Mencegah Karies Gigi pada Anak



بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم 
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه



Mencegah-karies-gigi-anak


Siapa nih yang dulu waktu kecil giginya hitam-hitam karena karies? xixixixi..

Kalau dulu jaman TK ada yang giginya gripis, pasti jadi bulan-bulanan ledekan temen-temen ya. Semoga ga menurun ke anak-anak kita ya Moms..

Tapi, sayangnya masih saja sering kita jumpai gigi hitam yang menghiasi senyum manis anak-anak. Tidak jauh-jauh, ponakan sendiri pun harus merasakan gigi depannya habis karena karies.

Maka dari itu, sejak menjadi Mom masalah kesehatan gigi menjadi salah satu concern ku juga nih Moms.

Gigi susu ini memang nantinya akan tanggal dan digantikan oleh gigi permanen. Kira-kira sekitar usia 6 tahun gigi susu akan mulai tanggal. Masih inget banget, jaman SD dulu tuh rasanya malu banget saat gigi depan kita tanggal, senyum pun menjadi hal menyeramkan untuk kita yaa..

Tapi peranan gigi susu ini pun tak kalah pentingnya dengan gigi permanen, jadi memang sudah semestinya dirawat dan dijaga kebersihannya sejak bayi mulai minum ASI atau susu formula.

Mengenai detail peranan gigi susu dan pentingnya kandungan fluoride dalam pasta gigi anak. Semua sudah dibahas di tulisan sebelumnya, bisa langsung mampir aja ya Moms :)

Jadi, pada tulisan ini kita akan lebih banyak membahas si hitam yang tentunya ga manis ini a.k.a karies gigi :D


Sebenarnya apa sih karies gigi itu?

Karies gigi adalah proses kerusakan gigi tahap awal yang disebabkan oleh hilangnya mineral gigi. Mineral gigi bisa hilang akibat terpapar zat asam hasil limbah pembuangan dari bakteri. (Klikdokter.com)

Intinya, karies gigi ini merusak gigi karena membuat gigi berlubang bahkan bisa habis karena bakteri yang melekat pada permukaan gigi. Karies bisa muncul karena beberapa hal, seperti kebiasaan minum susu menggunakan botol dot, mengemut makanan, dan konsumsi makanan dan minuman manis secara berlebihan.

Yuks, kita bahas lebih dalamnya Moms..


4 Faktor Penyebab Terjadinya Karies Gigi

 




Ke empat faktor tersebut lah yang bisa memunculkan karies gigi, jadi tidak bisa hanya dari 1 faktor saja.


Tahapan munculnya karies gigi pada anak

  • Muncul “white spot” dibatas gusi dan gigi. 
Biasanya muncul di gigi depan atas dan bisa menyebar ke bagian gigi lainnya. White spot ini harusnya masih bisa diatasi dengan rajin membersihkan gigi dan menggunakan toothmousse.

  • Jika white spot tidak tertangani, kondisi gigi akan berubah menjadi kuning kecoklatan.

Inilah yang dinamakan karies gigi, sehingga butuh penanganan dokter. Jika tidak, gigi anak akan menjadi cokelat kehitaman, dan gigi akan berlubang bahkan copot dari gusi.

Jadi, emang tugas kita banget kan Moms untuk rajin mengecek kondisi gigi anak kita dan terus menjaga kesehatan gigi mereka. Daripada mengobati mendingan kita melakukan pencegahan kan Moms..


Cara mencegah munculnya karies pada gigi

  1. Bersihkan gigi anak sejak bayi baru lahir, bisa dengan kasa steril yang dibasahi air hangat.
  2. Hindari penggunaan dot dan juga sippy cup. Biasakan anak minum susu dengan gelas untuk meminimalisir terkumpulnya minuman dalam mulut.
  3. Hindari minum susu botol saat anak terbangun malam.
  4. Atur makanan dan minuman anak, batasi konsumsi makanan manis, apalagi gula berlebih.
  5. Ajak anak banyak minum air putih setelah makan.
  6. Gunakan pasta gigi berfluoride dengan takaran sesuai anjuran dan biasakan anak menggosok gigi setelah sarapan dan sebelum tidur.
  7. Jika orang tua memiliki riwayat gigi berlubang, hindari penggunaan peralatan makan yang sama ketika makan atau minum. Jangan meniup makanan yang akan dimakan anak karena bakteri dalam mulut bisa ikut berpindah.
  8. Rutin cek ke dokter gigi sejak dini (usia sekitar 1 tahun atau sejak gigi pertamanya tumbuh).

 

Nah, yang menjadi masalah terbesar disini adalah ketika anak mulai susah kita ajak sikat gigi. Penyebab terbesar anak menolak sikat gigi adalah mereka belum dilatih dan dibiasakan untuk membersihkan area mulut sejak bayi.

Tapi ga perlu sedih ya Moms jika memang dulu belum membiasakan anak membersihkan area mulutnya ketika bayi. Sekarang fokus saja bagaimana agar anak mau dan suka menyikat gigi.


Tips agar anak rajin sikat gigi

  • Ciptakan suasana yang menyenangkan dan tanpa paksaan (karena akan membuat anak trauma)
  • Ajak anak sikat gigi bersama untuk memberi contoh kepada anak
  • Jika ada, menggosok gigi di depan cermin agar anak bisa melihat cara menyikat yang benar dan merasa lebih senang.
  • Siapkan sikat gigi dengan bentuk yang lucu dan menarik, tapi perlu diperhatikan juga dalam pemilihan sikat gigi untuk anak seperti ini ya Moms

- bentuk dan ukuran sikat gigi, sesuaikan dengan ukuran rongga mulut anak

- pilih bulu sikat yang lembut sehingga anak merasa nyaman dan mampu menjangkau seluruh permukaan gigi

- untuk anak toddler, Moms juga bisa berikan anak kesempatan untuk memilih sikat giginya sendiri

  • Bacakan buku atau cerita tentang asyiknya menyikat gigi dan efek tidak menyikat gigi.
  • Berikan pujian ketika anak sudah mau mulai mencoba menyikat gigi.
  • Jika anak ingin menyikat giginya sendiri, berikan kesempatan kepadanya dan kita bisa mengecek bagian-bagian yang mungkin masih terlewat oleh anak.

Pasti dalam penerapan akan ada banyak tantangan, jangan cepat menyerah ya Moms. Untuk membiasakan hal baru ke anak memang butuh ekstra sabar dan juga kita harus konsisten. Dua hal itu memanglah kunci utama dalam mengajarkan banyak hal ke anak.

Kurang lebih demikian ya Moms sharing masalah gigi susu anak kita kali ini. 

Untuk mempermudah mengingat hal-hal penting apa saja yang perlu kita perhatikan dalam menjaga dan merawat kesehatan gigi anak, saya sajikan dalam infografis berikut


Mencegah-karies-gigi


Seperti kata pepatah,

Lebih baik sakit hati daripada sakit gigi.

Karena memang kalau gigi sakit itu rasanya sampai sebadan karena berpengaruh ke syaraf otak juga.
Tapi yang lebih baik lagi, ga sakit gigi maupun sakit hati ya Moms..


Keep smile and shining 😁
Wassalam.


Pentingnya Merawat Gigi Susu Anak

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم 
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه


Merawat-gigi-susu-anak-dengan-fluoride


Belakangan ini di beberapa grup komunitas parenting yang saya ikuti, banyak Moms yang suka bingung masalah gigi anak mereka. Ada yang cemas karena gigi anaknya belum juga tumbuh, ada juga yang panik karena gigi anaknya mulai berkaries. 

Walau hanya gigi susu, gigi anak yang nantinya akan tanggal juga ini pun perlu dijaga dan dirawat lho Moms. Bahkan mulai anak menyusu, kebersihan rongga mulut wajib untuk diperhatikan. 

Kenapa?

Karena sisa-sisa ASI atau susu formula jika dibiarkan begitu saja, lama kelamaan akan menyebabkan jamur tumbuh di area mulut bayi kita. Selain itu, membersihkan mulut dan lidah anak sekaligus untuk melatih dan mengajarkan anak agar terbiasa membersihkan gigi mereka ketika sudah tumbuh kelak.

Sebelum membahas semakin jauh, yuk kita pahami dulu tentang pertumbuhan gigi anak kita.

Pertumbuhan Gigi Susu Anak

Menurut A Pediatric Guide to Children’s Oral Health by American Academy of Pedriatics, range tumbuh gigi pertama anak antara usia 2-15 bulan. Berikut gambaran urutan pertumbuhan gigi susu anak beserta waktu gigi akan tanggal.

Source: guesehat.com 

Rentang waktu yang cukup lama ya Moms, jadi ga perlu insecure saat anak tetangga sudah tumbuh banyak gigi dan anak Moms belum tumbuh gigi sama sekali. Tapi, kalau sampai usia 18bulan anak Moms belum tumbuh gigi satupun, perlu diperiksa ke dokter gigi ya Moms…


Cara merangsang pertumbuhan gigi susu

  • Finger food tekstur kasar, seperti buah segar dan sayuran rebus.
  • MPASI sesuai tekstur, anak akan aktif mengunyah dan pertumbuhan rahang akan semakin optimal.
  • Makan yang mengandung kalsium, fosfor, dan flour alami. Seperti ikan, kacang-kacangan, tahu, sayuran dan susu.
  • Berikan teether, untuk meredakan kegatalan pada gusi anak yang akan tumbuh gigi.

Jadi, jangan menunggu gigi anak tumbuh dulu baru diberikan makanan yang bertekstur ya Moms. Karena dulu waktu MPAsi Azka tetap aku berikan makanan dengan tekstur sesuai usia walau giginya belum tumbuh. Dan masih ada saja netizen yang complain “kasian, belum punya gigi tapi disuruh kunyah-kunyah buah..”


Menjaga Kesehatan Mulut Anak

Kelahiran prematur dan berat badan di bawah normal saat lahir berpotensi menjadi penyebab masalah kesehatan gigi anak. Diantaranya lambatnya tumbuh gigi pertama, kerusakan pada email gigi, dan juga resiko karies atau gigi berlubang yang lebih tinggi.

Meskipun begitu, Moms yang anaknya lahir dengan cukup umur dan berat badan tidak langsung berleha-leha yaa.. karena gigi susu hanya tumbuh 1 kali dan tetap harus dirawat sebagaimana gigi tetap orang dewasa. Apalagi gigi tetap pertama yang tumbuh adalah gigi geraham belakang yang terkadang tidak kita sadari. 

Jadi jangan sampai kita kelewatan menjaga kebersihan gigi anak, karena jika sudah rusak dan harus dicabut maka tidak akan tumbuh lagi.

So, kapan dan bagaimana menjaga kebersihan mulut anak kita?

Sejak bayi mulai minum susu baik ASI maupun susu formula, kita harus membersihkan rongga mulut anak. Menurut Mc Donald, Dentistry for Child and Adolenscent, tindakan pembersihan rongga mulut yang sederhana di rumah dimulai pada satu tahun pertama kehidupan anak.

Kan belum ada gigi, terus apanya yang dibersihkan ya?

  • Lidah
Setelah bayi minum susu, sisa-sisa air susu akan menempel di lidah bayi yang dapat merangsang timbulnya jamur. Jika dibiarkan akan menimbulkan bau mulut yang tidak sedap.
  • Gusi, dimana akan menjadi tempat gigi tumbuh. Jadi bagian gusi juga perlu kita bersihkan.

Lalu, bagaimana caranya?

  • Untuk anak 0-6 bulan
Gunakan kain kasa steril, basahi dengan air hangat. Lilitkan pada jari telunjuk kita, lalu seka secara lembut dan perlahan ke bagian lidah dan gusi bayi kita. Lakukan 1-2x dalam sehari, bisa sekalian saat anak mandi atau bisa dibiasakan saat sebelum tidur malam (walaupun tengah malam bayi akan minum susu lagi ya :D).

  • Saat gigi mulai tumbuh atau gusi anak mulai bengkak, Moms masih bisa tetap gunakan kasa steril, waslap, atau bisa juga dengan finger toothbrush seperti gambar dibawah ini:
Finger-toothbrush
Dokpri

  • Jika sudah banyak gigi yang tumbuh apalagi sampai ke gigi belakang, Moms bisa beralih menggunakan sikat gigi anak dan menggunakan pasta gigi untuk anak.


Perlukah Menggunakan Pasta Gigi Berfluoride?

Membahas masalah pasta gigi anak, ternyata masih banyak Moms yang rancu tentang perlunya kandungan fluoride dalam pemilihan pasta gigi anak.

Menurut jurnal “Flouride : A Review of Effect and Health (2016)", fluoride merupakan bagian natural dari lingkungan kehidupan kita sehari-hari. Dalam kadar normal, fluoride dapat kita temukan pada daging, buah, dan sereal. Sedangkan dalam konsentrasi yang lebih tinggi, dapat kita temukan di ikan asin kaleng, buah kkaleng, dan susu coklat.

Kandungan fluoride ini memiliki peranan bagi kesehatan gigi dan mulut, diantaranya:

  • Memperlambat proses terjadinya gigi berlubang
  • Meningkatkan ketahanan email gigi terhadap asam
  • Menghambat metabolise bakteri penyebab gigi berlubang

Penting untuk diperhatikan dosis atau takaran dalam penggunaan pasta gigi yang mengandung fluoride untuk anak. Karena efek penggunaan fluoride yang berlebih akan menyebabkan kelainan gigi yang disebut fluorosis, dimana muncul suatu garis putih yang menyilang pada permukaan email gigi yang dapat merubah bentuk gigi.

Jadi, kembali lagi ke pilihan Moms yaa..

Mau menggunakan pasta gigi berflouride atau tidak. Karena biasanya yang bikin kepikiran para Moms nih, anaknya belum bisa berkumur dan justru menelan pasta gigi yang digunakan.

Sebenarnya pasta gigi khusus anak aman saat tertelan, asal memberhatikan dosis penggunaannya nih Moms..

Batas maksimal pasta gigi berfluoride adalah  5 mg/kg berat badan anak.

Sebagai contoh, anak saya dengan berat badan 12 kg, perhitungan maksimal penggunaan adalah : 5 mg/kg x 12 kg = 60 mg per hari. 

Sedangkan penggunaan pasta gigi yang dianjurkan hanya 0,1 mg dikali 2 pemakaian dalam sehari menjadi 0,2 mg saja. 

Jadi masih aman ya Moms selama Moms menggunakan pasta gigi sebesar biji beras seperti gambar berikut:

Pict by Google, edited by Inshot


Pentingnya menjaga kesehatan gigi susu

Walau hanya sementara, gigi susu juga punya peranan penting bagi perkembangan anak kita nih Moms

  • Mempertahankan lengkung gigi agar tidak mengalami penyempitan sehingga rahang bisa berkembang maksimal.
  • Fungsi estetik dan fonasi
  • Membantu perkembangan wajah anak
  • Gigi susu berfungsi untuk mengunyah dan berbicara layaknya gigi tetap orang dewasa

Jadi, jika kita menyepelekan kesehatan dan kebersihan gigi susu pada anak, akan berdampak:

  • Fungsi pengunyahan akan terganggu, anak akan sulit makan dan berakibat menurunnya berat badan anak.
  • Fungsi berbicara akan terganggu, terutama pada huruf yang membutuhkan kontak gigi depan atas seperti huruf L, T, dan S.
  • Berpotensi kerusakan pada gigi, seperti karies dan gigi berlubang bahkan infeksi yang dapat menyebar ke benih gigi tetap.

Coba bayangin Moms, gimana kalau itu sampai terjadi ke anak kita? Pasti ga mau kan…

Yuks, cek kondisi gigi anak kita sedini mungkin dengan rajin periksa ke dokter gigi tiap 6 bulan sekali. Semoga dengan tulisan ini banyak Moms yang makin aware dengan kesehatan gigi anak dan ga galau lagi masalah pasta gigi berfluoride.

Next, kita akan bahas bagaimana menjaga gigi anak agar tidak karies dan bagaimana tips menghadapi anak yang susah diajak sikat gigi..

See you in new article.


Wassalam.

 


Anak sering menolak Ajakan kita? Lakukan 3 Cara ini.




بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم
 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

 

Dalam hitungan hari, bayi tomatku akan genap berusia 3 tahun. Bersyukur dan juga haru rasanya, masa-masa krusial sudah terlewati dan bersiap menjalani jenjang baru anak sebagai kid. Pastinya akan ada tantangan baru yang tak kalah “seru”, tapi tak sabar juga mendapati kejutan baru milestone tumbuh kembangmu Naak…

Aah, baru nulis opening aja dah mau mewek sendiri..

Ya begitulah ya Moms, kalau membahas milestone anak tuh pasti jadi emosional sendiri. Maklum, 24jam x 7 hari selalu bersama dalam segala situasi dan kondisi. Dan pada kesempatan ini akan sedikit sharing apa yang telah kami lalui bersama sampai akhirnya Azka bisa minim tantrum dan terbilang manis oleh sebagian orang. Karena yang ditampilkan di layar hanya sisi indahnya saja (iya ga netizeen? :D)

Masya Allah Tabarakallah, nikmat dari Allah Subhanahu wa ta’ala tentunya. Karena hati anak, Allah lah yang menggenggamnya. Tapi terlepas dari itu, sudah sepatutnya bagi kita sebagai orang tua untuk memberikan teladan dan  arahan agar anak bisa tumbuh dan berkembang secara optimal.

Pada tulisan sebelumnya mengenai Pentingnya Membedakan Emosi dan Strategi dalam Perilaku Anak, kita jadi bisa tau dan mampu membedakan mana tangisan atau amarah yang benar-benar suatu luapan emosi atau hanyalah sebuah strategi. Jika itu hanya suatu strategi untuk mendapatkan keinginannya, kita pun harus menghadapinya dengan strategi pula. Karena jika asal menuruti kemauannya saja, maka anak akan menjadikan strategi tersebut sebagai senjata untuk “memeras” kita.

Jangan dikira ini wujud kekejaman kita sebagai orang tua ya Moms, justru inilah wujud sayang kita agar anak bisa tumbuh dengan realistis dan tidak memaksakan keinginan. Cara kita menanggapi anak akan sangat berpengaruh pada sikap dan kemampuan mereka dalam berinteraksi dengan sekitarnya. 

Jadi jangan salah kaprah, alih-alih ingin menunjukan sayang kita dengan menuruti semua keinginannya, tapi anak malah menjadi anak yang egosentris dan pemarah di kemudian hari. Naudzubillah min dzalik…

 Ok, back to topic ya Moms..


Cara-membuat-anak-setuju


Saat anak memasuki fase terrible two, maka anak seringkali menjadi suka berkata “tidak” atau menolak ajakan kita. Anak memang sedang dalam tahap menunjukan ke'aku'annya. Tapi bukan berarti sedang dalam masa seperti itu, kita jadi menuruti dan terus mengalah ya Moms. Justru kita harus lebih aktif dalam mengarahkan dan memberi alternatif agar kemampuan berpikir anak semakin berkembang. Ketahuan kita akan fase ini sebagai modal untuk menghadapi anak dengan kepala dingin, minim marah atau bahkan berbalik memaksa anak.


3 Cara Membuat Anak Setuju Tanpa Memaksa

Dari sebuah kulwap yang pernah saya ikuti, dengan narasumber Pak Angga Setyawan, seorang founder @anakjugamanusia. Disebutkan oleh beliau bahwa secara alami, manusia hanya akan melakukan apa yang ia suka (karena menurutnya itu enak) dan apa yang ia butuhkan walau prosesnya tidak enak atau tidak menyenangkan.

Pada kasus anak-anak, secara umum mereka hanya melakukan apa yang mereka suka, karena mereka belum mengerti apa yang mereka butuhkan. Sehingga, jika kita mau anak melakukan apa yang kita maksud maka pilihannya Moms bisa lakukan 3 cara berikut yaa…

1. Buat anak terpikat

Seperti disebutkan sebelumnya, bahwa anak-anak suka melakukan apa yang mereka anggap “enak” atau menyenangkan bagi mereka. Oleh karena itu, buat anak terpikat dengan menunjukan atau memamerkan “enaknya” hal yang kita maksudkan.

Seperti halnya iklan di televisi, kita tunjukkan ke anak semenarik mungkin hal atau sesuatu yang menyenangkan yang akan anak dapatkan. Caranya?

  • Berikan teladan langsung ke anak

Kita tunjukan secara langsung dengan memberi contoh di depan anak melakukan hal yang kita maksud dengan penuh suka cita, seru dan juga enjoy.

Contohnya nih, kita sedang meminta anak untuk makan buah atau sayur. Kebanyakan anak toddler akan menolaknya kan Moms?  Nah, kita bisa tunjukkan ke anak dengan makan sayur atau buah itu di hadapan anak sambil menceritakan nikmat atau segarnya buah yang kita makan di saat teriknya siang. Kita bisa berekspresi semaksimal mungkin untuk membuat anak tertarik.

  • Bercerita dengan menggunakan buku atau tokoh yang disukai anak

Yang perlu ditekankan bukanlah mencerikan perlunya melakukan hal yang kita maksud, tetapi ceritakan “enaknya” atau hal menyenangkan apa yang akan anak rasakan saat melakukan hal tersebut. Contohnya, saat kita mengajak anak menggosok gigi, kalau kita ceritakan manfaatnya agar gigi sehat dan bersih anak mungkin tidak akan peduli. Tapi saat kita ceritakan anak bisa mencoba rasa pasta gigi yang kita berikan atau anak bisa berkumur-kumur  dengan air yang kita siapkan (anak mana sih yang ga suka main air?) maka anak akan berpikir ulang untuk mau mencoba menggosok giginya.

Beda cerita lagi kalau kita menceritakan efek buruk dari tidak menggosok gigi, seperti kita malah menakut-nakuti anak kalau tidak sikat gigi nanti giginya akan sakit dan harus ke dokter. Hal ini justru membuat anak takut dengan dokter gigi dan kita pun akan kesulitan sendiri saat jadwal kontrol gigi anak.

 2.      Buat anak bersepakat

Untuk membuat anak bersepakat, kita pun perlu memberikan tawaran kepada anak supaya ia setuju melakukan hal yang kita maksud. Cara ini lebih cocok untuk anak usia di atas 3 tahun, dimana anak sudah mampu bernegosiasi. Tapi cara ini sudah saya lakukan saat anak mulai usia 2 tahun. Mungkin bisa dibilang ini penawaran yang bersyarat, dimana saat mainan mulai berantakan seperti kapal pecah dan sudah waktunya anak untuk tidy up, saya pun tidak langsung serta merta meminta anak membereskan (karena sudah pasti anak akan menolak). Jadi saya langsung berikan tawaran cemilan ke anak, tapi syaratnya anak harus merapikan mainannya dulu. Nah, kalau sudah beres baru deh saya kasih cemilan yang anak minta dan dilanjut waktu tidur siangnya. Jadi waktu anak bobo kita tidak perlu beres-beres mainan lagi dan anak juga sudah belajar bertanggung jawab akan mainannya.

Dalam membuat anak bersepakat ada teknik yang perlu diperhatikan dengan seksama, karena beda penyampaian akan beda efeknya. Saat kita menyebutkan syaratnya terlebih dahulu, baru menawarkan 'benefit' yang didapatkan anak. Maka sama halnya kita mengajarkan ke anak untuk melakukan sesuatu dengan iming-iming reward, jadi anak akan terbiasa melakukan hal yang kita minta kalau ada upahnya.

Baca juga: Efektifkah Pemmberian Reward and Punishment

Beda halnya saat kita menawarkan hal yang dianggap enak oleh anak terlebih dahulu, baru kita berikan syarat yang kita maksud, secara tidak langsung kita mengajarkan konsep “usaha/daya juang” kepada anak. Jadi, kita mulai bangun mental anak yang tough dan juga peduli akan kepentingan orang lain yang ada di sekitarnya.

3. Biarkan anak yang memilih

Nah, kalau cara ini biasanya berlaku saat cara 1 dan 2 sudah tidak berhasil kita takhlukan ke anak. Karena pada dasarnya setiap anak punya sikap masing-masing dalam merespon cara kita. Dan inilah cara pamungkas saat anak benar-benar sudah tidak bisa terbujuk rayu atau tidak mau diajak bernegosiasi.

Saat anak sudah benar-benar tidak terpikat atau bersepakat dengan hal menyenangkan yang kita tawarkan dan kekeuh tidak mau mengikuti apa yang kita maksud. Kita bisa memberikan pilihan yang mungkin sama-sama tidak enak menurut anak.

Misal, saat anak menolak kita ajak mandi padahal kita sudah menceritakan enaknya mandi nanti bisa main air dan bikin gelembung sabun. Kita bisa meminta anak untuk memilih “mau dimandikan sekarang atau nanti mandi sendiri dan hari sudah gelap?”

Biarkan anak berpikir sejenak, jika anak tetap menolak dan tidak mau memilih, maka konfirmasi ke anak kita yang pilihkan langsung karena anak tidak mau memilih. Lakukan tanpa emosi dan jika anak berontak maka kita harus tetap konsekuen dan melakukan pilihan kita tanpa amarah, walaupun anak akan menangis atau berontak marah berteriak-teriak.

Dari cara ini, anak akan belajar di kemudian hari kalau dia tidak memilih maka orang lain yang akan menentukan walaupun pilihannya sama-sama tidak enak. Tidak sedikit orang dewasa yang masih kesulitan dalam mengambil keputusan sebab pilihannya serba tidak enak. Selain itu, anak akan belajar bernegosiasi menentukan pilihannya sendiri.


Manfaat Membuat Anak Setuju Tanpa Memaksa

Dari ke-3 cara diatas, banyak manfaat yang akan kita peroleh baik dari sisi orang tua maupun dalam perkembangan kemampuan anak:

  • Kita tidak terjebak adu menang dengan anak, yang bisa beresiko anak akan menjadi pembangkang atau justru melawan kita 
  • Kelak anak akan mampu mengambil keputusan sendiri karena sudah terbiasa kita berikan pilihan, tidak melulu menurut apa yang kita maksud sehingga anak menjadi pribadi yang berpendirian kuat dan tidak ragu-ragu
  • Anak mampu berpikir kritis dan belajar mengembangkan kemampuannya dalam bernegosiasi dan mampu mempertimbangkan konsekuensi atas apa yang ia lakukan
  • Kita jadi lebih mudah dan paham kemampuan dan kesukaan anak sehingga kita bisa memberikan pilihan-pilihan yang tepat agar anak melakukan yang kita maksud
  • Kita menjadi minim stress karena menemukan cara win-win solution sebelum menerima penolakan dari anak


Pastinya dalam penerapan tidak akan semulus kulit baby kita ya Moms, pasti akan ada gejolak emosi dalam jiwa kita yang bergelora. Ingat saja buah yang akan kita petik kelak, kalau kita mau cara yang praktis di awal, seperti asal menuruti kemauan anak agar tidak rewel, maka PR kita di kemudian hari akan semakin berat.

Lakukan sedikit demi sedikit namun konsisten, maka hasilnya akan bisa kita nikmati hingga kita menua nanti. Aamiin, aamiin, aamiin... insya Allah