal pada umumnya. Gejala atau tanda-tanda yang kentara di alami, seperti:
gejala atau tanda hamil kosong
Tanda-tanda kehamilan yang aku alami di atas, sempat aku konsultasikan juga ke obgyn. Bahkan aku sudah melakukan test pack beberapa kali dengan merk yang berbeda. Namun ternyata memang lah benar jika tanda kehamilan tersebut juga dialami pada kehamilan BO. Tapi akan muncul gejala lain yang jadi pembeda, dimana tiba-tiba keluar flek tanpa sebab.

Awalnya aku kira itu hanya efek kelelahan karena saat itu aku tetap berpuasa Ramadhan. Tapi lama kelamaan fleknya semakin sering dan banyak meski sudah cukup istirahat. Ternyata benar saja, saat hamil BO pada trimester pertama akan mengalami gejala yang mengarah pada keguguran, seperti:
  • Muncul flek atau perdarahan dari vagina
  • Rasa nyeri dan kram pada perut
  • Keluar darah dari vagina dengan volume yang bertambah banyak
Pada saat itu yang aku alami memang barulah flek yang semakin hari semakin intens. Dari situlah aku mencoba ikhlas dan menerima kenyataan bahwa aku memang mengalami kehamilan BO seperti diagnosa dokter. Meski sedih dan kecewa luar biasa, namun aku harus segera mengambil tindakan atas kehamilan kedua ku ini.

Penanganan Kehamilan Kosong

Belajar dari pengalaman kehamilan pertama, saat test pack menunjukan hasil positif aku memang tidak buru-buru melakukan USG ke obgyn. Biasanya di awal kehamilan kantung janin belum terlihat melalui USG dan kita akan diminta periksa kembali setelah beberapa minggu. Jadi aku pun tidak langsung melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan.

Memanfaatkan kecanggihan teknologi, aku bisa tau usia kehamilan melalui aplikasi kehamilan dengan patokan Hari Pertama Haid terakhir (HPHT). Tanggal tersebut sangatlah penting ya Moms, karena bisa menjadi acuan untuk mengetahui perkiraan waktu persalinan juga. Sambil menunggu usia kehamilan masuk minggu ke 6 aku hanya konsumsi susu Ibu Hamil dan menjaga asupan makanan.

Hingga suatu hari aku mengalami flek atau bercak coklat layaknya saat akan selesai masa menstruasi. Aku kira hanya efek kelelahan dan terlalu lama berdiri saja. Jadi aku putuskan untuk lebih banyak istirahat dan flek pun tidak keluar lagi. Namun, selang beberapa hari muncul flek yang lebih banyak dari sebelumnya, aku pun langsung memutuskan untuk periksa ke obgyn.

Menjadi ibu hamil saat pandemi sungguh menjadi tantangan tersendiri. Meski kasus sudah menurun tapi selalu muncul varian baru COVID-19 yang membuat aku tidak ingin segera periksa ke rumah sakit. Tapi apa boleh buat, akhirnya aku pun memilih Rumah Sakit yang dekat dari rumah di daerah Pondok Bambu, Jakarta Timur. Sebagai pendatang di Ibu Kota, aku pun memilih dokter obgyn berdasarkan feeling saja saat itu. Kalau aku pribadi lebih nyaman memilih dokter perempuan.

Saat pemeriksaan, aku menyampaikan semua tanda dan keluhan yang aku alami. Seperti biasa, dokter akan menanyakan HPHT untuk menghitung usia kandungan. Setelah itu dilakukan pemeriksaan USG dan dokter menyampaikan kenyataan pahit itu. Ya, kantung janin ku ternyata kosong, tidak ada embrio yang berkembang disana.

Untuk memastikan dokter pun mengulang kembali dan menjelaskan bagian-bagian yang terlihat dalam layar. Bahwa yang ada hanya kantung janin saja, padahal jika menurut perhitungan harusnya janin sudah bisa terlihat. Akhirnya dokter tersebut memberikan beberapa alternatif bahkan advise untuk ke dokter obgyn lain jika aku masih meragukan diagnosa dari dokter tersebut.

Pilihan penanganan atas kondisi hamil kosong atau hamil BO ini ada dua, masing-masing ada pertimbangan dan plus minusnya sendiri-sendiri.

1. Kuret

Kuretase atau kuret (dilatasi) adalah penanganan yang dilakukan dengan cara membuka serviks lalu mengangkat kantong kehamilan yang tidak berisi embrio dari dalam rahim. Cara ini memang banyak dilakukan untuk penanganan kasus keguguran. Telinga ini pun sudah sering mendengar cerita tentang kuret dan aku pun otomatis langsung bergidik ketika diberi opsi ini.

Padahal saat itu dokter menjelaskan dengan simple proses kuretase ini, ya mungkin untuk membuat ku tidak takut ya. Dengan tindakan kuret, dokter memastikan kondisi rahim menjadi bersih tidak ada jaringan yang tertinggal sehingga minim risiko. Namun ada banyak sekali pertimbangan yang aku pikirkan. Dimana proses kuretase di rumah sakit yang cukup panjang (dan ribet menurutku) di saat pandemi ini.

Bagi pendatang di kota orang yang jauh dari sanak saudara dan masih memiliki anak kecil, lebih baik cari informasi dan penjelasan selengkap mungkin dari bagian administrasi rumah sakit. Meski tindakan kuret hanya berlangsung kurang dari 1 jam, namun prosedur yang harus dijalani untuk persiapan kuret ini cukup panjang. 
Sebelum tindakan, pasien akan dipasang alat dulu untuk membuka jalan vaginal. Jadi mau tidak mau harus rawat inap di rumah sakit.

2. Konsumsi obat

Opsi kedua adalah dengan pemberian obat-obatan yang berfungsi untuk membantu mengeluarkan jaringan embrio yang gagal terbentuk di dalam rahim. Jadi, dokter hanya memberi resep beberapa obat untuk kita minum selama beberapa hari sampai jaringan dalam rahim keluar dengan sendirinya. Sama halnya dengan kuret, konsumsi obat-obatan juga bisa memicu rasa nyeri atau kram pada perut. 

Bahkan, bisa lebih berat karena tidak ada pantauan tenaga medis secara langsung. Obgyn pun juga mengingatkan jika cara ini bisa menyebabkan pendarahan hebat dan harus segera dilarikan ke UGD untuk mendapatakan penanganan. Jika pun tidak, setelah obat habis akan dilakukan pemeriksaan USG kembali untuk mengecek kondisi rahim kita. Jika masih ada yang tertinggal di dalam, maka tetap perlu dilakukan kuretase.

Hmmm..kok rasanya tidak ada opsi yang menyenangkan ya? Semua ada plus minusnya memang, tapi namanya pengobatan ya pasti ada rasa sakit yang akan dialami. Dokter pun menyerahkan keputusan penuh kepada pasien dengan mengingatkan beberapa hal di atas. Atas beberapa pertimbangan dan kondisi dimana aku sendiri tidak bisa menitipkan anak ku yang masih 3,5 tahun kala itu. Jadilah aku memilih opsi yang kedua, yaitu mengkonsumsi obat resep dari obgyn

Bahayakah Hamil Kosong Tanpa Kuret?

Selain kedua cara tadi, sebetulnya kehamilan kosong bisa gugur secara alami. Umumnya, proses ini akan terjadi dengan sendirinya dalam waktu beberapa pekan. Cepat atau lambat, tubuh akan menganggap BO ini sebagai benda asing, sehingga memang akan terjadi keguguran. Akan tetapi, seberapa cepat respon tubuh tiap orang pastinya berbeda-beda. 

Pengawasan obgyn pun sangat diperlukan, untuk memastikan tidak ada jaringan kehamilan yang tersisa dan tertinggal di dalam rahim. Banyak dokter kandungan yang menganjurkan agar dilakukan tindakan kuret jika BO tidak kunjung gugur hingga usia kandungan tertentu . Dengan dikuret, risiko terjadinya pendarahan dan komplikasi lain saat keguguran pun bisa diminimalisir.

Namun, bagi sebagian pasien yang tidak bisa melakukan kuretase dengan alasan tertentu, penggunaan obat juga masih dikatakan aman oleh dokter. Pemberian obat akan membantu jaringan BO lebih cepat keluar. Hanya saja tidak bisa sekali tuntas dan ada kemungkinan akan 2x kerja jika masih ada sisa jaringan yang tersisa dalam rahim. 

Saat itu ada 3 jenis obat yang harus aku konsumsi. Selain obat abortus, dokter juga memberikan obat anti nyeri dan juga anti infeksi. Untuk tahap awal, obat diberikan untuk jangka waktu sepekan. Tapi baru satu hari minum, aku sudah merasakan efek obatnya bekerja. Kontraksi yang aku rasakan layaknya gelombang cinta saat akan persalinan. Aku cuma bisa menahan sakit sambil terus berdoa agar semua bisa segera terlewati.

Alhamdulillah tidak selang lama, keluar sudah jaringan embrio itu dan nyeri pada perut pun berangsur berkurang. Setelah itu, darah yang keluar pun seperti haid biasanya. Aku pun langsung konsultasikan ke obgyn secara online. Dokter menjadwalkan pemeriksaan USG setelah obat yang diberikan habis aku konsumsi. Namun sayang, saat pemeriksaan kedua masih ada sisa sedikit dalam rahim jadi aku diberikan obat yang sama untuk dikonsumsi selama 5 hari ke depan. 
hasil usg hamil kosong
Setelah obat kedua habis, alhamdulillah kondisi rahim sudah benar-benar bersih. Meski dilakukan test urine dan hasilnya positif, dokter sudah memberikan lampu hijau untuk melakukan program hamil kembali 3 bulan
kemudian. Tepat 3 bulan berlalu, alhamdulillah Allah beri kesempatan untuk merasakan kehamilan kembali. Mohon doanya ya agar kehamilan ketiga ku ini berjalan lancar hingga waktu persalinan nanti, aamiin.

Kesimpulan: Hamil Kosong Tanpa Kuret Aman Kok

Buat Moms yang masih meragu dan galau akan kondisi kehamilan BO yang sedang dialami, tetap semangat dan positif thinking yaa. Insya Allah ketika kita ikhlas, semua akan terasa lebih ringan dan mendapat pengganti kehamilan yang lebih sehat dan lancar kedepannya. Meski sedih, kita harus terus melangkah dan ambil keputusan tindakan demi kesehatan rahim kita ya Moms. 

Nah, berdasarkan pengalaman di atas dan konsultasi dengan dokter spesialis kandungan, jika mengalami hamil BO tidak melulu harus menjalani tindakan kuretase. Lalu menjawab pertanyaan, bahayakah hamil kosong tanpa kuret? Insya Allah aman selama kita melakukan penanganan lain atas konsultasi dan pemeriksaan detail dengan obgyn. Tentunya berdoa tidak boleh terputus, sehingga apapun tindakan yang diambil untuk penanganan hamil kosong ini mendapat kelancaran dan segera diberi pengganti yang lebih baik lagi, aamiin.
 


Iva C Wicha
Parenting Enthusiast, Happy to share #FunLearning idea for Kids on my Instagram, Email: ivacwicha@gmail.com
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar