Memaknai Idul Fitri di Kala Pandemi

6 komentar

Ramadhan sudah setengah jalan, Lebaran pun segera datang. Padahal rasanya masih ingin berlama-lama di bulan Ramadhan yang penuh keberkahan ini ya…

Membahas Lebaran, ini menjadi tahun ke-2 kita merayakan Idul Fitri di tengah pandemi. Larangan mudik pun masih digalakkan seperti tahun lalu, karena memang kondisi yang belum memungkinkan untuk kita membuat kepadatan di berbagai tempat secara serempak.

Awalnya memang merasa sedih dan bertanya-tanya “kenapa mudik dilarang padahal vaksin sudah sebagian besar dilakukan?”. Tetapi tak lama kemudian, seakan diingatkan langsung dengan kejadian teman suami yang positif COVID-19 dengan gejala demam hingga hilang penciuman padahal sudah menerima vaksin. Menjadi sadar kembali bahwa bukan berarti sudah vaksin kita menjadi kebal dengan virus tersebut, sehingga merasa bebas kembali ke kehidupan normal.

Tapi ya sudahlah, karena bukan masalah larangan mudik yang akan dibahas disini ya…

Kali ini kita akan membahas tentang makna Idul Fitri yang semestinya. Semestinya yang saya maksud disini adalah bagaimana memaknai Idul Fitri secara mendalam bukan hanya sekadar aktivitas fisik seperti bersalam-salaman atau berkunjung ke rumah saudara-saudara yang menjadi tradisi kita selama ini.

Dengan adanya pandemi yang sudah satu tahun lebih lamanya ini, seakan Allah ingin kita untuk memaknai Idul Fitri dengan lebih baik lagi. Dimana kita tidak disibukkan dengan rangkaian persiapan mudik dan segala persiapan lain yang terkadang membuat kita lalai dengan hari-hari terakhir di bulan Ramadhan kita. Karena pada dasarnya Idul Fitri bukanlah satu-satunya moment untuk berkumpul dan bersalam-salaman dengan keluarga besar bukan?

Nah, qadarullah pekan lalu tanggal 25 April 2021 saya berkesempatan mengikuti Kajian Online Bengkel Diri via zoom dengan pembahasan “Memahami Makna Idul Fitri”. Materi yang disampaikan oleh Ummu Balqis yang juga Founder dari Sekolah Online Bengkel Diri sungguh penuh makna yang mendalam. Biar ilmu yang saya simak waktu itu ga menguap begitu saja, jadi saya tuliskan sekalian disini ya...

Sekaligus untuk mengisi jadwal nge-blog bareng Komunitas Blogger Bengkel Diri yang pekan ini membahas tema Hari Raya Idul Fitri juga. Semoga dengan menuliskannya kembali disini (yang semoga Allah ridhai) mampu menghujam hati dan pikiran saya pribadi dan mungkin untuk para pembaca juga. Aamiin

 

MAKNA IDUL FITRI

Sebagai permulaan, kita mulai dengan pengertian secara Bahasa terlebih dahulu yaa.

Idul Fitri berasal dari Bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu 


  • Id secara bahasa berasal dari kata

’aada – ya’uudu yang artinya kembali, pulang, kembali ke asal.

==>Asal tempat = ma’ad

==>Waktunya =  mi’ad


Dijelaskan dalam QS. 'Ali Imran ayat 9,

رَبَّنَا إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ

"Ya Tuhan kami, Engkaulah yang mengumpulkan manusia pada hari yang tidak ada keraguan padanya." Sungguh, Allah tidak menyalahi janji.

Yaitu kembali ke asal tempat pada waktu hari akhir kelak. Jadi, kata idul sendiri memiliki arti persiapan untuk kembali berpulang kepada-Nya (yang sifatnya abadi) yaitu persiapan menuju surga-Nya.

Sedangkan syarat untuk bisa mendapat atau masuk ke surga, djelaskan dalam firman Allah sebagai berikut:

-QS. Ali 'Imran:133,

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,

-QS. Az-Zariyat:15,

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan mata air,

Sebagaimana ketika akan mudik, kita akan mempersiapkan segala macam bekal dan kebutuhan untuk bisa berpulang dengan rasa tenang. Padahal mudik hanyalah perkara dunia, sedangkan perkara akhirat kita justru kurang persiapan yang matang. Lalu persiapan apa saja yang perlu kita lakukan untuk kembali berpulang kepada Rabb kita yang waktunya bisa terjadi kapan saja tanpa bisa kita ketahui sebelumnya?

Maha Besar Allah dengan segala kebaikan-Nya, dimana setiap tahun kita diberi kesempatan untuk mengumpulkan bekal sebaik-baiknya di bulan Ramadhan. Sehingga kita mempunyai kesempatan untuk memperkuat taqwa dengan amalan-amalan yang Allah lebihkan pahalanya ketika bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berpulang ke surga-Nya. Karena surga sangat lekat dengan taqwa atau amalan-amalan yang menguatkan ketaqwaan kita.


  • Fitri, yang memiliki akar dari kata

Futhur: permulaan makan – kembali ke kebiasaan awal kita, yaitu boleh makan kembali.

Fithrah: fitrah

Maksud fitrah disini bukan berarti kita kembali suci atau bebas dari dosa. Sebagaimana sebagian dari kita masih ada yang beranggapan bahwa Idul Fitri itu mereka merasa terbebas dari dosa-dosa yang telah dilakukan. Padahal dosa besar hanya akan terhapus dengan taubatan nasuha.

Akan tetapi fitrah yang dimaksudkan disini adalah sifat cenderung mendekat kepada Allah dengan lurus dalam agama Islam, sesuai fitrah manusia dalam firman Allah QS. Ar-Rum:30

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,

Jadi, kata Fitri sendiri memiliki makna kembali ke fitrah untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan dorongan yang kuat untuk benar-benar ber-azzam menjalankan agama dengan menegakkan syariat secara sempurna.

Lalu, bagaimana agama yang lurus dijelaskan dalam firman-Nya QS. Ali 'Imran:19

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barang siapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.)

 

Dari penjelasan makna dua kata di atas, yang bisa kita jadikan spirit baru dan seterusnya bahwa moment Idul Fitri adalah untuk menegakan syariat dalam keseharian. Jadi, sudah menjadi tugas kita bersama untuk menjadikan Ramadhan ini sebagai training kita untuk bekal agar siap berpulang dan mendekat pada Allah. Sehingga saat Idul Fitri tiba, kita mampu bertransformasi yang sejati, dimana kebiasaan selama Ramadhan dalam berikhtiar memperkuat taqwa kita agar senantiasa dalam fitrah dapat terus kita lakukan di bulan-bulan selanjutnya.

Aamiin ya Rabbal ‘alaamiin.

 

Tak boleh ketinggalan juga, ketika Idul Fitri tiba kita pun disunahkan untuk menjalankan amalan-amalan berikut:

Sunnah saat Idul Fitri

  1. Mandi sebelum shalat
  2. Berhias diri dengan pakaian terbaik, bukan terbaru
  3. Bertakbir mulai bangun tidur hingga saat sebelum shalat Idul Fitri
  4. Saling mengucapkan selamat
  5. Mengucapkan “taqabbalallahu minna wa minkum – semoga Allah menerima amalku dan amal kalian”
  6. Mengambil jalan yang berbeda antara jalan berangkat dan pulang dari tempat shalat Idul Fitri

Tentunya dalam kondisi pandemi seperti saat ini, ada pun beberapa amalan atau kebiasaan yang belum bisa kita lakukan secara normal, namun tetap tidak mengurangi makna dari Idul Fitri sendiri, seperti:

  • Menjalankan shalat Idul Fitri sesuai protokol kesehatan yang bisa disesuaikan dengan kondisi tempat masing-masing
  • Berkumpul dengan keluarga di rumah sambil terus bertakbir
  • Walau belum bisa berkumpul dengan orang tua yang masih terpisah jarah dan waktu, kita masih bisa menyenangkan hati mereka dengan mengirimkan bingkisan lebaran, masih tetap bisa mengucapkan salam secara virtual.
  • Mengasah empati terhadap sekitar dengan bersedekah dan berbagi kepada yang kurang beruntung
Kurang lebih demikian yang bisa saya tuliskan disini, kebenaran datangnya dari Allah. Namun jika ada kekurangan atau ketidaktepatan dalam penyampaian murni dari kesalahan saya pribadi.

Wallahu'alam bishawab,
Wassalam

 

 

Iva C Wicha
24/7 Full Mom and Wife Parenting Enthusiast, Hanya hamba Allah yang tak luput dari salah dan khilaf, tapi slalu berusaha menebar manfaat dan mengUpgrade diri.

Related Posts

6 komentar

  1. Masyaallah... Terima kasih sharingnya mbak.. insyaallah bermanfaat.. ^_^
    Semoga kebiasaan selama Bulan Ramadan bisa terus kita terapkan.. aamiin

    BalasHapus
  2. Masya Allah, aku juga selama ini beranggapan kalau idul fitri berarti kembali suci itu bisa menghapus dosa, padahal harus tetap taubat nasuha ya mba? Bukan sekedar tobat waktu Ramadan dan bulan selanjutnya melakukan dosa itu lagi :")

    Semoga dengan merayakan Idul Fitri ditengah pandemi kita benar-benar memahami makna sebenarnya ya mba

    BalasHapus
  3. Semoga tahun ini meskipun berlebaran di saat pandemi tidak mengurangi rasa syukur kita. Semoga Lebaran tahun ini menjadikan kita pribadi yang lebih baik dalam segala hal.

    BalasHapus

  4. Semoga kita tetap dpt memaknai Idul fitri & silaturahim meskipun pandemi. Aamiin....

    BalasHapus
  5. Do'a yang sama setiap Idul Fitri agar kehidupan kembali normal. Udah kangen dengan suasana Idul Fitri dalam kondisi normal bukan new normal.

    BalasHapus
  6. Bener juga ya mba. Larangan mudik menjadikan kita lebih fokus ibadah di 10 hari terakhir. Bukan sibuk dg persiapan mudik. Masya Allah, selalu ada hikmah di balik setiap peristiwa

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email