ivacwicha-header

Proses Melahirkan Anak Kedua yang Penuh Drama

Konten [Tampil]

Kata orang, proses melahirkan anak kedua lebih mudah dan lancar daripada kelahiran anak pertama. Ternyata belum tentu benar adanya. Setiap kehamilan atau pun kelahiran setiap bayi punya cara dan waktunya masing-masing yang tidak bisa dipastikan.

Begitulah yang aku alami saat menantikan kelahiran buah hati kedua kami. Padahal bukan kali yang pertama, tapi pada kehamilan hingga kelahiran anak kedua justru memberikan pengalaman baru yang lebih menegangkan. Dari rahim dan sumber sperma yang sama, tapi kondisi kehamilan sungguh berbeda.

Sebelum bercerita proses melahirkan anak kedua, sebagai permulaan aku akan sedikit bercerita tentang kehamilan ketiga yang penuh dengan “drama” ini. Loh, kok kehamilan ketiga? Iya ga salah kok, karena kehamilan kedua aku mengalami hamil kosong atau istilah medisnya Blighted Ovum.

Kehamilan Anak Kedua  

Berbeda dengan kehamilan anak pertama yang orang sebut hamil kebo. Dimana hamil berasa ga hamil karena bisa aktif ini dan itu tanpa banyak keluhan. Di kehamilan anak kedua ini, justru aku mendapati banyak keluhan yang mungkin banyak juga dialami oleh para ibu hamil lainnya.

Keluhan kehamilan seperti mual muntah, pusing, lemas, ga ada nafsu makan, sakit pinggang, dan tidak bisa berlama-lama saat berdiri jadi makanan sehari-hari. Semua itu dihadapi bersamaan dengan urusan domestik dan juga membersamai si Kakak yang sedang aktif-aktifnya.

Belum lagi kepikiran masalah biaya yang tahun ini sudah kehabisan plafon dari asuransi, karena masalah saat kehamilan kedua. Pokoknya kendala dari segi kesehatan, biaya, dan juga support system karena merantau di Ibu Kota membuat kehamilan kali ini terasa lebih berat.

Kehamilan ketiga ini, merasakan kondisi fisik yang lebih lemah (mungkin juga karena faktor U ya) jadi lebih banyak obat yang harus dikonsumsi. Belum lagi tambahan zat besi berupa cairan yang harus diinfus ke badan. Hamil kali ini aku harus melakukan tranfusi zat besi sebanyak dua kali karena saat pemeriksaan darah, kadar HB ku sangat rendah.

Pemeriksaan Wajib Saat Hamil

Oiya Moms, sangat penting ya melakukan pemeriksaan darah saat hamil. Biasanya dokter akan meminta kita melakukan pemeriksaan darah pada trimester kedua. Nah, selain pemeriksaan darah selama hamil penting juga untuk melakukan pemeriksaan lain seperti berikut.

USG (Ultrasonografi)

USG saat hamil merupakan teknik pemeriksaan kondisi janin dalam kandungan, dengan menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk menampilkan gambaran bagian dalam perut. Dengan pemeriksaan ini kita dapat mengetahui kondisi dan pertumbuhan janin dalam kandungan.

Tes darah

Saat memasuki trimester kedua, dokter kandungan atau pun bidan akan meminta kita untuk melakukan tes darah. Apa saja yang akan dicek?
  • Hemoglobin (HB)
Kadar zat besi dalam darah Ibu hamil sangat penting diketahui karena akan memengaruhi kondisi kesehatan janin. Bila rendah, Ibu akan merasa mudah lelah dan lesu. Untum meningkatkan HB dalam tubuh, perbanyak konsumsilah makanan yang kaya akan zat besi, seperti bit, bayam dan daging merah.
  • Kadar glukosa
Tes gula darah adalah bagian dalam pemeriksaan kehamilan rutin. Pemeriksaan ini penting untuk mendeteksi apakah ibu hamil mengalami diabetes kehamilan.

Cek urine

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi apakah terdapat penyakit infeksi pada ibu hamil. Skrining penyakit infeksi termasuk hepatitis B, Syphilis, HIV, dan TORCH. Selain itu, tes urin juga dilakukan untuk mengetahui apakah Ibu terpapar obat-obatan tertentu, alkohol, bahkan narkotika.

Cek mata

Bagi Moms pengguna kacamata karena rabun, baik rabun jauh atau pun rabun dekat. Baiknya melakukan pemeriksaan ke dokter spesialis mata. Apalagi untuk Moms yang minusnya lebih dari 3, perlu dicek terlebih dahulu lapisan kornea matanya apakah masih tebal.

Ada beberapa dokter kandungan yang tidak mempermasalahkan persoalan rabun mata ini untuk persalinan normal. Tapi ada juga yang meminta para ibu hamil untuk melakukan pengecekan terlebih dahulu untuk meminimalisir efek dari mengejan saat proses persalinan.

Suntik TT

Suntik tetanus ini juga ga boleh ketinggalan ya Moms. Jika sebelumnya Moms sudah pernah suntik TT pada kehamilan pertama namun sudah berselang 5 tahun, maka perlu untuk suntik ulang.

PERSIAPAN SEBELUM PERSALINAN

Setelah usia kandungan memasuki 36 minggu, saatnya untuk persiapan persalinan yang sudah di depan mata. Kalau kata dokter, tinggal menunggu hari kapan si debay mau keluar. Moms sudah bisa mulai mempersiapkan segala kebutuhan saat persalinan dalam satu tas khusus. Jadi kalau tiba-tiba waktunya lahir, sudah tinggal bawa aja deh.

Tidak hanya tas bawaan saja yang perlu dipersiapkan. Ada yang lebih penting, yaitu kondisi fisik dan juga mental. Moms harus lebih banyak bergerak dan positif thinking serta hindari pemicu-pemicu stress. Kalau masalah pemicu stress tiap orang pastinya berbeda ya, yang penting tetap tenang dan tidak overthingking serta banyak berdoa.

Nah, masalah aktif bergerak nih yang kebanyakan jadi PR kita bersama. Dimana saat hamil besar, bawa badan sendiri aja sudah terasa berat ya Moms. Baru ngerjain satu kerjaan domestik aja rasanya udah ngos-ngosan dan pengen buru-buru senderan.

Padahal dengan aktif bergerak, sangat membantu janin turun ke panggul sehingga mempermudah proses kelahiran nantinya. Tidak hanya rutin prenatal yoga, jalan pagi selama 30 menit, goyang panggul, bahkan mengepel jongkok pun aku lakukan sebagai ikhtiar mempermudah proses persalinan. Tak ketinggalan juga, berhubungan suami istri juga sangat dianjurkan sebagai induksi alami proses melahirkan.

PROSES PERSALINAN ANAK KEDUA

Sudah melakukan berbagai upaya, tapi belum muncul tanda-tanda persalinan juga? Itulah yang aku alami pada kehamilan ketiga ku ini. Dibuat galau karena saat periksa ternyata mulut rahim masih jauh dan belum ada pembukaan sama sekali. Hingga dokter pun memberi warning sekaligus opsi tindakan-tindakan persalinan seperti induksi atau caesar jika belum ada kontraksi atau tanda persalinan lainnya di hari H due date. 

Berbagai upaya induksi alami sudah dilakukan, tapi apa daya? Jika memang belum takdirnya lahir ya tidak akan lahir juga padahal due date tinggal tiga hari lagi. Tidak mau berlama-lama galau memikirkan lebih baik induksi atau caesar, keesokan harinya  pun aku memutuskan untuk jalan-jalan ke mall saja. Siapa tau dengan jalan-jalan di mall merasa lebih happy sehingga lebih banyak hormon oksitosin yang muncul yang bisa memacu persalinan.

Karena suami sedang berpuasa Ramadhan, aku pun memutuskan untuk bersih-bersih rumah dahulu sebelum ke Mall. Sekalian pindah posisi kamar di rumah untuk baby setelah lahir, rencana yang lama tertunda karena satu dan lain hal. Setelah itu aku lanjut mengepel dengan posisi jongkok. Kali ini aku benar-benar mengepel dengan air dan kain. Biasanya cuma gerakan aja tanpa benar-benar mengepel karena takut terpeleset.

Qadarullah, tak lama kemudian keluar flek merah saat aku buang air kecil. Lega banget rasanya, akhirnya muncul tanda persalinan juga. Tidak ingin buru-buru ke rumah sakit karena belum ada kontraksi sama sekali, aku pun lanjut mengepel seluruh rumah. Harapannya muncul kontraksi dan terjadi pembukaan jalan lahir.

Namun karena flek yang keluar ada sedikit gumpalan merah, suami pun meminta untuk periksa terlebih dahulu. Entah kenapa aku ingin menyelesaikan semua pekerjaan rumah terlebih dahulu baru periksa. Feeling mungkin ya, rasanya lebih tenang aja kalau ninggalin rumah setelah semua rapi. 

Penuh percaya diri berjalan ke UGD dengan penampilan rapi seraya digoda suami "Rapi bener Bu, mau lahiran atau ngemall?" hehehe. Iya, masih merasa santai dan benar-benar berpikir kalau belum ada pembukaan jadi bisa lanjut ke Mall langsung 😂.

Sekitar pukul empat sore, kami memasuki ruang UGD, dokter jaga pun menanyakan beberapa pertanyaan. Setelah melihat foto gumpalan yang keluar, dokter pun langsung menghubungi dokter kandungan yang menanganiku dan menyampaikan bahwa aku langsung diminta opname untuk diobservasi lebih lanjut. 

Sembari menunggu suami mengurus administrasi, aku pun berpamitan ke anak ku yang pertama. Disini aku mulai melow campur aduk rasanya harus berpisah dengannya selama tiga hari. Sebagai fulltime Moms yang selalu di rumah membersamai anak, ini jadi kali pertama harus berpisah tidak menemani tidur malamnya. 

Ditambah lagi, setiap kali ku sounding kalau dia harus menginap di rumah budhenya saat aku harus melahirkan adiknya, dia selalu menolak. Tapi saat tiba waktunya, justru dia yang lebih brave dan berhasil membuatku meneteskan air mata karena haru. 

Menjelang waktu maghrib, aku pun pindah ke ruang bersalin. Setelah diperiksa, alhamdulillah sudah pembukaan satu meski tidak ada kontraksi atau mules-mules sama sekali. Selain itu dilakukan rekam jantung janin seperti biasa. Ternyata hasilnya kurang bagus, entah efek aku masih sedih memikirkan anak pertama ku atau karena faktor lain. 

Akhirnya aku diberikan bantuan oksigen dan dipasang infus untuk membantu agar detak jantung janin membaik. Hingga pukul tiga dini hari, pembukaan belum bertambah dan detak jantung janin masih melemah. Aku pun diberikan opsi untuk induksi meski cukup berisiko karena kondisi detak jantung janin kurang stabil, atau mau tindakan caesar. 

Setelah sebelumnya galau setengah mati, entah kenapa saat itu aku mantap untuk induksi saja. Bismillah, dalam hati kecil ku yakin kalau janin ini bisa lahir sesuai fitrahnya. Akhirnya pukul 06.30 WIB cairan oksitosin dimasukan ke tubuhku melalui infus. Tak selang lama, belum ada satu jam, kontraksi pun aku rasakan dengan hebatnya. Bukan lagi gelombang cinta namanya, karena rasa sakitnya yang berkelanjutan tanpa jeda.

Masih terasa betul, setiap bagian tubuh ini saling tarik menarik dengan kuatnya. Hanya bisa menggenggam erat tangan suami sambil terus mengatur nafas untuk 'menikmati' tekanan dan getaran dalam perut hingga ke vagina. Karena kontraksi yang begitu kuat, suster langsung memeriksa dan alhamdulillah pembukaan langsung lengkap. 

Namun, lagi-lagi harus sabar menunggu dokter yang menangani tiba. Padahal rasanya sudah diujuk tanduk, air ketuban pun sudah pecah tapi dokter belum kunjung sampai saja. Jika teringat saat-saat harus menahan di jabang bayi yang sudah ingin keluar, ingin rasanya ku complain ke dokternya. Tapi beginilah risikonya lahir di Ibu Kota, dimana-mana jalanan macet apalagi di hari Senin saat orang-orang mulai berangkat kerja atau pun sekolah.

Entah berapa lama aku menahan untuk tidak mengejan. Padahal dorongan dari dalam sudah begitu kuat, bahkan kepala bayi pun sudah terasa di tengah-tengah jalan lahirnya. Hanya bisa mengatur nafas agak tidak mengejan plus tangan suster yang menahannya dari luar. Begitu dokter tiba, aku diminta balik badan terlentang. 

Badan rasanya setengah kaku efek menahan-nahan. Dengan dibantu para suster dan suami, aku berhasil membalikkan badan. Begitu kedua kaki diminta angkat dan kangkang, bayiku langsung keluar tanpa perlawanan. Tanpa aba-aba mengejan sama sekali. Bahkan kata suami, dokternya pun terkaget-kaget.

Alhamdulillah wa syukurillah, lega bukan kepalang rasanya. Apalagi saat mendengar berat badan bayi yang mencapai 3,83kg. Tidak menyangka sama sekali bisa melahirkan bayi sebesar itu tanpa robekan. Namun ternyata perjuangan belum berhenti sampai disitu. 

Efek dari induksi ternyata masih berlanjut. Tidak bisa menikmati masa IMD (Inisiasi Menyusui Dini) bersama bayiku berlama-lama. Badan terasa menggigil luar biasa dan lemas tak terkira. Setelah beberapa jam kemudian, badan kembali normal dan bisa mencoba menyusui bayiku. Namun perut masih harus merasakan kontraksi kembali hingga cairan induksi yang diinfuskan tadi habis.

Benar-benar pengalaman baru bagiku. Saat melahirkan pertama dulu, aku bisa langsung nyaman mandi dan menyusui. Tapi di persalinan kedua ini justru aku harus mengumpulkan tenaga dan keberanian terlebih dahulu untuk mandi di sore hari 😆. Mungkin juga karena faktor U yang sudah bertambah 4 tahun. Jadi daya tahan tubuh dan stamina sudah tidak sekuat saat persalinan pertama.

Begitulah proses melahirkan anak kedua ku ya Moms. Buat Moms yang sedang menantikan kelahiran buah hati juga, ga perlu panik dan overthinking ya. Dengarkan kata hati dan percaya pada kebesaranNya. Yakinlah pada kemampuan diri dan pertolongan dariNya.

Teruslah berdoa dan berkomunikasi dengan janin dalam kandungan agar disegerakan keluar dengan lancar. Sejak pembukaan pertama dan menantikan pembukaan berikutnya, Moms dan juga suami bisa melafalkan doa Maryam berikut:

"Hanna waladat maryam wa maryamu waladat 'iisaa, ukhruj ayyuhal mauluud, biqudratil malikil ma'buud."
   
Yang artinya: "Hanna melahirkan Maryam. Maryam melahirkan Isa AS. Keluarlah wahai jabang bayi dengan kekuasaan Maha Raja Yang Maha disembah."

Jadi kesimpulannya nih Moms, mau kehamilan anak ke berapa pun kita harus tetap melakukan persiapan yang maksimal agar proses persalinan lancar Jangan beranggapan karena sudah anak kedua menjadi bisa leha-leha atau kurang persiapan. Begitu pula sebaliknya, dimana proses anak pertama jangan juga khawatir dan cemas berlebihan.

Setiap kehamilan dan kelahiran setiap anak akan punya cerita dan pengalaman sendiri-sendiri yang tidak bisa dibandingkan. Cerita proses melahirkan anak kedua dari aku ini pun tidak bisa dijadikan acuan paten. Namun semoga bisa memberikan gambaran atau menambah persiapan bagi Moms yang sedang menantikan kelahiran buah hatinya agar terus semangat dan positif thinking terhadap jalan cerita yang telah Allah siapkan untuk kita.

Iva C Wicha
Parenting Enthusiast, Happy to share #FunLearning idea for Kids on my Instagram, Email: ivacwicha@gmail.com

Related Posts

Posting Komentar