ivacwicha-header

Dilema Persalinan, Lebih Baik Induksi atau Caesar?

Konten [Tampil]

Bingung lebih baik induksi atau caesar untuk proses persalinan? Hari perkiraan lahir (HPL) atau due date sudah semakin dekat, tapi belum muncul tanda-tanda atau kontraksi juga? Ga usah panik ya Moms. Bumil wajib tetap tenang dan rileks agar tidak stres yang justru memperburuk keadaan.

Memang rasanya pasti deg-degan dan cemas ketika sudah mendekati HPL. Hal ini pun aku alami bulan lalu, saat menantikan kelahiran anak kedua pada kehamilan ketiga ini. Loh kok? Iya kehamilan kedua aku mengalami Blighted Ovum atau hamil kosong sehingga harus tindakan kuretase. 

Berbeda dengan persalinan pertama yang Alhamdulillah diberi kelancaran. Pada kehamilan ketiga ini aku merasakan kegalauan yang luar biasa. Dua pekan sebelum HPL sudah berbahagia merasakan gelombang cinta yang mulai muncul meski hanya sekelebat saja. Ternyata hanya kontraksi palsu yang tidak berlanjut ke kontraksi atau pun pembukaan jalan lahir.

Hingga H-4 dari due date masih harus kontrol pekanan karena belum merasakan kontraksi atau tanda-tanda persalinan lainnya. Saat periksa itulah aku mendapati "warning" dari SPOG kalau harus siap jika ada kemungkinan SC atau operasi caesar.

Meski dari awal memang sudah persiapan dengan segala kemungkinan termasuk SC, tapi tetap berasa disambar gledeg saat dengar opsi-opsi dari dokter. Sedih bukan kepalang waktu ditawari dua pilihan. Jika belum ada tanda-tanda juga sampai hari H due date, maka harus ada tindakan antara induksi atau mau langsung caesar.

Bingung campur aduk banget rasanya. Selama hamil selalu positive thinking untuk bisa lahiran normal lagi, karena riwayat kelahiran anak pertama yang lahir secara spontan. Kalau kata orang, persalinan kedua akan lebih mudah dan lancar bagaikan jalan tol. Ternyata aku mendapati jalan tol yang macet seperti saat mudik lebaran­čść.

Jujur aku tuh lebih takut untuk SC daripada lahiran normal. Lebih memilih sakit di awal tapi setelah selesai minim efek samping, hehehe. Tapi di sisi lain, otak ini sudah terisi berbagai cerita bahwa sakitnya kontraksi dengan induksi itu berkali-kali lipat rasanya dibandingkan kontraksi alami.

Ditambah pula cerita beberapa teman yang sudah pernah induksi dan sebagian mereka tidak mengalami reaksi obat induksi atau pun tidak kuat menahan sakitnya. Hingga akhirnya harus tindakan SC juga. Hmmm, jadi double sakit ya, sakit kontraksi induksi plus merasakan juga sakitnya jahitan pasca operasi.

Melihat reaksi ku pun dokter jadi menawarkan untuk pilih SC sejak awal kalau takut untuk induksi. Hhmm.. jadi makin galau kan rasanya. Akhirnya memilih untuk menunggu dulu hingga due date sambil terus berusaha dan berdoa agar ada kontraksi dan tanda-tanda persalinan sehingga bisa lahiran melalui vagina.

MANA YANG LEBIH BAIK, INDUKSI ATAU CAESAR?

Jika Moms mengalami kondisi yang sama dengan aku, dihadapi dua pilihan yang sama-sama tidak diinginkan, yaitu induksi atau caesar. Usahakan tetap berpikir jernih dan rileks untuk mempertimbangkan setiap opsi yang ada.

Setiap pilihan itu tidak bisa asal ambil ya Moms. Tetap perlu dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu oleh dokter kandungan sebelum tindakan. Nah biar ga bingung Moms bisa cari tau dulu lebih dalam plus minus atau pun resiko dari dua pilihan dalam persalinan tersebut.

Induksi dalam Proses Persalinan

Induksi persalinan merupakan salah satu cara untuk membantu memperlancar proses persalinan dengan merangsang kontraksi pada rahim. Prosedur ini tentu dengan banyak pertimbangan dan pemeriksaan oleh dokter kandungan, dengan melihat kondisi kesehatan ibu dan juga janin.

Banyak faktor yang menjadi pertimbangan dilakukannya induksi dalam proses persalinan. Diantaranya adalah usia kandungan, ukuran janin, kondisi air ketuban, dan beberapa komplikasi lainnya. Prosedur induksi persalinan pun ada beberapa jenis yang disesuaikan dengan kondisi atau masalah kehamilan yang dialami.

Tidak hanya pemberian obat melalui oral atau pun infus, tapi metode lain seperti memecahkan air ketuban atau pemasangan kateter yang berisi obat pun bisa dilakukan. Lama waktu reaksi dari berbagai metode induksi persalinan pun berbeda-beda dan tidak dapat dipastikan. Bahkan ada beberapa kasus dimana induksi tidak bereaksi hingga akhirnya dilakukan operasi caesar demi keselamatan ibu dan janin itu sendiri.

Saat itu aku mendapat obat berupa cairan oksitosin yang dimasukan melalui infus ke pembuluh darah. Sekitar satu jam setelah cairan tersebut dipasang, alhamdulillah kontraksi pun langsung ku rasakan dengan hebatnya. Hanya bisa mengatur nafas dan menikmati setiap gelombang cinta yang berlangsung tanpa jeda, tidak seperti kontraksi alami yang dulu ku rasakan pada proses persalinan anak pertama.

Persalinan melalui Operasi Caesar

Operasi caesar merupakan suatu proses melahirkan bayi yang dilakukan dengan cara menyayat bagian perut hingga rahim seorang ibu. Sayatan pada perut tersebut merupakan jalan keluarnya bayi dari dalam rahim. Dokter biasanya membuat sayatan memanjang dengan arah horizontal tepat di atas tulang kemaluan.

Tindakan caesar biasanya bisa dipersiapkan sejak pertengahan kehamilan dengan kondisi-kondisi tertentu. Seperti bayi terlalu besar, posisi bayi sungsang, pernah menjalani operasi caesar sebelumnya, atau keinginan dari ibu itu sendiri. 

Namun pada beberapa kasus bisa terjadi pada saat persalinan saat usaha-usaha untuk lahiran normal seperti tindakan induksi di atas gagal atau tidak bereaksi. Jika Moms memilih tindakan operasi caesar untuk persalinan sejak awal, maka Moms tidak akan mengalami sakitnya kontraksi. 

Memang benar operasi caesar memang minim rasa sakit di awal persalinan. Tapi proses penyembuhan pasca operasi akan lebih lama tidak seperti persalinan per vagina. Meskipun saat ini sudah tersedia obat pereda sakit pasca SC sehingga Moms bisa langsung joged tiktok seperti para artis papan atas. Tentunya dengan biaya yang tidak sedikit ya Moms. 

RISIKO INDUKSI DAN OPERASI CAESAR DALAM PROSES PERSALINAN

Mengutip dari beberapa sumber, baik dokter kandungan dan juga kanal kesehatan. Berikut beberapa risiko yang mungkin bisa terjadi dari proses induksi.
  • Rasa nyeri hebat dibandingkan dengan kontraksi pada persalinan normal
  • Lemahnya detak jantung dan berkurangnya suplai oksigen pada bayi, karena kandungan oksitosin atau prostaglandin pada obat induksi persalinan
  • Infeksi pada ibu dan bayi
  • Perdarahan yang terjadi karena otot rahim tidak berkontraksi setelah proses persalinan (atonia uteri)
  • Pecahnya rahim hingga membutuhkan pengangkatan rahim
  • Ruptur uteri atau rahim robek
  • Kegagalan induksi yang berakhibat tindakan operasi caesar
Sedangkan pada operasi caesar, beberapa risiko yang bisa terjadi antara lain:
  • Pendarahan
  • Penggumpalan darah
  • Infeksi luka operasi
  • Efek samping obat bius atau anestesi
  • Cedera operasi pada kandung kemih atau usus, sehingga memerlukan operasi lanjutan
  • Meningkatkan risiko terjadinya komplikasi di kehamilan berikutnya
  • Infeksi pada lapisan rahim, atau dikenal sebagai endometritis
  • Pembekuan darah (trombosis) di kaki
Tidak hanya pada ibu, beberapa risiko lain pun bisa dialami bayi yang dilahirkan melalui operasi caesar.
  • Imunitas lemah dan berpotensi mengalami pertumbuhan yang terlambat karena tidak mendapatkan bakteri baik saat lahir
  • Si Kecil akan mengalami kesulitan bernapas, memuntahkan cairan berlebih, atau bunyi nafas terdengar “berair” selama beberapa hari pertama setelah lahir.
  • Sulit mengASIhi karena pengisapan lemah dan perpisahan antara ibu dan anak yang terlalu lama
  • Si Kecil berisiko tinggi mengalami asma hingga obesitas.
Kurang lebh demikian perbedaan risiko anatara tindakan induksi atau caesar dalam persalinan. Persalinan normal atau spontan per vagina pun tak lepas dari risiko juga. Robekan pada vagina hingga kematian pun bisa terjadi dalam proses persalinan.

Oleh karena itu, apapun tindakan dalam proses persalinan, baik normal atau caesar. Semuanya penuh perjuangan dan bertaruh nyawa. Bahkan dalam sebuah hadits pun disebutkan seorang Ibu yang meninggal saat melahirkan mendapat ganjaran mati syahid.

“Mati syahid ada 7 selain yang terbunuh di jalan Allah: Orang yang mati karena thaun, syahid. Orang yang mati tenggelam, syahid. Orang yang mati karena ada luka parah di dalam perutnya, syahid. Orang yang mati sakit perut, syahid. Orang yang mati terbakar, syahid. Orang yang mati karena tertimpa benda keras, syahid. Dan wanita yang mati, sementara ada janin dalam kandungannya.” (HR. Abu Daud 3111 dan dishahihkan al-Albani).

KESIMPULAN

Setelah mengetahui bagaimana tindakan induksi dan caesar beserta risiko-risikonya, semoga Moms tidak bingung atau dilema lagi dalam menghadapi persalinan. Lebih baik induksi atau caesar semua kembali lagi pada kondisi dan keadaan Ibu dan janin yang dikandungnya. Yang terpenting adalah untuk selalu berdoa dan berusaha agar persalinan bisa lancar dan minim trauma karena kita sudah mempersiapkan segala kemungkinan yang bisa terjadi dalam persalinan.


Iva C Wicha
Parenting Enthusiast, Happy to share #FunLearning idea for Kids on my Instagram, Email: ivacwicha@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar